Ansella berlari menuju Daisy dengan mengayunkan alat pel.
Namun sebelum sampai mengenai Daisy, alat pel itu terjatuh karena Ben sudah lebih dulu tahu situasinya, pria itu langsung keluar dari mobil dengan langkah panjang menghadang Ansella dan langsung menjulurkan tangannya yang panjang mencekik leher Ansella.
Hanya dengan satu tangannya yang besar dan panjang, leher Ansella yang terlihat kecil seperti akan patah.
"Tu... Tuan..."
"Sepertinya kesempatan yang ku berikan padamu sama sekali tidak kau hargai." Kata Ben tenang dan sadis.
"Tu... Tuan.. Mengapa an...Da.. Meelindunginya..."
Sedangkan Dereck terkejut melihat Ansella yang tidak bisa mengontrol emosi dan akan mencelakai orang, dia kemudian memanggil Casey.
Daisy sendiri reflek mundur dan Traver maju di depan Daisy.
"Traver... Hubungi Geraldo. Wanita ini pantas mendapatkannya." Kata Ben.
Tak berapa lama Casey datang menghadap pada Dereck.
"Ya Tuan Dereck."
"Aku tidak membutuhkan wanita ini untuk bekerja di hotelku, berikan gajinya sesuai dengan pekerjaannya, lalu berhentikan dia secara tidak hormat, blacklist namanya agar dia tidak dapat bekerja di perusahaan JIMI GROUP."
"Baik Tuan Dereck." Kata Casey.
Kemudian Ben melepaskan tangannya.
Ansella pun terjatuh ke lantai, dengan susah payah Ansella menghirup nafas ia merasa bahwa ia hampir saja mati, karena tangan besar Ben yang mencekiknya.
Ansella terduduk lemas di lantai dan mengambil nafas panjang dengan terburu-buru.
"Tapi, ini tidak adil, Brian terbunuh karena menyelamatkan Daisy!" Teriak Ansella.
"Traver berikan wanita ini pencerahan." Perintah Ben dengan wajah gelap.
"Baik Tuan. Nona Ansella, Jika anda berfikir seperti itu lalu siapa sebenarnya yang menyalakan api dengan menghubungi Geraldo, siapa yang berhutang dan menyerahkan rumah itu sebagai jaminan, siapa yang telah membuat Geraldo membawa gadis yang hanya ingin mempertahankan rumahnya. Menurut informasi yang telah saya dapatkan, anda serta ibu anda lah yang telah menyalakan api. Jadi, jika di tarik benang merahnya semua ini karena kesalahan anda serta ibu anda Nona Ansella." Jawab Traver.
Daisy melihat pada Ben serta Traver, benaknya bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tahu sedetail itu permasalahan hidupnya bahkan kenapa mereka melindungi nya, kenapa Ben sampai ingin membunuh Ansella hanya demi dirinya yang tak berharga.
"Tapi... Kenapa anda harus seperti ini pada saya hanya karena Daisy."
"Kau ingin tahu jawabannya? Karena aku tidak suka ada yang menghancurkan mainanku sebelum aku memakainya."
Kemudian para pengawal mengelilingi Ansella.
Dereck serta Daisy terkejut, menatap ekspresi wajah Ben yang gelap.
Kini lagi-lagi Daisy di tampar oleh perkataan Ben, ia harus tahu diri, ia harus sadar diri, bahwa dirinya bahkan tidak lebih berharga dari sepatu Ben yang sering di injaknya.
Daisy tersenyum getir dan menunduk malu di hadapan Dereck, bahkan di hadapan Ansella yang ia benci belum lagi para pria yang ada di sana serta orang-orang yang melihat pertengkaran itu.
"Tuan... Pesawat sudah siap." Kata Traver.
Kemudian Ben mengulurkan tangannya pada Traver dan Traver memberikan sapu tangan, Ben menerima sapu tangan itu dan membersihkan tangannya lalu membuang sapu tangan itu di wajah Ansella.
"Kau beruntung jika tidak tanganmu sudah ku patah kan." Kata Ben.
Kemudian Ben pergi masuk ke dalam mobil lebih dulu di susul oleh Daisy.
Mobil beriringan pergi menuju landasan pribadi.
"Casey siapkan mobil dan pesawat, kita juga akan kembali ke Kota Z."
Dereck berjalan melalui Ansella yang di bawa oleh para pengawal Ben, Dereck tidak peduli dan tanpa melihat pada Ansella, serta Casey mengikuti di belakang Dereck.
"Tuan Dereck, anda harus pergi ke London untuk menemui presdir." Kata Casey.
"Aku tahu apa yang orang tua itu inginkan, aku tidak tertarik pada perjodohan. Itu hanya lelucon bagiku." Kata Dereck.
"Tapi tuan Dereck, Presdir akan marah besar."
"Sekalipun ayah marah besar, dia tidak dapat berbuat apapun, jika dia berani aku bisa melepaskan jabatan wakil presdir kapan saja."
Casey diam dan tidak bisa lagi membantah, ia lebih sayang akan pekerjaannya dan lebih memilih mematuhi perintah Dereck.
Di sisi lain, Ansella pulang dengan jalan kaki, wajahnya kusut, rambutnya acak-acakan, pakaiannya pun semrawut.
Wajah serta tubuhnya memiliki bekas memar yang begitu banyak. Para tetangga yang melihat pun bertanya-tanya apakah yang terjadi, apakah Ansella telah di rampok.
Ansella tidak menghiraukan pandangan mereka semua, ia masuk ke dalam rumah dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang kamarnya.
Kemudian ingatannya kembali ketika ia di bawa oleh para pengawal itu.
Flashback
Para pengawal Ben, membawa Ansella dengan paksa, menarik kedua lengannya dan mengangkat kedua kaki Ansella.
Tentu saja itu karena Ansella memberontak dan berteriak-teriak, ia tahu akan di bawa kemana.
Setelah sampai di sebuah mansion tua, Geraldo menyambut para pengawal Ben dan para pengawal Geraldo langsung menyekap Ansella.
"Tuan Ben berpesan jika standar kepuasannya sangat tinggi, anda harus menampilkan video dan foto bagaimana anda bersenang-senang dengan wanita ini, jika di rasa tidak memenuhi standar kepuasan Tuan Ben, maka anda harus memberikan sesuatu yang lebih lagi."
"Ha... Ha... Ha... Aku akan membuat Tuan Ben puas dengan pelayanan ku." Kata Geraldo.
Penderitaan Ansella pun di mulai.
Saat itu Ansella di sekap di dalam kamar, Geraldo masuk dan melihat Ansella memasang wajah penuh amarah.
"Jangan sentuh aku!" Kata Ansella dengan marah mengancam Geraldo.
Geraldo kemudian mengunci pintu dan tersenyum sengit.
"Tidak dapat perawan, tapi dapat tubuh seksi juga lumayan." Kata Geraldo menghapus air liurnya.
"Aku peringatkan kau jangan sentuh aku atau...!!"
"Atau apa Ansella? Bagaimana ini Ansella, Tuan Ben memerintahkanku untuk memberikan apa yang kau mau saat Tuan Ben tidak menginginkanmu dan Tuan Ben ingin melihat adegan kita sampai standar kepuasannya terpenuhi, jika aku tidak menyentuhmu maka aku yang akan mati." Kata Geraldo tertawa.
"Brengsek! Menyingkir dan menjauhlah dari ku dasar tua bangka!!!" Teriak Ansella.
"Tua bangka? Hah...Hahahah....!!! Pasti kau sangat bersemangat Ansella, kau penasaran bagaimana tenaga si tua bangka ini!!" Geraldo maju dan menjambak rambut Ansella.
"Lihat pada kamera Ansella, tersenyumlah pada Tuan Ben." Kata Geraldo menarik rambut Ansella hingga kepala nya mendongak.
"Kita sedang live Ansella, Tuan Ben akan melihat apa yang kita lakukan." Kata Geraldo.
"Kau tidak menyapa nya Ansella?" Sambung Geraldo lagi.
"Cuuihh!!!" Ansella meludah i wajah Geraldo.
Kemudian Geraldo marah, ia menyeret rambut Ansella dan melemparkan Ansella ke atas ranjang.
"Kau tidak akan keluar dengan tubuh mulus mu ini Ansella."
"Minggir!!!" Teriak Ansella.
Geraldo naik ke atas ranjang dan berdiri membuka ikat pinggangnya.
"Kau!!! Jangan macam-macam Geraldo!! Aku akan membunuhmu!!!"
"PLAAKKK!!! PLAAKKK!!! PLAAKKK!!!"
Geraldo menampar wajah Ansella berkali-kali.
"Sedikit kekerasan dan paksaan akan jauh lebih nikmat bukan." Kata Geraldo tersenyum licik.
Kemudian Geraldo merobek pakaian Ansella. Pukulan demi pukulan di terima Ansella. Hingga Akhirnya Geraldo membuka seluruh pakaian Ansella dengan merobeknya.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 310 Episodes
Comments
ruru
traver pun melindungi daysi😘😘
2025-02-09
0
ruru
yaaaaa aaa awa awaa my hero 😘
2025-02-09
0
ruru
manteb gak tuuhhh awakakakka
2025-02-09
0