Setelah Tiana akhirnya menerima pinangan dari anak pak haji somat, abah kemudian menghubungi pak haji somat memberitahukan tentang perihal itu kepadanya, dan disepakati bahwa acara pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi, dan tiga hari lagi keluarga besar pak aji somat akan datang untuk acara lamarannya.
Segala hal untuk acara lamaran tiana dan ardian dipersiapkan dengan sangat matang, karena ini adalah acara pernikahan pertama untuk anak kepala pesantren terkemuka ditempat ini maka tak lupa pula akan diadakan pengajian dan syukuran atas pernikahan tiana, dan mengundang anak anak pesanten serta anak yatim untuk ikut mendoakan semoga acara berjalan lancar.
***
3 Hari kemudian ( Hari Lamaran )
Fatimah yang sedari tadi sibuk membantu untuk acara lamaran kakaknya nampak sangat bersemangat, dengan cekatan ia menata dan menyusun segala macam hal-hal apa saja yang dibutuhkan dan diperlukan dalam acara lamaran kakaknya, ia tak ingin ada hal yang kurang diacara kakak tersayangnya itu, sehingga ia bolak balik untuk mengecek semuanya tanpa rasa lelah sedikitpun.
"Istirahat dulu adek, kasian kamu dari tadi umi lihat gak ada berhentinya mondar mandir, semangat banget, yang mau nikah kakak kamu, yang semangatnya meledak ledak malah adiknya"
Ledek umi pada fatimah
"Iya Umi, bentar dikit lagi tanggung nih, adek gak suka kalo kerjaan adek gak kelar terus ditinggalin gitu aja, kan umi yang selalu ngajarin adek kalo misalkan ngerjain sesuatu itu harus sepenuh hati dan gak setengah setengah gitu, kan umi?" Jawab fatimah
"Iya adek bener, pinter banget anak umi, masyaAllah sudah tambah dewasa aja, cuma umi gak mau kalo sampe anak umi yang manis ini kelelahan, nanti malah sakit kalo kecapean, kan umi juga yang repot nantinya"
"Yah umi mah doain anaknya biar sakit beneran nih"
"Umi bukannya doain nak, cuma umi mengingatkan saja"
"Iya umi, ya udah umi istirahat aja duluan, acaranya bentar lagi dimulai sekalian umi siap-siap aja gih, terus itu juga jangan lupa umi lihat dulu kak tiana udah selesai belum itu make upnya yang ini biar adek yang selesaikan, tinggal dikit kok umi"
"Ya sudah kamu selesaikan ya, umi lihat kakakmu dlu dikamar"
"Iyaa umi"
***
Umi yang menuju kekamar Tiana ketika masuk sangat terkejut dengan penampilan anaknya, ia syok melihat keadaan anaknya yang semrawutan, para perias juga hanya diam saja, tak mengeluarkan sepatah katapun.
Lalu umi mendekat kearah tiana dan dengan lembut membelai puncak kepala putri sulungnya itu, dan mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa tiana belum siap sedangkan acara sudah hampir akan dimulai.
"Ada apa nak? Kenapa kamu belum siap-siap acaranya sebentar lagi akan dimulai loh"
Tiana hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya
"Bicaralah nak, umi akan selalu ada menemanimu, kalo kamu hanya diam saja kita tidak tau harus berbuat apa untukmu, insyaAllah setiap ada kesulitan disitu ada kemudahan nak"
Tak lama kemudian akhirnya tiana mulai menceritakan apa yang menyebabkan dirinya seperti itu.
"Tadi malam ada yang menghubungiku lewat sosial media tiana umi, dia bilang, dia adalah pacarnya mas ardian, dan dia juga bilang tidak akan membiarkan atau melepaskan mas ardian menikah denganku"
"Tapi dari mana dia tau tentang kamu? Selama ini kamu belum pernah bertemu dengan ardian"
Tanya umi kebingungan
"Tiana juga tidak tau umi,tiana takut sepertinya apa yang dia ancamkan tidak main-main"
"Sudahlah nak, jangan terlalu difikirkan mungkin itu hanya orang yang iseng-iseng tidak jelas, tidak usah dipikirkan lagi nak, nanti umi akan coba tanyakan pada nak ardian langsung, sekarang kamu siap-siap dulu, acaranya sebentar lagi akan dimulai, umi juga mau siap-siap dulu"
"Iya umi" jawab Tiana dengat singkat
Setelah umi keluar dari kamar Tiana, para perias mulai mendandani dan menyiapkan tiana agar terlihat cantik dihari lamarannya.
Tak lama berselang Fatimah masuk kedalam kamar Tiana, betapa terkagumnya Fatimah melihat kakaknya yang selama ini tak pernah memakai make up begitu cantik dengan polesan diwajahnya, selama ini Tiana memang sudah sangat cantik walaupun tak memakai riasan apapun diwajahnya, Kulit putih mulus terawat, alis yang tebal, bulu mata yang panjang dan lentik serta hidung yang mancung bak wanita timur, juga bibir merah alami tanpa sentuhan lipstik dan pipi yang kemerah-merahan, ditambah lesung pipi dikedua pipinya menambah kecantikannya, siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka bahwa tiana adalah gadis yang sangat cantik rupawan sebab kecantikannya terjaga dan tertutupi oleh baju gamis, dan jilbab panjang serta niqab yang selalu tiana gunakan setiap hari.
Pantas saja jika tiana memiliki paras yang cantik, sebab uminya memang keturunan asli orang arab, bahkan kecantikannya itu diwarisi dari uminya, memang wajah tiana lebih didominasi oleh wajah ibunya, jadi tak heran jika ia memiliki wajah yang cantik serta tubuh yang tinggi semampai bak model majalah atau peragawati.
"MasyaAllah, kakak cantik banget"
Ucap Fatimah sambil membantu kakaknya itu memakai niqabnya
"Makasi dek,tapi kamu juga cantik kok"
"Iya dong pasti,adek siapa dulu,kak Tiana kan"
"Iya,kan adek kesayangan kakak"
"Udah kak, ni sudah rapi niqabya, sudah bagus, kakak cantik banget pake gamis warna peach ini, cocok banget sama kulit kakak yang putih"
"Masa sih dek, ya udah makasi yah udah bantuin kakak"
"Sama-sama kak, ya udah adek keluar dulu, kayaknya acara udah mau dimulai kak"
Fatimah keluar dari kamar Tiana, diluar sudah banyak orang yang berdatangan ingin menyaksikan acara ini, tak lupa pula para anak-anak santri dan anak yatim telah duduk rapi di ruang tamu menunggu acara dimulai, karena keluarga pak aji somat belum datang.
Tak berselang lama keluarga dari pak haji somat akhirnya datang, rombongan akhirnya memasuki halaman rumah abah yang berada dalam komplek pesantren, para rombongan juga membawa banyak seserahan untuk diberikan kepada tiana.
Rombongan keluarga pak aji somat akhirnya berada di halaman depan rumah dan disambut oleh Abah dan Umi, mereka semua dipersilahkan masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum calon besan" ucap pak haji somat kepada abah yang diikuti oleh rombongannya.
"Walaikumsalam,silahkan masuk pak hji somat" jawab umi
Akhirnya mereka semuapun masuk kedalam rumah, dan acarapun akan dimulai.
"Nak ardiannya tidak hadir pak haji somat?" Tanya abah
"Iya, Ardian belum bisa hadir, karena dia bilang ada urusan yang sangat penting dan mendadak, tidak bisa ditunda,ardian juga menitip salam untuk keluarga pak Ahmad, insyaAllah nanti kalo acara pernikahan akan hadir"
"Ya pasti hadirlah pak aji somat, yang mau nikah kan nak ardian bukan bapaknya"
Jawab abah dengan diiringi gelak tawa semua orang yang ada diruangan itu.
"Wah boleh juga usul dari pak ahmad ini, kalo begitu saya ijin dulu sama istri saya pak, gimana bu, bolehkan?"
Tanya pak haji somat yang menoleh pada istrinya ibu mina
"Jangan macam-macam ya pak, ingat itu umur sudah tidak mudah lagi, sudah bercandanya, itu acara sepertinya sudah mau dimulai, bapak ini gak dirumah gak dimana selalu aja bercanda, heran ibu lihatnya"
Jawab ibu mina sambil mencubit pinggang pak haji somat, dan semua orang kembali tertawa karena tingkah keduanya yang bak masih seperti anak muda yang lagi kasmaran.
Acara dimulai dengan khidmat, setelah menyampaikan maksud dari kedatangan pak aji somat beserta rombongan, untuk melamar anak sulung pak aji ahmad yang bernama Tiana Larasati untuk anak semata wayangnya Ardian Ahmad Maulana, dan diterima langsung oleh pak ahmad yang sebelumnya telah berunding terlebih dahulu bersama keluarga besarnya, tak lupa pula keluarga dari pak aji somat menyerahkan seserahan yang begitu banyak kepada keluarga pak ahmad, semua tamu undangan merasa takjub karena mereka merasa bahwa tiana sangat beruntung akan dipersuntingkan anak pak haji somat yang kaya raya.
Memang pak aji somat dikenal sebagai tuan tanah didaerah tempat tinggalnya, ia memiliki banyak usaha, serta banyak properti,beliau juga termasuk donatur yang selalu menyumbangkan hartanya untuk pesantren pak ahmad, maka tak heran jika pak aji somat mengenal tiana karena, pertemanan antara pak haji somat dan pak ahmad sudah terjalin sangat lama.
Setelah penyerahan seserahan yang dibawa oleh pak haji somat, abah menyuruh umi untuk membawa Tiana keluar untuk menemui calon mertuanya, umipun mengiyakan dan bergegas menuju kamar tiana dan membawanya keruang tamu tempat para tamu undangan beserta keluarga besar pak aji somat berada.
Saat akan menuruni tangga, semua mata tertuju pada Tiana, mereka takjub dengan penampilan Tiana yang sangat muslimah, mereka tak satupun yang berhenti memandangi Tiana yang kecantikannya tetap terpancar walaupun wajahnya tertutupi oleh niqabnya, tubuh yang tinggi semampai membuat penampilan tiana sangat sempurna.
Tiana kemudian menghampiri orang tua ardian dan menyalaminya dengan takzim, kedua orang tua Ardian sangat kagum melihat calon anak menantunya itu, tak lupa pula Tiana menyalami semua keluarga besar pak haji somat, terlihat seperti keluarga besar ardian sangat menyukai Tiana, karena walaupun Tiana termasuk anak rumahan yang tidak bergaul dengan sembarang orang tetapi Tiana sangat mudah mengakrabkan diri dengan orang lain, dia dikenal anak yang ramah, baik, dan suka menolong orang lain, tutur katanya pun sangat lembut, siapapun laki-laki akan jatuh hati kepada pesona Tiana, apalagi dia dikenal anak yang berprestasi disekolah sampai diperguruan tinggi.
Setelah sesi acara lamaran telah selesai para tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang telah tersedia, tak lupa anak-anak santri dan anak yatim bersholawat atas kebahagiaan Tiana karena lamaran dari ardian telah diterima, ituu tandanya tinggal menghitung hari dirinya akan dinikahi oleh ardian dan statusnya akan berubah menjadi istri orang.
Acara telah selesai, para tamu undangan dan rombongan keluarga besar pak haji somat pamit undur diri, tak lupa ibu ardian bu mina berpesan pada tiana agar jaga kesehatan, calon pengantin jangan terlalu kecapean, jangan sering begadang, sambil memeluk Tiana bu mina berkata dirinya ingin setelah Tiana dan ardian menikah nanti, ia mau cepat-cepat punya cucu, maklum Ardian anak semata wayang, seketika wajah Tiana memerah dan ia pun tersipu malu mendengar ucapan calon ibu mertuanya itu.
Para tamu satu persatu akhirnya meninggalkan kediaman keluarga pak ahmad, tak terkecuali dengan keluarga besar pak haji somat, mereka satu persatu menaiki kendaraan roda empat mereka masing dan bergegas meninggalkan halaman rumah pak ahmad.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments