Enam belas hari berlalu, berarti tersisa enam puluh jam sebelum hari pernikahan. Tapi, Brandon sedang berada dalam fase yang tidak baik-baik saja. Dia berusaha keras untuk melawan efek ekstasi jangka pendek.
Setelah dicekoki malam itu, Brandon tidak lagi mengkonsumsi. Tapi, sekarang dia tengah menanggung efeknya.
Sejak tadi Brandon menggigil di dalam ruang kerja, pusing menghantam kepala, mual, detak jantungnya meningkat tajam. Ia duduk di sudut ruangan seraya menggigiti jempol.
“Tuan?” Seorang pria masuk ke dalam ruangan karena sejak tadi mengetuk pintu tapi tak dibukakan. Dia adalah sekretaris Brandon. Kedua bola mata langsung terkejut melihat kondisi atasannya yang nampak ling lung.
Brandon bukan ling lung, tapi ia mengalami rasa cemas beserta kebingungan. Tak tahu apa yang perlu dilakukan.
Sekretaris Brandon mendekat dan menepuk pelan pundak atasannya.
“Jangan sentuh aku!” sentak Brandon seraya menyingkirkan tangan sekretarisnya dengan kasar. Ia mendadak tak bisa mengontrol emosi.
Sekretaris itu mundur sedikit menjauh. “Maaf, aku hanya ingin memberi tahu kalau Nona Alceena menghubungi saya untuk menyampaikan pada Anda, bahwa semua persiapan pernikahan sudah beres.”
Mendengar informasi itu, Brandon langsung berdiri. Wajahnya nampak panik, terlihat dari gerak gerik yang gelisah, kaki tak bisa diam, dan menggigiti bibir bawah. “Apa yang harus aku lakukan?” Dia sedang tidak normal sehingga bingung harus melakukan apa.
Sekretaris Brandon pamit undur diri. Dia merasa aneh dengan atasannya yang nampak berbeda tak seperti biasa.
Sementara di luar ruangan Brandon, teman-temannya yang waktu itu pesta nampak sedang berkunjung.
“Apa Brandon ada di ruangannya?” tanya salah satunya pada sekretaris Brandon.
“Ada, Tuan.”
“Oke.” Tiga pria itu menghadap ke arah ruangan CEO.
“Kalian tunggu di luar saja. Aku akan minta maaf sendiri pada Brandon,” ucap Alex. Tujuan mereka datang ke sana adalah untuk itu. Dia didesak oleh teman yang lain supaya mengakui kesalahan yang sudah diperbuat.
“Tapi, jangan membuat situasi semakin kacau,” peringat teman lainnya.
“Iya.” Alex mengetuk pintu. Tidak mendapatkan jawaban, dia langsung masuk saja.
Sorot mata Alex nampak biasa saja saat melihat Brandon sedang gelisah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya seraya mendekat. Padahal, dia tahu kalau temannya sedang tidak sehat.
“Aku sedang tak ingin diganggu.” Brandon mengibaskan tangan untuk mengusir Alex.
Tapi, kaki Alex kian mendekat, ikut berjongkok di depan Brandon. “Aku tahu yang kau rasakan, dan pernah merasakan seperti ini. Mau ku beri penawarnya?” Ia menawarkan sebuah bantuan. Mengambil sesuatu di saku jaket. Menunjukkan sebuah botol transparan kecil.
Mata Brandon sedang kabur, dia tidak bisa melihat secara jelas. “Kau yakin kalau obat itu mampu menghilangkan rasa sakit yang ku rasakan di sekujur tubuhku?”
“Sangat yakin, karena aku sudah membuktikannya.” Alex berdiri, mengambilkan minuman, siapa tahu Brandon mau menerima tawarannya.
Tangan Alex menyodorkan gelas berisi air dan satu lagi obat berwarna kuning dengan logo telapak tangan. “Terserah kau mau diminum atau tidak, aku hanya bisa membantu menyembuhkanmu dengan ini.”
Brandon sudah tak kuat menahan tubuh yang menggigil, mual, rasa cemas, pusing, dan detak jantungnya yang berdebar hebat. Ia mengambil yang diberikan oleh Alex dan meminum itu.
Alex menarik sebelah sudut bibir. Dia memberikan ekstasi lagi pada Brandon. “Kalau kau mengalami gejala seperti ini, hubungi saja aku. Nanti akan ku berikan penawar, tapi bayar.” Tangannya menepuk pundak temannya yang sebentar lagi akan berhasil menjadi pelanggannya.
Mulai saat itulah Brandon menjadi pecandu karena temannya bernama Alex semakin menjerumuskan demi mendapatkan keuntungan hasil menjual obat terlarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Anisatul Azizah
poor Brandon🥺
2024-06-06
0
Anisatul Azizah
jahat banget si Alex, ngasih g tanggung2 langsung 4. Itu bukan buat nyobain, tapi biar jadi pecandu
2024-06-06
0
Rita Astutik
tak pantas disebut teman ,alex
2024-02-20
0