Setelah mendapatkan perawatan eksklusif selama satu bulan penuh, Selena dinyatakan sembuh total baik fisik maupun psikisnya. Wanita itu sudah tak takut lagi pada Brandon, dan luka di area sensitif sudah tak dirasakan lagi.
“Kau yakin mau pulang sekarang?” tanya Aldrich.
Selena menganggukkan kepala. Dia mengajak sang adik untuk kembali ke tanah air karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. “Ya, terlalu lama di sini akan membuat keluarga kita khawatir karena tak kunjung pulang.”
“Baiklah, kemasi barangmu, aku akan pesankan tiket.”
Selena segera masuk ke dalam kamar, mengambil koper dan memasukkan barang bawaan ke dalam sana.
“Penerbangan paling awal ada dua jam lagi, apa kau mau?” Dari luar kamar, Aldrich sedikit berteriak mengajukan pertanyaan.
“Ya, tak masalah.
“Baiklah.” Tak lama kemudian, Aldrich mengatakan kalau tiket sudah berhasil dibeli.
Selena dan Aldrich membawa koper masing-masing. Keduanya siap untuk ke bandara. Saat membuka pintu, keduanya bisa melihat ada Brandon yang hendak memencet bel.
“Kalian mau ke mana?” tanya Brandon dengan alis sedikit terangkat.
“Pulang,” jawab Selena singkat.
“Kenapa tak tinggal di sini saja?”
“Di sini bukan tempatku.”
“Akan menjadi tempatmu kalau kau mau menerima tawaranku untuk menikah.”
Tapi, Selena menggelengkan kepala. Bukannya dia tidak mau menghargai Brandon yang sudah berniat untuk tanggung jawab. “Aku tak mau Alceena berpikiran buruk padaku. Apa lagi kalian baru saja batal menikah.” Itulah alasannya. “Permisi.” Mendorong koper melewati pria yang sudah mengambil mahkotanya secara kasar, ia berjalan mendahului menuju lift.
“Kenapa kau selalu memikirkan perasaan dan pemikiran orang lain? Sekali saja egois tak masalah,” ucap Brandon seraya menyusul Selena.
Tangan Aldrich menepuk pundak Brandon supaya pria itu berhenti mendesak Selena. “Berikan dia waktu, kakakku memang seperti itu, selalu memikirkan kepentingan adiknya dibandingkan diri sendiri. Jadi, kau harus maklum.”
“Tolong bantu yakinkan dia, aku akan selalu merasa bersalah seumur hidup kalau tak bertanggung jawab atas kesalahan yang ku perbuat,” pinta Brandon dengan sangat tulus.
“Pasti dia mau menikah denganmu karena ada rasa yang selama ini dipendam. Tapi, semua butuh waktu dan proses, sabarlah.” Aldrich berpamitan pulang, menyusul Selena yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lift.
Brandon buru-buru berjalan cepat hampir setara dengan lari kecil supaya tidak tertinggal oleh dua orang tersebut. “Aku akan antarkan ke bandara,” ucapnya seraya melirik Selena yang berdiri dengan pandangan lurus terus ke depan. Menanti apakah wanita itu akan menolak atau tidak.
Karena Selena diam saja, Brandon memencet tombol menuju basement di mana mobilnya terparkir.
“Biar aku yang bawakan,” tawar Brandon, mengambil alih koper Selena karena ia sedikit memaksa.
Brandon memasukkan barang bawaan tersebut ke dalam bagasi.
Selena hendak masuk ke bagian belakang. Tapi, Aldrich sudah mendahului. “Kau duduk di depan, temani Brandon.”
Menghela napas pelan, Selena akhirnya memilih di depan daripada berdebat.
Sepanjang perjalanan, Selena mengalihkan pandangan ke luar jendela. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Brandon untuk saat ini. Apa lagi ia tahu kalau pria yang dicintai melakukan rencana buruk untuk menjatuhkan nama baik adik tirinya, Alceena. Meskipun niat aslinya baik, tapi sudah pasti akan melukai keluarganya.
‘Kenapa jalan hidupku harus serumit ini ya Tuhan,’ gumam Selena dalam hati. Ingin membenci Brandon, tapi ia tak bisa melakukan hal itu seratus persen karena ada rasa yang sampai detik ini masih tersisa di lubuk hati. Namun, sifatnya yang selalu memikirkan perasaan orang lain, membuat dia tidak bisa berlaku egois.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Rita Astutik
sepertinya Selena merasa bersalah
2024-02-20
0
Yunerty Blessa
saudara tetap saudara.....tapi tidak boleh juga egois....mana tahu Selena hamil selepas kejadian malam tu
2024-01-21
0
Rifa Endro
sifat Selena seperti ku... lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri
2023-07-20
0