"Ternyata aplikasi yang menamakan dirinya sistem kurir itu tidak bohong. Saldo dalam ATM ku benar-benar bertambah. Perut, udah diisi. Sekarang, gua harus cari tempat untuk istirahat. Tapi dimana?" Boy bergumam sendirian sambil menyeruput minuman jahe. Kini ia sedang berada di warung kopi yang memang buka 24 jam.
Setelah menikmati mie rebus dengan dua telur, Boy mulai merasa mengantuk. Sengaja ia mengambil uang sekedarnya di ATM tadi. Hanya cukup untuk makan dan membeli rokok sebungkus. Boy akan memikirkan tempat tinggalnya besok saja. Ingin menghubungi David tapi kuotanya habis. Sementara, sudah tidak ada counter yang buka tengah malam buta seperti ini.
Tanpa di sangka ponselnya berbunyi.
"Heh, kampret!" maki Boy ketika ia mendengar kekehan dari sang penelepon.
"Gua ada di warung kopi. Cepetan!" titah Boy pada David.
Tak lama kemudian sahabatnya itu sampai. Sangat menyebalkan, karena David kembali memasang senyum senang. Di saat, Boy bingung setengah mati tadi.
" Sorry, Bro! Lu jangan ngambek gitu dong! Yang penting kan gua udah balik lagi jemput elu!" bujuk David yang mana melihat wajah di tekuk Boy macam anak perawan yang di larang ketemuan sama pacarnya.
"Cemen banget lu jadi lakik. Rumah angker aja lu takut!" sindir Boy. Sementara, David hanya bisa membalasnya dengan cengengesan.
"Seenggaknya, gua cepet sadar Bro. Gua, buru-buru isi pulsa buat nelpon elu. Gua tau pasti lu lagi bingung," jelas David berharap kawannya ini tidak marah lagi.
"Punya duit lu buat beli pulsa?" tanya Boy meremehkan. Biasanya, untuk mencari orderan saja kawannya itu hotspot dengannya. Atau menumpang WiFi di kafetaria.
"Ngutang, pake YoPay. Nanti, lu ganti ya duitnya," jawab David dengan senyum tanpa dosa.
"Sial! Kenapa jadi gua yang ganti?" meskipun kesal tetap saja Boy menyodorkan rokoknya, agar kawannya itu ikut merilekskan diri seperti dirinya.
"Beh, bikinin ni bocah curut kopi liong satu. Jangan di aduk!" pesan Boy pada penjual kopi yang sudah berumur. Sebab itu ia dan pelanggan lainnya memanggil dengan sebutan babeh.
"Buset. se-cinta itu elu ama gua. Sampe di pesenin sebelum gua minta!" ujar David dengan raut wajah sangat senang. " Sekalian mie gorengnya yak!" pinta David dengan senyum lebar yang nampak sangat menyebalkan bagi Boy.
"Anjirr! Di kasi ati malah minta jantung lu!" Boy melempar tatapan tajamnya ke arah David. Walaupun begitu, David tetap saja terus tertawa. Ia tau kalau Boy selalu baik dan menuruti keinginannya. Selama setahun keduanya bersahabat, Boy lah satu-satunya kawan yang selalu membantunya dalam segi keuangan. Sebab, David anak broken home. Ia memilih hidup sendiri, dengan tidak mengikuti salah satu dari orang tuanya.
Sejak kedua orang tuanya menikah kembali dan memiliki keluarga masing-masing serta anak. David merasa tersisihkan dari keduanya. Untung saja, David mendapat warisan sepetak rumah kontrakan pemberian dari mendiang kakek.
"Bikinin sekalian, Beh. Mie gorengnya. Kalo ada, campuran racun tikus sekalian gapapa!" ujar Boy berkelakar yang ampuh untuk sekedar membuat senyum di wajah David berubah menjadi cebikan.
"Susah lu nyari temen lagi kayak gua nanti," ucapnya menanggapi candaan Boy yang cukup Badas barusan.
"Ceileh baper!" Kini giliran Boy yang tertawa terpingkal-pingkal. Tatkala ia melihat wajah David menjadi seimut marmut lantaran tengah berpura-pura sedih. Hanya David lah yang mampu membaut Boy sejenak melupakan masalahnya. Lagi enak tertawa, pertanyaan David sontak mengembalikannya ke alam nyata. Dimana penuh kesusahan dan juga kesedihan.
"Kemana motor lu? Jelasin ke gua sekarang!" titah David sambil menyeruput kopinya. Tak lama kemudian mi goreng pesanannya datang. Bingung lah mana yang mau ia nikmati lebih dulu.
"Makan aja dulu, abis itu baru ngopi!" saran Boy. David pun menurut, ia menjauhkan gelas kopi nya dan menarik mangkuk berisi makan malamnya yang sangat telat itu. Tatapan matanya tetap fokus menanti jawaban dari Boy.
"Gua di begal, pas baru aja kelar nganterin orderan. Kebetulan emang jalanan sepi. Perumahannya juga gak punya sistem keamanan. Gak ada pos scurity juga, jadi yah ..." Boy menjelaskan seraya menyesap dalam batang rokok yang terselip diantara kedua bibir sensualnya. Hanya saja, tampilannya yang dekil membuat sisi ketampanan pria itu tertutup.
"Pppfftt!"
"WTF! Demi apa lu kena begal. Anying banget tu penjahat!" kesal David yang tanpa sengaja menyemburkan suapan keduanya lantaran kaget.
"Terus? Kenapa lu nyangsang di mari. Bukannya pulang?" cecar David lagi, ia mencurigai ada hal yang lebih besar dari kasus pembegalan yang menimpa sahabatnya ini.
"Rumah gua, tadi pagi di sita sama bank. Ternyata, sebelum Lilian ninggalin gua sama cowok tajir itu. Dia udah lebih dulu gadein rumah peninggalan bokap-nyokap gua, Renk." Boy menjawab dengan pandangan menerawang. Masih tak habis pikir kenapa gadis pilihan hatinya bisa sekejam itu.
"Pantesan, tumben banget lu masih ngambil orderan sampe malem. Lu tinggal bareng gua aja gak usah bingung." David menepuk bahu Boy demi memberi dukungan pada sahabatnya itu. Tiba-tiba ...
TEEETT!
TEEETT!
TEEETT!
Nada dering pertanda notif orderan masuk berbunyi dengan nyaring. Boy, dengan sigap mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja. Sebelum David si kepo yang lebih dulu menengok apa isinya.
[ Sistem Kurir kembali memberikan anda sebuah misi. Hantarkan sebuah paket ke alamat ini, dalam waktu tiga puluh menit. Lalu dapatkan motor impian! ]
"Gila!" kaget Boy kelepasan bicara. Ia pun menjauh demi menghindari tatapan penuh selidik dari David.
"Apa iya, ada orderan kayak gini. Cuma nganter sebuah paket dari apotik. Maka sebuah motor bakal jadi milikku. Apa ini sekedar tipuan atau hadiah undian ya maksudnya?" gumam Boy lagi pelan sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.
"Bodo lah ambil aja. Siapa tau, gua bisa ikut undiannya." Boy pun mengambil jaket compang camping miliknya yang tersampir di sandaran kursi.
"Sini kunci motor lu!" Boy handak meminjam motor milik David. Pesan aja apa yang lu mau, gua yang bayar!" ujar Boy sebelum ia melaju kencang.
Sementara itu di sebuah ruang tamu, sepasang pria dan wanita dewasa tengah di mabuk gelora napsu dan gejolak birahi setan. Pasalnya, sang wanita cantik yang bertubuh sintal itu masih berstatus istri orang. Bahkan, pria bertubuh tinggi gagah itu pun juga telah memiliki seorang istri.
"Akh, sayang. Nanti dulu dong. Katanya kan kamu gak mau pake pengaman," lirih Lilian yang kini berada di bawah Kungkungan Jack Potter. Sementara itu pria di atas tubuhnya semakin beringas, menyesap bagian atas Lilian. Sebelah tangannya juga sambil menjelajah bagian pribadinya yang sudah tanpa penutup.
"Aku gak mau, karena kurang nikmat Lili sayang. Sebaiknya, kau saja yang mengkonsumsi pil penunda kehamilan," saran dari Jack yang mana pandangan nya telah berkabut dan suaranya pun telah serak.
"Sebab itu, Jack sayang. Kebetulan pil kontrasepsi ku habis. Tapi, jangan khawatir. Aku telah memesannya lewat aplikasi!" Lilian melengking dan melenguh kala Jack berhasil mengobrak-abrik pabriknya hanya dengan lidahnya yang lihai.
"Apakah masih lama, aku sudah tidak tahan. Sementara, diri mu pun sudah siap," Jack menyambar bibir Lilian karena napsu-nya sudah di ubun-ubun saat ini.
Hingga keduanya tak mendengar ada yang mengetuk pintu.
"Permisi! Paket!" seru Boy meneriakkan kalimat yang biasa ia ucapkan setiap mengantar barang.
"Rumah bagus kayak gini kagak ada bel-nya apa yak?" Boy yang sudah lelah berteriak memanggil mengedarkan pandangannya mencari bel pintu. Namun, ternyata pintunya tidaklah di kunci.
"Lah, kagak di kunci? Ceroboh banget ni orang kaya. Untung gua bukan maling," gumam Boy. Ia pun berinisiatif memanggil sekali lagi sambil melongokkan kepalanya sedikit ke dalam. Saat itulah telinganya mendengar suara yang familiar.
"Jack, ah ...! Aku harus minum pil KB dulu. Aku gak mau hamil ...ahh!" teriak Lilian di sela-sela gempuran serangan dari Jack. Bahkan, pria itu telah mengeluarkan senjatanya.
Mendengar suara seksi yang ia kenal, Boy seketika terbakar emosi. Ia yakin jika itu adalah suara dari istrinya. Boy menengok pada benda kecil tipis yang berada di kantung yang ia genggam erat ini. Ia teringat kata-kata dari sang penjaga apotik bahwa yang memesan sudah lima tahun mengkonsumsi barang yang sama.
"Lilian!"
"Kau keterlaluan!" Boy melempar barang hingga mendarat tepat di bawah sofa. Dimana kedua manusia laknat itu mematung karena kaget bukan kepalang.
"Boy!" Buru-buru, Lilian merapihkan pakaiannya. Begitu juga Jack yang segera menaikkan kembali resleting celananya.
"Awssh. Sial!"
...Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
LENY
DASAR PEREMPUAN JALANG DAN LAKI2 JALANG COCOK SAMA2 BIADAB😡
2024-12-05
1
Firman Firman
perempuan binal 😡
2024-02-28
1
Eros Hariyadi
Lanjut Thor 💪👍👍👍
2023-03-17
3