4. RSK

Di pelaminan, Azzura tetap tersenyum ramah menyalami satu per satu tamu undangan.

Sesekali Close melirik dengan tatapan yang sulit di artikan ketika melihat senyum tulus sang istri kepada tamu undangan.

Hatinya seketika menghangat bahkan ingin merengkuh tubuh gadis berhijab nan bermata indah itu.

'Senyum itu ... aku sangat merindukan senyum tulus itu, Zu.'

Namun, senyum tulus itu seketika menghilang ketika bola mata mereka saling bertabrakan. Dengan cepat Azzura memalingkan wajah.

Di tengah meriahnya pesta itu, benaknya terus diliputi rasa cemas memikirkan sang ibu.

Melihat Azzura yang terlihat gelisah, Close berinisiatif merangkul sekaligus ingin menenangkan. Namun, secepat kilat Azzura menepis tangan sekaligus menjaga jarak.

Tak pelak, buntut dari penolakan itu, seketika membuat Close emosi. Akan tetapi ia tutupi dengan sikap cool-nya.

'Sial!! Berani-beraninya dia menepis tanganku!'

Saat sesi foto bersama dengan keluarga besar, Azzura tetap tersenyum meski merasa gelisah memikirkan sang ibu.

Selesai foto bersama, Momy Liodra mengajaknya duduk di salah satu meja.

"Sayang, makan dulu Nak. Wajahmu terlihat pucat. Apa kamu baik-baik saja? Momy perhatikan sejak tadi kamu terlihat cemas."

"Mom, aku baik-baik saja. Hanya saja, aku mencemaskan ibu. Apa pesta ini masih lama Mom?" tanya Zu.

"Sebentar lagi sudah mau selesai," jawab Momy.

"Mom, izinkan aku ke rumah sakit setelah pesta ini selesai."

"Baiklah, semoga operasi ibumu berjalan lancar. Momy akan membesuk besok saja," kata Momy.

"Nggak apa-apa Mom, terima kasih." Azzura menghela bernafas lega.

Di meja lain, Close sesekali melirik Azzura Bahkan sepasang matanya seolah tak ingin teralih.

"Close, selamat ya. Aku nggak menyangka jika kamu dan Azzura bakal berjodoh, padahal kamu sangat membencinya," kata Mizan.

"Aku juga nggak menyangka," timpal Sammy.

"Kalian pikir aku mencintainya? Lagian pernikahan ini bukan mauku melainkan Momy yang memaksa. Kalian tahu kan, jika aku hanya mencintai Laura bukan gadis kampungan itu!" jelas Close dengan perasaan dongkol.

Mizan dan Sammy hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan teman sekaligus kolega bisnisnya itu.

Sedangkan Laura yang duduk bersebelahan dengan Close ikut merasa jengkel. Sejak tadi, ia terus memandangi Azzura yang terlihat masih mengobrol dengan mertua juga Gisel.

"Sayang, nggak usah dilihat terus biarkan saja. Sepertinya dia licik juga. Pintar banget mengambil hati Momy, Dady dan Gisel," tutur Close pada Laura.

"Ngeselin banget! Sayang, setelah resepsi ini kelar, antar aku pulang ya," rengek Laura.

"Baiklah," kata Close.

"Oh ya, Close, Laura. Aku dan Sammy pamit," izin Mizan. Beranjak dari kursi kemudian menjabat tangan Close. "Apapun itu, selamat ya, Bro."

Close mengangguk balas menjabat tangan temannya. Setelah itu, Mizan dan Sammy menghampiri Azzura. Memberi ucapan selamat lalu meninggalkan ballroom.

Beberapa jam berlalu ...

Pesta yang memang hanya berlangsung pagi hingga siang itu, akhirnya kelar juga.

Dengan langkah kecil, Azzura menuju ke arah lift. Menekan tombol sembari menunggu pintu itu terbuka. Begitu ia masuk ke dalam elevator, ia terkejut saat Close menahan pintu besi itu.

'Close.'

Azzura mendesah sembari memutar bola mata malas. Ingin protes pun percuma. Ujungnya pasti ia akan mendengar kata umpatan kasar.

Keduanya sama-sama bungkam. Sesekali Close curi-curi pandang menatap Azzura. Ingin sekali ia memeluk sang istri, akan tetapi dikalahkan dengan rasa ego.

Ting!

Pintu lift terbuka. Close langsung cepat-cepat mengarahkan pandangan ke depan. Keluar dari elevator disusul oleh Azzura menuju kamar yang sama.

Sesaat setelah berada di dalam kamar, Azzura langsung menyambar tas serta paper bag. Karena buru-buru kakinya tersandung dan hampir saja terjatuh. Namun, dengan sigap Close menangkap lalu memeluknya dengan erat.

Sadar jika ia sedang dalam rengkuhan Close, Azzura perlahan melepas pelukan itu. Sedangkan Close, ia merasa dadanya kembali berdetak kencang.

Azzura kembali melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Melepas kebaya beserta aksesoris lainnya. Membersihkan sisa-sisa make up yang masih menempel di wajah.

Setelah merasa sudah benar-benar bersih, ia pun segera mengenakan pakaian ganti beserta jilbabnya.

Ketika ia ingin memeriksa ponsel, suara gedoran pintu dari luar terdengar memekakkan telinga.

Dorrrrr ... dorrr ... dorrrr!

"Dasar nggak punya akhlak," gerutu Azzura. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Dengan perasaan dongkol ia menghampiri pintu lalu membuka benda itu.

"Lama banget sih?! Barusan lihat kamar mandi mewah, ya? Sampai segitunya betah di dalam! Dasar kampungan!" sentak Close dengan tatapan tak bersahabat.

Azzura hanya diam, memilih berlalu begitu saja ke arah sofa. Meletakkan kebaya pengantin beserta aksesorisnya.

"Mudah-mudahan operasi ibu berjalan lancar," gumamnya.

Menuju balkon kemudian menghubungi Nanda. Hanya di deringan pertama panggilannya langsung tersambung.

"Assalamualaikum, Nanda, bagaimana dengan operasinya? Apa berjalan lancar?"

"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah, berjalan lancar Zu, sekarang ibu sudah dipindahkan ke kamar rawat VIP di bangsal 3 no 5," jelas Nanda.

"Syukurlah sebentar lagi aku ke sana. Maaf, aku nggak sempat menjawab panggilan darimu tadi."

"Nggak apa-apa Zu. Ya sudah, aku tunggu kamu ya," jawab Nanda.

"Baiklah."

Azzura tak menyadari jika sejak tadi Close sedang memperhatikan gerak geriknya sekaligus bertanya-tanya. Dengan siapa istrinya itu sedang berbicara. Seketika ia merasa sedikit cemburu.

Ketika Azzura berbalik, ia terkejut karena Close memberi tatapan tajam padanya. Pria blasteran itu langsung mencengkeram pipinya.

"Dengan siapa kamu berbicara, hah!"

"Close ... lepasin!"

"Jawab!" bentak Close. "Apa dengan seorang pria?!"

"Teman kerjaku, Nanda." Azzura memegang pipi begitu Close melepas cengkeramannya.

"Awas saja jika kamu bohong!" Close merampas ponsel ditangan Azzura kemudian memeriksa panggilan keluar.

Ia tersenyum tipis, mengembalikan benda pipih itu sembari akan melangkah. Namun terhenti saat Azzura memanggilnya.

"Close, aku ingin meminta izin pulang ke rumahku sebentar. Apa boleh?" tanya Zu.

"Terserah!" Hanya itu jawaban dari Close.

"Baiklah, aku pamit," balas Azzura.

Ia pun menyusul ke dalam kamar. Meraih tas serta paper bag di atas meja. Meninggalkan kamar presidential suite itu tanpa beban.

Sesaat setelah berada di loby hotel, ia meminta Yoga untuk mengantarnya kembali ke rumah sakit.

"Yoga, tolong antar aku ke rumah sakit, ya," pintanya.

"Baik, No ...."

"Zu atau Zura saja," sela Azzura dengan senyum tipis

"Ah iya, Zu," sambung Yoga.

Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit, Azzura hanya diam. Sesekali menatap ke luar jendela mobil.

Dalam keheningan, Yoga membuka suara. "Zu, selamat ya atas pernikahanmu dengan Pak Close."

"Makasih Yoga, doakan aku dan Close, ya. Semoga rumah tangga kami baik-baik saja."

"Aamiin," sambung Yoga sembari melirik sekilas.

Entah mengapa ia merasa iba pada istri boss-nya itu. Meski bibirnya mengukir senyum, akan tetapi sorot mata gadis berhijab itu seperti menyimpan kesedihan mendalam.

...🌿----------------🌿...

Terpopuler

Comments

Epifania R

Epifania R

apakah close pernah suka pada azzura

2024-04-04

0

Rara Kusumadewi

Rara Kusumadewi

kayaknya dulu close up menyukai zura deh....di masa lalu...

2023-05-01

0

Nur Evida

Nur Evida

"sudah lama aku merindukan senyuman manis mu" itu kata2 Close dlm hati nya.
Close sebenarnya sudah menyukai Azzura sewaktu kuliah ,tapi Zura nya cuek dan acuh jadinya Close meradang🤣🤭

2023-03-16

1

lihat semua
Episodes
1 1. RSK
2 2. RSK
3 3. RSK
4 4. RSK
5 5. RSK
6 6. RSK
7 7. RSK
8 8. RSK
9 9. RSK
10 10. RSK
11 11. RSK
12 12. RSK
13 13. RSK
14 14. RSK
15 15. RSK
16 16. RSK
17 17. RSK
18 18. RSK
19 19. RSK
20 20. RSK
21 21. RSK
22 22. RSK
23 23. RSK
24 24. RSK
25 25. RSK
26 26. RSK
27 Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28 Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29 Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30 Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31 Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32 Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33 Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34 Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35 Bab 35 : Merasa bersalah ...
36 Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37 Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38 Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39 Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40 Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41 Bab 41: Kritis ...
42 Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43 Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44 Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45 Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46 Bab 46 : Lebih tegar ...
47 Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48 Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49 Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50 Bab 50 : Permintaan Momy ...
51 Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52 Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53 Bab 54 : Berterus-terang ...
54 Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55 Bab 56 : Kembali memergoki ...
56 Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57 Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58 Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59 Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60 Bab 61 : Frustasi ...?
61 Bab 62 : Harus bagaimana ...
62 Bab 63 : Depresi ...
63 Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64 Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65 Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66 Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67 Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68 Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69 Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70 Bab 71: Nyekar makam ...
71 Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72 Bab 73: Sebuah janji ...
73 Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74 Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75 Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76 Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77 Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78 Bab 79: Masih nggak berubah ...
79 80. Jangan membuka luka lama ...
80 Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81 Bab 82: Menagih janji ...?
82 Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83 84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84 85. Secercah harapan ...
85 Promo novel baru
86 87. Memohon ...
87 88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88 89. Merasa terharu ...
89 90. Ke Kota J ...
90 91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91 92. Berada di posisi serba salah ...
92 93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93 94. Semangatku seolah patah ...
94 95. Sedikit cemburu ...
95 96. Dugaanku ternyata benar ...
96 97. Merajut asa menatap masa depan ...
97 98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98 99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99 100. Modus ...
100 101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101 102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102 103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103 104. Semoga tebakanku benar ...
104 105. Dua garis merah ...
105 106. Merasa Dejavu ...
106 107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107 108. Khawatir dan cemas ...
108 109. Tertantang ingin mendekat ...
109 110. Demi tugas negara ...
110 111. Ucapan selamat ...
111 112. Kesal dan cemburu ...
112 113. Coba saja jika dia berani ...
113 114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114 115. Harap-harap cemas ...
115 116. Operasi Caesar ...
116 117. Harus puasa minimal setahun ...
117 118. Ingin punya momongan lagi ...
118 119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119 120. Hidup ini seperti drama ...
120 121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121 122. Maafmu sudah terlambat ...
122 123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123 124. Pesan Genta untuk Close ...
124 125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125 126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126 127. Tangisan sia-sia ...
127 128. Diam-diam mengagumi
128 129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129 130. Keputusan tegas Genta ...
130 131. Dipecat ...
131 131. RSK
Episodes

Updated 131 Episodes

1
1. RSK
2
2. RSK
3
3. RSK
4
4. RSK
5
5. RSK
6
6. RSK
7
7. RSK
8
8. RSK
9
9. RSK
10
10. RSK
11
11. RSK
12
12. RSK
13
13. RSK
14
14. RSK
15
15. RSK
16
16. RSK
17
17. RSK
18
18. RSK
19
19. RSK
20
20. RSK
21
21. RSK
22
22. RSK
23
23. RSK
24
24. RSK
25
25. RSK
26
26. RSK
27
Bab 27 : Mengundurkan diri ...
28
Bab 28 : Menunggu waktu saja ...
29
Bab 29 : Aku harap kamu nggak amnesia ...
30
Bab 30 : Aku ingin memastikan ...
31
Bab 31 : Katakan yang sejujurnya ...
32
Bab 32 : Maafkan kami bu ...
33
Bab 33 : Selalu saja kegelapan yang menyambutku ...
34
Bab 34 : Suatu kebetulan ataukah takdir ...
35
Bab 35 : Merasa bersalah ...
36
Bab 36 : Lebih baik kembalikan dia ...
37
Bab 37 : Kesalahpahaman berujung benci ...
38
Bab 38 : Sepertinya ini waktu yang tepat ...
39
Bab 39 : Ada hubungan apa mereka ...?
40
Bab 40 : Menikah karena terpaksa ...
41
Bab 41: Kritis ...
42
Bab 42 : Luapan emosi Azzura ...
43
Bab 43 : Ini belum ada apa-apanya ...
44
Bab 44 : Perginya ibu tercinta ...
45
Bab 45 : Separuh jiwaku seolah pergi ...
46
Bab 46 : Lebih tegar ...
47
Bab 47 : Apa kamu pernah melihat retaknya sebuah kaca ...?
48
Bab 48 : Nggak ada yang abadi ...
49
Bab 49 : Perasaan ini salah ...
50
Bab 50 : Permintaan Momy ...
51
Bab 51: Jika takdir menyatukan kita ...
52
Bab 53 : Kesempatan itu sudah tertutup ...
53
Bab 54 : Berterus-terang ...
54
Bab 55 : Bakal jadi mantan suami ...
55
Bab 56 : Kembali memergoki ...
56
Bab 57 : Pergilah, menjauhlah dan tinggalkan saja ...
57
Bab 58 : Meninggalkan kota J ...
58
Bab 59 : Terlambat menyesali ....
59
Bab 60 : Kenyataan pahit ...
60
Bab 61 : Frustasi ...?
61
Bab 62 : Harus bagaimana ...
62
Bab 63 : Depresi ...
63
Bab 64 : Jangan membenci tapi doakan ...
64
Bab 65 : Nggak pernah terpikir ...
65
Bab 66 : Ada di mana dirimu ...?
66
Bab 67 : Mulailah menata dan berjanji pada dirimu ...
67
Bab 68 : Kemarahan Momy Lio ...
68
Bab 69 : Tekad dan niat tulus Genta ....
69
Bab 70 : Apa itu sebuah janji ...?
70
Bab 71: Nyekar makam ...
71
Bab 72 : Kekhawatiran Genta ...
72
Bab 73: Sebuah janji ...
73
Bab 74: Pertemuan tak terduga ...
74
Bab 75: Hatiku terlanjur membatu ...
75
Bab 76: Di antara dua pilihan ...
76
Bab 77: Gelisahnya Devan ....
77
Bab 78: Mengetahui kenyataan yang sebenarnya ...
78
Bab 79: Masih nggak berubah ...
79
80. Jangan membuka luka lama ...
80
Bab 81: Ingin menghilangkan ingatanku ...
81
Bab 82: Menagih janji ...?
82
Bab 83: Izinkan aku menjadi imammu ...
83
84. Tetaplah menjadi sandaran bagiku dan Dev ...
84
85. Secercah harapan ...
85
Promo novel baru
86
87. Memohon ...
87
88. Apakah akan sama seperti sebelumnya ...?
88
89. Merasa terharu ...
89
90. Ke Kota J ...
90
91. Apa aku sedang bermimpi ...?
91
92. Berada di posisi serba salah ...
92
93. Siapa gadis beruntung itu ...?
93
94. Semangatku seolah patah ...
94
95. Sedikit cemburu ...
95
96. Dugaanku ternyata benar ...
96
97. Merajut asa menatap masa depan ...
97
98. Merasa terharu sekaligus bahagia ...
98
99. Kenapa takdirku semiris ini ...?
99
100. Modus ...
100
101. Kebahagiaan ku adalah kalian ...
101
102. Kenapa cinta begitu rumit ...?
102
103. Apa kamu baik-baik saja ...?
103
104. Semoga tebakanku benar ...
104
105. Dua garis merah ...
105
106. Merasa Dejavu ...
106
107. Nanti juga kamu akan tahu ...
107
108. Khawatir dan cemas ...
108
109. Tertantang ingin mendekat ...
109
110. Demi tugas negara ...
110
111. Ucapan selamat ...
111
112. Kesal dan cemburu ...
112
113. Coba saja jika dia berani ...
113
114. Semuanya akan baik-baik saja ...
114
115. Harap-harap cemas ...
115
116. Operasi Caesar ...
116
117. Harus puasa minimal setahun ...
117
118. Ingin punya momongan lagi ...
118
119. Anggaplah aku sebagai sahabat atau kakak
119
120. Hidup ini seperti drama ...
120
121. Dia nggak pantas disebut AYAH ...!
121
122. Maafmu sudah terlambat ...
122
123. Terbuat dari apa hatinya ...?
123
124. Pesan Genta untuk Close ...
124
125. Lidahnya mengalahkan tajamnya sebilah pedang ...
125
126. Aku mohon beri aku kesempatan ...
126
127. Tangisan sia-sia ...
127
128. Diam-diam mengagumi
128
129. Sepertinya kamu harus hati-hati padanya ...
129
130. Keputusan tegas Genta ...
130
131. Dipecat ...
131
131. RSK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!