( Di kampus )
Hari ini Ardian mengajar di kampus seperti biasa, namun sejak pembelajaran dimulai ia kurang fokus membawakan materinya, pikirannya selalu tertuju pada Tiana.
Ia selalu terbayang-bayang mata indah milik Tiana "apakah dirinya telah menaruh hati padanya?" Ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba handphone dalam sakunya berbunyi, ia lalu mengambil handphone tersebut dan melihat ada panggilan dari ibunya.
"Bapak tinggal sebentar ya anak-anak, jangan sampai tugas yang bapak berikan tidak dikerjakan,15 menit lagi semua harus terkumpul dimeja bapak, mengerti?"
Ardian memberi arahan pada mahasiswanya dan dijawab serentak oleh mereka semua, kemudian keluar meninggalkan ruangan.
"Assalamualaikum bu, ada apa?"
"Walaikumsalam nak, kamu lagi mengajar?"
"Iya bu hari ini jadwal mengajar Ardian lumayan padat, hari ini aku akan menyelesaikan dulu semua urusanku dengan para mahasiswaku sebelum akhirnya aku mengambil cuti ku"
"Ya sudah kamu selesaikan semuanya dengan baik, ingat pernikahanmu hanya tinggal tiga hari lagi, ibu mau kamu tinggal di rumah ibu jangan pulang ke rumahmu,ibu mau kamu tidak usah beraktifitas yang terlalu berat, pokoknya tiga hari ini ibu mau kamu istirahat yang full ya anak nakal"
"Baiklah ratuku, perintah akan segera dilaksanakan"
"Jaga dirimu baik-baik nak, jangan lupa makannya harus tepat waktu"
"Makasih bu atas perhatian ibu, Ardian tidak tau akan jadi seperti apa tanpa ibu di sisiku"
"Ya kamu tetap akan seperti dirimu nak, nanti kalo kamu sudah menikah dengan Tiana, perlakukan dia sebaik mungkin ya nak, cintai dan sayangi dia, Tiana anak yang baik dan sholeha, jangan pernah kamu menyia-nyiakan wanita sebaik dirinya"
Tiba-tiba Ardian teringat pada Larisa, bagaimana caranya ia menyampaikan jika Larisa sedang hamil, dan yang menghamilinya adalah dia.
"Bisa-bisa aku dikeluarkan dari kartu keluarga dan tidak dianggap lagi sebagai anak oleh bapak dan ibu, dasar! wanita itu selalu saja mengganggu pikiranku dan merubah mood ku jadi tidak enak"
Ucap Ardian dalam hati yang mengingat Larisa yang sedang hamil anaknya.
"Ardian kamu dengar ibu kan nak?"
Panggil ibu pada Ardian yang sedari tadi menunggu jawaban dari anaknya itu.
"Iy..iya bu, Ardian dengar kok"
"Lagian kamu nya ibu panggil panggil nggak nyahut"
"Maaf bu mungkin jaringan sedang tidak baik"
"Kalo begitu selesaikan urusanmu secepatnya hari ini juga, terus balik ke rumah ibu, ibu tunggu kamu, ibu sudah masakin makanan kesukaan kamu, jangan keluyuran lagi anak nakalnya ibu"
"Iya ibuku sayang, Ardian bakalan selesaikan semua secepatnya, Ardian gak sabar mau makan masakan buatan ibu"
Akhirnya mereka mengakhiri percakapan tersebut, lalu Ardian kembali masuk kedalam ruangan untuk melanjutkan pembelajaran yang sempat ia tinggalkan.
***
Saat berjalan di koridor kampus, Ardian yang sedang fokus pada handphonenya tak sengaja menabrak seseorang.
Ardian jatuh terduduk dilantai, lalu pria yang tadi ia tabrak dengan senang hati menjulurkan tangannya pada Ardian untuk sekedar membantunya berdiri.
"Anda tidak papa kan tuan, saya minta maaf karena sudah membuat anda seperti ini"
"Tidak papa tuan, jangan minta maaf, seharusnya yang meminta maaf adalah saya, saya yang kurang hati-hati sehingga saya menabrak anda"
"Kalo begitu saya duluan tuan, masih ada urusan yang perlu saya selesaikan"
Ardian meminta izin agar segera pergi dan dijawab anggukan kepala oleh pria tersebut.
Pria tersebut memandangi kepergian Ardian, ia merasa pernah melihat pria itu, tapi ntah dimana.
***
Sesampainya diparkiran kampus, Ardian masuk kedalam mobilnya, dan lagi-lagi handphonenya berdering tanda ada panggilan.
Ia lalu melihat dilayar handphone ada panggilan masuk dari Larisa.
"Ya Tuhan, aaakkkhhhh..... mau apa lagi wanita ini menghubungiku, apakah dia belum mengerti juga dengan maksud ucapan ku waktu itu?"
Ucap Ardian yang menatap layar handphone yang sedang berdering karena telfon dari Larisa dan kemudian mengangkat telfon itu.
"Sayang kamu dimana? Aku ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin ku bicarakan"
"Ada apa lagi Larisa, apakah kau tidak mengerti maksud perkataan ku waktu itu, aku tidak bisa, aku sedang sibuk"
Ucap Ardian yang menolak permintaan Larisa.
"Aku tunggu kau di cafe yang kemarin yah, bye sayangku"
Larisa kemudian menutup telfon tanpa memberikan kesempatan pada Ardian untuk menolak keingina nya.
"Halo...Halo...,Larisa"
Panggil Ardian tapi ternyata telfon sudah dimatikan lebih dulu oleh Larisa, mau tidak mau akhirnya Ardian harus menemui Larisa, ia takut jika Larisa akan melakukan hal yang nekat apalagi sampai memberi tahu kepada bapak dan ibunya mengenai kehamilannya.
Ardian akhirnya menuju ke cafe yang Larisa maksud, tempat dimana terakhir mereka bertemu, di sana sudah ada Larisa yang duduk manis menunggunya.
Dengan malas-malasan akhirnya Ardian duduk tepat didepan Larisa, ia merasa sangat tidak bersemangat untuk membahas masalah kehamilan Larisa.
"Sayang kenapa wajahmu begitu, apakah kau tidak bahagia bertemu denganku?"
"Iya aku tidak bahagia bertemu denganmu"
Jawab Ardian dalam hati, namun ia tidak mungkin mengatakannya secara langsung, itu akan membuat Larisa akan marah besar.
"Cepat katakan hal penting apa yang ingin kau katakan padaku?"
"Aku ingin kau membatalkan pernikahanmu dengan wanita pilihan orang tuamu itu"
"Apa kau bilang, jadi kau ingin bertemu hanya untuk menyuruhku membatalkan pernikahanku, begitu?"
"Aku sedang mengandung anakmu sayang, tidakkah kau kasihan pada anakmu jika ia tidak memiliki ibu dan ayah"
"Lebih baik aku tidak menikah, biarkan saja anakku tidak mempunyai ibu, aku tak ingin ia tahu jika ibunya seorang penipu"
Jawab Ardian kasar, ia tak sanggup lagi menahan amarahnya mendengar ucapan dari Larisa.
"Kalo kau tak mau membatalkan pernikahanmu, aku akan menemui wanita itu dan memberitahukan bahwa aku sedang hamil anak dari calon suaminya"
"Percuma saja kau melakukan hal itu, sekarang tiana sudah tau semuanya"
"Jadi wanita itu namanya Tiana" ucap Larisa pada Ardian, ia sengaja berpura-pura tidak tau tentang tiana, padahal sebenarnya ia sudah tau karena ia sempat menyadap hp Ardian, dan pernah sekali Larisa meneror tiana, agar ia tak menerima lamaran dari Ardian waktu itu, namun kenyataannya Tiana tetap menerima lamaran dari Ardian.
"Iya namanya Tiana"
"Bohong, tidak mungkin, bagaimana dia bisa tau, lalu kenapa dia tidak membatalkan pernikahannya denganmu?"
Larisa mulai merasa sangat emosi, wanita seperti apakah yang akan Ardian nikahi ini, mengapa wanita itu tidak membatalkan pernikahannya walaupun ia sudah tau bahwa calon suaminya telah menghamili wanita lain.
"Dia berbeda denganmu Larisa, itulah istimewanya wanita yang akan ku nikahi ini, bahkan aku pun heran dibuatnya, mengapa sepertinya ia merasa tidak terjadi apa-apa"
"Kenapa wanita itu bisa tau mengenai permasalahan kita?"
Kemudian Ardian menceritakan secara detail bagaimana awalnya Tiana bisa mengetahui jika Larisa sedang hamil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments