( Dikediaman orang tua Ardian )
Ardian yang sedang menonton televisi diruang keluarga melihat bapak yang berjalan menuju kearahnya.
Bapak lalu duduk disamping Ardian sambil menghela nafas panjang.
"Ada apa pak?"
"Pak Ahmad baru saja menelpon, ia ingin perjodohanmu sama Tiana dibatalkan, ia tidak ingin anaknya dipoligami"
Ibu kemudian datang dengan wajah yang sedih lalu duduk di samping bapak.
"Tuh kan apa kata ibu, pak Ahmad pasti tidak akan mau putri sulungnya dipoligami, sudah pasti dia akan membatalkan pernikahan Tiana dan Ardian, semuanya gara-gara anak nakal ini"
"Bu sudah, bicaranya jangan terlalu keras, nanti yang lain terganggu, mereka kan lagi istirahat"
"Ini semua gara-gara kamu ya Ardian, sekarang bapak sama ibu malu karena pernikahanmu dibatalkan, bagaimana cara ibu menjelaskan sama semua orang, mau taruh dimana muka ibu pak, ibu malu"
"Sabar bu sabar, kitakan tidak tau kalo kejadiannya bakalan seperti ini, ibu yang sabar ya, omongan orang tidak usah di perdulikan"
"Sabar kata bapak? Tanya tu anak kesayangan bapak, kelakuan dijaga jangan mau jadi perzinaan, itu dosa besar, ibu malu kalo orang-orang tau dia sudah menghamili anak orang pak"
Ibu terus saja menangis, menghadapi kenyataan bahwa pernikahan anaknya dibatalkan dan semua itu gara-gara perbuatan Ardian yang sudah menghamili Larisa.
"Bu, Pak, Ardian minta maaf, gara-gara Ardian kalian jadi malu"
"Maaf kamu bilang? memangnya kata maaf akan menghilangkan rasa malu ibu, tidak Ardian, kamu sudah mencoreng nama baik keluarga, lalu dengan semudah itu kamu bilang maaf, memangnya dulu waktu kamu sama Larisa melakukan itu, kamu pernah berpikir akibat dari perbuatan kalian, haaaa? Jawab ibu, jangan diam saja"
"Bu, Ardian tidak mau melakukan itu, Larisa menjebak Ardian dengan memasukkan obat perangsang kedalam minumanku yang membuat tubuh Ardian terasa sangat panas dan ingin melakukannya, itupun karena Larisa terus saja memaksaku bu, aku bersumpah, tidak mungkin Ardian mau melakukan hal yang sangat dilarang dalam agama kita, percaya sama Ardian bu"
"Sudahlah nak, kau harus tetap bertanggung jawab pada Larisa, walaupun ia awalnya menjebak mu lalu memaksamu melakukannya, tapi sekarang ia sudah hamil, kau harus menikahinya nak"
Bapak berusaha memberi nasehat kepada Ardian untuk bertanggung jawab pada Larisa, Namun sepertinya Ardian sangat menolak ide dari Bapaknya itu.
"Tidak pak, Ardian tidak mau, Ardian tidak mau menikah dengan Larisa, Ardian hanya akan menikah dengan Tiana, biarkan saja Larisa melahirkan anak itu, toh awalnya ia sendiri yang membuat kesalahan dengan menjebak ku"
"Ardiaaaannn"
Bapak yang awalnya tenang sekarang menjadi sangat marah dengan jawaban dari Ardian
"Bapak tidak pernah mengajarimu untuk tidak bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan, kau sudah menghamilinya sekarang kau harus menikahi Larisa"
"Iya nak ibu setuju dengan apa yang bapakmu katakan, walaupun sejujurnya ibu tak menyukai Larisa, tapi ia sedang mengandung anakmu, yang berarti dia adalah cucu ibu, menikahlah dengan Larisa nak, ibu mohon, sudah sudah kau membuat kepala ibu mau pecah memikirkan perbuatanmu ini"
"Tapi bu Ardian tidak mencintainya, Ardian tidak mau menikah dengannya, Ardian hanya akan menikah dengan Tiana"
Plaaaakkkkkkkk...
Dengan keras bapak menampar wajah Ardian dan meninggalkan bekas tangan bapak diwajahnya, ia sangat marah dan malu dengan kelakuan anak semata wayangnya itu.
Ardian yang mendapat tamparan keras dari bapak sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, selama ini bapak selalu menyayanginya dan tak pernah sekalipun bapak memukulnya walaupun ia sering berbuat nakal.
"Tutup mulutmu, pernikahan ini dibatalkan karena kau juga, sudah sepantasnya kau menyadari jika semua ini terjadi karena ulah mu sendiri, ini hasil dari perbuatanmu yang mesum itu, dan sekarang kau masa bodoh dengan keadaan Larisa, Pria macam apa kau ini? apakah bapak pernah mengajarimu seperti ini, bapak sangat kecewa denganmu Ardian, pernikahan ini tetap akan terlaksana, tapi kau akan menikahi Larisa bukan Tiana, setelah Larisa melahirkan kamu harus segera menikahinya, bapak tidak mau tau lagi, ini keputusan terakhir bapak, suka tidak suka kau harus mengikutinya.
"Tapi pak Ardian tidak mau menikah dengan Larisa, Ardian maunya sama Tiana, pak dengarkan Ardian dulu"
Ardian lalu bersimpuh di kaki bapak memohon agar tidak menikah dengan Larisa, tapi bapak malah mengambil langkah mundur, ia seperti tak memperdulikan apa yang Ardian katakan, ia hanya berlalu pergi meninggalkan Ardian yang sedang menangis meratapi nasibnya.
Ibu yang melihat anaknya juga ikut menangis, ia sedih melihat nasib Ardian, namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa, keputusan bapak sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat lagi.
Ibu lalu berdiri mendekat kearah Ardian, memeluk anaknya yang sedang menangis sesenggukan, walaupun Ardian telah melakukan kesalahan tapi ia tetap menyayanginya.
Hati seorang ibu tetap akan selalu luluh kepada anaknya, sebesar apapun kesalahan yang anak mereka telah lakukan, begitu juga dengan yang bu mina rasakan, ia tetap akan memaafkan kesalahan Ardian dan menerima Larisa walaupun ia tak menyukainya.
***
Akhirnya pernikahan Ardian dan Tiana dibatalkan, semua keluarga yang telah datang untuk memeriahkan acara pernikahan Ardian satu persatu mulai pulang ke rumah dan daerah mereka masing-masing.
Hari ini Bapak dan ibu berencana akan mengantarkan kakek, nenek, dan yang lainnya kebandara, Ardian tidak ikut serta semenjak pernikahannya dan Tiana dibatalkan ia lebih banyak mengurung diri menghabiskan waktu seharian didalam kamarnya.
Ardian hanya akan keluar kamar jika ia ingin makan, setelah itu ia akan masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.
Dua minggu kemudian Ardian memutuskan untuk kembali kerumahnya, ia akan memulai lagi aktifitas mengajar seperti biasa.
Ia mulai menyibukkan diri dengan mengajar dan mulai menjalankan tanggung jawab yang bapak berikan kepadanya, yaitu menjalin kerjasama dengan perusahaan AGPware perusahaan milik Alex.
Besok adalah jadwal pertemuan antara perusahaan Ardian dan perusahaan Alex, mereka sepakat akan menjalankan kerjasama untuk menggunakan sistem keamanan yang Alex miliki, untuk melindungi data-data perusahaan milik Ardian agar tidak mudah diretas oleh pesaingnya.
Ardian yang sedang berada di kantor tengah sibuk mempelajari proposal kerjasama yang telah diajukan oleh perusahaan lain.
Ardian sengaja melakukan itu agar perhatiannya tidak terfokus pada Tiana.
Tiba-tiba Rara masuk kedalam ruangan Ardian, mengunci pintu lalu mendekat kearah Ardian sambil memegang kedua pundaknya.
Ardian tak tau apa maksud dari perlakuan Rara kepadanya, namun ia sedikit menikmati pijatan yang Rara lakukan, itu membuatnya sedikit merasa rileks.
Setelah beberapa saat akhirnya ia tersadar jika Rara seharusnya tidak melakukan hal ini kepadanya, apalagi ini sedang jam kerja dan mereka sedang berada di kantor, apa kata karyawan lain jika melihat Rara yang terlalu dekat dengannya.
"Terima kasih untuk pijatan mu itu Rara kau boleh pergi, aku sudah merasa agak baikan, terima kasih atas perhatianmu"
Ardian lalu melepaskan kedua tangan Rara yang berada dikedua pundaknya.
"Baiklah pak, kalo ada yang anda butuhkan, anda bisa memanggilku"
Lalu dijawab anggukan oleh Ardian, namun saat Rara akan keluar, Ardian menahannya untuk tidak pergi, seketika itu juga Rara merasa senang, Ardian mulai menanggapi sinyal sinyal cinta darinya.
"Tunggu"
Rara kemudian berbalik dan melihat kearah Ardian yang sedang memanggilnya.
"Iya pak adalagi yang anda butuhkan"
"Aku mau tau, bagaimana tentang kerjasama kita dengan perusahaan AGPWare, kapan pertemuanku dengan pimpinan perusahaan itu?"
"Saya sudah menghubungi asisten pribadi beliau yaitu pak Robi, mereka sepakat akan melakukan pertemuan besok dikantor AGPWare jam 1 siang"
"Baiklah tolong kamu siapkan perjanjian kerjasama kita dengan mereka"
"Baiklah pak, apa ada lagi yang bapak inginkan?"
"Cukup itu saja, kau boleh pergi"
Rara kemudian melangkah keluar dari ruangan Ardian sambil menatap dengan tatapan liciknya, ia merasa kesal karena Ardian belum juga peka terhadap perhatian yang Rara berikan untuknya, namun ia tak akan menyerah sebelum ia mendapatkan Ardian dan menguasai harta kekayaan miliknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Ardian masih betah berada didalam ruangannya, ia memandang kearah jendela yang menampilkan kilau lampu bangunan pencakar langit yang sedang menghiasai langit malam yang begitu gelap.
Dalam benaknya masih saja teringat mata indah milik Tiana, ia masih belum bisa melupakan wanita yang hampir saja menjadi istrinya itu.
Ia sangat berharap wanita seperti Tiana yang akan menjadi pendamping hidupnya, menjadi istri yang sholeha didunia, dan menjadi bidadari surga di akhirat kelak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments