"Apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikahi mereka berdua?"
"Aku sebetulnya juga kurang yakin pak, tapi Tiana meyakinkanku jika ini adalah solusi yang harus aku ambil, karena aku tak bisa memilih diantara mereka berdua, aku ingin Tiana tetap menjadi istriku, tapi aku juga tidak bisa untuk tidak mempedulikan Larisa, ia sedang mengandung anakku"
"Bukannya bapak tidak setuju dengan keputusanmu dan Tiana nak, siapapun laki-laki pasti akan merasa senang jika memiliki istri lebih dari satu, tapi itu tanggung jawab yang sangat berat nak, bapak khawatir jika kau nantinya tak mampu, banyak hal yang harus kau pahami dan pelajari terlebih dahulu, jika memang benar kau akan menikahi mereka berdua"
"Maka dari itu, aku akan membuat perjanjian pranikah untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi"
"Perjanjian pranikah?"
"Ia pak, aku akan membuat perjanjian agar aku tetap bisa menjaga rumah tanggaku dengan istri-istriku tetap damai, aku tak ingin mereka berselisih paham dan menimbulkan pertengkaran diantara mereka, yang namanya rumah tangga pasti ada saja cobaannya, makanya aku akan membuat perjanjian ini, agar tidak ada pihak yang dirugikan, aku akan membuat isi perjanjiannya agar semua pihak diuntungkan satu sama lainnya, selain itu, aku tak mau jika Larisa berbuat seenaknya pada Tiana, aku akan berusaha adil untuk mereka berdua"
"Bapak tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Tiana, Bapak saja sebagai lelaki, jika diberikan kesempatan untuk menjadi perempuan, bapak mungkin akan menolak, bapak tak bisa membayangkan seorang wanita harus berbagi suami dengan orang lain"
"Ardian juga gak tau pak, Tiana bilang ia hanya berusaha untuk menolongku, ia sedang membantuku dengan mengijinkan aku menikahi Larisa yang sejujurnya aku sendiripun tak ingin menikahinya"
"Bagaimana kalau pernikahan ini dibatalkan saja, bapak tidak mau kamu harus menanggung beban yang sangat berat dengan menikahi dua wanita sekaligus, lagipula bapak berpikir pasti pak Ahmad tidak akan setuju dengan hal ini, pak Ahmad tidak akan mengijinkan anak sulungnya yang menjadi satu-satunya kebanggan dikeluarga mereka harus dipoligami, pak Ahmad pasti akan membatalkan pernikahan ini walaupun kita tidak memintanya"
Ardian tak ingin jika pernikahannya dengan Tiana dibatalkan, ia merasa sedih jika sampai pak Ahmad melakukannya, namun ia berpikir apa yang bapak katakan ada benarnya, tidak ada seorangpun ayah didunia ini yang ingin anaknya dipoligami.
***
Tiana datang menghampiri abah dan umi yang sedang duduk bersantai di ruang tamu, ia lalu duduk tepat disamping tempat duduk abah.
Abah yang mengerti dengan apa yang dilakukan Tiana lalu memandang kearah putri sulungnya itu.
"Ada apa nak, ada yang ingin kau bicarakan pada abah?"
"Abah seperti peramal saja, abah seperti tahu jika Tiana memang ingin membicarakan sesuatu"
Abah lalu bertanya melalui pandangannya kearah umi, namun dijawab gelengan kepala olehnya, yang artinya umi tidak tau apa-apa.
"Kamu mau bicara apa nak?"
"Abah, maafkan Tiana"
"Kenapa kau meminta maaf nak, abah merasa kau tidak memiliki salah apa-apa pada abah"
Jawab abah sambil memegang puncak kepada putrinya.
"Abah, sebenarnya Tiana berat ingin mengatakan ini, Tiana yakin pasti abah tidak akan menyetujuinya, tapi aku mohon abah mau mempertimbangkannya dulu, karena ada dua hati yang tak ingin dipisahkan, dan ada ikatan yang tak bisa dihilangkan"
"Maksudmu apa nak berbicara seperti itu, abah tidak mengerti"
"Abah, umi, kemarin ada wanita yang datang menemuiku ia adalah pacar Mas Ardian dan ia sekarang sedang hamil dan anak yang ada dalam kandungannya adalah anak mas Ardian"
Abah yang mendengar apa yang Tiana katakan hanya menghela nafasnya, kemudian ia diam sejenak untuk berpikir apa yang akan ia katakan pada Tiana.
"Kamu yakin nak dengan keputusanmu itu?"
Umi yang sedari tadi memperhatikan abah dan Tiana merasa bingung apa yang sebenarnya mereka bicarakan, namun ia sangat kecewa dengan perbuatan Ardian yang telah menghamili wanita lain.
"InsyaAllah pak, Tiana sangat yakin dengan keputusan ini, aku juga sudah membicarakannya dengan Mas Ardian, awalnya ia menolak tapi aku berusaha meyakinkannya untuk menikahi kami berdua"
"Apakah sebaiknya pernikahan kalian dibatalkan saja nak, bapak khawatir jika kalian tetap ingin menikah lalu kalian bertiga hidup dalam satu atap, itu hanya akan membuat rumah tangga kalian malah akan semakin bermasalah, banyak pergesekan-pergesekan yang akan menimbulkan masalah dalam kasus ini, poligami memang tidak dilarang nak, dan itu merupakan sunah yang artinya tidak wajib untuk dilakukan, namun tidak semua laki-laki bisa menjalankan ibadah ini, perlu banyak pertimbangan nak, banyak kaum pria yang merasa bahwa mereka sanggup untuk melakukan poligami, namun kenyataannya praktek tak selalu sama dengan apa yang diharapkan, setelah melakukan poligami banyak dari mereka yang tidak adil pada istri-istri mereka, mereka menganggap materi adalah tolak ukur seorang pria bisa melakukan poligami, padahal tidak melulu selalu tentang materi nak, bapak tidak ingin kamu akan menyesali keputusanmu ini, abah ingin kamu bahagia nak, bukan malah menderita dengan mengizinkan Ardian berpoligami, abah saja merasa bahwa abah pun tak sanggup jika harus berpoligami, makanya istri abah cuma umi seorang"
Ucap abah yang menoleh kearah umi, yang dibalas dengan senyuman dan anggukan oleh umi, yang menandakan ia setuju dengan apa yang abah katakan.
"Abah, aku melakukan ini agar menghindari dosa, tiana tidak ingin menikah disaat ada orang lain merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini, Tiana tidak ingin ketika nantinya Tiana telah menikah wanita itu terus saja mengganggu hubunganku dan mas Ardian, aku tidak mau itu, lagipula ia sedang mengandung anak dari mas Ardian, kasihan ia jika anak itu harus lahir tanpa kasih sayang dari seorang ayah, kalau pun nantinya mas Ardian khilaf dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan Tiana akan terus memaafkannya sampai ia sendiri yang memintaku untuk pergi dari hidupnya abah, Tiana akan terus bersabar, meminta kepada Allah agar diberikan kesabaran yang seluas samudra untuk menghadapi cobaan dalam kehidupan pernikahanku nanti"
Jawab Tiana yang berusaha meyakinkan abahnya jika ia tetap akan menikah dengan Ardian.
"Apakah kamu menyukai Ardian sehingga kamu tak ingin pernikahan ini dibatalkan?"
Tanya Abah pada Tiana sambil menatap dengan tajam kearahnya.
"Iya abah, Tiana menyukainya, dan Tiana ingin menikah dengannya"
Jawab Tiana dengan percaya diri, dan tanpa rasa ragu.
"Nak, bukannya abah tidak mendukungmu, tapi abah lebih memilih untuk membatalkan saja perjodohan ini, abah tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanmu jika benar kalian menikah dan hidup dalam satu atap, biarkan saja abah malu, tapi abah tidak ingin kamu dipoligami nak, kalau kau ingin agar anak dari wanita itu mendapatkan kasih sayang seorang ayah, maka biarkan saja mereka menikah nak, biarkan Ardian dan wanita itu bersatu"
"Tapi abah"
"Tidak ada tapi-tapi nak, keputusan Abah sudah bulat, abah tidak akan menyetujui keputusanmu itu, Abah akan mencarikan pria lain untukmu, abah akan berbicara pada pak haji somat jika perjodohan kalian dibatalkan"
"Abah jangan lakukan itu, Tiana ingin menikah dengan Mas Ardian"
"Istighfar nak, setan sedang mempermainkan perasaanmu, cobalah untuk berpikir jernih, kau tidak akan mendapatkan apa-apa dengan tetap menikah dengannya, yang kau dapatkan hanya lelah dan penderitaan,
"Baiklah, Jika itu yang abah inginkan, Tiana akan menuruti apa kata abah"
"Cobalah untuk mengerti nak, abah melakukan ini demi untuk kebaikanmu, abah menyayangimu"
"Iya abah Tiana tau itu"
Abah lalu meninggalkan Tiana yang bersedih sambil menundukkan wajahnya karena tak ingin melihat Abah.
Umi lalu berpindah ketempat duduk yang tadinya ditempati oleh abah tepat disamping Tiana, untuk menenangkan sekaligus memberi pengertian pada Tiana bahwa apa yang abah bilang itu memang benar.
Abah melakukan itu semerta-merta karena tak ingin anaknya menderita, sehingga ia harus mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan ini.
"Sudahlah nak, jangan bersedih lagi, abah melalukan itu hanya untuk melindungimu, ia sangat sayang padamu, bukankah abah cinta pertamamu? Dulu waktu kau masih kecil, kau selalu bilang jika abah adalah orang yang paling kau sayangi dan kau cintai, dan begitulah cinta seorang Ayah kepada anaknya, ia tau bahwa keputusanmu untuk mengizinkan Ardian poligami tidak benar, itu hanya akan membuat hidupmu tidak bahagia, karena berbagi suami dengan orang lain bukanlah hal yang mudah nak"
"Iya umi, semoga ini yang terbaik untuk Tiana dan Mas Ardian"
"Iya nak, rasa sukamu padanya tidaklah lebih besar dari rasa cinta abah kepadamu, tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita, begitu juga dengan Abahmu, memang ada sebagian wanita yang bisa menjalankan hidup berumah tangga dengan berpoligami, namun masih lebih banyak wanita yang hidupnya tidak bahagia karena poligami dan akhirnya berujung pada perceraian, banyak rumah tangga yang hancur karena orang ketiga nak, sekalipun kau telah menyetujui ia menjadi adik madumu, belum menikah saja kau sudah dibuat pusing, bagaimana jika kau sudah menikah nanti, umi bahkan tak sanggup untuk membayangkannya, cobalah untuk menerima keputusan abahmu ini nak, lebih baik kau menderita karena pernikahanmu dibatalkan, karena seiring berjalannya waktu kau akan mulai melupakan rasa sakitmu itu, ketimbang kau menikah dan hidup bersama madumu tapi seumur hidup kau tidak merasakan kebahagiaan, bagaimana kau bisa membahagiakan orang lain sedangkan kau sendiri belum bisa bahagia nak"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments