Azzura menyeka air mata sekaligus mengatur nafas. Setelah itu, ia pun menceritakan semua yang terjadi semalam tanpa ada yang disembunyikan dari dokter Fahira.
Mendengar ungkapan Azzura, dokter Fahira turut merasa geram sekaligus marah. Tangannya seketika terkepal.
"Astaghfirullahaladzim." Dokter Fahira menatap Azzura. "Nak, sekuat itu kamu? Jika ibu yang berada di posisimu, ibu nggak akan kuat," aku dokter Fahira.
"Bu, biarlah cerita ini menjadi rahasia kita berdua," timpal Azzura.
"Baiklah, Nak," sahut dokter Fahira.
Beberapa menit kemudian ...
Dokter Fahira meresepkan beberapa obat pereda nyeri untuk Azzura. Setelah menerima secarik kertas kecil itu, Azzura lalu berpamitan sekaligus berterima kasih.
Gadis berhijab itu kemudian meninggalkan ruangan praktek. Ia melangkah pelan sambil melamun dengan pandangan kosong.
Dari arah yang berlawanan, Farhan menggelengkan kepala mendapati Azzura berjalan sambil melamun.
"Si gadis bermata indah seorang pelamun," gumam Farhan sambil tersenyum seraya menghitung langkah Azzura yang sebentar lagi akan menabraknya.
"Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ..."
Bruukk ....
Di hitungan yang kelima Azzura benar-benar menabraknya. Gadis itu terpaku sejenak lalu mendongak.
"Kak Farhan," ucap Azzura lalu mundur satu langkah ke belakang. "Maaf."
Farhan terkekeh. "Sebenarnya apa sih yang sedang kamu pikirkan? Bisa-bisanya berjalan sambil melamun," tanya Farhan menatap bola mata indah gadis itu.
"Nggak ada," dalih Azzura. "Oh ya, sedang apa Kak Farhan di sini?"
"Mengantar berkas penting ini." Farhan menunjukkan sebuah file penting. "Oh ya, kita pulang bareng saja," tawar Farhan. "Mau ke rumah sakit kan?"
"Iya, boleh deh, Kak. Kebetulan aku nggak bawa motor. Mumpung dapat tumpangan gratis," kelakar Azzura. "Tapi, tungguin sebentar, ya, soalnya aku ingin menebus obat dulu."
"Hmm ... nggak masalah," kata Farhan lalu mempercepat langkah ke ruangan yang di tuju. Sedangkan Azzura, mengarahkan langkah ke apotik.
Setibanya Farhan di depan pintu ruangan yang dituju, ia mengetuk lalu membukanya.
"Bunda, apa Bunda masih sibuk?" tanya Farhan seraya menghampiri sang bunda.
"Nggak, Nak. Bunda baru saja mau ke kantin," kata sang bunda yang tak lain adalah dokter Fahira. "Ada apa Nak?"
"Nggak apa-apa, Bun. Aku ingin memberikan file penting ini pada Bunda." Farhan meletakkan file itu di atas meja. "Oh ya, Bun, aku sekalian pamit soalnya buru-buru."
"Ya sudah, hati-hati di jalan," pesan sang bunda.
"Iya Bunda." Farhan menghampiri pintu lalu segera meninggalkan ruangan itu. Ia mempercepat langkah ke apotik untuk menemui Azzura.
"Zu," tegur Farhan. Namun, Azzura tak menjawab. "Zu ..." Farhan kembali menegurnya disertai sebuah tepukan di lengan.
Azzura menoleh dengan cepat. "Kak Farhan."
''Zu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Farhan.
"Iya Kak," jawab Azzura lalu menunduk sekaligus mengalihkan pandangannya.
"Benar? Tapi tatapan matamu menyiratkan jika kamu tidak baik-baik saja," selidik Farhan.
Azzura bergeming tak menjawab. Tak lama kemudian namanya dipanggil. "Sebentar, aku ambil obatnya dulu."
Setelah mengambil obatnya, Azzura mengajak Farhan meninggalkan rumah sakit itu.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat, sesekali Azzura melempar candaan, semua ia lakukan supaya Farhan tidak curiga jika ia sedang tidak baik-baik saja.
Selang satu jam kemudian, mereka tiba juga di rumah sakit itu.
"Kak, terima kasih, ya," ucap Azzura sambil melangkah bersama menuju kamar rawat ibunya.
''Sama-sama, Zu. Oh ya, maafkan Yoga ya. Gara-gara dia, ibumu sampai mengira jika adikku itu suamimu," kata Farhan.
Azzura terkekeh. "Nggak apa-apa, Kak," ucapnya bersamaan dengan langkahnya yang telah terhenti tepat di depan kamar rawat sang ibu. "Aku masuk dulu ya."
"Bareng saja, aku juga ingin melihat kondisi ibumu."
Azzura mengangguk lalu membuka pintu sekaligus menyapa suster Tiara juga dokter Aida yang kebetulan baru saja memeriksa Bu Isma.
"Ai, sudah lama?" tanya Farhan.
"Nggak juga," jawab dokter Aida sembari mengulas senyum. "Oh ya, karena Zu sudah datang, aku ajak suster Tiara sebentar untuk memeriksa pasien yang lain."
"Iya, nggak apa-apa, Dok," sahut Azzura lalu duduk di sisi ranjang Bu Isma. Sedangkan dokter Aida dan suster Tiara meninggalkan kamar itu.
Farhan ikut mendekat lalu menatap iba Bu Isma. "Bu, bagaimana dengan kondisi kesehatan Ibu sekarang," tanya Farhan.
"Seperti yang kamu lihat, Nak," jawab bu Isma dengan suara lirih.
Farhan melirik Azzura sejenak. "Zu, aku ke ruanganku dulu, ya. Jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan ngomong sama aku," pesan Farhan. Setelah itu, ia meninggalkan kamar rawat bu Isma.
Sepeninggal Farhan, Azzura menatap lekat wajah ibunya.
"Azzura, kamu kenapa, Nak?" tanya ibu.
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Azzura lalu merebahkan kepalanya di sisi ranjang.
Entah mengapa, bu Isma merasa iba melihat putri semata wayangnya itu. Perlahan tangannya terangkat mengelus kepala sang putri dengan sayang.
Elusan lembut sang ibu justru membuat Azzura merasa nyaman disertai rasa kantuk. Selang beberapa menit kemudian ia malah tertidur.
Tak lama berselang, pintu kembali dibuka, terlihat Nanda di susul oleh Yoga memasuki kamar rawat itu.
"Nak Nanda, Yoga," sapa bu Isma.
"Bu, aku membawakan makanan," kata Yoga kemudian melirik Azzura sekilas. Ia meletakkan paper bag berisi box makanan di atas meja sofa.
"Zu," panggil Nanda seraya menggoyangkan bahu Azzura.
Merasa seperti ada yang memanggil serta menyentuhnya, Azzura langsung membuka mata.
"Nanda."
"Aku sama Yoga." Nanda mengarahkan dagu ke arah Yoga yang berada di belakangnya.
"Zu ... apa kita bicara sebentar?" pinta Nanda.
"Hmm." Ia melirik ke ibunya lalu meminta izin, ingin ke rooftop, sekalian meminta Yoga menemani sang ibu sebentar.
Sesaat setelah berada di rooftop.
"Zu, apa kamu baik-baik saja?"
"Hmm."
"Beneran?"
"Hmm."
Nanda mengernyit karena tidak biasanya Azzura hanya menjawab seperti itu bahkan tatapan matanya terlihat kosong.
"Zu!! Lihat aku dan tatap mataku!" sentak Nanda seraya mengarahkan tubuh sahabatnya itu menghadapnya.
"Zu, apa pria bajingan itu melakukan sesuatu padamu lagi?! cecar Nanda menebak.
Azzura menunduk, air matanya seketika menetes.
"Zu!" desak Nanda.
Azzura langsung memeluk Nanda sambil terisak mengingat kejadian semalam. Ia pun menceritakan semua perlakuan Close padanya semalam.
Seketika Nanda merasa marah sakligus ingin membalas perbuatan keji suami sahabatnya itu.
"Azzura yang malang, sampai kapan kamu akan bertahan jika kamu terus mendapatkan KDRT dari pria bajingan itu. Rasanya aku ingin membunuh saja!”
Keduanya tak menyadari jika Yoga sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Azzura, ini yang kedua kalinya aku memergokimu menangis seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Yoga bertanya-tanya.
Asik memperhatikan kedua sahabat itu, Yoga tersentak kaget ketika bahunya ditepuk.
"Ada apa?" Farhan ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Nggak apa-apa Kak. Entahlah aku merasa iba saja melihat Azzura," aku Yoga. "Ini kedua kalinya aku melihat ia menangis terisak."
"Sebelumnya?"
"Minggu kemarin," aku Yoga.
"Hmm, tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit bunda. Sepertinya dia baru saja memeriksakan kesehatannya. Tapi nggak tahu di poli mana?" jelas Farhan.
...🌿🌼----------------🌼🌿...
Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya 🙏. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Epifania R
padahal di poli bundamu farhan
2024-04-05
0
Sri Wahyuni
udah klau ibu y s azura klau emng crta y g bsa d obatin lgi ya uda peran g cpt d matiin az spya s zu ga terhalang ninggalin s close ibu y yg jd penghalang
2022-11-23
4
Sri Wahyuni
biasa nya klau d novel lain asisten itu pinter klau ada yg janggal itu d selidiki jngn ngmong d hati az
2022-11-23
1