John terus melangkah dan membawa tas dan kemeja lusuh di tangannya.
Langkah John terhenti saat ia melihat seorang pria paruh baya dengan istrinya sedang membenarkan mobilnya yang mogok.
John pun menghampiri pria itu untuk memberinya pertolongan, dan berharap mendapat bantuan darinya.
Tanpa basa-basi, John melihat mesin mobil itu, yang membuat Pria tua itu bingung.
“Kau tahu memperbaikinya? Pergi saja jika kau tak tahu!”
“Kenapa kau tak menghubungi asuransimu?” tanya John.
“Aku tak akan berada disini jika punya,” jawab pria itu.
“Bagaimana dengan mobil derek?”
“Jika aku punya uang untuk memanggil mobil derek, aku pasti mampus punya asuransi.”
“Astaga. Kau benar.”
John pun mulai meletakkan ranselnya dan meminta sarung tangan dan peralatan.
“Boleh aku minta sarung tanganmu, Pak?”
“Kau tahu cara memperbaikinya? Kau yakin tak akan merusaknya?”
Pria itu sangat khawatir dan terjadi sesuatu dengan mobilnya.
“Astaga. Kau bicara seolah-olah mobil ini bisa tambah rusak. Cepat berikan sarung tanganmu.”
“Baiklah. Ini.”
Pria itu pun memberikan sarung tangannya pada John.
Setelah John berhasil membenarkan mobil pria tua yang mogok, pria tua itu memberi John tumpangan dan akan membawanya ke tempat tinggalnya.
John duduk di belakang mobil dan tersenyum, karena telah mendapatkan bantuan dari orang lain.
Sesampainya John di tempat tinggal sepasang suami istri paruh baya itu, John turun dari mobilnya dan melihat rumput-rumput liar yang memenuhi pekarangan rumah.
“Dimana pemotong rumputmu?” tannya John.
Sepertinya John akan membantunya untuk memotong rumput-rumput liar yang memenuhi pekarangan.
“Pemotong rumput?”
“Ya. Pemotong rumput. Kau tak punya?”
“Untuk apa?”
“Akan ku pangkas rumput liar yang memenuhi pekarangan ini.”
“Astaga. Tak perlu. Tidak usah. Aku tak punya uang untuk membayarmu.”
Pria tua itu pergi meninggalkan John karena, ia berpikir John akan meminta upah darinya.
“Aku tak butuh uangmu. Astaga.”
“Apa itu gudangmu? Pasti ada disana alat pemotong rumput.”
John melihat gudang dan akan memasuki gudang itu.
“Kubilang, hentikan!!!”
Pria paruh baya itu malah berteriak pada John yang ingin berniat membantunya.
“Akan ku beri kau makanan. Kau bisa tidur di rumahku, lalu kau bisa pergi besok.”
Pria tua itu masuk ke dalam rumah menyusul istrinya dan meninggalkan John.
John pun segera masuk ke dalam rumah dan duduk di depan pintu. John mendengar istri dari pria tua itu yang menangis, tapi ia tak tahu harus berbuat apa.
Beberapa saat kemudian, pria pemilik rumah datang membawa makanan seadanya untuk John.
“Maafkan aku. Hanya ini yang kami punya. Kami hanya makan untuk bertahan hidup belakangan ini.”
“Tak apa-apa, Pak.”
John pun sepertinya tak mempermasalahkan dengan makanan seadanya yang diberi oleh pria tua itu.
“Maaf aku telah memarahimu tadi.”
Pria tua itu berdiri meminta maaf dan meninggalkan John, agar ia makan makanan yang telah diberikannya.
***
Malam harinya, John terbangun dari tidurnya, karena mengalami mimpi buruk dengan masa lalunya yang kelam.
John menghela nafas panjang, lalu mengambil air minum untuk menenangkan dirinya.
Saat akan kembali tidur, ia mendengar istri dari seorang pemilik rumah itu menangis di kamarnya.
John pun mengintip dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, tapi tak tahu apa yang harus ia lakukan.
John beranjak dari kamarnya, lalu keluar ke halaman rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Endang Priastuti
dari sini ceritanya semakin menarik , sayang peminatnya kurang
2023-01-25
0