( Di apartemen Larisa )
Hari ini Larisa berencana akan pergi ke rumah sakit, selama ia tahu bahwa dirinya hamil, ia sama sekali belum pernah memeriksakan kandungannya.
Rencananya ia akan memeriksakan kandungannya di Rumah Sakit yang tak jauh dari apartmen nya, karena sejak hamil ia merasa agak sulit untuk menyetir terlalu lama, hal itu membuat punggung dan pinggangnya terasa pegal.
Setelah ia menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu, ia pun bergegas menuju ke rumah sakit, karena kondisi jalan yang selalu ramai, ia takut akan terlambat karena terjebak macet, sehingga ia memutuskan untuk datang lebih awal.
Dan benar saja, hari ini jalanan yang ia lalui sangat ramai sehingga terjadi kemacetan dimana-mana, membuat pinggang Larisa menjadi sakit karena terlalu lama duduk.
***
( Di Rumah sakit )
Setelah sampai di rumah sakit, ia kemudian menuju resepsionis untuk mendaftarkan dirinya terlebih dahulu,
Karena merasa sakit di punggungnya, ia akhirnya duduk tepat didepan ruangan praktek dokter obgyn, sambil menunggu antriannya dipanggil.
Tanpa ia sadari dari kejauhan ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya, Alex merasa senang melihat wanita yang ia cintai, namun seketika ia merasa sedih karena Larisa pasti akan menghindar jika ia menemuinya.
"Tapi apa yang Larisa lakukan disini, sebaiknya aku perhatikan saja dulu apa yang akan ia lakukan, kalo ada yang mencurigakan baru aku akan segera menghampirinya, atau ia sedang berkencan dengan dokter yang bekerja disini? kurang kerjaan sekali kalo memang ia ingin berkencan di rumah sakit, seperti tak ada tempat lain saja, kalo memang benar dia berkencan dengan salah satu dokter disini, aku akan menyeret mereka berdua, dan tidak akan ku ampuni perbuatan mu itu Larisa"
Alex mengepalkan tangannya hingga terlihat buku-buku jarinya, wajah putihnya nampak memerah membayangkan, Larisa bersama pria lain.
Rumah sakit yang Larisa tempati untuk memeriksakan kandungannya adalah milik dari orang tua Alex, kedatangan Alex tak lain untuk melakukan kunjungan serta memeriksa semua unit bisnis yang orang tuanya jalankan, termasuk rumah sakit tempat Alex dan Larisa bertemu, kebetulan hari ini adalah jadwalnya untuk melakukan kunjungan guna memeriksa perkembangan sistem kerja di rumah sakit tersebut.
Sejak tadi Alex terus saja memperhatikan Larisa, karena takut ada seseorang yang mengenalinya akhirnya ia memutuskan untuk memakai masker.
"Ada bagusnya juga pandemi ini, kemana-mana kita selalu akan membawa dan memakai masker, jadi orang-orang biasanya sulit untuk mengenali wajah kita"
Ucap Alex dalam hati, sambil mengambil masker yang ada disaku jasnya kemudian memakainya.
Alex kemudian berjalan mendekat kearah Larisa yang sedang duduk di kursi tunggu yang telah disediakan oleh rumah sakit.
Ia kemudian duduk di dekat Larisa, namun masih berjarak tiga tempat duduk darinya, sehingga Larisa tak akan curiga jika yang duduk didekatnya adalah Alex.
Tak lama kemudian akhirnya nomor antrian Larisa dipanggil,
Alex yang melihat Larisa masuk kedalam ruangan praktek dokter kandungan menjadi heran dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Larisa lakukan disini, mengapa ia masuk ke ruangan untuk ibu hamil.
Tapi bukankah dokter yang bertugas di sana adalah wanita, jadi tak mungkin jika Larisa kesini untuk berkencan, Alex berencana akan menanyakan langsung hal ini pada dokter Tiara, dokter spesialis kandungan yang hari ini bertugas.
Bukan tak mungkin jika dirinya mengenal dokter tiara, ia adalah dokter muda yang sangat baik kinerjanya, selain itu Alex juga mengenal hampir semua dokter yang bekerja di rumah sakit milik orang tuanya itu.
Dokter Tiara adalah mantan pacar Alex, mereka dulunya sempat berpacaran waktu kuliah dan sempat bertunangan, dulu Tiara sempat magang di rumah sakit milik orang tua Alex itu, dan disitulah mereka awalnya bertemu dan mulai memiliki perasaan satu sama lain, tapi karena dokter Tiara ingin meneruskan gelar dokternya, dan mengambil spesialisnya akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Sejak saat itu Alex tak lagi menjalin hubungan dengan wanita manapun, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja, dan nongkrong bersama teman-temannya.
Wanita bukan menjadi prioritas utama lagi bagi Alex, ia trauma menjalin hubungan serius, ia takut jika akhirnya harus kecewa lagi.
Namun berbeda cerita, semenjak bertemu dengan Larisa ia seakan-akan mendapat gairah cintanya kembali dari wanita itu, dan ia bertekad akan memperjuangkan cintanya.
Alex berpikir jika saja dulu ia dan Tiara mau berkomitmen satu sama lain, mungkin saja sekarang wanita itu telah menjadi istrinya.
***
"Selamat siang pak, ada perlu apa bapak memanggil saya?"
Tiara langsung bertanya tanpa basa basi dulu dengan Alex, ia sangat malas berhadapan dan berlama-lama di ruangan kebesaran Alex itu.
"Lama tak bertemu dokter Tiara, kenapa bicaramu jadi se formal itu, kau membuatku jadi tak nyaman"
"Baiklah, ada apa kau memanggilku?"
"Aku membutuhkan sedikit bantuan mu"
"Bantuan apa? hari ini pasienku cukup banyak, aku tak ada waktu meladeni mu"
"Aku yang menggaji mu, suruh dokter arman untuk menggantikan mu jika pasien mu banyak, aku ada perlu sebentar dengan mu"
"Baiklah, cepat katakan apa mau mu"
"Aku membutuhkan informasi darimu"
"Informasi? Informasi apa itu?"
Alex lalu membuka galeri foto hpnya dan memperlihatkan foto Larisa pada Tiara.
"Kau mengenal wanita ini? kulihat tadi ia masuk keruangan mu"
Tiara memperhatikan dan mengingat-ingat siapa wanita yang Alex maksud itu, dan tak lama kemudian ia pun mulai mengingatnya.
"Memangnya kenapa dengan wanita itu?"
"Wanita itu istri temanku, mereka bertengkar dan temanku sedang mencari-cari keberadaan istrinya itu, makanya pas aku melihatnya tadi masuk keruangan mu aku heran apa yang ia lakukan disini, makanya itu aku memanggilmu, begitu"
Jawab Alex berbohong, ia berharap Tiara percaya dan memberi tahunya tentang mengapa Larisa bisa masuk keruangan nya.
"Ohhh wanita itu, ia kemari karena ingin memeriksakan kandungannya"
Mendengar perkataan dokter Tiara, Alex yang sedang minum menyemburkan air itu sangking terkejutnya, untung saja dokter tiara berada jauh darinya sehingga tak terkena semburan dari Alex.
"Kenapa kau begitu kaget, bukankah dia mempunyai suami, dan suaminya adalah temanmu, wajar saja jika ia hamil karena ia mempunyai suami, memangnya ada yang salah dengan hal itu?"
"Bu...bu...bukan begitu, maksudku, jadi wanita itu sekarang hamil berapa bulan?"
"Tunggu, biar ku ingat-ingat dulu, emmm kalo tidak salah ingat, dia sudah hamil tiga bulan"
"Apa? Tiga bulan?"
"Iya, kenapa sepertinya kau sangat terkejut mendengar dia sudah hamil tiga bulan?"
"Tidak papa, baiklah terima kasih atas informasi mu, kau boleh kembali keruangan mu"
Tiara keluar dari ruangan Alex dengan perasaan kecewa, awalnya ia senang karena Alex akhirnya mau berbicara dengannya, ia juga berharap Alex akan memaafkannya dan mau kembali menjalin hubungan dengannya, tapi ternyata itu hanya hayalan nya saja.
Alex memanggilnya bukan karena ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang sebelumnya kandas, tapi Alex malah menanyakan mengenai istri temannya.
"Sejak kapan ia begitu perhatian dengan istri temannya itu? kurang kerjaan sekali, ahhh ntahlah itu urusan si tukang suruh itu, itu bukan urusanku"
Ucap Dokter Tiara dalam hati.
Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan kebesaran Alex lalu kembali keruangan nya, di sana sudah banyak sekali pasien yang menunggu untuk diperiksa.
Alex yang masih ada dalam ruangannya mulai berpikir apakah anak yang Larisa kandung adalah anaknya, tapi jika anak itu adalah anaknya kenapa Larisa tak memberi tahunya.
Alex berencana akan menemui Larisa dan menanyakan sendiri kepadanya, ia tak bisa lagi menahan dirinya untuk bertanya langsung pada Larisa mengenai siapa yang telah menghamilinya, apakah ia adalah ayah dari anak itu?
Alex masih berada dalam ruangannya, yang ada dipikirannya saat itu juga hanya Larisa, ia berharap Larisa mau menjelaskan tentang siapa yang menghamilinya.
Alex lalu menekan tombol interkom yang menandakan bahwa dirinya memanggil asisten pribadinya Robi.
"Anda memanggil saya tuan?"
"Kosongkan jadwalku hari ini, aku ada urusan yang sangat penting, kuharap kau bisa mengaturnya dengan baik seperti biasa"
"Baik tuan"
Ucap Robi singkat, sepertinya ia tahu kemana tuannya itu akan pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments