20. RSK

Ba'da Isya ...

Azzura mampir ke salah satu warung terdekat lalu memesan nasi goreng. Sambil menunggu ia termenung.

Tin ... tin ... tin ...

Suara klakson mobil yang berhenti tepat dihadapannya seketika membuat gadis itu tersadar

"Yoga," ucapnya lirih.

"Sedang apa kamu di sini?" tanya Yoga sesaat setelah setahun duduk di samping Azzura.

"Aku pesan nasi goreng. Mau sekalian aku pesankan nggak," tawar Azzura dengan seulas senyum.

"Boleh deh," sahut Yoga dengan sembringah.

Azzura lalu memesan satu lagi Yoga. Sambil menunggu, keduanya mengobrol santai.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor? Apa semuanya lancar-lancar saja?" tanya tanya Azzura.

"Alhamdulillah, lancar-lancar saja. Oh ya, tadi aku ke cafe saat jam makan siang. Tapi, kamu kok nggak ada?"

"Aku izin nggak masuk hari ini, soalnya aku kurang enak badan," jawab Zu. "Sore sebelum menjenguk ibu aku ke rumah sakit lain untuk. Alhamdulillah aku nggak apa-apa. Kata dokter, aku hanya kelelahan."

"Oh ya, Zu biar aku saja yang mengantarmu pulang," tawar Yoga.

"Boleh, tapi antar aku ke rumah lama saja. Soalnya aku ingin menginap di sana malam ini," timpal Azzura.

Yoga menatap curiga pada gadis itu. "Apa kamu dan pak Close baik-baik saja? Maksudku, apa kalian sedang marahan?" selidik Yoga.

Azzura tergelak sekaligus menyembunyikan kesedihannya. "Nggak, kami baik-baik saja kok. Aku sudah izin padanya untuk menginap di rumahku malam ini. Sekalian aku ingin bersih-bersih rumah," dalih Azzura dengan senyum getir.

Yoga bergeming. Namun, entah mengapa ia merasa Azzura tidaklah baik-baik saja. Gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu darinya.

"Neng, ini nasi gorengnya," kata mamang seraya menyerahkan dua kantong kresek pada Azzura.

"Terima kasih ya, Mang," ucap Azzura kemudian membayar nasi goreng pesanannya.

"Neng, duitnya lebih," balas Mamang.

"Nggak apa-apa, Mang. Itu rezeki buat Mamang."

"Terima kasih ya, Neng."

"Sama-sama, Mang." Azzura lalu memberikan satu kantong kresek pada Yoga.

"Ayo, aku antar," ajak Yoga.

"Oh ya, alamat rumahku di Jalan xxx kompleks Indah no 15," jelas Azzura sesaat setelah duduk di kursi mobil.

"Siap, Nyonya Azzura," kelakar Yoga disertai tawa.

*********

Setibanya di halaman rumah Azzura, tak lupa gadis itu berterima kasih. Ia sempat mengajak Yoga mampir. Namun, pria itu menolak karena sudah malam.

Sepeninggal Yoga, Azzura menghampiri pintu utama lalu memberi salam.

"Assalamu'alaikum," ucap Azzura lalu membuka pintu. "Subhanallah, aku merasa tenang di rumahku sendiri daripada di rumah laknat itu."

Ia lalu mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu. Mengelus perutnya yang masih terasa sakit.

.

.

.

Malam semakin larut, ketika Close tiba di kediamannya, rumah selalu terlihat gelap. Ia mengernyit ketika mendapati motor Azzura sudah terparkir di garasi.

"Tumben dia cepat pulang?" gumam Close.."Tapi kenapa dia nggak menyalakan lampu?"

Close langsung menekan saklar lampu sesaat setelah ia masuk ke dalam rumah. Ia memilih duduk di sofa ruang tamu lalu melirik sekilas ke arah pintu kamar Azzura yang tertutup rapat.

Pikirnya, Azzura sejak tadi sudah pulang dan mungkin saja sang istri sudah tidur. Apalagi saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 23:10.

Seolah tak ingin ambil pusing, Close kemudian beranjak lalu menuju kamar. Saat menekan saklar lampu, ia menghela nafas sekaligus merasa jengkel karena tempat tidurnya masih berantakan.

"Laura!" gerutunya.

Beberapa menit berlalu ...

Setelah selesai membersihkan diri, Close merebahkan tubuh yang terasa lelah. Karena seharian ini, ia harus menyambangi hotel serta resort miliknya.

Ketika memejamkan mata, bayangan wajah Azzura seketika bermain dibenak, saat gadis itu tersenyum tulus pada Yoga.

"Sial!!! Ada hubungan apa sih, gadis barista itu dengan Yoga?!" umpat Close merasa geram. "Cih, ngapain juga aku pikirkan, dia bukan siapa-siapa, hanya istri di atas kertas!"

.

.

.

Sementara itu, di apartemen Yoga, setelah selesai menyantap nasi goreng, ia lanjut memeriksa beberapa laporan dari kantor.

Setelah menyelesaikan tugasnya, ia menyandarkan punggung di sandaran sofa. Memejamkan mata sembari memijat pangkal hidungnya.

"Azzura, kenapa aku mengkhawatirkan gadis itu? Sebelum menikah dengan pak Close, wajahnya selalu terlihat ceria. Tapi kini, semuanya berubah, dia seperti tertekan. Azzura, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Andai kamu ingin share sedikit saja masalahmu, aku bisa sedikit membantu," gumam Yoga.

*******

Sedangkan Azzura, ia baru saja selesai membereskan rumah.

"Azzura, mungkin kamu sudah nggak waras, membersihkan rumah pada saat larut malam," gumam Azzura sembari tertawa.

Setelah itu, ia berbaring sembari menatap langit-langit kamar.

"Azzura, seberat apapun masalahmu ingatlah, Allah selalu mengirim seseorang yang benar-benar peduli padamu. Bisa jadi doa mereka selalu ada untuk kebaikanmu," ucap Azzura nyaris tak terdengar sekaligus menyemangati dirinya sendiri.

.

.

.

Enam bulan berlalu ....

Satu bulan pasca mendapat KDRT dari Close, Azzura seolah tak mau ambil pusing. Ia bahkan membiarkan suaminya berbuat sesuka apapun di rumah mereka. Termasuk sering membawa Laura menginap di rumah itu.

Azzura sudah tidak pernah memasak maupun berbelanja lagi. Gadis itu hanya memesan makanan siap saji untuk dirinya sendiri.

Sedangkan Close, ia berpikir jika Azzura tidak memiliki uang untuk berbelanja, terlebih ia menyadari selama sebulan lebih pasca menikah, pria itu belum pernah memberinya nafkah.

Akhirnya Close hanya meletakkan beberapa lembar uang di atas meja makan dengan maksud supaya Azzura menggunakan uang itu.

Awalnya Close mengira jika uang itu kurang, karena Azzura sama sekali tidak menggunakan uang itu. Akhirnya ia kembali menambah nominalnya bahkan meletakkan kartu ATM dan black cardnya di atas meja itu.

Namun, seperti hari-hari sebelumnya uang serta kedua kartu itu, masih utuh serta tetap berada di posisi yang sama.

Seperti hari-hari sebelumnya, hampir setiap malam pula sehabis pulang dari rumah sakit, Azzura selalu mengalami KDRT dari suaminya.

Semua perlakuan kasar, caci maki juga KDRT yang ia dapatkan dari suaminya membuat psikisnya terganggu.

Setiap menjelang malam Azzura merasa gelisah serta merasakan takut. Namun, ia masih bisa mengatasi karena selalu ada sahabatnya yang menguatkan. Pun begitu dengan Yoga, meski pria itu belum tahu apa sebenarnya yang terjadi pada gadis berhijab itu.

Semakin hari hubungan pertemanan Azzura dan Yoga semakin dekat. Di sisi lain Close justru naik pitam seolah tak terima. Padahal istri dan asistennya itu hanya berteman dekat.

...🌿🌼................🌼🌿...

Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya 🙏. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘**

Terpopuler

Comments

Epifania R

Epifania R

lepaskan saja azzura

2024-04-05

0

Nur Evida

Nur Evida

Azurra lepaskanlah si ceset alias Closeee gila itu

2023-03-16

1

🌹Fina Soe🌹

🌹Fina Soe🌹

dasar closet...

2023-03-15

1

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!