( Di apartemen Larisa )
Alex mengendarai mobil sport mewahnya menuju ke apartemen milik Larisa.
Ia mengendarai kendaraan roda empatnya itu dengan kecepatan tinggi, dadanya berdegup kencang mengingat Larisa, ia sangat berharap bahwa anak yang Larisa kandung adalah anaknya.
Sesampainya di sana, Alex mulai menekan bel pintu apartemen milik Larisa, namun ia tak kunjung membuka pintunya.
Untuk kesekian kalinya ia menekan bel pintu apartemen milik larisa itu, namun tak kunjung juga Larisa keluar.
Akhirnya ia ingat Larisa pernah memberikan kunci sandi untuk membuka pintu apartemen miliknya.
Iya kemudian memasukkan kunci sandinya dan kemudian pintu terbuka, ternyata Larisa belum juga mengganti nomor pin nya, guman nya dalam hati.
Alex kemudian masuk, ia mencari keberadaan Larisa, dikamar, di dapur, toilet, di semua sudut ruangan namun ia tak menemukannya.
Karena lelah mencari Larisa, ia akhirnya duduk di sofa ruang tamu sambil menangis terisak-isak, ia lalu berbaring karena lelah menangis ia akhirnya tertidur lelap seperti anak bayi.
***
Setelah dari rumah sakit hari ini, Larisa berencana akan menemui Tiana.
Pernikahan Ardian tinggal tiga hari lagi, ia harus membujuk Tiana agar ia mau membatalkan pernikahannya dengan Ardian.
Ia berharap Tiana akan kasihan setelah ia yang menemuinya langsung, dan memohon agar ia mau membatalkan pernikahannya sebab, ia sedang mengandung anak Ardian.
Tiba-tiba ia teringat pada Alex, ia merasa bersalah karena tak menunggunya waktu itu, Tiana berpikir sudah waktunya ia menjauh dari Alex, ia tak ingin memberikan harapan untuknya, karena ia adalah pria yang baik, tak sepantasnya ia berbuat jahat pada Alex dengan terus membohonginya.
"Maafkan aku Alex, maafkan aku karena menggunakan kehamilanku ini untuk mendapatkan Ardian, kau pria baik, semoga saja kau bisa mendapatkan wanita yang baik pula yang bisa menjadi pendampingi mu"
"Aku akan tetap menjaga anak kita, awalnya aku ingin memberikannya kepadamu, tapi sepertinya aku mulai mencintainya, maafkan aku yang tak bisa mencintaimu, di hatiku hanya ada mas Ardian"
Larisa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pondok pesantren tempat Larisa tinggal lumayan jauh, karena berada dipinggiran kota, namun tak mengurungkan semangatnya untuk bertemu dengan Tiana, ia juga tak mempedulikan lagi sakit di punggungnya, yang ia inginkan cepat sampai dan bertemu Tiana.
Ia bertekad untuk bertemu langsung dengan tiana dan akan membicarakan ini secara baik-baik.
Sesampainya Larisa di sana, ia memarkirkan mobilnya tepat di parkiran pondok pesantren, didalam mobil ia bingung harus bertanya pada siapa untuk bisa bertemu dengan tiana, lama ia berpikir namun tak kunjung juga mendapatkan cara.
Dari kejauhan ia melihat beberapa santri wati sedang berjalan kearah gerbang pondok pesantren, akhirnya Larisa memutuskan akan menanyakan pada santri wati itu, dimana ia bisa bertemu dengan Tiana.
"Permisi dek, saya mau nanya, kalo mau ketemu tiana dimana ya?"
Para santri wati itu hanya beristigfar, ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya, ada pula yang langsung menundukkan pandangannya ketika melihat penampilan Larisa.
Kemudian salah satu dari santri wati itu mulai menjawab pertanyaan dari Larisa.
"Ustadzah Tiana maksud anda, anak pak ahmad?"
"Iii.iiya.."
Jawab Larisa, ia hanya menjawab seadanya, karena ia tak tau harus berkata apa, tak ada yang ia kenal di pondok pesantren ini.
"Baiklah kak, kakak tunggu sebentar disini, saya akan memanggil ustadzah, beliau sedang mengajar, tunggu sebentar ya kak"
Jawab santri wati tersebut, kemudian pergi diikuti oleh teman-temannya yang lain.
***
"Assalamualaikum ustadzah"
"Waalaikumsalam sifa, ada apa ini kok rame-rame?
"Maaf ustadzah, diparkiran pondok pesantren ada yang ingin bertemu ustadzah"
"Laki-laki atau perempuan"
"Perempuan ustadzah, tapi maaf pakaiannya sangat terbuka, jadi saya menyuruhnya untuk menunggu diparkiran saja, kalo masuk sampai disini bisa jadi tontonan gratis ustadzah"
"Apa yang kamu lakukan sudah benar, baiklah aku akan menemuinya, kalian semua bisa pergi"
"Baiklah ustadzah, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah para santri wati itu memberi tahu jika ada yang menunggunya, ia pun akhirnya bergegas menemui wanita yang dimaksud oleh para santri wati tadi.
Setibanya diparkiran, ia melihat wanita cantik berdiri di samping mobilnya tengah melambaikan tangan kearah Tiana.
Tiana yang melihat lambaian tangan dari Larisa mengerti maksud darinya dan segera berjalan mendekat kearahnya.
"Assalamualaikum, apakah anda yang mencari saya?"
"ehhh waalaikumsalam, kamu Tiana?"
"Memangnya siapa yang anda cari?"
"Saya mencari Tiana"
"Kalau anda mencari Tiana, berarti anda mencari saya, yang namanya Tiana disini hanya saya, dan ada keperluan apa anda mencari saya?"
"Saya Larisa, pacarnya Mas Ardian"
Ucap Larisa dengan penuh percaya diri.
Tiana yang mendengar jawaban dari Larisa hanya bisa membalas dengan senyuman, namun Larisa tak bisa melihatnya karena wajahnya ditutupi oleh niqabnya.
Tiana merasa sekujur tubuhnya membeku, ntah apa yang wanita dihadapannya ini inginkan darinya, Tiana tak tau harus bagaimana, haruskah ia marah dan mencakar wajah cantiknya, tapi sepertinya hal itu tak mungkin ia lakukan.
Selama ini abah tak pernah mengajarinya untuk berbuat kasar pada orang lain, sekalipun orang itu melukai atau menyakiti kita.
Abah mengajarkan agar kita selalu menghadapi segala sesuatunya dengan kepala dingin, maksudnya dengan tidak mengutamakan emosi, sebab marah atau emosi hanya akan membuat masalah semakin besar, dan seseorang yang marah tidak akan mampu untuk berpikir jernih karena dirinya dikuasai oleh amarahnya sendiri, maka dari itu kita dianjurkan untuk jangan marah, atau berusaha untuk mengendalikan amarah kita dengan banyak-banyak beristigfar kepada Allah, sebab ketika kita marah maka setan akan berusaha membisiki kita dengan tipu muslihatnya, semoga Allah melindungi kita dari godaan setan, itu yang selalu abah katakan.
Kata-kata abah itulah yang selalu terngiang di telingaku dan tertanam dalam pikiranku.
"Ada perlu apa anda datang kemari ?"
"Sepertinya kau sudah tau maksud dan tujuanku datang kesini, mas Ardian bilang kalau kau sudah tau semuanya"
"Kalo aku sudah tau semuanya, lalu apa yang anda inginkan dari saya?"
"Saya mau kamu membatalkan pernikahanmu dengan Mas Ardian"
Mendengar apa yang Larisa katakan membuat jantung Tiana berdegup kencang.
Bibirnya seketika keluh mendengarkan apa yang barusan Larisa katakan.
Ia tak menyangkan ada seorang wanita yang rela menghancurkan impian orang lain, demi mewujudkan impiannya.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu, siapa anda menyuruhku melalukan hal yang tidak ingin kulakukan?"
"Apakah kau lupa, atau kau hanya pura-pura lupa, aku sekarang hamil, dan anak yang ada dalam kandunganku adalah anak Mas Ardian"
"Jangan kau jadikan ke hamilanmu itu sebagai alasan untuk merusak kebahagiaan orang lain?"
"Apa katamu, kebahagiaan? Apakah kau tidak sedih melihat anak ini lahir tanpa seorang ayah, apakah kau pernah berpikir bagaimana perasaanmu jika kau yang berada di posisiku?
"Maaf, aku tak akan melakukan hal yang seperti itu, berzina sangat dilarang dalam agama kita"
"Aku mohon Tiana, aku mohon, aku tak bisa hidup tanpa Mas Ardian, aku sangat mencintainya"
"Jangan seperti ini, aku tak bisa menjanjikan mu apa-apa, berdoalah kepada Tuhan, dan mohonlah ampun atas segala apa yang pernah kau perbuat, semoga Allah memberikan rahmat dan hidayahnya kepadamu, dan berjanjilah untuk tak mengulanginya lagi, dan jangan pernah memohon hanya selain kepada Allah, aku tak pantas diperlakukan seperti itu, memohon lah pertolongan kepadaNya, jika memang kau dan mas Ardian berjodoh, tidak ada yang bisa memisahkan kalian, termasuk diriku."
Larisa yang mendengar perkataan Tiana seakan tertampar, bukan sakit diwajahnya tapi sakit dihatinya, karena perkataan Tiana sungguh menampar perasaannya.
Ia malu dengan dirinya sendiri, mengapa ia menjadi manusia yang tak punya malu, ia bahkan terang-terangan meminta Tiana membatalkan pernikahannya dengan Mas Ardian.
"Sudahlah, jangan menangis, insyaAllah pasti ada solusi dari masalah ini, kamu harus yakin bahwa dimana ada kesusahan disitu pula ada kemudahan"
Ucap tiana pada Larisa sambil memegang kedua tangannya untuk saling menguatkan.
Mendengar apa yang dikatakan Tiana, hati Larisa merasa tenang, sebelumnya ia tak pernah merasa setenang dan sedamai ini.
"Sebaiknya kamu pulang dulu, biar nanti masalah ini akan ku bicarakan bersama Mas Ardian dan keluarga, semoga Allah memberikan petunjuk terbaik dan memberikan solusi dari permasalahan ini"
"Baiklah aku pamit pulang dulu Tiana, ternyata kamu orang yang baik, awalnya aku berpikir ketika nanti bertemu denganmu kita akan saling jambak-jambakan, saling pukul, dan saling adu jotos sampai salah satu diantara kita menang seperti sinetron yang kebanyakan kulihat di televisi, tapi ternyata aku salah, kau tidak seperti yang ada dalam pikiranku tadi, sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku bayangkan, wajar saja jika mas Ardian sepertinya tak ingin membatalkan pernikahannya denganmu"
"Sudah dulu ngomongnya, sekarang kamu pulang dulu, hari sudah semakin sore, tidak baik untuk ibu hamil nyetir sendirian,apalagi perjalananmu pasti lumayan jauhkan?"
"Baiklah aku pulang dulu, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, kamu hati-hati dijalan"
Yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Larisa.
Setelah Larisa pergi, Tiana menjadi bingung apa yang akan ia katakan kepada abah dan uminya tentang hal ini.
Mereka pasti akan sangat marah dan kecewa mengetahui Mas Ardian telah menghamili perempuan lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments