Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sebelumnya terkendala, Ardian dan pak Haji somat segera menuju ke bandara, karena tak lama lagi pesawat yang keluarganya tumpangi akan mendarat.
Dering hp Ardian tiba-tiba saja berbunyi, ia lalu mengambil hp itu dan melihat ada panggilan masuk dari Tiana, namun ia tak menjawabnya, ia sengaja melakukan itu sebab Ardian takut jika terjadi sesuatu, apabila ia mengangkat telpon, karena posisinya ia sekarang sedang menyetir mobil.
"Kenapa telponnya tidak kamu angkat? Mungkin saja itu penting"
Tanya bapak pada Ardian, ia merasa terganggu karena bunyi telfon masuk yang beberapa kali berbunyi pada hp Ardian.
"Iya sepertinya memang penting pak, itu telfon dari Tiana, tapi nanti saja aku akan menelponnya, aku mau fokus menyetir dulu, bahaya kalo nelpon sambil bawa mobil, takutnya terjadi yang tidak diinginkan"
Jawab Ardian memberitahu jika yang sedari tadi menelponnya adalah Tiana.
"Iya betul bapak setuju dengan kamu, tapi ada apa Tiana menelfon mu? sejak kapan kalian berkomunikasi lewat telepon?"
"Ardian juga tidak tau pak, sudah lama sekali terakhir kali Ardian menghubunginya, ntah ada apa tiba-tiba ia menelpon ku, tapi Ardian merasa itu hal yang sangat penting yang ingin ia katakan, karena ia menelpon ku langsung pak"
"Mungkin saja, nanti kamu telfon balik dia kalo kita sudah sampai dirumah, tapi kamu dapat nomor Tiana dari mana? Anak bapak gerak cepat juga ya, bapak merasa ada peningkatan antara kalian, tak salah jika bapak menjodohkan kalian berdua"
"Iya pak Ardian juga berpikir begitu, sebaiknya aku telfon dia nanti kalo sudah dirumah, Ardian dapat nomornya waktu kita fitting baju pengantin pas dibutik, anaknya ramah pas aku minta dia tidak sungkan untuk memberikannya"
"Jadi kalian sudah sering berkomunikasi sekarang, jangan-jangan tiap malam kalian telepon-teleponan?"
"Gak pernah pak, sumpah kayaknya anaknya susah diajak komunikasi lewat hp, tapi kalo ketemu langsung, dia tipe orang yang sangat mudah bergaul kalo Ardian perhatikan"
"Dia itu seorang ustadzah di pesantren milik abahnya, sejak ia barusia 17 tahun ia sudah mulai membantu abahnya untuk mengelola pesantren itu, setelah menyelesaikan sekolahnya diperguruan tinggi akhirnya ia menjadi pengajar disana, bapak pernah beberapa kali lihat dia membawakan materi dikelas"
"Wahhh, ternyata dia gadis yang berpendidikan, pantas saja tutur katannya sangat sopan dan santun"
"Iya bapak berpikir kalian berdua sangat cocok, sama-sama bekerja sebagai seorang pengajar"
"Bapak bisa aja"
"Oh iya bapak lupa untuk kasi tau kamu, setelah cuti kamu selesai, bapak mau kamu ketemu sama pimpinan perusahaan AGPware dan membicarakan tentang kerjasama kita, bapak mau kamu yang menghandle nya supaya kamu mulai terbiasa dengan dunia bisnis yang bapak jalankan"
"Baiklah, Ardian akan menyuruh Rara untuk mengatur pertemuan itu nanti, bapak tidak usah khawatir, aku akan melakukan yang terbaik biar bapak bangga"
"Tapi Rara siapa?"
"Rara itu asisten pribadi Ardian pak,kan bapak sendiri yang nyuruh aku untuk mempekerjakan seorang asisten pribadi biar ada yang membantu pekerjaanku, makanya semalam aku menghubungi Rara, dia itu mahasiswa kepercayaanku dikampus"
"Baguslah kalo begitu"
Akhirnya Ardian dan Pak Haji Somat tiba dibandara, syukurnya mereka tiba lebih dulu sehingga tidak membuat kakek, nenek, dan yang lainnya menunggu.
Tak lama kemudian kakek, nenek, dan lainnya muncul dikedatagan, mereka semua berpelukan satu sama lainnya, saling melepaskan rasa kangen karena sudah lama tidak bertemu.
Setelah sesi melepas kangen selesai, akhirnya mereka semua pulang kerumah orang tua Ardian.
***
( Di kediaman kedua orang tua Ardian )
Mobil Ardian berhenti tepat didepan rumah, kakek, nenek, dan lainnya turun dari mobil satu persatu, lalu disambut oleh ibu yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
Ibu kemudian menghampiri kakek dan nenek sambil mencium tangan mereka satu persatu.
"Lama banget sampainya, ibu dari tadi nungguin kalian semua loh"
"Biasa bu, jalanan gak pernah ada berhentinya macet"
"Ya sudah ayo semuanya kita masuk dulu, aku sudah siapin makanan untuk kalian semua, ayo bapak, ibu, kalian istirahat didalam aja, pasti capek naik pesawat sampai sini kena macet"
"Tidak usah repot-repot nak, sudah, kamu juga istirahat, pasti kamu capek mengurus semuanya sendirian"
Jawab kakek dan nenek mengajak ibu untuk ikut beristirahat, karena pasti ibu merasa kelelahan mengurus pernikahan Ardian sendirian.
"Nanti saja bu, pak, ayo kalian duduk sini, biar aku siapin dulu makanannya"
Ibu lalu menyuruh kakek dan nenek duduk dimeja makan dan mulai mempersiapkan makanan untuk mereka semua.
"Bu, pak, semuanya, aku tinggal bentar dulu ya mau kekamar, ada urusan sebentar nanti aku balik lagi"
"Makan dulu sini sama yang lain sambil cerita-cerita, keluarga baru ketemu kok main ditinggal aja"
"Ardian makannya nanti aja bu, udah aku kekamar dulu, bentar kok"
"Ya sudah terserah kamu saja"
Ardian lalu pergi kekamar, meninggalkan mereka yang masih sibuk dengan makanannya.
***
Ardian lalu masuk kedalam kamarnya, dengan tidak sabar ia kemudian mengambil hp yang ada di dalam saku celana miliknya lalu menelpon Tiana.
Telpon akhirnya tersambung, tak berselang lama, akhirnya Tiana mengangkat telpon dari Ardian.
"Assalamualaikum mas"
"Waalaikumsalam Tiana, kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik mas"
"Syukurlah kalo kamu baik-baik saja, maaf tadi telpon darimu tidak aku angkat soalnya aku lagi nyetir"
"Iya gak papa mas, aku ngerti, aku juga tadi sempat berpikir seperti itu, mungkin mas sedang sibuk makanya telpon Tiana tidak dijawab"
"Memangnya ada hal apa, sepertinya ada hal serius yang ingin kamu bicarakan"
"Iya mas, aku memang mau ngomongin sesuatu, dan benar ini memang hal yang sangat penting"
"Apa itu Tiana?"
Tiana sepertinya ragu-ragu untuk membicarakan hal ini dengan Ardian, ia merasa tak enak membicarakan permasalahan antara Ardian dan Larisa.
Lama Ardian menunggu jawaban, namun ia masih saja tetap diam sambil menggigiti bibir bawahnya.
"Tiana, halo? Kamu dengar aku kan, Tiana?"
"Iy...iy...iya mas"
"Katanya ada yang mau diomongin, kok diam aja?"
"Begini mas, maaf sebelumnya bukannya aku mau ikut campur, tapi kemarin Larisa datang menemuiku, ia memintaku untuk membatalkan pernikahan kita, karena ia sedang hamil anakmu mas"
Ardian sangat kaget mendengar perkataan dari Tiana, ia tidak menyangka jika Larisa akan pergi menemui Tiana.
"Apaaaa? Larisa menemuimu?"
"Iya mas, kemarin dia datang menemuiku, eemmm... apa sebaiknya pernikahan ini kita batalkan saja, aku tak ingin menikah ketika ada orang lain yang merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini mas"
"Jangan Tiana, kumohon jangan lakukan itu, orang tuaku sangat ingin agar kita berdua menikah, mereka pasti akan kecewa jika pernikahan kita sampai batal"
"Mas apakah kau sudah memikirkan konsekuensi atas apa yang telah kau perbuat sebelum kau melakukannya, kau sudah berani meniduri perempuan itu, kamu juga harus berani bertanggung jawab apalagi wanita itu sedang hamil sekarang"
"Dia menipuku Tiana, aku tak pernah ingin melakukannya, ia sengaja menaruh obat perangsang agar aku mau melakukan itu dengannya, dia sengaja menaruh obat itu kedalam minumanku lalu membawaku sebuah hotel dan memaksaku melakukan hubungan badan layaknya suami istri"
"Tapi mas kasihan dia, ia sedang hamil, lalu bagaimana dengan anak yang ada dalam kandungannya nanti, apakah kau tak kasihan pada anak itu, ia tak bersalah mas"
"Aku tak mau menikahinya Tiana, aku hanya akan menikah denganmu, aku menyukaimu"
Mendengar apa yang Ardian katakan ia merasa senang, ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa sebenarnya ia juga mulai menyukai Ardian.
"Mas"
"Iya, ada apa Tiana?"
"Apakah kau mau menerima saran dariku?"
"Saran? Maksud kamu?"
"Iya mas, sebuah saran, mungkin saja mas bisa menerima saran yang aku berikan kepadamu"
"Apa itu Tiana, cepat katakan kepadaku, dengan senang hati akan kulakukan jika memang itu yang terbaik menurutmu, yang tidak akan merugikan antara aku dan kamu, tapi jika kau menyuruhku untuk membatalkan pernikahan kita jawabanku tidak,aku tidak akan melakukannya"
"Tidak mas, aku tidak akan menyuruhmu untuk membatalkan pernikahan kita tapi, bagaimana jika mas menikahiku dan Larisa?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments