17. RSK

Ketika tiba di kediamannya, waktu telah menunjukkan pukul 22:30. Azzura menghela nafas memandangi mobil Close sudah terparkir rapi di garasi.

Gadis itu memberi salam sesaat setelah membuka pintu. Dijawab atau tidak, Azzura tak ambil pusing.

Ketika berada di ruang tamu, gendang telinganya langsung disapa dengan suara khas orang sedang bercinta.

Pandangannya tertuju ke lantai dua tepatnya di kamar Close. Entah itu disengaja atau tidak pintu sang empunya kamar tak tertutup rapat.

Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas. lenguhan, desa*han serta erangan saling bersahutan.

Dan, benar saja, Close dan Laura sedang bergumul ria di kamar itu, tanpa memperdulikan kehadiran Azzura sang istri sah.

Azzura merasa jijik mendengar suara khas itu. Ia membekap mulutnya merasakan mual. Gadis itu langsung berlari ke arah dapur kemudian memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.

Close dan Laura saling berpandangan takala mendengar suara seseorang sedang muntah. Pergumulan panas pasangan kekasih itu seketika terganggu.

Close merasa jengkel sekaligus menuntaskan hasratnya lebih cepat. Erangan nikmat pria itu seketika memenuhi kamar. Dengan cepat, ia meraih handuk lalu melilitkan di pinggang.

Ia pun segera menuruni anak tangga lalu menghampiri Azzura yang terlihat masih memuntahkan isi perutnya.

Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Azzura membersihkan wajah. Baru saja ia akan berbalik, Close langsung menarik rambutnya. Mendorong sang istri sehingga perutnya membentur meja.

"Aakhh, Close?" rintih Azzura sambil memegang perut.

Plak! Plak!

Dua tamparan keras kembali mendarat di kedua pipi mulus Azzura.

"Katakan! Anak siapa yang sedang kamu kandung!" bentak Close lalu kembali menarik rambut Azzura.

"Lepasin!" Azzura memegang tangan Close.

"Kamu belum menjawabku! Cepat katakan kamu hamil anak siapa, hah! Apa kamu menikah denganku karena ingin menjebakku!" bentak Close lagi kemudian mendorong Azzura hingga terjatuh.

"Aku nggak hamil anak siapa-siapa, aku hanya mual," jelas Azzura.

Namun, Close yang seperti orang kesetanan tak mempercayai ucapan Azzura ia malah menginjak perut sang istri tanpa belas kasih.

"Aakkkh, Close, s-sakit." Azzura memegang kaki Close yang berada di atas perutnya sambil menahan sakit.

"Sakit? Biarkan janin yang ada di dalam perutmu ini, mati! Bahkan aku nggak sudi jika dia hidup!" ucap Close semakin menekan telapak kakinya di atas perut Azzura.

Mendengar ucapan keji sang suami, Azzura tersenyum sinis sekaligus menatap tajam mata suaminya.

Tatapan tajam Azzura yang terlihat seolah menantang sang suami, membuat pria itu jengkel. Ia semakin menekan telapak kakinya sehingga membuat Azzura mengerang kesakitan.

Wajah Azzura memerah menahan sakit sembari terbatuk-batuk. Close tersenyum puas lalu menarik kakinya.

Pria itu kemudian berjongkok. Mencengkeram kuat pipi Azzura dengan rahang mengetat.

"Jika sampai kamu beneran hamil, aku akan membuatmu lebih sakit dari ini. Bahkan nggak akan segan membunuh janinmu!" ancam Close.

Azzura bergeming tak menanggapi melainkan meringis menahan sakit.

Laura yang sejak tadi menyaksikan Azzura di siksa oleh Close, tersenyum puas.

"Rasain!! Siapa suruh mengganggu kesenangan kami?" ejek Laura lalu tertawa puas.

Ia langsung memeluk Close lalu mendaratkan kecupan di bibir, begitu sang kekasih menghampirinya.

Azzura menatap jijik keduanya. Sepeninggal Close dan Laura, gadis malang itu perlahan merangkak menghampiri pintu kamar. Dengan tangan gemetaran, ia membuka pintu.

Air mata Azzura langsung mengalir deras. Ia terisak sambil membekap mulut. Gadis berhijab itu, merasakan perutnya begitu sakit.

Namun, yang paling membuatnya sakit adalah, ucapan kejam, keji serta tak berperi kemanusiaan dari Close. Serta perbuatan terlarang yang dilakukan suami juga kekasihnya di rumah itu.

"Kalian berdua manusia laknat, menjijikkan!" maki Azzura dengan tersengal-sengal.

Lama ia duduk sambil menangis meratapi nasibnya. Sebelum akhirnya, ia meraih handuk juga pakaian lalu ke kamar mandi.

Satu jam berlalu ....

Tanpa memperdulikan suami juga gundiknya yang sedang bermesraan di ruang tamu, Azzura memilih memasak untuk dirinya sendiri.

Aroma kopi serta harumnya bau masakan Azzura, seketika menyebar. Sehingga membuat perut pasangan haram itu merasakan lapar.

'Harum kopi dan bumbu masakannya membuatku lapar,' batin Close lalu melirik Laura.

Sedangkan Azzura, setelah masakannya matang, ia membersihkan semua wadah. Setelah itu, sang barista membawa makanannya masuk ke dalam kamar.

Dengan lahap ia menyantap capcay buatannya sembari meraih ponselnya yang bergetar.

"Yoga," gumamnya lalu membiarkan benda itu terus bergetar hingga berhenti dengan sendirinya.

Setelah menghabiskan makanan juga kopinya, Azzura merapikan kasur lipatnya.

"Azzura, ingat, sesakit apapun siksaan dari pria keji itu, jangan pernah meneteskan air matamu." Azzura memperingati dirinya sendiri.

Ia memejamkan mata sembari mengusap perutnya yang masih terasa sakit. Tak lama berselang gadis malang itu pun tertidur.

Sedangkan Close dan Laura kini sudah berada kembali di dalam kamar. Melanjutkan tidur di kasur empuk yang sangat jauh berbeda dengan kasur milik Azzura.

Beberapa menit kemudian ...

Laura sudah tertidur sambil memeluk Close. Sedangkan yang di peluk masih belum bisa memejamkan matanya.

Penyiksaan yang baru saja ia lakukan pada Azzura kembali membayanginya. Perlahan ia melepas pelukan Laura. Meraih rokok beserta pemantiknya dari meja nakas.

Setelah membakar rokok, Close memilih ke lantai satu lalu ke pinggir kolam renang. Seketika ia langsung teringat kejadian semalam. Dengan teganya menceburkan Azzura ke dalam kolam itu bahkan menahan kepalanya untuk memberi efek jera.

Setelah menghabiskan satu batang rokok, pria itu kembali ke dapur sekaligus menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar Azzura.

Ia menatap pintu itu lalu berucap lirih, "Apa dia baik-baik saja?"

Close memutar handle pintu sekaligus ingin mengetahui keadaan Azzura. Namun kecewa karena pintu itu terkunci.

Pria blasteran itu tertunduk lesu mengingat kejadian barusan. Betapa beringasnya ia menyakiti Azzura tanpa belas kasihan.

Satu kata yang menyelimuti dirinya kini.

Menyesal ....

Namun, apa hendak dikata semuanya telah terjadi. Ia menyakiti Azzura bukan cuma fisik tapi juga batin sang istri.

Bukan orang tua Azzura yang menyakitinya melainkan suaminya.

Miris ....

Satu kata yang kini mewakili Azzura.

Azzura, ia bukan tak mampu membalas semua perbuatan keji suaminya. Akan tetapi, sang barista masih menghargai serta menghormati Close sebagai imamnya.

Namun, entah sampai kapan Azzura mampu bertahan. Kesabaran seseorang pasti ada batasnya, akan ada di titik lelah dan pada akhirnya memilih menyerah.🍂

...🌿................🌿....

Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya 🙏. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘

Terpopuler

Comments

Epifania R

Epifania R

walaupun membenci cukup tidak usa peduli saja jangan sampai dengan penyiksaan yang begitu kejih

2024-04-05

0

Nur Evida

Nur Evida

walaupun kamu sangat membenci Zura tapi jangan main KDRT juga, udah lah Thor penyiksaan yg di teŕima zura dari suami laknatnya😡

2023-03-16

0

🌹Fina Soe🌹

🌹Fina Soe🌹

jahat sekali kamu close...

2023-03-15

0

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!