Setelah kejadian kemarin metty sering mengurung diri di kamar, Ia sadar apa yang dikatakan oleh bapaknya memang benar seandainya waktu itu Ia tidak melakukan perbuatan zina mungkin hidupnya akan lebih baik dari sekarang ini.
Irfan yang melihat istrinya sering murung dan jarang keluar rumah membuatnya khawatir akan kondisi bayi yang dikandungnya, Irfan merasa bahwa metty seperti itu karena dirinya, ia memutuskan untuk mengambil makanan dan membawakan makanan untuk istrinya sekedar untuk melindungi dan menjaga kesehatan bayi yang dikandungnya.
"Dek ini mas bawakan nasi, kamu makan ya dari kemarin mas lihat kamu gak makan. "
" Aku gak ada nafsu makan, mas makan aja sendiri. " Ucap metty sambil membuang muka dari tatapan suaminya. Ia masih marah kepada suaminya yang tidak membelikan beras kemarin hingga bapak memarahinya.
" Dek, Kamu jangan gitu dong, kamu harus jaga kondisi kamu ."
" Apa peduli mu tentang aku mas, sekedar untuk membeli beras saja kamu tidak memberikan ku uang. "
" Dek, tolong jangan mulai lagi, mas kan udah bilang, mas gak punya uang kamu ngerti dong. " Ujar irfan sambil menahan amarahnya.
Metty tak habis pikir bisa-bisanya irfan ngomong gitu, minta dimengerti tapi dia tidak mau ngerti dirinya. " Mas minta aku ngertiin mas, tapi apakah selama ini mas bisa ngertiin aku?. "
" Aku sedang mengandung mas, bentar lagi melahirkan sedangkan mas nggak pernah nabung untuk biaya lahiran ku nanti atau hanya sekedar membelikan pakaian untuk anak kita nanti. "
"Dek, maafin mas ini juga mas lagi berusaha cari kerjaan lain biar bisa dapat uang. "
" Hasil jualan kamu hari ini mana mas? Biar aku yang pegang. " Ucap metty yang tidak mau berlama-lama dengan suaminya karena pada akhirnya pertengkaran yang akan terjadi jika terus menerus berada di dekat suaminya.
"Uangnya habis buat beli makan sama teman tadi dek. "
"Mas bisa gak sih kamu jangan terlalu Boros, kamu itu sudah punya istri dan aku harap kamu tau kewajiban mu sebagi suami. " Ungkap metty serasa meninggal suaminya.
Kini metty sedang membeli sayur dan bahan-bahan dapur lainnya yang sudah menipis, menggunakan uang yang diberikan oleh ibunya sebelum pergi ke ladang tadi. Metty tak habis pikir kok bisa suaminya makin hari makin malas ikut ibu sama bapak ke ladang, padahal dulu waktu baru menikah irfan sangat rajin ikut ke ladang, tapi sekarang Ia lebih sering pergi main ke rumah temannya dengan alasan membantu temannya kerja di bengkel.
Kalaupun Ia bekerja di bengkel uang yang didapat pun langsung habis alasannya buat beli makan, dia sama sekali tidak memikirkan metty yang sedang hamil tua itu.
Metty berjalan pulang menuju rumahnya sambil menenteng sayuran yang di beli tadi, ketika hampir sampai dirumahnya Ia merasa perutnya sangat sakit hingga Ia tak mampu berjalan seorang diri menuju rumahnya.
"Ah Ya Allah kenapa perut ku sakit sekali. " Kata metty sambil memegang perutnya dan berusaha terus berjalan ke arah rumahnya, belum berapa lama Ia jalan perutnya kembali sakit hingga Ia tak dapat membendung air matanya dan meminta tolong kepada siapapun yang melihat nya.
"Ah Ya Allah sakit sekali, siapapun tolong aku. " Ketika sedang berusaha berjalan seorang tetangga yang melihat metty menghampiri nya. ”eh nak metty kenapa kok nangis, terus itu perutnya kenapa nak?. " Ucap Ibu sita.
" Ini bu tiba-tiba perut saya sakit, saya gak sanggup berjalan seorang diri bu. " Kata metty serasa terus memegang perutnya.
" Sini ibu bantu sampai rumah Nak. " Bu sita pun membantu metty berjalan sampai ke rumah, Ia membukakan pintu rumah metty dan membawa metty untuk berbaring di dalam kamar.
" Makasih ya bu, untung ada ibu tadi yang membantu saya, kalau tidak saya tidak tau apa yang akan terjadi dengan saya. " Ucap metty seraya memegang tangan bu sita.
" Iya Nak sesudah kewajiban kita saling bantu satu sam lain, oiya ibu kamu mana metty?. "
" Ibu pergi ke ladang sama bapak, tadi saya habis beli sayur biar bisa masak untuk dibawa ke ladang nanti bu. "
" Oh gitu toh Nak. Terus suami kamu mana metty? Ibu jarang lihat suami kamu akhir- akhir ini. " Kata bu sita penasaran.
" Mas irfan pergi ke bengkel doni bu, Katanya bantu doni jaga bengkel."
Bu sita yang mendengar penuturan metty merasa kasihan jika meninggal Ia seorang diri di rumah, Ia pun menemani metty sampai ibunya pulang.
"Nak ibu bantu kamu masak buat ibu mu yah, kamu istirahat aja disitu. "
" Apa nggak merepotkan bu? " Tanya metty kepada bu sita karena Ia tidka mau merepotkan orang lain. Ia rasa sudah cukup ia merepotkan kedua orang tuanya, Ia tidak ingin menjadi beban orang lain.
" Ya Allah ndu, ibu tidak merasa direpotkan. Sudah kamu istirahat aja ibu mau masak dulu. " Metty pun mengangguk saja mendengar ucapan bu sita.
Bu sita adalah teman ibunya sekaligus tetangganya setiap ibunya mengalami kesulitan bu sita selalu ada untuk ibu. Ibu sita selalu siap kapan pun ibunya membutuhkan bantuan baik dalam hal ekonomi maupun materi. Saat bu sita sedang memasak, metty merasa perutnya semakin sakit Ia pun berteriak dan menangis karena merasa begitu sakit. Bu sita yang mendengar metty kesakitan pun menyusulnya,
" Kamu kenapa ndu, kok teriak terus?. Ucap bu sita serasa menyibak gorden kamar metty, Ia terkejut melihat metty yang mengeluarkan begitu banyak darah dari selangkangannya.
" Astaghfirullah ndu, kamu mau lahiran, ibu panggilkan tetangga yang lain dan memanggil ibu mu ke ladang ya ndu, kamu yang sabar ibu akan segera kembali. "
Bu sita yang panik pun bergegas memanggil tetangga nya yang lain untuk menemani metty sedangkan bu sita sendiri pergi ke ladang untuk memanggil bu Ella dan suaminya.
Setibanya di ladang bu sita pun memanggil bu Ella. " Bu ella, Pak danu, metty mau melahirkan ayok cepat pulang. " Kata bu sita dengan nafas yang naik turun karena berlari ke ladang ini.
Bu Ella dan pak danu yang mendengar ucapan bu sita segera berlari pulang ke rumah untuk melihat keadaan anak mereka. Setibanya di rumah Mereka melihat sudah banyak tetangga dan seorang bidan yang membantu proses kelahiran putrinya, mereka bergegas masuk dan melihat metty yang sudah bercucuran keringan karena proses melahirkan yang begitu sulit.
Setelah beberapa lama metty pun akhirnya melahirkan seorang putri yang cantik sangat mirip dengan nya, metty terlihat begitu bahagia karena bisa melahirkan secara normal. Ia ingin melihat kondisi putrinya, ia meminta ibunya membawakan bayinya.
" Bu, metty pengen gendong anak metty bu. "
" Bayi mu sedang diazankan oleh ayah mu nak, dari tadi suami mu gak ada. " Ucap bu ella karena tidak mendapati irfan disisi metty, seharusnya disaat-saat seperti ini suami yang harus menemani istrinya serta menyalurkan kekuatan pada istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments