Bukan hanya dihujam sekali, dua kali, ataupun tiga. Tapi selama semalaman penuh Brandon tidak melepaskan Selena. Bahkan tak peduli bagaimana kondisi wanita itu. Entah menerima apa yang dia lakukan atau tidak, menikmati setiap hentakannya atau tidak, yang penting hasrat dalam halusinasinya tersalurkan. Membuang semua cairannya ke dalam.
Sampai pada akhirnya Brandon ambuk dan tertidur di atas Selena. Keduanya sama-sama tidak sadarkan diri.
Brandon tak membuka mata selama seharian penuh, barulah hari berikutnya ia mengerjapkan mata dengan kepala pusing. Kedua kelopak mengerjap, posisinya masih berada di atas Selena.
Brandon berusaha memfokuskan pandangan yang kabur. Mendekatkan kepala di wajah wanita yang berada di bawahnya. “Selena?” gumamnya pelan.
Brandon perlahan turun dari ranjang. Ia kembali memastikan kalau tidak salah melihat. “Shitt!” raungnya seraya menarik rambut secara kasar. “Apa yang sudah ku lakukan padamu?”
Tubuhnya polos, begitupun dengan Selena. Brandon yakin kalau dia melakukan hal yang tak pantas pada wanita itu. Mata Brandon membulat dengan bibir menganga saat melihat sprei putih sudah bernoda darah. Bukan setitik ataupun sedikit, tapi banyak.
Brandon yakin kalau darah itu keluar dari area sensitif Selena yang ada di bawah karena lokasinya berasal dari sana. Dia mendekati wanita yang tak sadarkan diri sampai detik ini.
“Selena? Bangun.” Brandon berusaha menepuk pelan pipi wanita itu. Wajah Selena nampak pucat.
“Apa dia mati?” Brandon semakin gusar. Dia menempelkan telinga di dada Selena untuk mendengarkan apakah jantung wanita itu masih berdetak atau tidak.
Napas lega keluar dari bibir Brandon karena Selena masih hidup. “Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Buru-buru Brandon memakai kain yang teronggok di lantai. Dia mengambil pakaian milik Selena juga tapi ternyata sudah sobek. “Apa ini semua ulahku?”
Brandon membuang asal kain berwarna hitam yang sudah tak layak pakai itu. Mengambil kemejanya dari dalam koper dan digunakan untuk menutupi tubuh polos Selena.
Segera membopong wanita yang tak sadarkan diri itu menuju basement. Brandon menidurkan Selena di bagian belakang. “Bertahanlah.”
Kendaraan roda empat Brandon melaju cepat di jalanan. Dia sampai memarkir secara asal mobilnya di depan rumah sakit.
Brandon membawa Selena keluar, menggendong wanita lemas itu untuk masuk ke dalam. “Tolong, dia mengeluarkan darah,” pintanya pada siapa saja tenaga kesehatan yang bisa membantu.
Salah satu perawat sigap membawakan brankar. “Tidurkan di sini, Tuan.”
Dengan hati-hati Brandon merebahkan tubuh Selena. Ia ikut mendorong brankar tersebut, tapi tujuannya adalah untuk menarik ujung bawah kemeja supaya menutupi daerah bawah yang tidak memakai penutup kain.
“Biarkan dokter memeriksa pasien, Tuan.” Perawat mencegah Brandon supaya tidak ikut masuk ke dalam IGD.
Brandon berdiri tak tenang di depan pintu. Ia gelisah, resah, dan merasa bersalah. “Semoga kau baik-baik saja.”
Selama tiga puluh menit menanti, akhirnya dokter yang menangani Selena pun keluar juga. “Bisa bicara dengan Anda?”
“Bisa.” Brandon mengikuti langkah kaki dokter yang mengajaknya ke sebuah ruangan. Mereka duduk saling berhadapan.
“Tuan, boleh saya bertanya hubungan Anda dengan pasien?”
Brandon terdiam sejenak, memilah jawaban yang tepat karena bisa saja ia menjadi tersangka atas kejadian yang dialami oleh Selena. “Aku suaminya.” Jelas ia berbohong, terpaksa melakukan itu karena pasti pihak rumah sakit akan mengusut kalau ada sesuatu yang janggal terhadap pasien darurat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Rita Astutik
seumur hidupmu takkan tenang brandon !!!???
2024-02-20
0
Rifa Endro
buset !!!! kau menggali kuburmu sendiri Brandon !!!
2023-07-19
2
"lazygirl"
aku udh salah paham nh sm mrk br2 trnyata brandon tak seburuk yg d bayangin.. 😅
2023-02-20
1