Saat makan malam tiana tak kunjung keluar dari dalam kamarnya, abah pun ikut bingung kenapa putri sulungnya tak ikut makan malam bersama-sama, tidak biasanya tiana seperti ini.
Akhirnya abah dan umi memutuskan untuk menemui tiana di kamarnya, dan sekaligus juga membawakan makan malam karena sedari siang tadi tiana tak pernah makan apapun, abah dan umi takut jika anaknya sampai sakit, apalagi pernikahan anaknya tinggal menghitung hari lagi.
Saat tiba tepat didepan pintu kamar Tiana, abah mengetuk pintu kamar lalu mengucapkan salam terlebih dahulu, tapi tak ada jawaban dari dalam kamar tiana.
Untuk kedua kalinya akhirnya abah mengetuk pintu kamar tiana, karena tak kunjung ada jawaban darinya, akhirnya abah memutuskan untuk membuka saja pintu kamar tiana dan melihat tiana sedang tertidur pulas ditempat tidurnya, lalu umi masuk terlebih dahulu, kemudian duduk tepat di samping tiana lalu dengan lembut membangunkan tiana agar ia mau bangun dan makan.
Perlahan-lahan akhirnya tiana membuka matanya dan melihat bahwa kedua orang tuanya telah berada dihadapannya,dan nampak mereka sedih melihat tiana.
"Kamu kenapa nak, abah perhatikan kamu sepertinya ada masalah, umimu bilang sewaktu pulang tadi dari butik untuk lihat-lihat baju pengantin kamu sepertinya terlihat tidak seperti biasanya nak,kalo ada masalah ceritakah sama abah dan umi, insyaAllah kami sebagai orangtuamu akan mendengarkan segala keluhkesahmu itu, kata umi juga sejak siang tadi kamu belum makan apapun, adikmu fatimah bilang bahwa sejak pergi tadi kamu tak makan apapun padahal kata fatimah di sana banyak makanan disiapkan"
Umi yang sedari tadi berada di samping tiana hanya dapat menguatkan anaknya melalui sentuhan lembut dipuncak kepala anaknya itu.
Tiana hanya diam memandangi wajah kedua orang tuanya satu persatu, ia melihat wajah abah dan umi yang tak lagi muda itu terlihat sangat cemas, wajah yang kini mulai dipenuhi dengan kerutan dan keriput, menandakan bahwa mereka telah banyak menghabiskan waktu mereka di dunia ini dan kematian semakin dekat lagi.
Karena melihat kecemasan di wajah kedua orang tuanya, akhirnya tiana pun menjelaskan bahwa kenapa dirinya tidak ikut makan malam bersama tadi.
"Abah dan umi tak perlu khawatir,tiana hanya kecapean soalnya di butik tadi aku dan fatimah menunggu mas ardian itu lama banget karena macet, terus pas di butik saat tiana mencoba memilih pakaian pengantin yang cocok, itu kan bukan cuma satu bah, jadi tiana kayak capek banget, pas sampai rumah tadi makanya langsung tidur, gitu bah, umi"
Jelas tiana pada kedua orang tuanya dengan sopan dan sangat lembut, ia tidak ingin kedua orang tuanya tau jika dirinya telah berbohong karena melihat langsung pertengkaran antara ardian dan kekasihnya, dan itu menandakan bahwa mereka selama ini masih terus berhubungan satu sama lain, padahal pernikahan mereka tinggal menghitung hari saja.
"Kalo begitu umi suapin ya, kamu dari tadi siang belum makan, ini umi udah bawain makanan kesukaan kamu, dimakan ya nak ya"
"Umi, kakak cuma kecapean tidak sakit, jadi biar tiana sendiri yang makan, umi dan abah istirahat saja"
"Beneran gak mau disuapin sama umi?"
"Iya umi, biar kakak makan sendiri saja, umi dan abah kekamar gih istirahat"
"Ya sudah, makannya dihabiskan ya nak, jaga kesehatan kamu umi gak mau anak sulung umi sampai sakit, ingat loh pernikahan kamu tidak lama lagi"
Mendengar apa yang dikatakan uminya,tiana merasa sedih, ia berfikir akankah pernikahan ini benar akan terjadi sedangkan di satu sisi mas ardian masih saja berhubungan dengan pacarnya.
"Iya umi, jangan khawatir, insyaAllah kakak bakalan jaga diri dan jaga kesehatan seperti harapan umi dan abi"
"Kalo begitu abah dan umi mau istirahat dulu ya nak, makanan kamu dihabiskan dan istirahat kembali, jangan terlalu banyak fikiran, abah dan umi kekamar dulu"
"Rasanya baru kemarin umi melahirkan kamu, merawatmu, dan membesarkan mu, setelah sebesar ini akhirnya datang lelaki yang akan menjadi pendamping mu, umi berharap ia lelaki yang tepat untukmu nak, lelaki yang bisa menyayangimu , dan menuntun mu selalu dijalan Allah, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, itu harapan umi"
"Sudahlah umi, kita istirahat dulu, kalo ngobrol terus kasian tiana tidak bisa makan"
Iya,kamu habiskan makan mu nak, abis itu tidur lagi ya, umi dan abah ke kamar dulu"
"Iya umi, abah"
Abah dan umi akhirnya meninggalkan tiana dan pergi ke kamar mereka untuk beristirahat, sedangkan tiana, setelah kepergian kedua orang tuanya dia merasa bersedih karena telah berbohong kepada kedua orang tuanya, karena tiana berfikir tidak mungkin jika ia harus menceritakan apa yang dia lihat tadi saat berada di butik, karena jika mereka tau maka sudah pasti abah dan umi akan merasa sangat sedih, karena mengetahui bahwa calon menantu mereka masih berhubungan dengan kekasihnya.
Padahal mereka sangat mengharapkan bahwa mas ardian adalah lelaki yang tepat untuk anaknya, mereka sangat bahagia mengetahui bahwa tiana akan segera menikah, dan dipersunting oleh lelaki tampan, mapan, dan juga baik menurut mereka.
Mereka berfikir bahwa sudah saatnya tiana menikah, dan mulai belajar berumah tangga dan berusaha menjadi istri yang sholeha, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Dilain sisi, tiana merasa bingung apakah ia harus berbicara kepada kedua orang tuanya mengenai apa yang ia lihat di butik tadi siang sehingga ini bisa menjadi alasan agar pernikahan ini bisa dibatalkan, tapi tiana bingung cara untuk menyampaikannya kepada abah, tiana merasa tidak enak jika sampai pernikahan ini dibatalkan tapi untuk apa menikah jika mas ardian sendiri ternyata masih menyimpan wanita lain didalam hatinya.
Tiana yang merasa sudah kehilangan nafsu makan karena kejadian tadi siang, ia pun akhirnya menghentikan aktifitas makannya, dan kemudian kembali ke tempat tidur.
Lama ia berbaring, mengubah posisi tidurnya agar lebih nyaman sehingga ia bisa tertidur, namun tetap saja mata tiana tak ingin terpejam, ia terus saja terjaga, dalam pikirannya selalu saja tertuju pada mas ardian dan wanita yang bersamanya.
Masih teringat jelas saat tiana menyaksikan perdebatan antara ardian dan pacarnya tadi siang,samar samar ia mendengar wanita itu mengatakan bahwa dirinya hamil dan itu adalah anak dari mas ardian.
Malam semakin larut,namun kantuk tak kunjung datang menghampiri tiana, segala macam doa telah ia panjatkan dan ia lafalkan agar dirinya tak terfokus pada kejadian tadi siang saat di butik, tapi matanya tetap tak ingin terpejam, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil air wudhu kemudian menunaikan sholat malam, berkeluh kesah kepada sang pencipta kiranya Allah akan memberikannya kekuatan dan ketabahan seluas samudra, dan bisa melalui derasnya cobaan ombak kehidupan.
Setelah menjalankan sholat malam, Tiana kembali ketempat tidurnya dan mulai membaca doa tidur, tak lama setelah itu akhirnya ia pun tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Halfiah Sam
tiana yg sabar yah ☺️
2022-11-18
0