Dengan santainya, Agnes malah menantang peringatan dari John.
“Jika tidak, aku akan mencarimu dimanapun kau berada. Pertemuan pertama hanya peringatan. Tapi jika aku melihatmu untuk kedua kalinya, kau akan mati ditanganku.”
“Hahahaha. Seperti ucapan ketua Sam kepadaku. Dia bilang ‘menyerang yang menyuruh’.”
“Kudengar kau dilatih untuk menyerang orang yang memerintahkan pembunuhan kepadamu.”
*PLOK PLOK
Saat Agnes menepuk tangannya, asisten pribadi beserta seluruh penjaga dan pasukan PASGA masuk ke dalam ruang dan mengepung John.
Para penjaga rumah dan pasukan PASGA mengarahkan pistol ke arah John yang sedang berdiri di sana.
“Setelah menyadarinya, ternyata sangat mudah untuk menangkapmu.”
Agnes berdiri dari sofa dan berjalan mendekati John.
“Maafkan aku. Kau berada di tempat yang salah pada waktu yang salah, dan melihat sesuatu yang tak seharusnya. Tak ada yang bisa kulakukan lagi.”
“Hahahaha. Apa ini caramu mencintai suamimu, saat kau sendiri mengetahuinya sedang berselingkuh?”
Dengan tenangnya John malah bertanya balik pada Agnes.
“Cinta? Cinta sangatlah sederhana. Kenyataan bahwa kau percaya aku mencintai pria itu. Aku iri pada kenaifanmu. Bahkan kau lebih tampan darinya.”
Agnes pun tersenyum sinis pada John.
“Omong-omong, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau kemari? Sulit memahami logika di balik, ‘Menyerang yang menyuruh’ di awal.
“Kau bisa kabur. Kau bisa hidup di pelarian selamanya, tetapi kau malah pergi kemari. Sama saja kau menyerahkan dirimu sendiri.”
“Aku tak bisa membiarkan orang tak bersalah mati karenaku.”
“Orang tak bersalah? Orang orang dari kebun itu?” tanya Agnes.
“Bukankah kau baru pertama bertemu mereka kemarin? Tapi, kau terjebak disini karena mereka? Kau serius? Itukah alasanmu?”
Agnes kembali ke sofa, lalu duduk. Begitupun dengan para pengawal dan pasukan PASGA yang masih berdiri tegak dan menodongkan pistol ke arah John.
“Aku yakin kau tak akan mengerti. karena kau sudah lama kehilangan hal itu dari dirimu,” ucap John.
“Orang-orang yang sudah lama berperang pada akhirnya lupa kenapa mereka berperang,” lanjut John.”
“Astaga. Sayang sekali. Kau tampak seperti pria yang baik dari pada seorang dengan julukan ‘Mesin Pembunuh’. Jika kita bertemu di saat yang tepat, kita bisa menjadi teman baik.”
“Jangan pernah kau ganggu mereka lagi.”
John kembali memperingati Agnes untuk tak mengganggu pasangan paruh baya yang telah menolongnya.
“Apa orang-orang di kebun itu tak tahu apa-apa tentangmu dan tentang apa yang kau lihat?” tanya Agnes.
“Ya. Mereka tak tahu apa pun.”
“Baiklah. Entah kenapa, aku merasa bisa percaya dengan kata-katamu. Baiklah. Aku akan percaya padamu.”
Agnes menganggukkan kepalanya.
“Tapi kurasa aku tak akan membiarkannya hidup.”
John yang marah pun berjalan mendekat pada Agnes yang sedang duduk di sofa.
“Berhenti! Jangan mendekat!”
Asisten Agnes berteriak memberi peringatan, tapi tak juga dihiraukan oleh John yang terus berjalan mendekat.
“Ini bukan pistol mainan!”
Salah satu pengawal berjalan mendekati John dan menodongkan pistol ke kepala John.
John pun juga masih tak takut walau diancam dengan pistol.
“Mempertaruhkan takdirku atas kebenaran pengakuanmu, bukanlah sesuatu yang akan kulakukan.”
Agnes pun berdiri dan juga menatap John.
“Kau akan segera menyesalinya,” ucap John.
“Hahahaha. Itu sebabnya kau tak seharusnya memperingatkanku, karena tak akan ada pertemuan kedua untuk kita.”
“Bawa dia! Dan jangan terlalu menyakitinya, sangat disayangkan jika wajahnya yang tampan akan babak belur.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments