John duduk berjongkok dan menatap pembunuh bayaran suruhan Agnes.
“Apa maksudmu? Kau pikir aku mencoba membunuh orang tua itu untuk hiburan saja?” tanya pria itu.
“Semua orang yang membantumu bersembunyi akan mati. Itulah perintah yang kuterima. Mereka pada akhirnya akan mati karenamu,” lanjutnya.
John semakin marah saat mendengar ucapan pembunuh bayaran itu.
“Baiklah kalau begitu. Kau bisa memberitahuku siapa yang mengirimmu sekarang, atau dalam sepuluh menit kedepan, aku tak akan peduli lagi denganmu.”
John menyumpal mulut pria itu dengan kain pel.
“Sungguh, aku tak suka saat orang terlalu berisik sepertimu. Aku akan mulai sekarang.”
Saat John berdiri dan mengangkat sebuah palu untuk menghantam, pria itu menepuk-nepuk lantai dengan tangannya dan mengaku.
“Hhhh. Siapa dia? Orang yang menyuruhmu?”
John membuka kain pel yang menyumpal mulut pria itu.
“Agnes. Dia istri dari calon kandidat wali kota. Kau melihatnya kemarin saat ia bersama wanita lain di gedungnya.”
John pun menyeret orang itu ke mobil pick up dan membawanya ke suatu tempat yang kosong, lalu meninggalkannya di sana.
Malam harinya, seperti tentara bayaran profesional pada umumnya, dengan jantan, John mendatangi kediaman Agnes seorang diri.
Ia melihat dari kejauhan menggunakan teropong yang masih ia miliki.
Terlihat disana para pengawal dan pasukan PASGA yang berjaga-jaga dengan ketat di sekitar rumah.
Setelah mengawasi keadaan sekitar, John pun mulai menjalankan aksinya untuk memasuki rumah.
John datang ke rumah itu menggunakan motor dan mengenakan helm agar tak dikenal. Ia juga menyamar sebagai tukang pengantar paket.
Motor yang dikendari John pun tepat berhenti di halaman rumah Agnes.
Terlihat 2 orang penjaga gerbang yang berdiri di halaman rumah Agnes.
John menuruni motornya dan mengambil sebuah kardus di jok motornya, lalu berjalan memasuki rumah itu.
Sebelum memasuki rumah, ia dihadang oleh 2 penjaga gerbang yang sedang menjaga.
Penjaga itu meminta kardus yang dibawa oleh John.
Saat dua pengawal itu melihat tulisan di kardus, dengan mudahnya John melumpuhkan kedua penjaga gerbang.
Setelah tua penjaga itu tumbang, John melepas helmnya, lalu memasukinya.
John berjalan mengendap-endap dan mengelabui semua penjaga rumah, lalu masuk ke dalam rumah melalui jendela.
John melihat Agnes yang sedang membawa segelas anggur dan berdiri di ruang tamu.
Dengan beraninya, John berjalan cepat untuk menghampiri Agnes.
Saat Agnes membalikkan badannya.
*PYAAR!!!!
“Ya ampun. Kau tak bisa membuat suara saat berjalan?”
Agnes terkejut dan masih mengira itu suaminya.
Saat Agnes melihat ke depan, betapa terkejutnya ia melihat John sudah berada di rumahnya yang dijaga sangat ketat.
“Wah!!! Kau lebih tampan dari dugaanku. Kau tukang spanduk itu, bukan?”
Agnes pun yang sudah berumur awal 40-an juga terpesona dengan ketampanan yang John miliki
“Hahahaha. Saat mendengar ceritamu, aku membayangkan wajahmu lebih garang, tapi ternyata kau sangat tampan.”
Agnes malah tertawa saat melihat John masuk ke dalam rumahnya dengan berani.
“Kau masuk kemari begitu saja? Hmmm. Kau sangat berani. Aku tak berharap kau muncul dihadapanku.”
Agnes pun berjalan menuju sofa, lalu duduk di sofanya.
“Aku datang kemari untuk memperingatkanmu. Tinggalkan aku dan orang-orang di sekitarku.”
Sungguh beraninya John datang ke tempat itu hanya untuk memperingatkan Agnes agar tak mengganggu hidupnya yang sudah lama tenang.
“Hhhh. Bagaimana jika aku tak mau?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Yan Sofian
itu artinya hidupmu akan sulit, agnes
2024-05-21
0