Perhatian Kecil

Cheryl memang mencintai Gavin, tapi malam ini sungguh dia sama sekali tidak berniat untuk menggoda Gavin. Dia benar-benar merasa takut ditengah kegelapan disertai hujan dan petir yang menggelegar. Dia pun tak menyangka kalau Gavin sampai mau menemaninya di dalam kamar itu.

Melihat Cheryl yang kini mulai terlelap, Gavin kemudian berniat meninggalkan kamar itu. Namun kata hatinya seolah menyuruhnya untuk tetap tinggal saat melihat wajah polos Cheryl yang masih meringkuk ketakutan. Rasa iba merasuk ke dalam hatinya, hingga dia akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di samping Cheryl dan terlelap di kamar itu.

Malam ini Cheryl merasa begitu nyaman tidur dalam sebuah pelukan hangat, tanpa dia sadari beberapa kali dia menarik sebuah tangan kekar agar mengeratkan pelukannya, karena saat ini Gavin juga tidak sengaja mendekap tubuhnya.

Saat hari sudah beranjak pagi, Cheryl membuka mata, dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat sebuah tangan kekar menempel di perutnya. Deru nafas hangat pun begitu terasa di tengkuknya.

"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi!" pekik Cheryl lirih. Dia kemudian mencoba kembali mengingat kejadian tadi malam, saat dia benar-benar ketakutan ketika mati lampu disertai hujan dan petir. Samar-samar dia mengingat, kalau dia terus memeluk Gavin dan tidak membiarkan dia pergi, meskipun sekedar menyalakan genset.

'Astaga jadi Om Gavin tadi malam tidur di sini?' batin Cheryl.

'Tidak! Meskipun aku mencintai dia tapi bagaimanapun juga dia adalah suami dari tanteku, aku tidak boleh berbuat seperti ini, apalagi mengambil kesempatan pada situasi seperti tadi malam,' batin Cheryl kembali. Dia kemudian menyingkirkan tangan yang memeluk tubuhnya, lalu duduk diatas ranjang sambil mengguncang-guncangkan tubuh Gavin.

"Om, Om Gavin, bangun!" panggil Cheryl.

Perlahan Gavin pun membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia saat membuka mata itu, dan menyadari jika dirinya bukan berada di dalam kamarnya. Gavin kemudian menoleh ke arah samping dan melihat Cheryl yang juga terlihat bingung.

"Maafkan aku Cheryl, tadi malam aku hanya berniat untuk menemanimu karena kau terlihat begitu ketakutan," ujar Gavin sambil beranjak dari tempat tidur itu, meninggalkan Cheryl begitu saja yang saat ini hatinya begitu porak poranda.

"Saat ini aku sedang berjalan di atas luka dalam alunan cinta yang mempermainkan kalbuku. Aku terluka, sebuah luka akibat khayalanku yang melampaui bintang, dan mengambang layaknya sinar bulan. Karena semesta pun tahu, kisah ini hanya halusinasi, dan hanya sebatas mimpi. Sampai kapanpun, bagiku kau hanyalah sebatas mimpi," batin Cheryl sambil tersenyum kecut menatap kepergian Gavin begitu saja dari kamarnya.

Sementara itu Gavin yang sedang berjalan menuju ke kamarnya tampak merutuki dirinya sendiri. Baginya, apa yang telah dia perbuat pada Cheryl tadi malam, tidak pantas dilakukan oleh seorang pria beristri seperti dirinya. Meskipun hubungannya dengan Diandra sedang tidak baik-baik saja, tapi tidak sepantasnya dia berbuat seperti itu pada wanita lain. Apalagi dia adalah keponakan dari istrinya sendiri.

"Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa saat melihat Cheryl, sangat sulit bagiku membendung sebuah rasa yang aku pun tak dapat mengartikannya. Sebuah rasa yang muncul dengan tiba-tiba. Cheryl yang sekarang, bukanlah gadis kecil lagi. Apakah hati ini benar-benar mulai tertarik padanya? Ah, masalah hati memang terkadang begitu rumit."

Saat akan membuka pintu kamarnya, tiba-tiba Gavin dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya. "Tuan Gavin!!" panggil suara seorang lelaki di belakangnya.

Saat Gavin membalikan tubuhnya, dia melihat Pak Amat supir pribadi keluarganya dan Bi Asih istrinya berdiri di belakangnya.

"Pak Amat, Bi Asih, ada apa ini? Bukankah ini masih pagi? Kenapa kalian sudah berdandan rapi seperti ini?"

"Tuan Gavin, sebelumnya saya minta maaf. Pagi ini saya mendengar kabar kalau orang tua kami sedang sakit parah, dan membutuhkan bantuan kami. Maaf kalau hari ini kami minta ijin untuk pulang ke kampung, saya juga harus membawa istri saya pulang karena saat ini hanya kami yang bisa diandalkan, sedangkan adik kami yang lain berada di luar pulau."

"Oh jadi, orang tua kalian sakit?"

"Iya Tuan."

"Baiklah, saya beri kalian waktu satu minggu untuk mengurus orang tua kalian."

"Baik Tuan, terima kasih banyak."

"Sama-sama."

Pak Amat dan Bi Asih kemudian pergi dari rumah itu, sedangkan Gavin masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor.

Setengah jam kemudian, Gavin tampak keluar dari kamarnya. Pagi ini, dia memang berniat mengajak Cheryl dan Frizz untuk sarapan di luar. Namun, saat baru menuruni anak tangga, bau wangi masakan terasa begitu mengganggu indra penciumannya.

Gavin lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur, tapi saat dia baru saja sampai di meja makan, dia melihat saat ini Cheryl tengah menyuapkan nasi goreng untuk Frizz. Menyadari kedatangan Gavin Cheryl pun tersenyum padanya.

"Kau yang masak?" tanya Gavin.

"Iya Om, tadi aku melihat Pak Amat dan Bi Asih keluar sambil membawa barang-barang. Jadi, kupikir mereka sedang ada urusan lalu aku memutuskan membuat sarapan untuk kalian berdua."

"Terima kasih, Cheryl. Kau baik sekali."

"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu kalian yang sudah begitu baik padaku, karena sudah memperbolehkanku tinggal di rumah ini."

"Kau bisa saja, Cheryl. Kau keponakan kami, kami tidak mungkin tega membiarkanmu tinggal sendiri."

"Iya Om, terima kasih banyak. Om, ini sudah kubuatkan kopi untukmu," ujar Cheryl sambil mendekatkan secangkir kopi pada Gavin.

Melihat secangkir kopi dan sepiring nasi goreng yang ada di meja makan itu, senyum manis pun tersungging di bibir Gavin. Hatinya terasa begitu bahagia mendapat perhatian dari Cheryl, sebuah perhatian kecil, tapi begitu merasuk ke dalam hatinya. Perhatian kecil yang bahkan tak pernah Diandra berikan padanya.

Baru dua hari Cheryl tinggal bersamanya, tapi sikapnya seakan mengobrak-abrik hatinya, sebuah hati yang sudah lama haus akan kasih sayang. Kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan sebagai seorang suami.

Setelah mereka semua menyelesaikan sarapan, Cheryl kemudian pamit pada Gavin untuk berangkat ke kampusnya.

"Permisi, Om. Aku berangkat kuliah dulu."

"Ayo kuantar."

"Oh, tidak usah. Aku tidak mau merepotkan, aku naik taksi online saja."

"Kau tidak boleh membantah perkataanku, Cheryl. Atau kau tidak kuperbolehkan tinggal di rumah ini lagi."

Mendengar perkataan Gavin, Cheryl pun tersenyum. Dia kemudian mengikuti langkah Gavin dan Frizz masuk ke mobil Gavin. Setelah mengantar Frizz ke sekolahnya, Gavin dan Cheryl kini hanya berdua di dalam mobil itu. Tubuh Cheryl terasa begitu bergetar, rasanya dia begitu gugup duduk berdua dengan Gavin dalam sebuah mobil. Saat masih sibuk menenangkan hatinya, tiba-tiba panggilan Gavin mengagetkan dirinya.

"Cheryl!"

"Oh, iya sayang!"

"Apa kau bilang? Sayang?"

Terpopuler

Comments

fitriani

fitriani

wkwkkwkwkwwk cheryl keceplosan jwb sayang😂😂😂😂😂

2023-02-21

0

🌼 Pisces Boy's 🦋

🌼 Pisces Boy's 🦋

itu sayang nya tante mu Cheryl

2022-12-04

0

Tiahsutiah

Tiahsutiah

sayang, jangan sembarang cherly🤣🤣🤣

2022-10-29

0

lihat semua
Episodes
1 Aku Cinta Padamu
2 Keponakan Kecil
3 Kutemani Malam Ini
4 Perhatian Kecil
5 French Kiss
6 Pertengkaran
7 Jangan Tinggalkan Aku
8 Masalah Hati
9 Pengkhianatan
10 Melepaskan
11 Sebuah Nama
12 Sulit Adalah Kita
13 Egois Sebentar Saja
14 Pergi Ke Lombok
15 Cokelat Terenak
16 Putraku
17 Posesif
18 Kita Mulai
19 Takdir
20 Secepat Itu?
21 Kecurigaan
22 Terlambat
23 Bantu Aku
24 Menutupi Skandal
25 Kuberi Pelajaran
26 Tatapan Aneh
27 Dimana Amara?
28 Apartemen Alex
29 Dua Orang Simpanan
30 Konsekuensi
31 Black list
32 Di Puncak
33 Jatuh Cinta Sejak Dulu
34 Ponsel Frizz
35 Adek Bayi
36 Awal Masalah
37 Teka Teki
38 Bukti Perselingkuhan
39 Kepalsuan
40 Menyesal Jatuh Cinta
41 Derita dan Luka
42 Pilihan
43 Suara Berisik
44 Restui Kami
45 Putri Kecil
46 Koper Siapa?
47 PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
48 Diusir
49 Bunuh Diri
50 Apa Yang Terjadi Padamu?
51 Gembel
52 Manusia Tidak Berguna
53 Earphone
54 PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
55 Darah Segar
56 Kejutan
57 Agak Terlambat
58 You Always My Son
59 Cinta Terlarang Yang Tidak Direstui
60 Tamu
61 Kita Perlu Bicara
62 Senandung Lirih
63 Guncangan Psikologis
64 Kebahagiaan Cheryl
65 Acheve
66 PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
67 PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
68 PROMO NOVEL
69 PROMO NOVEL
70 PROMO
71 Wanita Malam Pak Polisi
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Aku Cinta Padamu
2
Keponakan Kecil
3
Kutemani Malam Ini
4
Perhatian Kecil
5
French Kiss
6
Pertengkaran
7
Jangan Tinggalkan Aku
8
Masalah Hati
9
Pengkhianatan
10
Melepaskan
11
Sebuah Nama
12
Sulit Adalah Kita
13
Egois Sebentar Saja
14
Pergi Ke Lombok
15
Cokelat Terenak
16
Putraku
17
Posesif
18
Kita Mulai
19
Takdir
20
Secepat Itu?
21
Kecurigaan
22
Terlambat
23
Bantu Aku
24
Menutupi Skandal
25
Kuberi Pelajaran
26
Tatapan Aneh
27
Dimana Amara?
28
Apartemen Alex
29
Dua Orang Simpanan
30
Konsekuensi
31
Black list
32
Di Puncak
33
Jatuh Cinta Sejak Dulu
34
Ponsel Frizz
35
Adek Bayi
36
Awal Masalah
37
Teka Teki
38
Bukti Perselingkuhan
39
Kepalsuan
40
Menyesal Jatuh Cinta
41
Derita dan Luka
42
Pilihan
43
Suara Berisik
44
Restui Kami
45
Putri Kecil
46
Koper Siapa?
47
PROMO NOVEL ADIK IPARKU KEKASIHKU
48
Diusir
49
Bunuh Diri
50
Apa Yang Terjadi Padamu?
51
Gembel
52
Manusia Tidak Berguna
53
Earphone
54
PROMO NOVEL MAINAN TUAN MAFIA
55
Darah Segar
56
Kejutan
57
Agak Terlambat
58
You Always My Son
59
Cinta Terlarang Yang Tidak Direstui
60
Tamu
61
Kita Perlu Bicara
62
Senandung Lirih
63
Guncangan Psikologis
64
Kebahagiaan Cheryl
65
Acheve
66
PROMO NOVEL AKU CINTA BUKAN LARA
67
PROMO NOVEL MEREBUT HATI SUAMIMU
68
PROMO NOVEL
69
PROMO NOVEL
70
PROMO
71
Wanita Malam Pak Polisi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!