“What?” pekik Brandon, wajahnya nampak terkejut saat mendengar obat apa yang baru saja dicekkokkan padanya. “Kau gila? Aku bukan pecandu!” sentaknya sangat marah.
Brandon mendorong tubuh temannya bernama Alex, memukul wajah pria itu karena sudah sembarangan memberinya obat terlarang. “Kalau kau mau mengkonsumsi ekstasi, minum saja sendiri! Jangan mengajakku!” Pandangan mata yang kabur membuatnya meleset saat melayangkan tinjuan.
Teman lain yang melihat pertengkaran itu pun segera melerai supaya tidak ada baku hantam antara Brandon dan Alex.
“Sudah, kita ini sedang pesta, bukan tanding MMA.”
Tubuh Brandon dipegangi oleh dua orang, rasanya masih tidak terima, dia menunjuk Alex dengan penuh kekesalan. “Dia bedebah! Mencekoki aku ekstasi.”
Begitu juga dengan Alex yang ditahan oleh dua temannya. Ia masih bisa terlihat biasa saja dan tidak merasa bersalah. “Ayolah, just for fun. Setelah kau menikah pun kita tak akan bisa berpesta sebebas ini.”
Hanya untuk bersenang-senang katanya? Telinga Brandon rasanya panas mendengar itu. Ganja masih bisa dia tolerir karena memakai satu kali belum tentu membuatnya kecanduan. Tapi ini ekstasi, empat butir pula. Bayangkan berapa banyak dosis yang masuk ke dalam tubuh Brandon. Efek obat terlarang itu sangat merugikan kesehatan fisik dan mental.
Brandon menyentak paksa tangan kedua temannya hingga terlepas dari tubuhnya. “Setan kau!” Ia menendang perut Alex sekuat mungkin. Hingga pria itu terbatuk.
“Bawa Brandon keluar!” titah teman lainnya supaya menghentikan pertikaian tersebut.
“Lepas! Aku akan pergi sendiri.” Brandon menyingkirkan secara paksa tangan temannya. Ia berjalan sempoyongan keluar dari ruang VIP.
Kaki Brandon terayun menuju toilet. Dia ingin mencoba memuntahkan obat terlarang itu. Duduk di lantai depan closet, ia berusaha muntah, tapi tetap saja tidak bisa. Tak ada yang keluar apa pun dari mulut.
“Argh ... ****! Alex keparat!” umpat Brandon seraya memukul tembok toilet di club malam rahasia itu.
Ekstasi bisa membuat kemampuan pengendalian diri terhadap pengguna berkurang secara cepat. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
Brandon yang sudah berada di bawah pengaruh ekstasi pun mendadak tersenyum. Dia tidak marah-marah seperti tadi. Mendengar dentuman musik EDM yang begitu keras, ia berjoget seorang diri di dalam toilet. Kakinya perlahan berdiri untuk mendekati sumber suara.
“Wohow ....” Sepanjang perjalanan menuju gerombolan orang yang sedang berjoget, Brandon meliuk-liukkan tubuhnya. Kesadaran dan akal sehatnya sudah diambil alih oleh efek ekstasi. Ia merasakan suasana hati yang gembira.
Selama berjam-jam Brandon kuat menari di club malam itu. Tidak merasa lelah sedikit pun. “Hea ... goyangkan tubuh seksimu.” Ia menampar kasar pantat seorang penari erotis di sana.
Melihat tubuh penari yang memakai bikini itu membuat hasrat bercinta Brandon tumbuh. Jangan diharap orang yang baru saja mengkonsumsi ekstasi bisa sadar secara cepat.
Brandon menarik paksa penari tersebut. “Ikut aku.” Ia membawa wanita seksi itu keluar dari club malam. Tidak peduli kalau masih memakai bikini.
“Coba kau lihat kamar berapa ini.” Brandon mengeluarkan kunci berupa kartu kepada wanita yang sedang dirangkul pinggulnya.
“Suite room satu.” Penari itu pasrah saja dibawa Brandon masuk ke dalam lift.
“Kau bawa aku ke sana!” titah Brandon.
Lift itu pun terasa bergerak naik. Tapi tiba-tiba berhenti saat di lantai satu.
Selena membulatkan mata saat pintu lift terbuka. Ia melihat jelas kalau calon suami adiknya sedang meremas salah satu bagian dari tubuh seorang wanita yang tak tahu siapa. “Brandon?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Rita Astutik
kaget selema
2024-02-20
0
Yunerty Blessa
pasti Selena membantu Brandon karna calon adik ipar..tapi hati² Brandon di luar kawalan
2024-01-21
0
Ibelmizzel
gawat Selena lari.
2023-11-11
0