7. RSK

Azzura sedang merapikan pakaian ke dalam koper kecil. Pikirnya untuk apa membawa semua baju miliknya. Toh, dia juga akan sering mampir ke rumah itu.

Setelah merasa cukup, Azzura turun ke lantai satu. Memindai seluruh sudut ruangan kemudian mengulas senyum, ketika memandangi pigura foto keluarganya.

"Ayah, aku akan setangguh dan sekuat dirimu. Bersikap lembut dan patuh seperti ibu. Bukan tak ingin melawan atau membalas ucapan serta perbuatan suamiku. Akan tetapi aku masih menghormatinya," tutur Azzura dengan hela nafas.

Dengan langkah gontai ia mendorong kopernya menuju pintu utama. Merasa sudah tak ada yang ketinggalan, Azzura pun meninggalkan rumah itu.

Sebelum benar-benar tiba di kediaman Close, ia terlebih dulu mampir di salah satu danau buatan untuk menenangkan hati serta pikirannya.

"Ya Allah ... belum sehari, aku sudah mendapat kekerasan fisik." Lea mengelus keningnya yang masih terasa sakit akibat terbentur.

"Zu." Seseorang menyapa.

Azzura menoleh ke arah sumber suara sembari tersenyum. "Yoga."

"Sedang apa kamu di sini?" tanya Yoga lalu duduk di sisi Azzura.

"Hanya ingin memandangi keindahan danau. Kebetulan alamat yang aku tuju arahnya ke sini. Jadi, aku singgah sebentar," jelas Azzura.

"Biar aku saja yang mengantarmu," tawar Yoga.

"Terima kasih, Yoga, lain kali saja soalnya aku bawa motor. Oh ya, apa kamu nggak ngantor? Nggak takut apa sama boss-mu itu?" kelakar Azzura lalu tertawa.

Yoga ikut tertawa. "Ngantor, tadi baru selesai bertemu klien atas perintah pak boss. Kebetulan lewat sini dan nggak sengaja melihatmu, jadi aku sekalian mampir."

"Gitu ya, nggak bohong kan? Takutnya gaji kamu bakalan dipotong. Jika sudah begitu kamu nggak bisa traktir aku dong," kelakar Azzura lagi.

"Nggak masalah jika gajiku dipotong. Aku masih bisa mentraktirmu kok. Tapi, hanya es seharga tiga ribuan," timpal Yoga.

Keduanya langsung tertawa lepas. Sejenak kesedihan Azzura seketika menghilang dengan candaan Yoga.

Mereka tak menyadari jika sejak tadi Close memperhatikan keduanya dari balik kaca mobil.

Ada perasaan yang sulit ia artikan ketika melihat kedekatan istri juga asistennya itu. Close mencengkram kuat setir mobil, rahangnya mengetat serta tatapannya menghunus tajam ke arah Azzura dan Yoga.

Dengan emosi berapi-api, ia kembali melajukan kendaraannya. Sedangkan Azzura dan Yoga masih berada di bangku yang sama.

Beberapa menit kemudian, setelah merasa perasaannya sudah membaik, Azzura kemudian berpamitan.

"Yoga, aku pamit, ya. Kembalilah ke kantor. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi,"

"Baiklah, hati-hati ya, Zu," kata Yoga. Namun, entah mengapa, ia sangat mengkhawatirkan wanita berhijab itu.

Azzura mengangguk lalu meninggalkan Yoga yang masih berdiri sambil menatapnya.

"Entah mengapa aku mengkhawatirkan dia. Semoga kamu baik-baik saja Zu," gumam Yoga sesaat setelah Azzura meninggalkan dirinya.

.

.

.

Setibanya di rumah ....

"Assalamu'alaikum," ucap Azzura kemudian mengetuk pintu.

Begitu pintu dibuka, Azzura mengusap tengkuknya. Ia tak bisa melanjutkan langkah karena Close masih berdiri di ambang pintu disertai tatapan menghunus tajam.

"Dari mana saja kamu, hah!!! Harusnya kamu itu sampai duluan di rumah ini sebelum aku tiba!" bentak Close lalu mencengkeram kuat lengan Azzura.

"Walaupun aku sampai lebih dulu, aku juga nggak bisa masuk, soalnya pintunya menggunakan smart lock," balas Azzura kemudian meringis.

Close bungkam, tanpa melepas cengkeramannya ia menarik tangan Azzura dengan kasar menuju kamar.

Dengan terseok-seok Azzura mengikuti langkah Close. Alih-alih mendapat kamar bagus, sang barista diberikan kamar yang jauh daripada kata layak. Lebih tepatnya seperti gudang.

"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan tidur di sini. Jangan pernah masuk ke kamarku atau pun kamar yang ada di rumah ini, kecuali ..."

Close menjeda sejenak kalimatnya sembari menyeringai. Ia mengeluarkan selembar kertas juga cek kosong.

"Kecuali apa?" tanya Azzura.

"Kecuali kamu sudah lelah dan menyerah. Maka tanda tangani surat perjanjian perceraian ini. Tulislah nominal uang yang kamu inginkan di cek kosong ini, setelah itu enyahlah dari rumahku. Gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena aku akan menikahi Laura dan tinggal bersamanya di sini!" tegas Close dengan tatapan benci.

Bugh ...

Azzura merasa dadanya seperti dihantam batu.

Singgg ....

Hatinya seperti di disayat-sayat belati tajam.

Nyess ...

Luka yang tak tampak juga tak berdarah itu seperti di sirami air garam.

Sesak ...

Sakit ...

Perih ...

Semuanya menjadi satu, itulah yang di rasakan Azzura saat ini. Ingin rasanya ia menangis namun sebisa mungkin tetap menahan kristal bening di pelupuk matanya.

Ia tersenyum sinis merasa miris. Menatap manik coklat sang suami sambil mengangguk dalam diam. Sedetik kemudian, ia pun membuka suara.

"Hanya itu? Apa masih ada yang lain? Jika sudah nggak ada lagi yang ingin kamu katakan, silakan keluar. Takutnya kamu akan alergi berada di kamar sempit dan pengap ini!" sindir Azzura, secara tak langsung mengusir suaminya dari kamar itu.

Close bungkam tak bisa membalas. Dengan perasaan geram, ia pun meninggalkan Azzura lalu ke kamarnya di lantai dua.

Sepeninggal Close, Azzura langsung mengunci pintu kamar. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah begitu saja.

Malang sungguh nasib Azzura. Namun, demi kesembuhan sang ibu, ia rela menderita.

Azzura terus menangis. Merebahkan tubuhnya di atas lantai tanpa alas sehingga ia lelah lalu tertidur.

Sedangkan Close yang berada di kamarnya, sedang menyesap rokok sembari menatap surat perjanjian beserta cek kosong.

"Aku ingin secepatnya cek ini terisi dan surat perjanjian ini segera di tanda tangani olehnya," gumam Close lalu menyimpan surat perjanjian serta cek itu ke dalam laci nakas.

Ketika akan mendorong laci nakas, Close menatap cincin kawin di jari manisnya. Dengan perasaan dongkol ia melepas benda itu lalu ikut menyimpan ke dalam laci.

"Untuk apa aku memakai cincin itu, lagian aku nggak akan menganggapnya istriku melainkan orang asing."

.

.

.

Kantor Close ....

Yoga terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Memastikan tak terjadi kesalahan pada berkas yang sedang ia periksa.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun bersandar sejenak di kursi kerja sambil memijat kening turun ke pangkal hidung.

Pikirannya seketika melayang memikirkan Azzura.

Khawatir ...

Satu kata itu yang sedang mewakili juga menyelimuti dirinya.

"Dari tatapan matanya terlihat banget jika dia tertekan juga menyimpan kesedihan mendalam. Dia bisa saja menutupi kesedihannya dengan senyuman. Namun, tetap saja mata nggak bisa berbohong," gumam Yoga.

...🌿----------------🌿...

Jangan lupa like, vote dan coment ya. Bantu like dan vote setidaknya readers terkasih telah membantu ikut mempromosikan karya author Terima kasih ... 🙏☺️😘🥰 ....

Terpopuler

Comments

Epifania R

Epifania R

nyesak bangat thor

2024-04-05

0

Nur Evida

Nur Evida

nyesek baca nya Thor

2023-03-16

1

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!