( Di kantor AGPWare )
Sejak kejadian waktu itu, dimana Larisa tak ingin bertemu dengan Alex, ia menjadi uring-uringan, sedikit saja kesalahan amarahnya akan meledak-ledak, membuat para karyawannya takut dan tak nyaman dengan hal itu.
Setiap malam ia akan menghabiskan waktunya untuk bekerja bekerja dan bekerja, ia berusaha untuk melupakan Larisa, tapi ia tak sanggup melakukannya.
Padahal diluar sana masih banyak wanita cantik yang lebih dari Larisa, dengan kekayaan yang ia miliki, siapapun wanita yang ia inginkan, pasti akan jatuh hati juga kepadanya, namun hati Alex hanya tertuju pada Larisa seorang.
Cinta memang mampu membutakan mata hati orang yang ia tempati hinggap, datang tanpa permisi, lalu pergi tanpa perduli, meninggalkan kepingan-kepingan luka di hati, begitulah Alex.
Alex yang awalnya hanya ingin sekedar memanfaatkan keadaan Larisa pada saat itu, malah kini ia yang jatuh hati kepadanya, karena cinta satu malamnya, Alex kini benar-benar mencintai Larisa, ia jatuh cinta pada pandangan pertama, kini cinta pula yang membuatnya jatuh sedalam dalamnya dalam lingkaran perasaan yang tak pasti, membuatnya sangat sedih dan merana.
"Mengapa kau jadi seperti ini Larisa" gumam Alex dalam hati, ia yang merasa kesal menghambur dan melemparkan apa saja yang ada dihadapannya, ia sangat frustasi dengan percintaannya.
Namun Alex bertekad tidak akan melepaskan Larisa, bagaimanapun caranya ia harus mendapatkannya, hanya dirinya yang harus menjadi yang pertama dan terakhir untuk Larisa.
"Tidak akan kubiarkan kau lolos begitu saja Larisa, aku akan mencari mu dan mendapatkan mu"
Sambil mengepalkan tangan, hingga terlihat buku-buku jari tangannya.
***
( Di kediaman kedua orang tua Ardian )
Ardian yang baru saja tiba, langsung disambut oleh kedua orang tuanya, pak haji somat dan bu mina sangat senang melihat putra semata wayangnya berada di rumah mereka.
Selama ini memang Ardian memutuskan untuk membeli rumah dan menempati rumah tersebut, sebenarnya Ardian tidak ingin melakukan itu, hanya saja rumah yang ia beli dekat dengan kampus tempat ia mengajar sehingga sangat memudahkan Ardian untuk pulang pergi, mengingat rumah kedua orang tua Ardian yang berada di pinggir kota.
Jika dirinya pulang pergi dari rumah kedua orang tuanya, biasanya akan memakan waktu yang cukup lama, ditambah kondisi jalanan yang biasanya sangat macet karena anak sekolah dan para pekerja yang akan memulai aktifitas mereka.
Sehingga Ardian memutuskan untuk tinggal sendiri di tengah kota, dengan begitu ia tak perlu capek-capek menyetir mobil dalam keadaan macet, dan yang pastinya akan sangat menguras tenaganya.
"Assalamualaikum bu,pak" Ardian mengucap salam, sambil mencium kedua tangan orang tuanya dengan takzim secara bergantian.
"Walaikumsalam, kok pulangnya lama nak, kan udah ibu bilang, kalo urusannya udah selesai langsung pulang jangan keluyuran lagi"
Ucap ibu Ardian yang sedari tadi menunggu kepulangan anaknya itu.
"Maaf bu tadi gak sengaja ketemu teman pas dijalan mau balik, eh.. jadi ngobrol sebentar, sekalian Ardian mau mengundang teman Ardian itu ke acara pernikahanku nanti bu, sangking asyiknya ngobrol, Ardian jadi lupa waktu, maafkan anakmu ini bu"
Jelas Ardian sambil memeluk ibunya dari belakang, Ardian juga sengaja berbohong, ia tak mungkin mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan Larisa, Ardian tahu mereka pasti akan sangat marah dan kecewa.
"Ya udah gak papa, sekarang kamu masuk kamar, bersih-bersih, abis itu makan, ibu udah siapin makanan kesukaan kamu.
Setelah bersih-bersih, Ardian sekeluarga makan malam bersama sambil berbincang-bincang santai mengenai pekerjaan dan persiapan pernikahan Ardian dan Tiana.
"Bagaimana pekerjaanmu, apakah kau sudah mengambil cuti mu?" Tanya pak haji somat membuka pembicaraan saat semuanya sedang menikmati makanan mereka masing-masing.
"Alhamdulillah lancar pak, semua urusanku di kampus sudah aku selesaikan sampai dua minggu ke depan, kalo masalah cuti sudah beres dari kemarin"
"Syukurlah kalo begitu, ibu harap semoga pernikahanmu nanti berjalan lancar, kamu jangan kemana-mana lagi, gak usah keluyuran, calon pengantin tinggal aja di rumah"
"Betul kata ibumu, dulu bapak sama ibu juga begitu"
Balas Pak Haji somat sambil mencolek pipi bu mina.
"Enak aja, apanya yang sama, terus yang masuk menyelinap diam-diam lewat jendela itu siapa?, masak hantu sih pak"
"Hussss ibu ini, jangan buka kartu orang sembarangan bapak kan jadi malu, hilang sudah kewibawaan bapak didepan anak sendiri gara-gara ibu"
"Lagian waktu itu kan memang bapak nyelinap masuk lewat jendela buat ketemu sama ibu, hayooo ngaku"
"Iya memang bapak ngaku dehh, soalnya kakek mu itu yah Ardian, galaknya minta ampun, bapak gak dibolehin ketemu sama ibumu, kan bapak jadi kangen kalo gak ketemu sama ibu"
"Halahhh gombal, dulunya aja selalu bilang kangen, sekarang mah gak pernah"
Ardian merasa bahagia melihat perdebatan kecil antara kedua orang tuanya, Ardian bangga melihat keduanya yang tetap akur sampai setua ini.
"Keluarga dari bapak besok datang, kakek, nenek, paman, bibi, sama sepupu-sepupu mu juga bakalan datang semua"
"Bagus dong bu, rumah bakalan rame"
"Tapi ibu bakalan lebih bahagia kalo setelah menikah ibu bisa cepat dapat cucu, biar ibu bisa main sama cucu ibu, ibu pamerin juga sama teman-teman arisannya ibu,, uhhhhh senangnya"
Ardian yang mendengar ucapan ibunya hanya bisa tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mendengar kata cucu, mengingatkan Ardian pada Larisa, apakah ibunya mau menerima anak dari larisa? bagaimanapun anak itu adalah cucunya, tapi bagaimana caranya memberitahu pada ibu.
"Bapak ada kerjaan buat kamu, kebetulan bapak lagi ada keperluan kerja diluar kota jadi untuk urusan kerja disini bapak serahkan sama kamu, sudah waktunya kamu mulai belajar mengelola usaha bapak, kamu anak bapak satu-satunya, jadi kamu yang akan menggantikan posisi bapak"
"Baiklah pak Ardian akan mengatur semuanya, bapak hanya perlu mengintruksikan apa yang harus Ardian kerjakan, agar tidak bertabrakan dengan jadwal mengajar Ardian di kampus"
"Kalo begitu kamu harus mencari seseorang yang bisa membantu mengurus segala urusanmu, agar kau sendiri tidak kewalahan, karena menjadi pengajar dan seorang pengusaha diwaktu yang bersamaan bukanlah hal yang mudah nak"
Saran bapak memberi masukan kepada Ardian agar mempekerjakan asisten pribadi yang bisa mengatur segala urusan dan keperluannya.
Ardian terkadang bingung, bapak adalah tipe orang yang sangat humoris, dan suka tertawa, apapun akan dibuat lucu oleh bapak, bahkan juga sering menjahili dan menggoda ibu, namun ketika membicarakan masalah pekerjaan bapak akan berubah seratus delapan puluh derajat, bapak akan sangat serius dan fokus, beda sekali ketika kita tidak membahas pekerjaan ataupun masalah keluarga.
Dengan sifat humorisnya itu, bapak bisa menularkan kepada orang lain candaan yang bisa membuat orang tertawa, Ardian berpikir, mungkin saja dulunya bapaknya akan terlahir menjadi seorang badut atau pemain sirkus.
Namun takdir Tuhan berkata lain, bapak malah menjadi seorang pengusaha, dan usahanya semakin besar semenjak menikah dengan ibu.
Mengingat tentang takdir membuat Ardian ingat tentang dirinya, sepertinya takdirnya kali ini kurang baik.
Bagaimana tidak, orang lain akan merasa bahagia ketika akan menikah, tapi sepertinya tidak dengan Ardian, ia merasa bingung, apa yang harus ia lakukan, sebentar lagi ia akan menikahi Tiana, namun sekarang Larisa tengah mengandung anaknya.
"Aaakkkkkhhhhhhh"
Gerutu Ardian sendiri, ia tidak menyadari jika kedua orang tuanya sedang memperhatikan dirinya yang sedari tadi hanya melamun, melihat hal itu, sontak saja kedua orang tua Ardian pun bertanya.
"Kamu kenapa nak, ada masalah?"
"Ohh gak kok bu, gak ada masalah apa-apa"
"Beneran, kalo ada masalah cerita dong, biar kita bisa memberikan solusi atau saran sama kamu nak, lagian diam tidak akan menyelesaikan masalah"
Jawab bapak memberi saran dengan begitu bijaknya.
"Iya pak, bu, beneran kok, gak ada masalah apa-apa.
"Ya sudah kalo begitu, makannya dilanjut lagi, abis itu istirahat, ibu lihat kayaknya kamu capek banget"
"Iyaa bu"
Jawab Ardian singkat sambil memegang punggung tangan ibunya sambil tersenyum.
Ardian merasa sangat beruntung memiliki seorang ibu yang sangat peduli dan perhatian kepada anaknya, apapun akan Ardian lakukan untuk membahagiakan kedua orang tuannya, itu janjinya.
Akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan panjangnya, dan melanjutkan kembali makan malam mereka tanpa sepatah katapun, setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing beristirahat karena besok masih banyak yang akan dilakukan untuk persiapan pernikahan Ardian.
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya teman-teman readeris, biar author makin semangat buat ceritanya.
Ini karya pertama author, mohon bantuannya ya, soalnya karyaku ini masuk nominasi event You Are Writer Season 8.
Ikuti terus kisah selanjutnya....!!!
Happy reading😄😄😄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments