*BUKKK!!!!
“ARRGGGGHHH!!!”
John mengerang sekeras-kerasnya, karena kesakitan saat menerima bagian mobil yang terpental ke arahnya akibat ledakan.
Karena tak sanggup menahan sakit, tubuh John pun jatuh dan tergeletak di aspal.
Para pengawal dan pasukan PASGA pun hanya menolong Agnes, tanpa menghiraukan John sedikitpun.
Saat Agnes akan dibawa oleh anak buahnya, Agnes menoleh kearah John dan berusaha meraih tangannya yang masih memegang pundak John yang tergeletak.
Akan tetapi, ia sudah tak punya tenaga sedikitpun untuk berbicara dan membantu John yang sudah tergeletak dan tak sadarkan diri.
Asisten Agnes dan para pengawal yang berada di sana memberi Agnes pertolongan pertama dengan obat seadanya.
Saat Agnes telah mempunyai tenaga yang cukup untuk berbicara dan duduk, ia menyuruh salah satu pengawalnya untuk memeriksa keadaan John.
“Dia masih hidup. Apa yang harus kita lakukan?”
Salah satu pengawal pun memeriksa keadaan John dan bertanya pada asisten pribadi Agnes yang sedang berdiri melihat John.
“Bawa dia ke klinik terdekat. Siapkan dia untuk diinterogasi, saat ia sudah sadar,” ucap asisten Agnes.
“Baik, Bu.”
“Rumah sakit,”
Agnes akhirnya dapat berbicara setelah syok yang dialaminya.
“Ya, Nyonya?” tanya asisten.
“Ke rumah sakit.”
“Baik, Nyonya. Kami akan segera membawamu ke rumah sakit,” ucap asisten.
“Tidak, bukan aku. Dia! Bawa dia ke rumah sakit.”
Agnes menggelengkan kepalanya dan menunjuk pada John yang terbaring tak sadarkan diri.
“Apa maksudmu, Nyonya?” tanya asisten yang masih tak mengerti, kenapa Agnes mau membawa John ke rumah sakit.
“Kita tidak boleh membiarkan dia mati, apapun yang terjadi. Tanpa dia, mungkin aku sudah mati di dalam mobil, saat mobilnya meledak.”
“Dan juga, perintahkan kepada semua para pengawal untuk tak menyentuhnya tanpa seizinku.”
“Baik, Nyonya. Aku mengerti.”
“Tidak. Kau tak mengerti,” gumam Agnes dalam hatinya.
Sepertinya Agnes pun mulai tertarik pada sosok John yang dari segi umur, Agnes lebih tua 7 tahun dari John yang masih berusia 30 tahunan.
***
Keesokan harinya, terlihat John yang terbaring di rumah sakit dan mulai siuman.
Salah satu pengawal rumah Agnes yang dihajar John kemarin pun juga berada disana untuk mengawasi John.
Saat John akan menggerakkan tangannya, ia melihat tangannya yang sudah diborgol dengan dipan kasur rumah sakit, yang membuatnya tak bisa bergerak.
Pengawal yang menjaga John pun juga takut, saat melihat John yang sudah tersadar.
Di rumah sakit yang sama, terlihat Agnes yang berada di kamar VIP. Ia ditemani oleh Deny dan asisten pribadi, yang selalu menemaninya.
Mereka melihat berita di salah satu stasiun televisi yang menyiarkan tentang penyerangan yang terjadi padanya dan gedung suaminya.
Reporter TV mengatakan bahwa, penyebab dari semua itu adalah Tom, seorang pejabat tinggi yang juga mencalonkan diri sebagai kandidat wali kota.
*TOK TOK TOK!!!
Seorang dokter mengetuk pintu kamar Agnes dan memasukinya untuk melihat kondisinya.
“Halo, Pejabat Deny.”
“Halo, Nyonya.”
Dokter itu membungkukkan badannya, menyapa Deny dan Agnes yang sedang duduk bersandar di atas kasur.
“Apakah tidurmu nyenyak?” tanya Dokter pada Agnes.
“Ya, semua berkat dirimu. Terimakasih banyak, Dok” ucap Agnes yang tersenyum pada dokter.
“Astaga. Kau tak perlu mengatakan itu, Nyonya. Kami merasa sangat terhormat kau memilih rumah sakit kami untuk berobat. Kau bisa menghubungi kami kapanpun kau mau. Kami pasti akan datang.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments