Mobil yang membawa Deny dikawal oleh beberapa mobil paspampres lainnya yang berada di bagian depan dan belakang.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Deny pada sopirnya.
“Ya, Pak. Paginya, kau ada pertemuan dengan Asosiasi Orangtua Nasional.”
“Siangnya dengan panitia pasar tradisional, sorenya ada konferensi pers, malamnya dengan anggota kongres muda, lalu…”
“Astaga. Kau akan membunuhku jika terus begini.”
Deny memotong ucapan sopir yang memberitahu jadwalnya.
“Kau harus menghadiri semua ini, Pak.”
“Baiklah. Terserah kau saja.”
Deny pun menoleh pada Sam yang duduk di sampingnya.
“Ketua Sam.”
“Ya, Tuan.”
“Kau punya rokok?”
Sam menekan earphone di telinganya dan menyuruh semua mobil yang mengawal Deny untuk berhenti di tempat yang sepi.
“Semuanya. Ayo berhenti sejenak di tempat sepi.”
“Baik, Pak.”
Semua menjawab dengan serentak, saat Sam memberi perintah, begitupun dengan sopir Deny.
Sesampainya di tempat yang sepi, semua mobil berhenti, termasuk mobil pasukan PASGA yang juga mengawal Deny.
Terlihat Jack selaku ketua dari pasukan PASGA, sedang berdiri sigap bersama para anggotanya untuk berjaga-jaga.
“Pak, suasana sudan aman di mobil ini, dan orang-orang yang menjaga disana bisa dipercaya”
Sam mengeluarkan rokok dan memberikannya pada Deny.
Deny pun menyuruh sopirnya untuk meninggalkannya dan menunggu di luar.
Kini tinggal hanya Deny dan Sam yang berada di dalam mobil.
“Kau tahu kenapa dia begitu temperamental, bukan?”
Deny bertanya pada Sam tentang istrinya sembari menyulut rokok dengan korek api.
“Ya. Aku tahu itu, Tuan.”
Sam hanya menganggukkan kepalanya.
“Lalu, bagaimana dengan Anna, anakku sendiri?”
“Kami sudah pulangkan dia dengan selamat.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Nona Muda masih sama seperti sebelumnya. Dia masih punya fobia sosial. Sebaiknya kau menemuinya, Tuan.”
Sam menyarankan agar Deny menemui Anna, anak kandungnya sendiri.
“Kau tahu aku tak bisa melakukannya sekarang, Sam.”
Sam pun hanya terdiam karena memang benar, Deny tak bisa menemui Anna gara-gara Agnes yang menjadi istrinya saat ini.
“Aku sangat menyedihkan, bukan?”
Deny menghisap rokok sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali.
“Ketua Sam.”
“Ya, Tuan.”
“Kau bekerja penuh pada Agnes. Tapi akulah yang akan menjadi wali kota.”
“Tentu saja, Tuan,” sahut Sam.
“Akulah yang akan menunjukmu menjadi kepala keamanan di kantorku nantinya.”
“Sampai saat itu, satu-satunya orang yang bisa kupercayakan kepada Anna adalah kau.”
“Mungkin aku ayah yang menyedihkan dan tak berguna, dan aku tahu betapa putriku sangat membenciku.”
“Tapi tetap saja, dia satu-satunya alasan kenapa aku terpaksa harus menurut pada Agnes setiap saat.”
Sam hanya mendengarkan dengan seksama, saat Deny mencurahkan isi hatinya.
“Temui wanita itu dan sampaikan pesanku. Jika sanderanya mati, orang yang menyandera juga akan mati.”
“Jika terjadi sesuatu pada putriku, semua yang dikerjakan Agnes selama hidupnya, akan aku hancurkan sendiri.”
“Aku tak akan menyampaikan pesanmu, Tuan. Sebaliknya, aku akan melindungi putrimu apa pun yang terjadi,” ucap Sam dengan sungguh-sungguh.
“Terimakasih, Ketua Sam.”
Sam pun menundukkan sedikit kepalanya.
***
Pada siang harinya, terlihat John yang masih terus berjalan, tanpa tahu arah tujuannya.
John telah sampai di sebuah pedesaan dan mencoba untuk meminta tumpangan pada setiap mobil yang lewat.
Namun, tak ada satu mobil pun yang mau berhenti. Terpaksa John pin harus terus berjalan kaki.
Keringat bercucuran di dahi dan tubuh John, yang membasahi kaos dalam yang ia pakai saat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
Ganesha Amb
kau di ganti anda Thor sorry..atasan sama bawahan diaolognya
2023-07-10
1