Setelah pertemuannya tadi dengan Larisa, Tiana akhirnya pulang kerumah untuk bertemu dengan abah dan umi, ia berencana akan membicarakan hal ini dan meminta solusi.
Sesampainya Tiana dirumah ia tak menemukan mereka, yang ada hanya Fatimah yang sedang asyik menonton drama korea favoritnya sambil ditemani cemilan kesukaannya diruang tamu.
Ia pun memutuskan untuk menghubungi Ardian terlebih dahulu.
Ia berpikir lebih baik masalah ini ia bicarakan dulu baik-baik dengan Ardian, kalo tak ada solusi yang bisa mereka dapatkan, barulah ia berdua akan meminta bantuan pada para orang tua.
sudah beberapa kali Tiana menghubungi Ardian namun tidak ada jawaban, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan saja pada Ardian, ia berpikir mungkin ia sedang sibuk.
***
( Di kediaman orang tua Ardian )
Semalam saat makan malam keluarga telah selesai, Ardian memutuskan untuk beristirahat lebih awal di kamarnya, hari ini kegiatannya sangat padat, membuat tubuhnya sangat lelah.
Tak lama setelah berbaring ditempat tidur, Ardian akhirnya tertidur sangat pulas, karena kecapean seharian beraktifitas.
Keesokan harinya ia terbangun lebih awal, mandi, kemudian menjalankan rutinitasnya yang tidak boleh ia tinggalkan yaitu beribadah kepada Tuhannya.
Setelah selesai beribadah, ia bergegas keluar kamar dan melihat ibunya sudah sibuk melakukan aktifitasnya di dapur, dan datang menghampirinya.
"Bu"
"Ehh kamu sudah bangun? Tidur lagi sana, ini masih pagi banget, nanti ibu bangunin kalo nasi goreng kesukaan kamu udah masak"
"Udah gak ngantuk lagi bu, Ardian mau disini aja temenin ibu ngobrol sambil masak"
"Ya sudah, nanti sore jemput kakek, nenek, sama yang lain di bandara yah, awas kalo lupa, nanti nenekmu itu ngambek, kan kamu tau sendiri dia itu orangnya kayak bagaimana, suka ngambekan kalo nunggunya lama banget"
"Iya bu, nenek lucu ya bu, udah tua tapi masih kayak anak abege, suka ngambek-ngambekan"
"Namanya juga orang tua, lagian kamu juga nanti bakalan tua"
"Gak, Ardian gak mau, Ardian menolak untuk tua heheheh"
"Apaan sih, ada-ada aja ngomongnya"
"Bu nasi gorengnya seperti biasa kan?
"Nasi goreng seafood kan, kesukaan kamu?"
"Ibu yang terbaik"
Sambil menunjukkan kedua jempol tangannya pada ibunya, membuat bu mina menjadi gemas melihat tingkah anak satu-satunya itu.
"Bu bapak mana, kok belum kelihatan?"
"Bapak ada dibelakang nyiramin tanaman hias ibu"
"Bu"
"Hmmm"
"Tiana itu orangnya bagaimana bu?"
"Kok tumben tanya soal Tiana?"
"Ya Ardian mau tau lahh bu, kan Ardian juga harus tau dia orangnya seperti apa"
"Kan kamu tau sendiri, kalo abah mu yang memilihkan, sudah pasti itu yang terbaik untukmu, abah gak mungkin memilih wanita ugal-ugalan kayak si Larisa itu, wajahnya aja yang cantik, tapi perilakunya tidak secantik wajahnya"
Ardian yang mendengar ibunya berbicara mengenai Larisa merasa sangat gugup, benar kata Ardian ibunya sangat tak menyukai Larisa.
"Kok bahasnya Larisa sih bu, kan Ardian tanyanya Tiana"
"Gak tau, ibu juga gak ngerti kenapa tiba-tiba ingat anak itu, seandainya saja Larisa mau sedikit berubah, ibu gak akan menolak hubungan kalian, tapi memang dasarnya anak itu bandel, pergaulannya juga terlalu bebas, ibu takut kamu malahan akan kesusahan kalo punya istri macam kayak Larisa itu, taunya berdandan saja, gak tau ngurus suaminya"
"Apaan sih bu, udah gak usah ngomongin Larisa lagi"
"Nasi gorengnya sudah mateng, mau makan sekarang ibu siapin"
"Bentar aja bu makannya bareng-bareng sama bapak, Ardian mau kebelakang dulu nyusulin bapak"
"Ya udah kalo gitu, kalo bapakmu udah selesai nyiramin tanaman ibu, sekalian kamu ajak ya buat sarapan"
Ardian hanya menjawab pertanyaan ibunya dengan menganggukkan kepalanya, kemudian ia pergi ke taman belakang tempat bapak berada.
"Wah...bapak rajin banget nyiramin tanaman ibu"
Ardian berjalan mendekati bapak yang tengah menyirami tanaman.
"Yah begitulah nak, ibumu itu kalo bapak gak nyiramin tanamannya tiap pagi, pasti bapak bakalan di omelin seharian, bapak jadi heran dia sayangnya sama bapak atau tanamannya ini"
Ardian hanya tertawa mendengar perkataan bapak, ia merasa lucu melihat tingkah kedua orang tuannya itu.
Bapak mulai berbicara dan bercerita banyak hal tentang ia dan ibu, bapak juga memberi nasehat kepada Ardian agar rumah tangganya nanti bisa langgeng sampai maut memisahkan.
Tiba-tiba saja ibu datang dan menyuruh mereka berdua untuk masuk dan sarapan.
Akhirnya Ardian dan Bapak masuk mengikuti perintah ibu, karena ia tahu kalo membantah perintahnya, ia akan ngomel-ngomel sehari tanpa henti.
"Bapak, Ardian, masuk dulu sana sarapan, dari tadi ibu nungguin, kalian malah asyik ngobrol disini, ibu malah dilupain, dasar bapak sama anak sama saja"
"Iya bu"
Jawab bapak dan Ardian bersamaan, mereka berdua tertawa karena berhasil menjahili ibu.
Mereka bertiga akhirnya masuk dan duduk dimeja makan dan mulai sarapan tanpa berbicara sedikitpun.
Setelah makan rencananya bapak akan mengajak Ardian pergi sebentar untuk memeriksa beberapa kerjaan yang sempat tertunda.
Namun sepertinya ibu tidak setuju dengan pendapat bapak itu, ia ingin Ardian tetap tinggal saja dirumah menemaninya.
"Gak usah lah pak, biar Ardian dirumah saja nemenin ibu, calon pengantin gak usah keluyuran"
"Gak papa bu, kan Ardian perginya sama bapak, sekalian kalo kerjaan bapak sudah selesai, biar bapak dan Ardian langsung ke bandara jemput mereka semua"
"Oh iya ibu lupa, ternyata kalian harus jemput kakek, nenek, dan yang lain dibandara, ya sudah kalo gitu, Ardian kamu ikut sama bapak, jagain tuh biar matanya gak jelalatan liat yang bening-bening"
"Gimana sih bu, gitu aja lupa, semalam bukannya ibu sendiri yang ngingetin biar Ardian jangan sampai lupa, ehh ini malah ibu sendiri yang lupa"
"Maklum lah nak, usia ibu kan udah gak muda lagi, makanya sudah mulai pikun"
"Ahhh masa sih bu, bapak lihat ibu awet muda kok"
Ledek bapak pada ibu.
"Apaan sih bapak ini, udah yahh ngegombalnya, malu tuh diliat sama anak sendiri, gak lama lagi udah mau nikah"
***
(Di Apartemen Larisa)
Larisa akhirnya tiba di apartemen miliknya, pinggangnya terasa sakit setelah mengemudi begitu lama.
Ia kemudian naik kelantai yang ia tempati menggunakan lift, setelah sampai ia kemudian membuka pintu kamar apartemennya itu, tapi Larisa merasa heran sepertinya waktu ia pergi lampu di ruang tamu telah ia matikan tapi kenapa masih menyala, "mungkin itu hanya perasaanku saja, mungkin waktu pergi aku lupa mematikannya" ucap larisa dalam hati.
Karena merasa kehausan ia akhirnya menuju kedapur untuk mengambil segelas air minum.
Saat berjalan menuju kedapur untuk mengambil air minum untuk menghilangkan dahaganya, ia terkejut melihat ada Alex yang sedang tertidur di sofa memeluk kedua kakinya.
Jarak dapur dan ruang tamu tempat Alex tidur berjarak lumayan jauh, namun kita masih bisa melihat dari arah dapur ke ruang tamu jika ada seseorang yang duduk disana.
Larisa lalu berjalan mendekat kearah Alex, ia mengingat-ingat bagaimana Alex bisa masuk ke apartemennya.
Setelah lama berpikir, akhirnya ia ingat bahwa pernah memberika sandi kunci apartemen miliknya waktu itu, karena dompet Alex sempat tertinggal sedangkan Larisa sedang tidak ada diapartemennya.
Larisa mulai memandangi wajah tampan milik Alex itu, dan menyentuh pipinya, Larisa berpikir sejak kapan Alex berada disini, apakah ia mencariku hingga jauh-jauh datang kemari, sebegitu cintanya kah pria ini pada diriku.
Alex yang merasa ada yang menyentuhnya mulai membuka matanya, ia melihat ada Larisa dihadapannya, ia lalu menarik Larisa kedalam pelukannya dan memeluknya seerat mungkin.
Alex memeluk Larisa sangat kuat, ia memeluknya seakan-akan takut akan kehilangannya, ia tak sadar karena terlalu erat pelukannya Larisa sampai mulai kehabisan nafas.
"Lepasin, aku gak bisa bernafas"
"Gak, aku gak akan lepasin pelukan ini, kalo aku lepas pasti kau akan pergi lagi"
"Ya ampun lepasin Alex, nafasku udah mau abis, aku gak akan pergi, aku janji"
Akhirnya Alex mulai melepaskan pelukannya pada Larisa, namun tangannya masih tetap memegang tangan Larisa, ia berpikir jangan sampai Larisa kabur karena melihatnya ada di apartemennya.
Tiba-tiba hp larisa berdering, ia kemudian mengambil hpnya yang ada dalam tas dan melihat jika ada panggilan masuk dari mamanya.
"Ada apa mama menelfon, bukannya dia tadi sudah bicara denganku, lalu untuk apa lagi di menelpon? aduhhh mama ganggu aja deh"
Omel Larisa dalam hati yang jengkel pada mamanya karena terus saja mengganggunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments