"Kemana kau selama ini Larisa, aku mencari mu kemana-mana tapi, kau sangat sulit untuk kutemukan, kau juga tak menjawab telfon ku dan tak membalas chat ku, ada apa Larisa? apakah selama ini kau hanya bermain-main denganku"
"Maafkan aku sayang, bukan maksudku seperti itu, akhir-akhir ini aku hanya sedang sibuk pemotretan, kamu tau sendiri kan, aku bekerja sebagai seorang model, mereka menuntut ku untuk selalu profesional, maafkan aku sayang"
Jawab Larisa berbohong, ia tidak ingin Alex tau apa yang sebenarnya ia sembunyikan.
"Lalu siapa pria yang tadi bersamamu itu, dari jauh aku perhatikan sepertinya dia sedang marah kepadamu?"
"Ohh itu, ia rekan kerjaku, ia menyuruhku untuk bekerja lebih giat lagi, ia menawariku menjadi brand ambassador suatu produk kecantikan ternama, dan dalam waktu dekat ini akan louching produk mereka, makanya ia memberikanku pekerjaan yang lumayan besar, agar aku bisa lebih mengembangkan lagi karirku di dunia permodelan ku ini"
"Tapi aku merasa sepertinya kau mulai menjauhiku Larisa?"
"Itu hanya perasaanmu saja sayangku, aku selalu ada untukmu, aku mencintaimu"
"Jangan katakan cinta jika kau tidak tau makna dari arti cinta itu sendiri Larisa"
Alex kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Larisa seorang diri.
Larisa merasa tidak enak, ia merasa bersalah karena percintaan semalam nya bersama Alex, ia kini seakan-akan mempermainkan perasaan Alex, padahal sepertinya pria itu sangat serius dengannya.
Ia merasa bingung kenapa ia tak bisa melepaskan Ardian, sedangkan ia memiliki Alex yang selalu menghujaninya dengan begitu banyak cinta dan perhatian lalu apa yang ia harapkan dari Ardian? Tanya larisa dalam hati, sedangkan ia tahu bahwa Ardian tak mencintainya lagi, dan sebentar lagi akan menikah dengan orang lain.
Karena bingung dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia pun memutuskan kembali ke apartemennya.
***
Ting...ting...ting...
Tiana yang sedang berbaring ditempat tidur mendengar ada pesan masuk di handphonenya, ia pun bergegas mengambil handphone tersebut yang berada dimeja nakas tepat di samping tempat tidurnya.
Ia melihat ada pesan masuk diaplikasi hijaunya, ia lalu melihat bahwa itu nomor baru yang tak ia kenali siapakah pengirimnya.
"Assalamualaikum tiana, apakah kau sudah tidur, apakah aku mengganggumu?"
Isi pesan tersebut
"Walaikumsalam, ini dengan siapa?"
"Aku, Aaa" karena salah menekan tombol pada layar hpnya, pesan yang belum selesai Ardian ketik terkirim pada Tiana.
"Aku apa maksudnya? Saya tidak ada waktu untuk meladeni hal yang tidak penting terima kasih"
Balas tiana, ia merasa jengkel karena orang yang mengiriminya pesan tak kunjung mengatakan siapa dirinya.
Pesan terkirim dan centang dua biru, itu tandanya pesan telah terbaca.
Lama tertulis sedang mengetik.. Namun ia tak kunjung mendapatkan balasan pesan dari nomor baru tersebut, ntah berapa panjang tulisan yang akan ia kirimkan untuk tiana.
Lama juga ia menunggu balasan dari nomor baru itu, Tiana yang mulai merasa ngantuk akhirnya tertidur dan melupakan mengenai pesan dari si nomor baru itu.
Keesokan paginya tiana membuka handphonenya dan melihat ada pesan yang masuk dari nomor baru tersebut.
"Aku Ardian" isi dari pesan tersebut
Tiana yang membaca pesan itu merasa senang, ia heran pada dirinya sendiri, kenapa ia bisa sesenang itu mendapatkan pesan dari Mas Ardian
"Apakah ia kini mulai menyukai Ardian?" Tiana bertanya dalam hati.
"Astagfirullah tidak boleh, aku tak boleh suka atau cinta sama Mas Ardian sebelum aku mengetahui yang sebenarnya tentang dan wanita yang bersamanya saat di butik"
ucap Tiana dalam hati untuk meyakinkan dirinya.
Tiana pun membalas pesan Ardian, menanyakan ada perlu apa dia menghubunginya.
"Mas Ardian? Ada perlu apa mas?"
Balas tiana pesan dari Ardian.
"Hanya ingin tau kabarmu saja tiana, apakah kau baik-baik saja? Ada hal yang ingin kutanyakan langsung kepadamu"
"Alhamdulillah baik, Hal apa itu mas katakan saja padaku"
Ardian merasa ragu, namun jika tidak menanyakan langsung pada tiana, ia tidak akan tau apakah waktu itu saat di butik ia mendengar pembicaraannya dengan Larisa.
Lama berpikir, Ardian akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan langsung hal itu pada tiana.
"Aku ingin bertanya apakah waktu itu saat kita berdua akan fitting baju pengantin di butik, kamu mendengar pembicaraanku bersama temanku itu?"
Ardian berbohong dengan mengatakan bahwa Larisa adalah temannya, ia tak tega mengatakan bahwa wanita yang saat itu bersamanya adalah Larisa.
Wanita yang kini ia anggap sebagai mantan pacarnya, namun kini telah hamil dan mengandung anaknya.
"Wanita cantik yang bersamamu itu kan mas? Memangnya kenapa? Iya aku sudah mendengar semuanya mas"
Jawab Tiana singkat dan penuh penekanan, ia seakan-akan menuntut jawaban dari apa yang ia dengar waktu itu.
"Kau sudah mendengarnya tiana? dan kau tak marah padaku?"
"Untuk apa aku marah mas, marah tidak akan menyelesaikan masalah"
Ardian membaca pesan yang dikirim oleh tiana, ia merasa bahwa Tiana orang yang bijak, ia bukan tipe orang yang akan lebih dulu marah sebelum mendengarkan penjelasan dari orang lain, buktinya ia tak marah padanya walaupun Tiana tahu bahwa aku telah menghamili Larisa.
Mengingat kehamilan Larisa membuat Ardian sangat frustasi, andai saja waktu itu ia menolak bertemu dengan Larisa, dan tidak meminum minuman yang telah dia beri obat laknat itu, maka tidak mungkin Larisa akan hamil.
Ardian merutuki kebodohannya itu, ia tak tau akan mengatakan apa pada Tiana mengenai masalah ini, lebih baik ia sudahi saja percakapannya dengan tiana dan bergegas menuju kampus tempat ia mengajar karena hari ini jadwal mengajarnya sangat padat.
Tiana yang tidak mendapat balasan dari Ardian akhirnya menaruh kembali handphonenya di atas nakas dan turun kebawah menuju ruang tamu, karena sedari tadi umi sudah memanggil manggil namanya.
***
Di Apartemen Larisa
Larisan memang tinggal disebuah apartemen miliknya tepat ditengah kota, apartemen itu hadiah ulang tahun yang diberikan oleh kedua orang tuanya saat ulang tahunnya.
Larisa mulai membuka matanya, cahaya mentari yang masuk melalui celah horden kamarnya membuatnya merasa terganggu, akhirnya ia memutuskan untuk bangun dan membersihkan dirinya.
Ia pun masuk ke kamar mandi, ia mulai membasahi tubuhnya dengan air dingin, ia berusaha menghilangkan masalah yang membebani hidupnya dengan mengguyur seluruh tubuhnya.
Ia berharap dengan cara itu perasaannya akan menjadi sedikit lebih baik.
Setelah selesai mandi, ia kemudian ke dapur mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya yang sudah mulai keroncongan, dan akhirnya menemukan beberapa bungkus mie instan, ia pun mulai memasak mie tersebut, dari aromanya sangat menggugah selera, membuat air liurnya seakan mau menetes.
Ntah ini bawaan hamil atau apa, Larisa juga tak tau, namun semenjak ia hamil ia merasa banyak hal yang berubah, mulai dari bentuk tubuh hingga soal makanan.
Contoh kecil mie instan, sebelum hamil Larisa tidak terlalu menyukainya, namun setelah hamil ia merasa mulai menyukai makanan yang banyak orang sukai itu, ia bahkan akan menghabiskan dua bungkus sekaligus dalam sekali makan.
Ia duduk sambil menikmati makanannya, terlintas kembali dipikirannya tentang kehamilannya yang kini memasuki hampir tiga bulan.
Ia bingung bagaimana cara untuk menyampaikan hal ini kepada kedua orang tuanya, walaupun mereka sangat menyayangi dirinya, tetap saja hati orang tua mana yang tak patah hati, mengetahui anak satu-satunya yang selama ini mereka banggakan hamil diluar nikah.
Ia juga merasa bersalah kepada Ardian, mengapa karena nafsunya hingga ia berselingkuh dengan Alex, ia sangat bersalah karena telah mengkhianati Ardian orang yang sangat ia cintai.
"Ohhhh bodohnya diriku" ucap Larisa dalam hati
Larisa berniat akan menemui Ardian kembali dan akan memintanya untuk membatalkan pernikahan mereka.
Bagaimanapun caranya Ardian harus menjadi miliknya, hanya ia wanita yang berhak menikah dengan Ardian bukan wanita lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments