Hari ini adalah jadwal untuk Larisa memeriksakan kembali kandungannya kerumah sakit.
Seperti biasa ia sudah bersiap-siap untuk berangkat lebih awal untuk menghindari macet yang tak pernah ada berhentinya.
Sejak kemarin mama sudah pulang karena, ia merasa jengkel sebab Larisa tak juga mengantarkannya kerumah orang tua Ardian, akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang.
Larisa sebenarnya ingin ditemani oleh Ardian, tetapi Ardian menolak, bukan karena ia tak mau menemani Larisa, tetapi hari ini ia mulai sibuk untuk mengurus perusahaan orang tuanya.
Setelah mendaftar di resepsionis terlebih dahulu, Larisa kemudian menuju ruangan praktek dokter obgyn seperti saat pertama ia datang untuk memeriksakan kandungannya, ia lalu duduk menunggu, sampai nomor antriannya dipanggil.
Larisa yang mulai merasa bosan menunggu memutuskan untuk memainkan hpnya, ia akan mendownload aplikasi untuk ibu hamil seperti yang disarankan oleh dokter, dan ia pun membaca banyak berita seputar tentang ibu hamil diaplikasi itu.
Akhirnya nomor antrian Larisa dipanggil, ia kemudian berdiri lalu masuk kedalam ruang praktek dokter.
Suster mempersilahkan Larisa untuk duduk, ia menyuruhnya untuk menunggu terlebih dahulu, karena ada pergantian dokter yang akan bertugas hari ini.
Tak lama ia menunggu, akhirnya dokter Tiara tiba, ia masuk dan mulai menyapa para suster yang juga bertugas diruagannya dan duduk tepat didepan Larisa, namun belum menyadari kehadiran Larisa karena ia sibuk menyiapkan perlengkapan yang akan ia pakai untuk memeriksa para pasiennya.
Tiara lalu meminta buku pink yang diberikan kepada setiap ibu hamil pada suster, buku itu digunakan untuk melihat perkembangan ibu-ibu yang sedang hamil.
Suster lalu membawa buku pink milik Larisa lalu memberikannya pada Tiara, di sampul depan buku itu tertulis namanya, dokter Tiara yang melihat nama pasien adalah Larisa seketika memandang kearah pasiennya.
"Bukankah wanita ini yang ada dalam foto yang waktu itu Alex perlihatkan kepadaku? Alex bilang ia adalah istri dari temannya, tapi semalam aku mendengar Alex menyebut nama Larisa, apa hubungan antara mereka berdua?"
Pikir dokter Tiara yang merasa ada yang aneh antara Alex dan wanita yang bernama Larisa ini, apa sebenarnya hubungan antara mereka berdua, mengapa Alex menyebut nama istri temannya sendiri.
Namun Tiara berusaha kembali fokus pada Larisa, dan mulai menjalankan tugasnya untuk memeriksa perkembangan kehamilan pasiennya.
Tiara kemudian menyuruh Larisa untuk barbaring dan mulai mengolesi gel diperutnya, lalu muncullah gambar bayi yang sedang berada dalam perut Larisa, ia nampak terpana dengan apa yang ia lihat.
Ia tak menyangka ada nyawa yang kini tumbuh dan hidup didalam perutnya, "ntah bagaimana perasaan Alex jika mengetahui jika anak ini adalah anaknya, apakah ia akan marah? tidak, tidak, Alex tak boleh tau, jika ia tahu anak ini adalah anaknya ia pasti akan merebutnya dariku, tidak, itu tak boleh terjadi, aku harus merahasiakan ini darinya" Ucap Larisa dalam hatinya yang memikirkan untuk terus merahasiakan kehamilannya pada Alex, ia tak ingin jika bayinya diambil oleh darinya"
"Bagaimana dok, apakah anak dalam kandungan saya sehat?"
"Anak dan ibunya sehat, apakah ada keluhan lain yang anda rasakan?"
"Tidak ada dok, sejauh ini saya belum merasakan keluhan apa-apa"
"Bagus kalo begitu, sepertinya bayi ibu anak yang pintar yang tidak ingin membuat ibunya kesusahan"
"Iya dok, dia memang anak yang pintar, apakah jenis kelaminnya sudah kelihatan dok?"
"Wah anaknya laki-laki ya bu"
Jawab Tiara yang ikut senang mengetahui jenis kelamin bayi Larisa.
Seketika air mata Larisa menetes mendengar bahwa anak yang ia kandung adalah bayi laki-laki, Larisa berpikir Tuhan memang adil, Alex yang pergi dari hidupnya kini digantikan dengan seorang bayi laki-laki yang merupakan buah cinta dari mereka.
Larisa merasa begitu menyayangi anak yang kini berada dalam perutnya, ia berjanji akan menjaga anaknya dan tidak akan membiarkan Alex merebut anak itu darinya.
***
Alex dan Ardian sedang berada diclub malam untuk merayakan pertemanan mereka, Alex terus saja menawari Ardian agar mencoba untuk minum tapi ditolak olehnya.
Alex yang terus saja memaksa Ardian untuk minum bersamanya, karena tak bisa lagi menolak paksaan dari Alex, akhirnya ia pun memutuskan untuk mencoba segelas, dua gelas, sampai tak terhitung lagi sudah berapa banyak yang telah ia minum.
Alex dan Ardian akhirnya mabuk, mereka berdua saling mencurahkan isi hati mereka yang sedang patah hati.
Ardian yang bercerita tentang pernikahannya yang harus batal karena Larisa, sedangkan Alex menceritakan tentang kisah percintaannya yang harus berakhir tragis bersama Larisa.
Mereka tidak tau jika sebenarnya mereka sedang membicarakan tentang orang yang sama yaitu Larisa.
Robi yang melihat dua orang yang sedang patah hati itu, tak henti-hentinya mereka terus menuang minuman kedalam gelasnya, ia berpikir jika mereka tak dihentikan, mereka akan mati karena terlalu banyak minum.
Karena Ardian yang tadinya datang seorang diri akhirnya Robi memutuskan untuk menghubungi asisten pribadinya yaitu Rara untuk menjemput dan membawa tuannya pulang.
Rara akhirnya sampai dengan menaiki taksi online yang telah ia pesan, ia kemudian masuk kedalam untuk menjemput bosnya itu.
Rara melihat Ardian yang sudah terkapar tak berdaya dikursi sofa bersama dengan Alex, ia lalu berusaha memapah dan membawa Ardian masuk kedalam mobil yang dibantu oleh Robi.
Setelah Rara dan Ardian telah pergi barulah Robi masuk kedalam untuk membawa Alex yang juga sudah tak sadarkan diri.
***
Rara yang melihat keadaan Ardian yang sudah tak sadarkan diri lagi, ia berencana akan memanfaatkannya, karena begitu bahagianya akan mendapatkan Ardian, Rara tersenyum dengan senyuman liciknya merasa sangat senang dengan apa yang akan ia lakukan dengan Ardian.
Rara membawa Ardian pulang kerumah pribadi miliknya, setelah sampai dengan kesusahan Rara membawa tubuh Ardian masuk kedalam rumah, dan membawa Ardian masuk kedalam kamarnya, kemudian membaringkan Ardian ditempat tidur.
Ardian yang mabuk tidak mampu lagi untuk membuka kedua matanya, namun sayup-sayup ia melihat jika wanita yang ada dihadapannya adalah Tiana, padahal sebenarnya itu adalah Rara.
Ardian yang telah dibutakan oleh nafsunya malam itu melakukan hal yang seharusnya mereka tidak lakukan, semalaman mereka berdua lalui dengan penuh gairah dan kenikmatan.
Ardian dan Rara terus saja melakukannya hingga beberapa kali, hingga mereka lelah dan akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, Ardian terbangun lebih dulu, ia kaget melihat Rara yang terbaring tanpa mengenakan sehelai kain pun ditubuhnya.
Ardian lalu bangkit kemudian memakai kembali pakaiannya, ia lalu membangunkan Rara yang sepertinya masih kelelahan karena pertempuran mereka semalam.
"Rara bangun,ra...Rara..."
Rara mulai tersadar dari tidurnya, pelan-pelan ia mulai membuka mata, ia melihat Ardian berada dihadapannya, kemudian tersenyum kearah Ardian seakan-akan tidak terjadi apa-apa semalam.
"Ra..Rara.. apa yang kau lakukan disini? Maksudku apa yang telah kita lakukan kenapa kau dan aku? Akkkhhhhhh...."
Ardian bertanya pada Rara apa yang sebenarnya terjadi mengapa bisa mereka tidur bersama dan dalam keadaan telanjang.
"Semalam bapak terlalu mabuk, Robi menelpon ku untuk menjemput anda dan membawa anda kesini, saat aku akan pulang anda tak mengizinkan aku untuk pergi, lalu mungkin anda tau sendiri apa yang selanjutnya kita lakukan"
Ardian merutuki kebodohannya, untuk kedua kalinya ia melakukan kesalahan yang sangat fatal, ia menjambak-jambak rambutnya karena kesal dengan perbuatannya.
Rara bangkit lalu memeluk Ardian, ia berusaha menghibur Ardian yang sedang kesal dengan dirinya.
"kenapa juga aku mau menuruti ajakan Alex, kalo tidak minum terlalu banyak mungkin semua ini tidak akan terjadi,bodoh , bodoh, bodoh"
Gumam Ardian dalam hati yang menyesali perbuatannya.
Ardian lalu melepaskan pelukan dari Rara, mengambil selimut lalu menutupi tubuh Rara yang polos.
"Bapak tidak usah merasa bersalah, bapak lagi mabuk, jadi tidak sengaja melakukannya"
"Maafkan aku Rara, kamu benar aku melakukannya karena aku tak sadar, aku...aku.."
"Stttt...ya aku mengerti, tapi aku senang kita bisa jadi lebih dekat"
Rara lalu berjalan mendekat kearah Ardian dan memeluknya dari belakang, Ardian yang mendapat pelukan dari Rara merasa bingung, pikirannya ingin menolak apa yang Rara lakukan kepadanya, namun tubuhnya berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan
"Maukah kau melakukannya sekali lagi denganku?"
Pinta Rara dengan tak tau malunya.
Namun diluar dugaan, Ardian seakan menerima apa yang Rara lakukan, awalnya Rara berpikir bahwa Ardian akan menolak, namun ternyata salah, justru Ardian mau untuk melakukannya lagi dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments