“Jangan bergerak! Atau majikan kalian akan melihat majikan kalian mati!”
“Letakkan senjata kalian. Letakkan senjatanya! Nyonya sedang dalam bahaya.”
Asisten pribadi Agnes berteriak pada pengawal dan pasukan PASGA untuk menurunkan senjatanya.
Para pengawal dan pasukan PASGA itu pun meletakkan semua pistol yang ia bawa ke lantai.
“Semuanya, keluar. Siapkan mobil untuk ku di luar.”
John memerintah para pengawal yang berada di sana.
“Turuti saja perintahnya,” ucap Agnes yang telah pasrah dan takut jika John benar-benar akan menembaknya.
Para pengawal itu pergi untuk turun ke bawah dan menyiapkan mobil untuk John.
“Kau kembali untuk membunuhku? Tapi apa kau tahu? Kau takkan bisa keluar dari sini hidup-hidup jika kau membunuhku.”
Agnes semakin ketakutan dan berharap agar John tak menembaknya.
“Tak usah cemaskan diriku. Cemaskan saja bila peluru yang ada di pistol ini menembus kepalamu.”
John terus mendekap leher Agnes dan perlahan berjalan keluar dari rumah.
“Satu-satunya cara kau bisa selamat, adalah jika kau hentikan ini dan memintaku untuk mengampunimu.”
“Kau masih bisa mengoceh saat jariku sudah menarik setengah pelatuknya. Selain itu, pistol kecil ini bisa meledakkan kepala dan menghancurkan otakmu.”
John terus berjalan dan mendekati pot bunga yang ada di ruangan itu.
Tangan kiri John mengambil ponsel miliknya yang disembunyikan dalam pot, lalu membuka ponsel sambil menodongkan pistol dengan tangan kanannya.
“Sedang apa kau?” tanya Agnes yang sudah berkeringat karena ketakutan.
“Aku baru saja mengirimkan email.”
John pun menurunkan pistolnya.
“Surel itu berisi video yang merekam semua yang kau katakan dan semua yang terjadi di sini.”
John berjalan ke arah mesin penghancur barang yang berada di sana.
“Aku mengirim surel itu ke pers, jaksa, kantor dpr, dan juga Istana Presiden.”
Agnes dan asistennya pun semakin terkejut dan ketakutan dengan apa yang dikatakan John.
“Jangan berkecil hati. Aku sudah mengatur ponsel ini di akunku agar dikirim dalam 24 jam lagi. Jadi, jangan pernah ganggu aku dan orang disekitarku.”
John kembali berjalan mendekati Agnes dan menatap matanya dengan tatapan yang tajam.
“Tak akan ada orang lain yang bisa menunda pengiriman surel di akunku jika aku mati.”
“Jadi, kalian harus berdoa dan melakukan apapun agar aku bisa bertahan hidup.”
John kembali ke mesin penghancur barang di ruangan itu, lalu melempar ponselnya ke dalam mesin.
“Tidak!”
“Tidak!”
Agnes dan asistennya berteriak saat mesin itu menghancurkan ponsel John.
Agnes pun mulai menangis dan mengeluarkan air matanya, karena merasa sangat tertekan dengan perbuatan cerdik yang dilakukan oleh John.
“Dan kau. keluarlah dan urusi situasi di luar sana.”
John berjalan mendekati asisten pribadi Agnes yang masih berada di sana.
“Jika salah satu anak buahmu melakukan hal bodoh, seperti mencoba membunuhku, kau akan dalam masalah besar.”
Asisten Agnes pun tak punya pilihan lain selain menuruti perintah dari John.
Setelah mengurus situasi di luar rumah, John berjalan keluar rumah dengan menggandeng tangan Agnes, seakan tak terjadi apa-apa.
“Astaga, Nyonya! Selamat malam!”
Salah satu polisi yang masih berada di depan rumah Agnes pun menyapa.
Dengan terpaksa, Agnes harus tersenyum dan balik menyapa polisi itu.
“Halo, Pak. Selamat malam. Terima kasih atas kerja kerasmu.”
“Astaga. Itu bukan apa-apa, Nyonya. Aku masih penasaran kenapa motor itu bisa berada blok yang tenang ini!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Dewi Nurlela
bawa Anna jhon
2023-06-17
0