Selena mengerjapkan mata, menatap langit-langit ruangan tanpa melakukan apa pun. Pandangannya seolah kosong, ia seperti orang ling lung untuk sesaat. Hingga pada akhirnya ada suara seseorang yang membuat jantungnya langsung berdebar cepat saat itu juga.
“Selena, kau sudah bangun, apa masih merasakan sakit?” ucap Brandon seraya sedikit berdiri untuk menatap wajah wanita itu.
Bukannya mengeluarkan jawaban, Selena justru histeris. “Tolong biarkan aku pergi.” Dia melompat dari ranjang pasien hingga dua jarum yang ada di tangan kanan dan kiri terlepas, membuat darah tiba-tiba keluar dari permukaan kulit karena gerakannya terlalu kasar.
Tapi, Selena tidak memperdulikan lukanya, bahkan area alat vitalnya juga perih. Namun, lebih baik sakit daripada dipaksa oleh Brandon lagi. Ia sampai berjalan mundur menjauhi pria itu. Padahal Brandon tidak bergerak sama sekali. “Jangan lakukan apa pun padaku, ku mohon,” pintanya diiringi derai air mata.
“Aku tidak akan melakukan apa pun, kembalilah ke sini, kau belum pulih.” Brandon mencoba menenangkan Selena yang terlihat sangat ketakutan.
Kepala Selena menggeleng cepat. “Tidak, kau pemaksa!” Ia mendekati arah pintu, ingin keluar dari ruangan itu supaya tidak diserang paksa oleh Brandon lagi.
Brandon menatap sedih Selena yang ketakutan. Rasa bersalahnya semakin besar. “Jangan keluar, biarkan aku saja yang meninggalkan ruangan ini.” Ia harus mencegah selena pergi karena bisa membuat heboh satu rumah sakit kalau wanita itu keluar dengan kondisi yang kacau.
Tangan Selena mengibas supaya Brandon segera pergi sesuai ucapan pria itu. Dia memasang wajah yang nampak waspada, takut kalau akan diserang untuk kedua kalinya.
Brandon berjalan ke arah pintu. Semakin kakinya mengayun, maka Selena juga melangkah menjauh. Ia menghela napas kasar sebelum meninggalkan wanita itu sendirian. “Sepertinya dia ketakutan melihat aku,” gumamnya.
Selena langsung ambruk di lantai setelah Brandon keluar. Ia tidak pingsan, tapi menangis histeris, bahkan sampai sesegukan.
Brandon hanya bisa mengintip dari pintu yang belum ia tutup total. “Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini.”
Mata Brandon bisa melihat ada darah yang keluar dari permukaan kulit kedua tangan Selena. Ia segera pergi untuk menemui dokter supaya memasang kembali infus dan selang darah.
“Apa yang Anda lakukan pada pasien sampai seperti itu, Tuan?” tanya Dokter sembari berjalan cepat ke arah ruang VVIP tiga.
“Aku tidak melakukan apa pun. Saat bangun, dia langsung histeris ketakutan,” jelas Brandon.
“Apa istri Anda memiliki riwayat depresi atau gangguan psikis lainnya?”
“Tidak.”
Dokter pun menghela napas pelan. Meminta Brandon untuk tetap di luar sementara dirinya menangani pasien yang ada di dalam.
Lima belas menit kemudian, tenaga medis itu keluar lagi. Brandon langsung mendekati.
“Bagaimana, Dok. Apa dia sudah mulai tenang? Sakitnya semakin parah atau tidak?” Terlalu khawatir, Brandon langsung memberondong banyak pertanyaan.
“Setelah saya ajak bicara istri Anda. Sepertinya dia mengalami trauma pasca hubungan intim yang kalian lakukan.”
“Apakah bisa sembuh?”
“Saya sarankan untuk membawa istri Anda ke psikiater.”
“Tolong rekomendasikan aku psikiater yang bagus di Munich dan kirimkan ke sini, apakah bisa?” pinta Brandon. Tatapan matanya terlihat sangat cemas.
“Bisa, saya akan hubungi pihak rumah sakit jiwa supaya mengirimkan psikiater khusus untuk menangani istri Anda.”
“Ya, ku percayakan kesembuhan istriku padamu.”
Selepas kepergian dokter, Brandon kembali mengintip Selena dari celah pintu yang sengaja sedikit dibuka. Ia melihat wanita itu sedang berbaring dan melamun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Anisatul Azizah
maaf Sel, sempat benci ke kamu di novel Alceena krn kekeh g pgn Brandon dipenjara, ternyata penderitaanmu sampai kaya gini😭
2024-06-06
1
Rita Astutik
yaaaaaa karena ulah si brandon,kasian Selena t trauma
2024-02-20
0
Rifa Endro
ya Tuha !!! kau lihat Brandon ???? semua ini akibat ulahmu
2023-07-19
1