"Bagaimana jika mas menikahiku dan Larisa?"
"Apa? aku menikahi kalian berdua?"
"Tidak Tiana, itu tidak mungkin, para orang tua pasti tidak akan setuju dengan idemu itu"
"Semua keputusan ada padamu mas, aku hanya memberikanmu saran, aku akan membicarakan hal ini pada keluargaku, aku bersedia di poligami, aku menerima Larisa menjadi adik maduku"
"Kenapa kau mau melakukan itu Tiana, sedangkan banyak perempuan diluar sana yang tidak mau suaminya menikah dengan wanita lain, tapi kamu malah menyuruhku untuk berpoligami"
"Aku hanya melakukan apa yang diajarkan mas, tidak papa berpoligami, asalkan mas sanggup dan mampu, dan Tiana lihat dari segi materi mas sudah cukup mampu untuk bisa menghidupiku dengan Larisa, mungkin mas saja yang harus bersikap adil antara istri mas, aku hanya ini meringankan masalahmu mas, kau akan kesulitan jika harus memilih salah satu diantara kami, dan aku bersedia untuk berbagi suami dengan Larisa, aku ikhlas membagimu mas tapi jangan mengambil dirimu dariku, jujur aku juga menyukaimu mas"
Seketika air mata jatuh begitu saja di pipi Ardian mendengar apa yang Tiana ucapkan, begitu juga dengan Tiana yang tak sanggup lagi membendung air matanya, ia tak bisa membohongi perasaannya kepada Ardian, dan ia juga tak ingin membatalkan pernikahan ini sebab abah dan umi pasti akan sangat malu dan kecewa.
"Mas apakah kau menyetujui apa yang aku sarankan kepadamu?"
"Tiana terbuat dari apakah hatimu itu, hatimu sangat mulia, aku tak mengerti harus berkata apa kepadamu, aku minta maaf Tiana"
"Jangan minta maaf mas, sesama manusia kita memang harus saling tolong menolong, lagipula naluri keibuanku terpanggil melihat Larisa yang sedang hamil, aku kasihan jika anak yang ia kandung lahir tanpa ayah, seluruh ragaku mungkin akan menolak tindakanku ini mas, tapi jiwaku menginginkannya, aku tak bisa membiarkan Larisa melahirkan anak tanpa seorang ayah, jika kita menikah nanti dan kau mencintaiku sama seperti larisa maka aku akan sangat bersyukur dan rasa syukurku itu yang akan membawaku kesurga, namun jika kau menyakitiku maka aku akan tetap bersabar karena sabarku yang akan membawaku ke surga nanti mas"
Ardian terpana mendengar kalimat yang Tiana ucapkan, ia berpikir terbuat dari apa hati seorang Tiana yang ikhlas menerima dirinya dipoligami hanya karena tidak ingin melihat orang lain menderita melahirkan anak tanpa seorang ayah.
"Apakah kau bersungguh-sungguh dengan hal ini?"
"Iya mas aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan, aku mau kau memberikan satu cincin untukku dan satu cincin untuk Larisa sebagai mahar pernikahan kami, biarlah ini menjadi pernikahan dua cincin antara aku dan Larisa, aku tidak akan menyebutnya poligami mas, karena akan terdengar sangat tidak enak, aku menamai pernikahan kita adalah pernikahan dua cincin, pernikahan dengan dua mempelai wanita"
"Kamu yakin dengan keputusanmu ini tiana?"
"Iya mas, insyaAllah Tiana sudah yakin sama keputusan Tiana mas"
"Baiklah kalau begitu, sebelum aku akan menikahi kalian berdua, aku akan membuat perjanjian pranikah, aku tak ingin ada hal yang tidak diinginkan terjadi dan itu merugikan antara aku dan kamu Tiana, biar bagaimanapun, ini tetaplah pernikahan antara kita berdua, aku menikahi Larisa hanya karena ia sedang mengandung anakku, aku tidak mencintainya, aku hanya menginginkanmu Tiana"
"Jangan berbicara seperti itu mas, kalo kau bersikap tidak adil itu hanya akan menyakiti hati Larisa, Allah juga akan sangat marah jika suami berbuat tidak adil kepada istri-istrinya, jika ia sudah menjadi istrimu, perlakukan ia sama seperti diriku mas, jangan ada garis pembatas yang membedakan antara aku dan Larisa, karena setelah menikah ia akan menjadi adik maduku, aku ingin hidup tentram damai bersama kalian"
"Baiklah jika itu mau mu, aku akan membicarakan hal ini pada kedua orang tuaku, tapi aku akan tetap membuat perjanjian pranikah, aku tak ingin Larisa berbuat seenaknya kepadamu, aku akan mengabarimu untuk bertemu dengan Larisa jika perjanjian telah selesai aku buat, aku harap ini adalah yang terbaik untuk kita berdua Tiana, terima kasih atas kebaikanmu, atas kemurahan hatimu mau menerimaku dan menerima Larisa sebagai madumu"
"Iya mas sama-sama, aku tunggu kabar darimu, aku tutup telponnya ya mas, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
***
Setelah pembicaraan antara mereka selesai, Ardian kemudian keluar dari kamarnya menuju kemeja makan tempat semua orang sedang berkumpul.
Ardian mengisyaratkan kepada ibu dan bapak agar mengikutinya ketaman belakang karena ada hal yang akan ia bicarakan namun tak ingin ada orang lain yang tahu tentang pembicaraan mereka.
"Ada apa kamu nyuruh ibu sama bapak kesini, kamu mau ngomong apa?"
"Bu, pak, ada yang Ardian ingin katakan sama kalian"
"Kamu mau ngomong apa nak, ya sudah bicara saja,ibu sama bapak bakalan dengerin kamu kok"
Ucap bapak.
"Begini pak, sebenarnya Larisa sedang hamil"
Belum selesai Ardian berbicara, ibu langsung memotongnya.
"Terus kenapa kalo dia hamil?"
Ibu lalu menghentikan ucapannya, matanya melotot kearah ayah sambil satu tangannya menutup mulutnya.
Ibu kemudian berbalik, lalu menatap kearah Ardian lalu berbicara dengan suara yang keras, membuat Ardian takut akan kemarahan dari ibunya itu
"Terus kenapa kalo dia hamil, atau jangan-jangan kamu yang menghamilinya?"
Ardian hanya diam mematung, wajahnya hanya menunduk, ia tak berani memandang wajah kedua orang tuanya.
"Ayo jawab ibu, kenapa kamu cuma diam saja anak nakal, ayo bicara, apakah kamu yang sudah menghamili Larisa?"
Ibu kemudian menghampiri Ardian dan memukul-mukul dada bidang milik Ardian karena sangat marah dengan perbuatannya"
"Kenapa kamu melakukan ini nak, kamu sudah mempermalukan ibu sama bapak dengan perbuatanmu ini, pernikahanmu sudah dekat dan kau membuat kesalahan dengan menghamili Larisa, mau ditaruh dimana muka ibu nak, apa yang harus ibu sama bapak lakukan, orang tua Tiana pasti akan sangat marah dan malu dengan hal ini, kamu sudah buat ibu sama bapak kecewa"
"Bu sudah, ngomongnya pelan-pelan nanti yang lain dengar, kamu dengerin dulu penjelasan Ardian"
"Penjelasan apa lagi pak, anak kita satu-satunya sudah mencoreng nama baik kita, mau taruh dimana muka ibu pak, ibu malu sama keluarga pak Ahmad"
Ibu menangis terisak-isak dipelukan bapak, ia tak menyangka anak yang selama ini ia banggakan menghamili wanita lain.
"Aku akan menikahi Tiana dan Larisa"
Jawab Ardian dengan suara lantang dan tanpa ragu.
Seketika pandangan bapak dan ibu mengarah kepada Ardian, ibu yang mendengar perkataan dari anaknya itu membuat tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Lihat anakmu pak, baru saja ia bilang jika ia telah menghamili Larisa, lalu dengan mudahnya ia bilang akan menikahi Tiana dan Larisa, anakmu itu sudah tidak waras pak, mana mau Tiana dipoligami?"
"Tiana yang memberiku saran agar aku menikahi mereka berdua pak, awalnya aku menolak, tapi kata Tiana dia setuju dan mau dipoligami"
Ibu pergi begitu saja meninggalkan bapak dan Ardian, ia tak kuat mendengarkan apa yang Ardian katakan, ibu merasa dirinya seperti akan gila, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan masuk kedalam kamarnya.
Tinggallah bapak dan Ardian ditaman, mereka berdua duduk lama dikursi taman namun tak mengeluarkan sepatah katapun, pandangan mereka berdua kosong memandang apa yang ada dihadapan mereka, namun pikiran mereka berdua melayang entah kemana.
Ardian sibuk memikirkan pernikahan antara dirinya, Tiana, dan Larisa, sedangkan bapak sibuk memikirkan apa yang akan ia katakan kepada pak ahmad, apakah pak ahmad akan menerima jika anaknya dipoligami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments