14. RSK

Setibanya di cafe, Azzura dan Nanda kembali beraktifitas seperti biasa. Melayani pembeli dengan ramah juga mengantar pesanan pelanggan.

Menjelang siang, sang mertua mendatangi Azzura. "Zu, bisa ke ruangan momy sebentar?"

"Bisa, Mom, sebentar ya." Azzura mengangkat kedua jempol jari sembari tersenyum.

"Nanda, aku tinggal sebentar ya," izin Azzura lalu melepas celemeknya.

"Baiklah," sahut Nanda.

Azzura kemudian berlalu meninggalkan Nanda menuju ruangan kerja momy Lio.

"Mom," sapa Azzura sesaat setelah masuk ke ruangan sang mertua. "Ada apa, Mom?"

"Sayang, harusnya kamu dan Close pergi honeymoon. Bukan kembali bekerja. Setidaknya seminggu saja kalian meluangkan waktu bersama," saran Momy.

Azzura terkekeh. "Wah, Mom, sepertinya kalian sudah nggak sabar ingin menggendong cucu," kelakar Azzura.

"Nah itu, kamu bisa menebaknya," sahut Momy dengan senyum sembringah.

"Aku dan Close belum sempat memikirkannya, Mom. Apalagi kami sama-sama sibuk. Lagian ibu masih dalam tahap pemulihan," jelas Azzura sekaligus memberi alasan.

Momy Lioe mengangguk pelan. Ia tampak berpikir serta membenarkan ucapan Azzura. Kini wanita paruh baya itu menatap sang menantu kemudian berkata, "Oh ya, Zu, momy ingin kamu menjadi manager di cafe ini."

"Mom, terima kasih atas tawarannya. Tapi, aku lebih senang menjadi barista di cafe ini," tolak Azzura.

Kekecewaan seketika tampak di wajah momy Lio. Akan tetapi ia tetap menghormati keputusan Azzura.

"Ya sudah momy nggak akan memaksa. Tapi, jika kamu berubah pikiran jangan sungkan-sungkan ngomong sama momy, ya," saran Momy dengan seulas senyum.

.

.

.

Kantor Close ....

Close baru saja keluar dari ruang meeting bersama Yoga.

"Pak, saya permisi ke ruangan saya," izin Yoga.

"Hmm." Close melanjutkan langkah ke ruangannya.

Sesaat setelah masuk ke ruangannya, ia langsung melonggarkan dasi serta melepas jas-nya.

"Azzura!! Wanita seperti apa dia?! Setetes pun air matanya nggak mengalir meski aku menyakiti fisiknya," ucap Close dengan perasaan geram.

Tok! Tok! Tok!

Pandangan Close tertuju ke arah pintu. "Laura," ucap lirih.

"Sayang, aku membawakanmu makan siang," kata Laura seraya menghampiri sang kekasih.

Ia langsung duduk di pangkuan Close lalu mendaratkan kecupan di bibir. Close bergeming sembari memandangi Laura yang terlihat begitu seksi memamerkan lekuk tubuhnya.

Satu hal yang Close sadari. Azzura tak pernah mengenakan pakaian seksi seperti Laura. Gadis itu selalu berpakaian tertutup lengkap dengan hijabnya.

'Sejak zaman kuliah sampai sekarang, dia masih tetap sama. Pakaiannya tetap tertutup. Bahkan semalam saat dia tidur, hijabnya nggak lepas dari kepalanya. Apa dia nggak merasa kepanasan?'

"Sayang," panggil Laura kemudian melingkarkan tangan ke punggung leher Close.

"Hmm."

Keduanya mengarahkan pandangan ke pintu karena diketuk oleh seseorang. Tak lama kemudian Yoga terlihat membawa berkas.

"Ah, maaf Pak," ucap Yoga lalu menundukkan pandangan merasa tak enak.

Laura memutar bola matanya malas. Gadis blasteran itu kemudian beranjak dari pangkuan Close menuju sofa.

"Ada apa Yoga?" tanya Close.

"Saya ingin menyerahkan berkas penting ini, Pak," kata Yoga kemudian menyodorkan berkas itu kepada Close. "Pak, saya sekalian ingin minta izin untuk mengembalikan motor milik Zu."

Mendengar Yoga menyebut nama sang istri. Close langsung memberikan tajam pada pria itu.

"Ah, maksud saya Nyonya Azzura," sambung Yoga bahkan tak segan membalas tatapan tajam sang boss.

"Kenapa motor Azzura ada padamu?!" tanya Close kesal dengan rahang mengetat.

"Maaf Pak, kemarin saya nggak sengaja bertemu Nyonya Azzura di supermarket. Barang belanjaannya banyak jadi saya menawarkan diri untuk mengantarnya pulang," jelas Yoga.

Close bergeming mendengar penjelasan dari Yoga. Entah mengapa darahnya seolah mendidih membayangkan Yoga dan Azzura bersama.

"Pak," panggil Yoga sembari menanti jawaban.

"Hmm, pergilah!" kata Close dengan ketus.

Tanpa banyak kata Yoga memutar badan.

Ketika melangkah, ia melirik tajam ke arah Laura sekaligus merasa jijik pada gadis itu.

"Sayang, aku nggak suka sama asistenmu itu!" aku Laura kesal. "Sebaiknya kamu pecat saja dia lalu mencari assisten yang baru."

"Jangan ngaco kamu," sahut Close. "Jika aku memecatnya, aku nggak mungkin mendapatkan pengganti secerdas serta cekatan seperti Yoga."

Laura mendengus kesal. Sedetik kemudian ia berkata, "Makan yuk."

Close tak menanggapi karena memikirkan Azzura juga Yoga. Masih jelas dalam ingatannya ketika memergoki istrinya tertawa lepas bersama pria itu.

'Akh,sial! Kenapa aku malah memikirkan mereka berdua!' umpat Close dalam hati merasa dongkol.

"Sayang, kita makan siang di cafe saja," usul Close.

"Tapi kenapa? Aku sudah membawa makanan untukmu," protes Laura.

"Aku ingin ke cafe saja!" tegas Close tak ingin di bantah. Bahkan tak menghiraukan wajah kesal Laura.

Laura menghentakkan kaki sekaligus menuruti keinginan Close. Karena ia tak punya pilihan lain.

"Kenapa sih, kamu tiba-tiba berubah ingin makan di cafe?!" cecar Laura ketika keduanya berada di dalam lift.

Close tetap bungkam tak menghiraukan ocehan Laura.

.

.

.

Setibanya di cafe, Close tersenyum sinis saat mendapati motor Azzura sudah berada di area parkir karyawan.

Sesaat setelah berada di dalam cafe, ia langsung ke meja barista karena ingin memastikan Azzura ada di tempat itu.

"Permisi," kata Close.

Azzura berbalik sambil mengernyit. Ia memberi kode pada Nanda supaya melayani sang suami. Sedangkan ia sendiri akan mengantar pesanan Yoga.

Ekor mata Close tak lepas mengikuti ke mana arah langkah sang istri akan berhenti. Saat tahu Azzura ke meja Yoga, darahnya kembali mendidih.

Sedangkan Azzura yang kini berada di meja Yoga sedang menyajikan pesanan pria itu.

"Terima kasih ya, Zu," ucap Yoga dengan seulas senyum.

"Sama-sama, silakan dinikmati hidangannya," tawar Azzura kemudian meninggalkan Yoga.

Azzura kembali ke meja barista sekaligus berpapasan dengan Close juga Laura. Dengan cepat, Close mencekal lengan Azzura lalu berbisik, "Ikut aku ke ruangan Momy."

Close melirik Laura lalu meminta sang kekasih menunggunya di salah satu meja yang kosong. Meski enggan serta kesal Laura tetap menurut.

Close tak melepas cekalan tangannya dari Azzura sehingga membuat gadis itu meringis. Dari meja yang tak begitu jauh, gelagat keduanya menjadi perhatian Yoga.

"Close ... lepasin!! Kamu apa-apaan sih!" bentak Azzura. Melepas paksa tangan besar suaminya.

"Apa kamu nggak mendengarku tadi?! Harusnya kamu melayani aku dulu daripada pria itu!" Close balik membentak.

Azzura tersenyum sinis sembari menatap tajam Close. "Ya, aku mendengar. Tapi aku lebih memprioritaskan pelanggan yang lebih dulu mengorder sebelum kamu. Lagian belum tentu kamu akan mencicipi makanan yang sudah tersentuh oleh tanganku," sindir Azzura kemudian meninggalkan Close.

Close mematung tak berkutik mendengar sindiran Azzura. Akhirnya ia kembali ke meja di mana Laura sedang menunggunya. Selera makannya langsung hilang dalam sekejap.

...----------------...

Jangan lupa masukkan sebagai favorit ya 🙏. Bantu like, vote dan komen, setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘

Terpopuler

Comments

Epifania R

Epifania R

suami biadap

2024-04-05

0

Hida Paridah12

Hida Paridah12

Close yg sangat membenci Azzura tapi sangat cemburuan juga, bener2 suami laknat.

2023-03-27

0

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!