9. RSK

Tepat jam 1.00 dini hari, Azzura terbangun. Akibat benturan tadi, ia merasakan kepalanya begitu sakit.

Azzura meringis seraya merubah posisi menjadi duduk. Sejenak ia termenung merasa tak habis pikir dengan suaminya. Tanpa memikirkan perasaannya, membawa sang kekasih ke rumah mereka lalu melakukan perbuatan zina.

Meski tak memiliki perasaan apapun terhadap Close, Azzura tetap merasa terluka. Tanpa segan sang suami memaki sekaligus berlaku kasar padanya di depan Laura.

"Kalian menjijikkan!"umpat Azzura. Ia beranjak kemudian menghampiri pintu.

Sesaat setelah berada di dapur, ia membuka lemari gantung mencari sesuatu untuk di makan. Namun, tak ada apapun di dalam tempat itu melainkan kosong melompong.

Ketika membuka kulkas, ia menghela nafas karena hanya ada air mineral.

"Besok kan hari minggu. Sebaiknya aku belanja bulanan saja." Azzura kembali lagi ke kamar lalu melanjutkan tidurnya.

.

.

.

Pagi harinya ....

Setelah membersihkan, Azzura beristirahat sejenak di pinggir kolam sambil memainkan kakinya di dalam air.

Sesekali ia tersenyum. Mendongak menatap langit seraya menghirup udara pagi.

Sedangkan Close yang baru saja menuruni anak tangga, mengerutkan kening sekaligus memindai ruangan yang terlihat sudah bersih dan rapi.

Ia melanjutkan langkah menuju dapur. Setelah meneguk air, Close akan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi langkahnya terhenti ketika berada tepat di depan pintu kamar Azzura.

Spontan tangannya terangkat ingin membuka pintu itu. Akan tetapi tertahan karena Azzura menegurnya.

"Close, mau ngapain kamu?"

Close langsung mengarahkan pandangannya pada Azzura yang sedang berjalan ke arahnya.

"Jangan pernah membuka atau masuk ke kamar ini. Karena ini area privasiku. Bukankah kita ini seperti orang asing!” tegas Azzura.

Close bergeming mendengar ucapan frontal bernada dingin dari istrinya.

"Kembalilah ke kamarmu. Takutnya kamu akan alergi berada di area wanita kampungan sepertiku!” tegas Azzura lagi lalu masuk ke kamarnya kemudian langsung mengunci pintu.

Close terpekur sekaligus menatap nanar pintu kamar yang kini telah tertutup rapat. Ia pun kembali ke kamarnya sambil geleng-geleng kepala mendapati Laura masih tertidur.

Ia segera masuk ke kamar mandi. Di bayar guyuran air, ia sedikit merasa bersalah pada Azzura. Karena mendapati jidat gadis itu memar.

********

Di ruang tamu, Close sedang termenung, sepi yang ia rasakan. Sedangkan Azzura yang baru saja selesai mandi, cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya.

Tiga puluh menit kemudian ....

Azzura sudah rapi dengan pakaian casual. Ketika melangkah keluar, hatinya seketika mencelos melihat Close dan Laura sedang bermesraan di sofa ruang tamu.

'Menjijikan!' umpat Lea dalam batin

"Close." Azzura menegur pria itu.

Close dan Laura langsung menoleh. "Ada apa?"

"Berapa angka password pintu rumah? Aku nggak mau menganggu kesenangan kalian jika aku terlambat pulang kerja," tutur Azzura dengan wajah datar.

Close tersenyum sinis. Akan tetapi benaknya bertanya-tanya, mau ke mana gadis itu?

"Password-nya 241793, itu kombinasi tanggal lahirku juga calon istriku," jawab Close lalu mengecup bibir Laura.

Azzura memutar bola matanya malas disertai senyum sinis, melihat kelakuan tak beradab Close juga Laura.

'Kamu pikir aku cemburu? Aku malah jijik melihat kelakuan kalian berdua,' batin Azzura.

"Aku pamit dan selamat bersenang-senang buat kalian berdua," kata Azzura kemudian mengayunkan langkah.

Sepeninggal Azzura, Close melepas dekapan Laura lalu berkata, "Ini kan hari Minggu, yuk kita jalan jalan."

"Kalau begitu temani aku shopping," rengek Laura .

"Baiklah asalkan kamu happy," sahut Close.

********

Azzura, yang saat ini masih dalam perjalanan menuju swalayan. Setibanya di tempat tujuan, ia pun melangkah ecil lalu mengambil salah satu troli kosong.

Ia mulai menyusuri satu demi satu rak makanan juga minuman kemudian lanjut ke bagian sayuran dan sejenisnya.

Mengambil apa saja yang ia butuhkan untuk mengisi bahan pokok perdapuran. Saking asiknya berbelanja, tak terasa troli belanjaan Azzura sudah penuh.

Ia terkekeh lalu bergumam, "Aku seperti baru turun gunung saja."

Ketika akan mendorong trolinya, seseorang menegurnya.

"Zu!"

Azzura berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang. "Yoga, belanja juga? Sendiri atau lagi menemani pacar, mama, atau adik?" tanya Azzura.

Yoga menggelengkan kepala seraya berkata, "Aku berdua dengan temanku. Aku hanya mampir sebentar karena ingin membeli air mineral

"Mau aku traktir nggak," tawar Azzura.

"Boleh deh." Yoga terlihat antusias.

"Ya sudah, kamu boleh ambil apa saja. Aku tunggu di kasir ya," cetus Azzura kemudian mendorong troli belanjaannya ke arah kasir.

Sambil menunggu giliran, Azzura mengirim pesan singkat kepada Nanda. Tak lama berselang, Yoga menghampiri.

"Zu, apa Pak Close bersamamu?"

"Nggak, tadinya aku ingin mengajak. Tapi urung karena nggak tega membangunkannya," jelas Azzura berbohong.

"Oh, begitu, ya. Apa kamu membawa mobil?" tanya Yoga dan Azzura menjawab dengan gelengan kepala. "Kalau begitu biar aku saja yang mengantarmu pulang. Lagian barang belanjaanmu banyak banget."

"Lalu, motorku?"

"Gampang, nggak usah dipikirin."

Setelah membayar barang belanjaan, Yoga membantu Azzura membawa barang barang belanjaannya.

"Zu, tunggu di sini sebentar," pinta Yoga.

"Baiklah." Azzura mengangguk patuh.

Di area parkir, Yoga menghampiri kendaraannya. "Radit, ikut aku sebentar," pinta Yoga sekaligus meminta pria itu menjalankan mobil ke arah yang ia maksud.

"Ke mana?" tanya Radit.

"Pokoknya jalan saja, nggak usah banyak tanya. Nanti berhenti di depan gadis yang sedang berdiri di sana," perintah Yoga seraya menunjuk Azzura.

Sesaat setelah menghentikan mobil di depan Azzura, Yoga dan Radit sama sama keluar dari kendaraan itu.

"Zu, motormu biar di bawa sama temanku saja, ya," saran Yoga.

"Baiklah, besok antar ke cafe saja, ya," pinta Azzura sembari memberikan kunci motornya kepada Radit.

"Baik." Radit mengambil kunci motor Azzura.

Beberapa menit kemudian, setelah memastikan tak ada barang yang ketinggalan, Yoga dan Azzura berpamitan pada Radit.

"Dit, kami duluan, ya," pamit Yoga lalu mengajak Azzura masuk ke dalam mobil.

Radit mengangguk. Namun, sedikit bingung. "Apa dia sudah nggak waras? Itu kan, istri boss-nya. Ada-ada saja si Yoga. Nggak takut apa di cap pebinor," gumam Radit sambil memandangi mobil itu yang sudah menjauh.

*******

Ketika dalam perjalanan pulang, sesekali Yoga melirik Azzura. Alisnya seketika bertaut saat menyadari kening gadis itu memar.

"Zu."

"Hmm."

"Keningmu kok memar?" selidik Yoga

Azzura langsung meraba kening disertai sebuah senyuman tipis.

"Oh ini ... aku terpeleset di kamar mandi lalu terbentur tembok," jelas Azzura.

"Lain kali hati-hati Zu. Oh ya, apa kita bisa bertukar nomor ponsel?" pinta Yoga penuh harap.

"Tentu saja, kemarikan ponselmu?"

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Yoga langsung memberikan ponselnya pada Azzura.

Setelah menyimpan nomor kontaknya, Azzura menyerahkan kembali ponsel milik Yoga.

"Besok aku akan menghubungimu setelah mengantar motormu ke cafe," tutur Yoga.

Azzura hanya mengangguk. Tak lama berselang ponselnya bergetar. "Nanda," gumamnya lirih kemudian menggeser tombol hijau. "Assalamu'alaikum, Nanda. Apa kamu sudah sampai?"

"Waa'laikumsalam, Zu. Aku sudah didepan pintu rumah," jawab Nanda dari seberang telefon.

"Maaf, aku masih dalam perjalanan," balas Azzura.

"Baiklah, aku tunggu," timpal Nanda kemudian memutuskan panggilan telefon.

Azzura melirik Yoga seraya berkata, "Yoga nanti belok kanan, ya."

"Ok."

Setibanya di alamat yang dimaksud, Azzura tak lupa berterima kasih pada Yoga. "Yoga, makasih ya."

"Sama-sama Zu, biar aku membantumu," tawar Yoga dan dijawab dengan anggukan oleh Azzura.

"Zu, siapa?" bisik Nanda ketika Azzura menghampiri pintu utama.

"Yoga, asistennya Close. Ayo kita masuk," ajak Azzura begitu pintu terbuka.

Ketiganya pun masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur.

...🌿--------------🌿...

Jangan lupa like, vote dan komen. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author. Terima kasih ... 🙏☺️😘😘

Terpopuler

Comments

Tiara

Tiara

Tumben baca novel tapi dukung tokoh antagonis nya. Karena menurutku masuk akal apa yg dilakuin. Karena Azzura gk tau cara komunikasi. Padahal katanya kuliah.

2025-01-30

0

Epifania R

Epifania R

tega sekali close bawa wanita lain kerumah

2024-04-05

0

Nur Evida

Nur Evida

Close gak seharusnya kamu bawa kekasih mu kerumah walaupun kamu benci sama Zura.
Yoga diam2 suka sama Zura, aqu nya setuju kalau Yoga jadi pebinor biar tau rasa Close nya

2023-03-16

1

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!