Sora menoleh ke arah pintu begitu pintu kamarnya terbuka. Ia langsung bangkit berdiri dari tempat tidurnya. Sosok pria paruh baya masuk ke dalam kamar, yang lain merupakan ayahnya.
"Ayah pasti sudah berubah pikiran kan? Ayah tidak jadi menikahkan aku dengan pria itu kan?" cecar Sora dengan kedua mata yang memancarkan harapan.
"Cepat ganti pakaianmu, Dimas dan kedua orang tuanya sudah menunggu di depan!"
Kedua mata Sora terbelalak. Wajahnya seketika menegang.
"Apa berkata apa? Jadi pernikahan ini akan tetap di lakukan?"
"Ya."
"Aku tidak mau, ayah."
"Kau harus mau!"
"Aku tidak akan pernah mau, ayah."
Wiranto sudah kehilangan batas kesabaran dalam menghadapi putrinya. Ia menghela napas berat agar emosinya tidak sampai meledak dan melukai Sora. Ia melangkah lebih maju agar lebih dekat dengan Sora.
"Perjodohan ini bukan tentang pernikahan, Sora. Tapi tentang nyawa!" ucap Wiranto lirih namun penuh syarat akan makna.
Kedua mata Sora kembali membulat dengan sempurna, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.
Wiranto kembali mundur selangkah.
"Jadi cepat ganti pakaianmu. Poles wajahmu secantik mungkin agar Dimas tertarik denganmu. Sekarang!"
"Tapi, ayah."
"Waktumu hanya lima menit. Ayah akan tunggu di depan pintu kamarmu."
Wiranto melipir pergi, ia tidak mengindahkan protes Sora.
Sora menghentakan kakinya ke lantai merasa kesal. Kenapa hal-hal mengerikan seperti ini harus terjadi pada kehidupannya.
Sudah hampir sepuluh menit Wiranto menunggu di depan pintu kamar Sora. Tapi putrinya itu belum kunjung keluar.
"Lama sekali dia," ujarnya sedikit geram.
Wiranto hendak memutar knop pintu kamar tersebut, namun urung begitu pintu sudah terbuka duluan. Muncul Sora dari balik pintu dengan pakaian yang sudah berbeda dari sebelumnya. Wajahnya juga sudah di beri polesan tipis.
Wiranto mengembangkan senyumnya.
"Bagus. Dimas pasti akan tertarik jika penampilanmu seperti ini. Sekarang, ayo ikut menemui mereka."
Sora masih mematung, ia memainkan jemarinya. Ragu untuk bertemu dengan keluarga yang ayahnya maksud.
"Ayo cepat!"
Seruan ayahnya membuyarkan lamunan Sora, ia segera bergerak dan menyusul langkah ayahnya.
Di ruang depan, tamu sudah tidak sabar menunggu kedatangan wanita yang akan mereka nikahkan dengan putranya.
"Kita pulang saja ya pa, ma, batalkan saja pernikahan ini," bisik Dimas.
Asberto segera memelototinya. "Jangan mempermalukan keluarga kita, Dimas. Jika kau melakukannya, kami tidak segan-segan membuatmu menyesal!"
Dimas membelakan kedua matanya malas. Lagi-lagi ancaman yang membuatnya terpaksa mengikuti permintaan konyol sang orangtua.
Tidak berapa lama, perhatian mereka teralih pada dua orang yang datang ke arah mereka. Awalnya Dimas tidak terlalu perduli dengan orang itu. Tapi begitu pandangannya jatuh pada wajah wanita yang berdiri di belakang pria paruh baya yang akan menjadi mertuanya, ia langsung menegakan badan.
Sora pun tampak terkejut melihat siapa pria yang akan di nikahkan dengannya.
Ya Tuhan, apa ini pria yang ayah jodohkan untukku? Batin Sora.
Oh, jadi ini wanita yang harus aku nikahi. Batin Dimas.
Wiranto memberi kode pada Sora untuk hormat pada keluarga Asberto. Sora pun mengangguk.
"Halo om, tante," sapa Sora dengan senyum ramah namun penuh paksaan.
"Halo Sora. Kau cantik sekali," jawab dan puji Merry.
"Terima kasih, tante," ucap Sora.
Sora kemudian duduk di samping ibunya.
"Hai .. Senang bertemu denganmu," ucap Dimas dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
Asberto dan Merry senang mendengar sapaan putranya pada Sora. Rupanya Dimas menyukai Sora. Bagus jika begitu.
Sora menoleh sekilas sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah lain.
Hhhh ... Kenapa harus dia sih yang akan akan menikah denganku? Kalau begitu lebih baik aku menikah dengan pria yang aku tidak kenal sekalian saja. Gerutu Sora dalam hati.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Pinny Tirawat Thitipong💭
lanjut thor..
2022-11-06
1