Perjalanan panjang menuju Padepokan Macan Putih, dilalui Yasa dengan baik, tanpa ada hambatan yang mengganggu perjalanannya.
Sesampainya Yasa di Padepokan Macan Putih, Yasa melihat ada dua orang pemuda yang menurutnya adalah murid Padepokan Macan Putih.
Yasa pun menghampiri dua pemuda itu.
"Permisi kak, apa benar ini Padepokan Macan Putih?" tanya Yasa kepada kedua murid Padepokan Macan Putih.
"Iya, ada tujuan apa kamu kesini?" sahut salah satu pemuda itu.
"Saya kesini mau bertemu dengan ketua Padepokan Macan Putih, dan memberikan surat ini." Yasa menunjukan surat dari Kakeknya, untuk diberikan kepada Markus ketua Padepokan Macan Putih.
Kedua pemuda itu pun saling melirik, lalu kemudian menganggukkan kepalanya, dan salah satu dari pemuda itu pergi meninggalkan Yasa dan temannya.
"Kamu tunggu saja disini, temanku akan menemui guru kami," ucap pemuda itu.
Yasa tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, teman pemuda itu datang kembali.
"Ayo ikut saya masuk kedalam, guru sudah menunggumu," ujar teman pemuda itu.
Yasa dan kedua pemuda itu pun masuk kedalam aula Padepokan Macan Putih, karena Markus sang ketua sedang duduk menunggu kedatangan orang yang ingin menemuinya.
Markus yang melihat Yasa dari jauh, langsung bangun dari duduknya, lalu pergi menghampiri Yasa dan memeluknya.
"Wa...wajahmu, mengingatkan aku dengan sahabat baikku!" tutur Markus, lalu ia melepaskan pelukannya.
"Ada tujuan apa kamu datang menemui ku?" Lanjutnya lagi.
"Aku diperintahkan oleh Kakekku. Untuk belajar ilmu bela diri disini, dan ini surat dari Kakek," Yasa memberikan surat itu kepada Markus, dan Markus pun menerimanya dengan baik.
Markus langsung membaca surat dari yasa, dan setelah selesai membacanya ia kembali memeluk Yasa.
"Sahabatku, akan aku jaga putramu, dan akan aku latih dengan baik. Agar kelak ia bisa mengalahkan Padepokan Black, seperti keinginanmu," gumam Markus dalam hati yang haru, karena akhirnya bisa bertemu dengan putra Mahesa Mahendra yang ia cari selama ini.
"Istirahatlah wahai putraku, besok kau akan langsung belajar ilmu bela diri disini," ujar Markus, dan menyuruh muridnya untuk mengantar Yasa ke dalam kamarnya.
Yasa pun beristirahat di kamar yang di sediakan untuknya. Karena perjalanan dari desa menuju Padepokan Macan Putih sangatlah jauh.
***
Keesokan harinya.
Yasa sudah bersiap-siap, untuk belajar ilmu bela diri bersama teman-teman seperguruannya.
Markus terus memperhatikan gerakan ilmu bela diri Yasa, yang menurut Markus cepat tanggap, dalam menguasai gerakan yang sedang diajarkan oleh para guru di Padepokan Macan Putih.
"Mahesa Mahendra lihatlah putramu sekarang, ia mewarisi kemampuanmu yang cepat dalam belajar, pasti kamu disana akan merasa bangga kepada putramu," lirih Markus.
Yasa belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh, mendengarkan dengan baik ketika guru memberikan materi gerakan ilmu bela diri.
"Dengarkan semuanya, hari ini kita akan belajar tentang ilmu Pendengaran, jadi kita itu harus fokus dan berkonsentrasi ketika melakukan ilmu ini, karena meski ilmu ini dibilang paling dasar, tapi sangat penting ketika menghadapi musuh di kegelapan malam, dengan ilmu ini kita bisa mendengar gerakan lawan dan bisa menangkis semua gerakannya, paham semuanya?" jelas guru Herion.
"Paham," semua murid menjawab serempak.
Guru Herion pun memperaktekan pelajarannya, dengan menutup matanya menggunakan kain, lalu salah satu murid maju ke depan memberi gerakan menyerang kepada guru Herion.
Serangan murid itu, semuanya bisa ia tangkis dengan menggunakan ilmu Pendengaran, meski tanpa melihat hanya dengan Pendengaran yang baik, bisa melakukan penyerangan balik kepada musuh.
"Aku yakin pasti bisa, melakukan ilmu pendengaran dengan baik, aku akan belajar ilmu ini dengan serius," ucap Yasa dalam hatinya, meyakini dirinya sendiri untuk bisa melakukan semua gerakan, yang di ajarkan oleh para guru di Padepokan Macan Putih.
***
Dari hari ke hari kemampuan bela diri Yasa, sudah bisa mengejar murid yang lebih dulu belajar di Padepokan Macan Putih.
Disaat kemampuannya sudah cukup baik, Markus dan murid kepercayaannya pergi menghadiri undangan acara Perkumpulan Padepokan Sedunia.
Markus pun menitipkan Padepokan Macan Putih kepada guru Herion, dan memintanya menjaga dengan baik seluruh murid yang berada disini.
Ketika malam hari tiba, segerombolan pasukan dengan baju serba hitam, menyerang Padepokan Macan Putih.
Yasa yang tengah tidur pun terbangun, karena mendengarkan keributan diluar kamarnya.
"Ada apa sih? Malam-malam begini masih ribut, mentang-mentang Guru Ketua sedang pergi. Jadi melakukan seenaknya saja, aku harus melihat dan menegur teman-temanku." Yasa pun bangkit dari tempat tidurnya untuk pergi keluar.
Sesampainya Yasa diluar pintu kamarnya, ia langsung mendapatkan serangan dari lawan, yang tiba-tiba datang memberi pukulan kearahnya.
Yasa yang terjatuh pun bangkit kembali, untuk mengalahkan pasukan serba hitam itu, yang membuat keributan di Padepokan Macan Putih.
"Yasaaa," teriak Malik,
Yasa pun melirik matanya ke arah Malik, lalu ia berdiri bangun untuk melawan pasukan serba hitam, dan teriakan Malik tadi itu adalah ingin memberitahu Yasa, bahwa ada pasukan serba hitam dibelakangnya. Pasukan serba hitam yang akan menyerang Yasa dari arah belakang, langsung Yasa tangkis semua serangannya dengan baik.
Pasukan serba hitam yang terlalu banyak sulit untuk dihadapi, membuat murid Padepokan Macan Putih banyak yang terluka.
Yasa yang melihat pasukan serba hitam, yang akan pergi memasuki ruangan rahasia Markus, ia langsung pergi untuk menghadangnya.
Akan tetapi saat Yasa yang hendak menghadang pasukan serba hitam itu, gerakan serangan Yasa dapat ditangkis. Sehingga Yasa pun terjatuh dan pingsan. Karena mendapatkan pukulan berapi, dari pasukan serba hitam itu, lalu pasukan serba hitam itu mengambil barang berharga di Padepokan Macan Putih, dan langsung pergi dengan membawa barang yang di ambil di ruangannya Markus.
Tidak lama kemudian. Markus datang ke Padepokan Macan Putih, dan ia di kejutkan dengan kejadian semua ini. Apalagi saat Markus melihat murid-muridnya banyak yang terluka dan jatuh pingsan.
Dan melihat sekeliling Padepokan Macan Putih, banyak bangunan yang hancur berantakan.
Markus pun meminta kepada murid yang ikut bersamanya, untuk mengobati luka teman-temannya. Ketika Markus pergi mengecek ruangan rahasianya, ia menemukan Yasa yang pingsan di ruangan rahasianya, dan saat Markus masuk ke dalam ruangan rahasianya, banyak barang berserakan di lantai menjadi berantakan.
Markus pun segera mengecek Pedang Sakti, karena takut ada orang yang mengambil Pedang Sakti, setelah Markus mengetahui Pedang Saktinya hilang, ia pun menangis sedih karena Pedang Sakti yang ia simpan baik-baik telah hilang dicuri.
"Harusnya aku menuruti kata hatiku, untuk tidak pergi menghadiri undangan itu," gerutunya kesal pada dirinya sendiri.
Setelah kejadian itu, Markus memerintahkan muridnya untuk memanggil Yasa ke hadapannya.
"Yasa kamu dipanggil Guru Ketua."
Yasa yang sedang berlatih menghentikan gerakannya, karena dipanggil oleh Firman sahabatnya.
"Ada apa yah? Guru Ketua mau menemui ku?" lirih Yasa.
"Kalau kamu ingin mengetahuinya? Ayo kita segera pergi ke sana hehe..." sahut Firman sambil tersenyum.
"Huuuh, aku kira kamu sudah tau!" gerutu Yasa sebal.
"Udah jangan banyak bicara, kita temui Guru Ketua, jangan buat beliau menunggu kita terlalu lama." Firman pun menarik pelan tangan Yasa, dan mengajak Yasa pergi bersamanya. Untuk menemui Markus ketua Padepokan Macan Putih.
Yasa dan Firman berpapasan dengan Malik, ketika akan menemui Markus ketua Padepokan Macan Putih.
"Kamu dipanggil Guru Ketua juga yah Lik?" tanya Firman lalu pergi menghampiri Malik.
"Iya, kamu berdua juga dipanggil Guru Ketua kan. Ayo kita pergi bersama menemui beliau," sahut Malik.
Meraka bertiga pergi bersama menemui Markus di ruangannya, dan sesampainya di ruangan Markus. Yasa dan Firman serta Malik memberikan salam hormat kepada Markus ketua Padepokan Macan Putih.
"Salam hormat kepada Guru Ketua," ucap Yasa dan Firman serta Malik secara bersamaan.
Markus yang melihat kedatangan mereka bertiga tersenyum senang, dan menerima salam hormat dari mereka bertiga.
"Wahai murid-murid ku, aku ingin menyuruh kalian bertiga, untuk mencari pedang pusaka yang sangat sakti yang telah hilang dicuri." Markus menunjukan sebuah gambar Pedang Sakti kepada mereka bertiga.
"Baik Guru Ketua. Kami akan berusaha mencari Pedang Sakti itu," sahut Yasa.
"Kemungkinan terbesar yang mencuri Pedang Sakti, adalah Padepokan Black. Karena ciri khas mereka adalah, berpakaian serba hitam dan selalu menyerang di malam hari. Maka dari itu berhati-hatilah kalian bertiga," tutur Markus.
"Dan bawalah senjata ini, dan gunakan ketika kalian diserang musuh," lanjutnya, lalu Markus memberikan senjata itu kepada mereka bertiga.
"Kalau begitu kami bertiga pamit pergi Guru Ketua, untuk melaksanakan misi mencari Pedang Sakti yang telah hilang dicuri." Yasa dan kedua sahabatnya pergi, setelah berpamitan kepada semua guru dan teman-temannya di Padepokan Macan Putih.
"Padepokan Black, aku akan datang mengalahkan mu," gumam Yasa dalam hatinya, ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk bisa mengalahkan Padepokan Black, yang bersekutu dengan iblis jahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Sela sahla
terima kasih 🤗
2022-10-24
1
Saudah14
aku mampir kak
kalau sempat mampir di karya ku ya kak
KAMPUNG HOROR
CINTA DI BAYAR TUNAI
saling dukung kak🙏
2022-10-24
1
Saudah14
cerita nya seru kak
2022-10-24
1