Ais Masuk Rumah Sakit

Bagas merasa kesal pada saat orang tuanya membela Ais. Dia sama sekali tak menyangka akan hal itu.

"Apa sih spesialnya gadis barbar itu, hingga orang tuaku saja sampai membelanya terus," batinnya kesal.

Tetapi Bagas tak mampu lagi membantah segala ucapan dan nasehat dari orang tuanya. Hingga dia hanya mengiyakan saja apa yang di nasehatkan Broto padanya.

"Sudah belum ngomongnya, pah? jika sudah aku akan berangkat ke kantor lagi," ucapnya kesal.

"Hem, minta maaf dulu kamu pada Ais," pinta Broto.

"Yang benar saja, pah. Aku tidak mau! yang sudah membuat malu kan dia bukan aku, tetapi kenapa malah aku yang yang harus minta maaf padanya! seharusnya dia yang minta maaf padamu, pah!" bantah Bagas tak suka dengan apa yang telah di perintahkan oleh Broto.

"Tuan Besar, saya sudah memaafkan Den Bagas kok. Jadi tak perlu dia meminta maaf pada saya. Ayo den kita berangkat sekarang," ucap Ais.

"Kamu lihat itu, pada dasarnya Ais ini gadis yang baik. Hanya saja kamu yang selalu saja mencari permasalahan dengannya!" ucap Broto kesal.

Bagas tak berkata lagi, dia melangkah masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Ais. Ais segera melajukan mobilnya menuju ke kantor Bagas.

"Senang, bangga ya kamu. Orang tuaku selalu saja membelamu," celetuk Bagas tiba-tiba, namun Ais sengaja tak berkata apapun.

"Heh, kamu tuli ya? aku ngomong kok diam saja!" bentak Bagas akan tetapi Ais tetap diam saja.

Hingga pada akhirnya Bagas pun diam tak berkata lagi. Dia lelah sendiri karena ucapannya tak di hiraukan oleh, Ais.

Pada saat baru seperempat perjalanan, Bagas meminta Ais untuk menerobos lewat jalan pintas karena dia akan ada acara meeting dadakan supaya cepat sampai di kantor.

Hingga Ais pun menuruti kemauan Bagas dengan lewat ke sebuah perkampungan yang cukup sepi penduduknya dan hampir seperti sebuah hutan.

Tiba-tiba mobil yang di tumpangi mereka terhenti begitu saja membuat Ais terpaksa harus keluar dari mobil. Dan pada saat Ais memeriksa kondisi mobil, tiba-tiba ada seseorang memukul punggungnya dengan sepotong kayu.

Bug...

"Ahh..." saat itu juga Ais pingsan di tempat.

"Heh, apa-apaan kamu?" bentak Bagas yang masih ada di dalam mobilnya.

"Oh ternyata masih ada orang, cepat kamu keluar dan serahkan harta benda yang kamu punya!" bentaknya memaksa Bagas untuk keluar dari mobilnya.

Seketika itu juga Bagas keluar dengan membuka keras pintu mobilnya hingga mendorong tubuh preman itu menjauh.

"Heh, bro . Dia nantangin kita berdua. Sebaiknya kita hajar saja dia kalau perlu kita habisi sekalian nyawanya!" ucap salah satu preman kepada temannya.

Dan saat itu juga dia preman tersebut menghajar habis-habisan si Bagas. Hingga Bagas tak berdaya, dan salah satu preman mengeluarkan pisaunya, sedang preman yang satunya mencekal kedua lengan Bagas di arahkan ke punggung Bagas.

Pada saat pisau itu akan di tusukkan ke perut Bagas, tiba-tiba Ais sudah sadar dari pingsangnya. Secepat kilat Ais menghadang pisau itu hingga pisau itu menusuk perut dirinya bukan perut Bagas.

Tak berapa lama , melintaslah beberapa warga setempat hingga mereka menolong Bagas dan Ais. Akan tetapi dua preman tersebut berhasil melarikan diri.

Ais terkapar tak sadarkan diri dengan pisau menancap di perutnya dan darah mengucur dengan derasnya. Bagas sangat panik dan gemetar. Dia lantas mengangkat tubuh Ais kedalam mobilnya di bantu oleh para warga. Dan Nafas segera melarikan Ais ke rumah sakit terdekat.

"Ya Allah, Ais. Kamu rela mengorbankan nyawamu demi aku setelah apa yang sering aku lakukan padamu selama ini," Bagas terus saja panik melihat kondis Ais.

Dia sangat khawatir jika terjadi hal buruk padanya, lantas bagaimana dia harus berkata pada ayahnya?

Tak berapa lama, sampailah Bagas di rumah sakit terdekat. Ais segera di larikan ke ruangan UGD, sedangkan Bagas juga mendapatkan perawatan medis atas luka-luka memar di wajahnya.

Luka yang di alami oleh Bagas tidaklah begitu parah, berbeda dengan luka yang saat ini di alami oleh Ais. Hingga hanya beberapa menit saja perawat telah selesai menangani luka pada Bagas.

"Aduh, bagaimana aku memberi tahu akan hal ini pada, Pak Lukman? sedangkan saat ini kondisi Pak Lukman belum sehat benar."

Bagas mondar mandir di depan UGD, dimana saat ini Ais sedang mendapatkan perawatan intensif.

Akhirnya Bagas memutuskan untuk menelpon orang tuanya saja. Karena dia tak tega jika harus menelpon pada, Pak Lukman.

"Pah, cepatlah datang ke rumah sakit Medika Farma di ruang UGD sekarang juga."

"Astagfirullah alazdim, apa yang kamu alami sampai harus masuk rumah sakit?"

"Bukan aku pah, tetapi Ais saat ini sedang di tangani di ruang UGD. Aku ada di depan ruangan."

Setelah mengatakan hal itu, Bagas menutup telponnya. Sementara Broto segera ke rumah sakit dengan mengajak Eti istrinya. Mereka masih saja di liputi oleh rasa tanda tanya dan penasaran dengan apa yang menimpa Ais.

"Tadi papah nggak tanya pada Bagas? bagaimana dia sampai ada di ruang UGD?" tanya Eti penasaran.

"Belum sempat papah bertanya, tetapi Bagas sudah mematikan panggilan telponnya, mah," jawab Broto.

"Pah, apa nggak sebaiknya kita juga memberitahu, Pak Lukman tentang hal ini?" tanya Eti meminta persetujuan.

"Sepertinya jangan dulu dech, mah. Kita lihat dulu bagaimana kondisi Ais dan juga apa penyebabnya hingga dia masuk ruang UGD," saran Broto.

Tak berapa lama sampailah sepasang suami istri paruh baya ini di rumah sakit Medika Farma. Dan mereka langsung melangkah dengan cepat ke ruang UGD.

"Bagas, bagaimana Ais bisa masuk rumah sakit. Dan bajumu itu penuh sekali dengan darah. Apa yang kamu lakukan pada Ais?" tanya Broto penasaran dan cemas.

"Pah, jangan berprasangka buruk padaku. Walaupun aku tak suka dengan sikap barbar Ais, aku tak melakukan tindakan jahat seperti ini."

Bagas menceritakan pada orang tuanya bagaimana awal mula kejadian itu hingga Ais masuk UGD.

"Bagas, kamu lihat kan? Ais yang selama ini kamu anggap buruk dan selalu saja kamu musuhi karena kecerobohannya malah mengorbankan nyawanya untukmu, walaupun dia tahu kamu tak suka padanya," ucap Broto.

"Iya, Bagas. Mamah juga sudah sering berkata jika sebenernya Ais ini gadis yang baik tetapi kamu tak pernah dengar ucapan mamah. Kamu selalu saja memusuhi dirinya."

"Jika gadis lain, takkan mau melakukan hal seperti Ais. Setelah apa yang kamu lakukan padanya. Tetapi tidak dengannya kan?"

Orang tuanya menyalahkan Bagas dengan apa yang terjadi pada Ais.

"Mah-pah, tolong jangan memojokkan aku seperti ini. Saat ini aku bingung bagaimana cara menjelaskan hal ini pada, Pak Lukman?"

Terpopuler

Comments

Eka ELissa

Eka ELissa

tu...kn gas...dmi kmu tu ais rela lindungin kmu...krna kmu adlh amnah dri ayah nya...mskipun kmu suka ngajak gelud tapi ais slalu respec ma kmu dn mlhn kocak ais bisa bikin kmu py dunia baru kn..😁😁smoga ais baik"....saja ya mak..

2022-10-12

1

Nonny

Nonny

😘😘😘😘

2022-10-04

0

heni diana

heni diana

Kyanya nie awal si bos pemarah jdi respek sma ais biar g kya tom and jerry terus klo ketmu.. Semoga ais segera sadar..

2022-10-04

1

lihat semua
Episodes
1 Alih Profesi
2 Banyak Ulah
3 Marah Besar
4 Senjata Makan Tuan
5 Malu
6 Ais Masuk Rumah Sakit
7 Kritis
8 Sadar Juga & Lewati Masa Kritis
9 Kembali Ke Rumah
10 Gadis Yang Baik
11 Ternyata Oh Ternyata
12 Mulai Mengagumi
13 Keseruan Di Pangkalan Angkot
14 Ada-Ada Saja
15 Iseng
16 Keseruan Saat Memasak
17 Kesialan Yang Di Alami Bagas
18 Menemani Ke Pengadilan
19 Kedatangan Teman Semasa SLTP
20 Resah Gelisah
21 Rasa Penasaran Orang Tua Bagas
22 Menahan Rasa Malu
23 Bersikap Kaku
24 Enggan Mengakui
25 Memaksa & Terpaksa
26 Sedikit Berubah
27 Mulai Tumbuh Rasa
28 Mulai Cemburu
29 Di Balik Kecerobohannya
30 Nasehat Orang Tua
31 Sakit
32 Kedatangan Rindi
33 Emosi
34 Bentrok
35 Penyesalan Yang Tiada Berguna
36 Hati Yang Tak Menentu
37 Penasaran
38 Kembali Bertemu Lagi
39 Masih Ragu
40 Keras Kepala
41 Mulai Di Respon
42 Curhatan Ais Pada Lukman
43 Mengintai
44 Terlalu Manja
45 Surprise
46 Akhirnya Jujur
47 Ikut Memasak
48 Sama-Sama Cemburu
49 Resmi Pacaran
50 Mencoba Menghasut
51 Tak Rela
52 Ribut Kembali
53 Ancaman Setyo & Rindi
54 Berhasil Mendapatkan Rekaman Video CCTV
55 Mati Kutu
56 Kalah Juga
57 Kecewa
58 Saling Curhat
59 Mencari Lahan Untuk Restoran
60 Heran
61 Pergi Ke Luar Negeri
62 Penyesalan Setyo
63 Menolak Bantuan
64 Tak Ada Lagi Kesempatan
65 Bingung
66 Terharu
67 Sama-Sama Resah Gelisah
68 Mulai Balas Dendam
69 Keributan Yang Terjadi Di Restoran
70 Marah Besar
71 Agak Terhibur
72 Menemukan Jalan Buntu
73 Tawaran Kerja Sama
74 Ketahuan Juga
75 Kembali Lapor Polisi
76 Di Tangkap Polisi Kembali
77 Menghadiri Persidangan
78 Menjual Perusahaan
79 Jenguk Ais
80 Malu
81 Pertolongan Mendadak
82 Menolong Bibi
83 Sama-Sama Lega
84 Tidak Neko-Neko
85 Satu Bulan Kerja Di Rumah Ais
86 Ketahuan Broto
87 Rindi Berulah Lagi
88 Kemalingan
89 Tertangkapnya Maling
90 Keromantisan Dua Sejoli
91 Kebersamaan Dua Sejoli
92 Keakraban Ais Dengan Bu Ira
93 Rasa Kagum Aan
94 Kejujuran & Keramahan Ais
95 Kecewa
96 Permasalahan Rindi
97 Pernikahan
98 Akhir Kisah
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Alih Profesi
2
Banyak Ulah
3
Marah Besar
4
Senjata Makan Tuan
5
Malu
6
Ais Masuk Rumah Sakit
7
Kritis
8
Sadar Juga & Lewati Masa Kritis
9
Kembali Ke Rumah
10
Gadis Yang Baik
11
Ternyata Oh Ternyata
12
Mulai Mengagumi
13
Keseruan Di Pangkalan Angkot
14
Ada-Ada Saja
15
Iseng
16
Keseruan Saat Memasak
17
Kesialan Yang Di Alami Bagas
18
Menemani Ke Pengadilan
19
Kedatangan Teman Semasa SLTP
20
Resah Gelisah
21
Rasa Penasaran Orang Tua Bagas
22
Menahan Rasa Malu
23
Bersikap Kaku
24
Enggan Mengakui
25
Memaksa & Terpaksa
26
Sedikit Berubah
27
Mulai Tumbuh Rasa
28
Mulai Cemburu
29
Di Balik Kecerobohannya
30
Nasehat Orang Tua
31
Sakit
32
Kedatangan Rindi
33
Emosi
34
Bentrok
35
Penyesalan Yang Tiada Berguna
36
Hati Yang Tak Menentu
37
Penasaran
38
Kembali Bertemu Lagi
39
Masih Ragu
40
Keras Kepala
41
Mulai Di Respon
42
Curhatan Ais Pada Lukman
43
Mengintai
44
Terlalu Manja
45
Surprise
46
Akhirnya Jujur
47
Ikut Memasak
48
Sama-Sama Cemburu
49
Resmi Pacaran
50
Mencoba Menghasut
51
Tak Rela
52
Ribut Kembali
53
Ancaman Setyo & Rindi
54
Berhasil Mendapatkan Rekaman Video CCTV
55
Mati Kutu
56
Kalah Juga
57
Kecewa
58
Saling Curhat
59
Mencari Lahan Untuk Restoran
60
Heran
61
Pergi Ke Luar Negeri
62
Penyesalan Setyo
63
Menolak Bantuan
64
Tak Ada Lagi Kesempatan
65
Bingung
66
Terharu
67
Sama-Sama Resah Gelisah
68
Mulai Balas Dendam
69
Keributan Yang Terjadi Di Restoran
70
Marah Besar
71
Agak Terhibur
72
Menemukan Jalan Buntu
73
Tawaran Kerja Sama
74
Ketahuan Juga
75
Kembali Lapor Polisi
76
Di Tangkap Polisi Kembali
77
Menghadiri Persidangan
78
Menjual Perusahaan
79
Jenguk Ais
80
Malu
81
Pertolongan Mendadak
82
Menolong Bibi
83
Sama-Sama Lega
84
Tidak Neko-Neko
85
Satu Bulan Kerja Di Rumah Ais
86
Ketahuan Broto
87
Rindi Berulah Lagi
88
Kemalingan
89
Tertangkapnya Maling
90
Keromantisan Dua Sejoli
91
Kebersamaan Dua Sejoli
92
Keakraban Ais Dengan Bu Ira
93
Rasa Kagum Aan
94
Kejujuran & Keramahan Ais
95
Kecewa
96
Permasalahan Rindi
97
Pernikahan
98
Akhir Kisah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!