6. RSK

Subuh dini hari, setelah selesai melaksanakan shalat subuh, Azzura meraih ponsel di atas meja.

"Mudah-mudahan Momy sudah bangun," gumamnya lalu menghubungi nomor sang mertua.

Di deringan yang ketiga barulah panggilan itu tersambung.

"Zu, ada apa, Nak? Kok kamu sudah bangun sepagi ini?" tanya Momy.

"Nggak apa-apa, Mom. Aku hanya ingin meminta izin pada Momy. Izinkan Nanda libur selama dua hari. Boleh ya, Mom."

"Boleh, Nak, apa kamu masih di hotel bersama Close?"

"Nggak Mom, aku lagi di rumah sakit. Kemarin aku sudah izin padanya."

"Ya sudah nggak apa-apa, Nak. Momy dan Daddy akan membesuk ibumu nanti."

"Iya, Mom, terima kasih," ucap Azzura. Setelah itu ia memutuskan panggilan telefon.

.

.

.

Apartemen Laura ....

Ketika Close membuka mata, ia langsung meraih ponselnya di meja nakas.

"5.30?!" Ia melirik Laura yang tampak masih tertidur pulas di sampingnya. Menyibak selimut kemudian bangkit dari tempat tidur.

Dengan langkah cepat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa percintaannya semalam.

Beberapa menit kemudian, ia sudah tampak rapi. Memilih meninggalkan tempat itu tanpa membangunkan sang kekasih

Ketika dalam perjalanan pulang Close menyeringai.

"Aku ingin lihat sampai di mana batas kesabaranmu menghadapiku."

Tak lama berselang, ia tiba di hotel. Dengan tergesa-gesa ia melangkah cepat menuju lift.

Sesaat setelah berada di depan pintu kamar, Close menempelkan kartu akses. Masuk ke dalam kamar sembari merogoh saku celana.

"Ah, Sial! Aku malah lupa menyimpan nomor ponselnya!" umpat Close. Menghempas tubuh di atas ranjang, memejamkan mata melanjutkan tidur.

.

.

.

Jam 9.00 pagi ....

Nyonya Liodra dan Tuan Kheil menyambangi rumah sakit kota J untuk membesuk sang besan.

Tok ... tok ... tok ...

Azzura yang baru saja merapikan kupluk ibu, mengarahkan pandangan ke arah pintu. Ia langsung tersenyum saat tahu siapa yang datang.

"Mom, Daddy, berdua saja?''

"Iya, Nak," sahut Momy seraya menghampiri. "Bu Isma, maaf kemarin kami nggak sempat ke sini menjengukmu."

"Nggak apa-apa, Bu."

"Bagaimana keadaannya Ibu sekarang?" timpal Tuan Kheil.

"Alhamdulillah, saya merasa jauh lebih baik," jawab Bu Isma dengan senyum tipis.

"Azzura, ini ... gunakan untuk memenuhi semua kebutuhanmu juga perawatan ibumu, Nak," kata Momy seraya memberikan black card miliknya.

"Mom," ucap Azzura nyaris tak terdengar. Ia memeluk mertuanya itu merasa terharu. "Nggak, Mom."

"Tapi, Nak ...."

"Mom, terima kasih sudah berbaik hati menanggung semua biaya operasi ibuku. Aku nggak berharap lebih dari Momy, cukuplah tiap bulan Momy membayar biaya perawatan ibu," bisik Azzura.

"Azzura ... jika kamu butuh bantuan jangan sungkan mengatakannya pada kami, Nak," kata Daddy.

"Terima kasih, Dad Mom," ucap Azzura sembari mengurai pelukannya.

"Kembalilah ke hotel. Mungkin Close sudah menunggumu," pinta Momy.

"Tapi Mom ...."

"Nggak apa-apa Nak, Momy sudah menyewa dua perawat untuk mengurus ibumu di sini," jelas Momy.

Azzura menghampiri ibu kemudian menggenggam jemarinya. Meskipun akan ada perawat yang akan mengurusnya. Tetap saja ia merasa berat ingin meninggalkan sang ibu.

Melihat keraguan di wajah putri semata wayangnya itu, Bu Isma membuka suara.

"Sayang, kembalilah ke hotel, kasian suamimu dia pasti cemas menunggumu."

'Dia nggak bakalan peduli apalagi mencemaskanku, Bu,' batin Azzura. "Baiklah Bu, Mom, Dad. Aku pulang sekarang," pamitnya.

Setelah itu, ia meraih paper bag. Meninggalkan kamar rawat dengan berat hati.

Entah mengapa saat mengingat Close, seketika ia bergidik ngeri. Mengusap tengkuk sambil menghela nafas.

"Entah apa yang akan terjadi padaku jika serumah dengan pria arogan itu. Apapun yang akan terjadi aku harus kuat serta bertahan demi ibu."

Begitu tiba di parkiran, dengan malas Azzura menunggangi kuda besinya. Meninggalkan tempat itu menuju hotel.

.

.

.

Tok ... tok ... tok ....

Close yang sedang menyesap rokok di balkon langsung berbalik badan disertai seringai. Melangkah menghampiri pintu lalu membuka benda itu.

"Beraninya kamu membohongi. Kamu bilang pulang ke rumah, nyatanya kamu nggak ada di sana!"

Close langsung menarik rambut Azzura yang tertutup hijab. Mendorong keras sang istri sehingga keningnya terbentur ke sisi ranjang.

"Ssssttt." Azzura meringis dengan wajah tertunduk mengusap kening.

Merasa belum puas, Close kembali mencengkeram pipinya. "Katakan, kamu di mana saja kemarin?!"

"Lepasin!" pinta Azzura.

Close menyeringai melepas cengkeramannya lalu berdiri.

"Kemasi semua barang bawaanmu. Kita akan pulang tapi bukan di rumah Momy melainkan rumahku," perintah Close.

"Hmm." Hanya itu jawaban dari Azzura.

"Jangan pernah berharap apapun dariku. Aku nggak bakal menganggapmu sebagai istri melainkan hanya sebagai orang asing. Aku bahkan nggak akan menyentuhmu apalagi bernafsu dengan wanita kampungan sepertimu. Kita akan tidur di kamar yang berbeda!" tegas Close dengan percaya diri.

Azzura tersenyum sinis merasa miris. Ucapan sang suami setidaknya membuatnya lega. Ia pun tak sudi jika harus sekamar apalagi disentuh oleh Close.

"Cepat kemasi barang-barang mu. Aku akan menunggumu di mobil," perintah Close sembari akan melangkah keluar. Akan tetapi terhenti ketika Azzura membuka suara.

"Hmm. Berikan saja alamat rumahmu. Aku akan ke sana menggunakan motorku. Bukankah kita ini seperti orang asing?" sindir Azzura.

Close terpekur mendengar sindiran itu. Dengan perasaan jengkel ia pun menulis alamat rumah lalu memberikannya pada Azzura.

Setelah mendapat alamat itu, Azzura kemudian berpamitan. Meninggalkan kamar dengan senyum sinis.

"Apa kamu tahu Close? ucapanmu tadi, secara nggak langsung telah menjatuhkan talak satu ke atas diriku," gumam Azzura.

Sedangkan Close yang masih berada di dalam kamar hotel tampak termenung. Tak habis pikir dengan sikap Azzura yang tampak begitu tenang.

Satu hal yang baru ia sadari adalah, baju yang dikenakan Azzura kemarin masih tetap sama.

"Sebenarnya ke mana gadis barista itu semalam? Pakaiannya masih tetap sama nggak diganti!"

...----------------...

Terpopuler

Comments

Tiara

Tiara

Disinilah pentingnya keterbukaan. Close salah paham gak salah, Azzura yg salah. Gak terus terang sama close. Apalagi di mlm pengantin nya. Gak sopan Azzura. Menderita ya wajar. Gak tau komunikasi.

2025-01-30

0

Epifania R

Epifania R

semangat azzura

2024-04-05

0

Nur Evida

Nur Evida

Azzura 💪💪💪💪

2023-03-16

0

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!