Di siang hari yang panas, Mereka memutuskan untuk pulang kerumah.
Leksa menatap amelia, terlihat wajahnya cantik alami penuh keringat, wajah alami ini mungkin sulit ditemukan jika dikota-kota.
Di kota-kota besar leksa mungkin hanya bisa menemukan dengan wajah bermake up tebal atau wajah yang seperti habis cuci muka dengan minyak yang dibilang mereka sebagai wajah glowing.
"Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan makan siang untuk kita".Amelia berjalan ke dapur dibantu tongkatnya.
"Biar aku bantu".Leksa ikut ke dapur membawa berbagai peratan makan dan beberapa alat makan ringan untuk amelia bawa.
"Kapan paman sama tante pulang?".tanya leksa.
"biasanya kalo musim panen atau musim tanam mereka biasa pulang jam 6, klo sekarang karena pertengahan musim mungkin nanti jam 2 juga pulang".
Leksa menatap sekeliling" Apa kakakmu kerja diluar hingga jarang pulang?".
"Tidak, kakak aku cuman keluyuran doang kerjanya, kadang-kadang pulang malam atau pagi ".
"Apa besok kamu akan pulang," amelia menatap leksa, sejujurnya dia sangat senang bersama leksa, meskipun dia baru bertemu dan ini pertama kalinya mereka jalan-jalan bareng Tapi dia sangat merasakan kehangatan kebersamaan yang tidak pernah dia rasakan.
"tidak, besok pagi mungkin aku akan menuju air terjun disekitar hutan alaska, setelah selesai, aku akan kembali lagi".
"bukankah itu terlalu jauh untuk berjalan kaki, kenapa tidak menggunakan mobil kamu?".
Leksa menggelangkan kepala," tidak, aku hanya ingin menikmati alam".Leksa berbohong.
Bagaimana mungkin dia membawa mobil mahal, sedangkan di kampus dia selalu berbakaian miskin.
Obrolan mereka berlangsung lama,leksa akui jika amelia mudah akrab dengan yang lain, Tapi karena konflik masalalu yang membuatnya menjadi orang pendiam".
Leksa merasa aneh dengan dirinya, Padahal dia selalu bersikap cuek kepada siapapun tapi hari ini dia terus tersenyum sepanjang waktu.
Tidak berselang lama kedua orang tua amelia pulang," wah......wah........wah.......wah, Tumben nih amel tertawa gitu,apa jangan-jangan.....….......?".Rayu bu Riska.
"Apaan sih bu," Wajah amelia bersemu merah, dia bangkit untuk memalingkan wajahnya agar tidak diketahui oleh orang-orang.
"Aku ambilakan air teh dulu ya kedapur," alasan amelia meninggalkan semua orang kedapur.
"Bagaimana nak,apakah kamu senang dengan desa kami". Tanya pak junaedi yang datang di belakang orangtua amelia.
"Ya, tempatnya sangat indah, lahan pertanian nya juga sangat luas, Tapi kok jarang ya yang mempunyai ternak?".Leksa tersenyum tipis dengan ekspresi bingung.
"Banyak ternak yang dicuri, jadi bagi sebagian warga lebih baik menanam sayuran dari pada berternak".jawab pak sumanto.
"Siapa yang mencuri? bukannya jarang ya pencuri kalo didesa".
"Kami tidak tahu, saat malam jika terdengar suara ternak kami selalu menengoknya, dan pasti saat itu ternak kami sudah bubar berkeliaran, karena terbatasan cahaya jadi kami memutuskan untuk menangkapnya di pagi hari, tapi setiap kami menghitungnya pasti salah satu ternak akan hilang entah kemana!".Tegas pak sumanto dengan geram".
"ya...., kami bahkan mengadangan pos ronda, tapi maling itu selalu berhasil mencuri, hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidak berternak".Sahut pak junaedi.
"jika ingin makan daging maka hanya bisa menangkap ikan disungai".Jawab Bu riska pasrah.
Leksa mengangguk aneh, jika satu desa mencoba menangkap pencuri itu tapi tidak berhasil maka alasannya pasti pencuri itu memiliki bekingan yang kuat, satu-satunya yang dicurigainya hanya satu "kepala desa " Leksa mengucapkan kata itu dengan pelan.
"Oh iya pak,mungkin besok nanti jam 4 pagi saya akan melanjutkan perjalanan ke tempat teman-teman aku".
Mereka mengangguk, mereka sudah tahu jika leksa datang kesini untuk acara kampus.
"baiklah kamu hati dijalan saat berkendara, jalan melewati jalur desa ini sangat sempit".Saran Bu riska.
Leksa menggelengkan kepala "Tidak bu, Aku akan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, sedangkan mobil aku titipkan disini".
"Kenapa".mereka bingung.
Leksa kembali menceritakan kebohongannya sebelumnya.
Mereka menghela nafas, " Baiklah kalau begitu, jika ada orang yang bertanya tentangmu katakan saja kalau kamu keponakan ku, aku juga akan mengatakan hal yang sama jika mereka bertanya tentang mobil ini".
Leksa ternyum tipis, Dia tahu ini semua untuk kebaikannya. Dia sangat terharu karena mereka baru saja bertemu tapi sudah dianggap seperti keluarga sendiri meskipun hanya buat rumor semata.
Tidak terasa obrolan mereka berlangsung lama, Malam hari mulai tiba.
Mereka membersihkan diri satu persatu,kamar mandi dirumah hanya ada satu,hal itu tidak cukup untuk mandi jika tidak bergiliran.
Sebelum tidur, mereka kembali mengobrol,bahkan tidak sedikit omongan yang blak-blakan tentang mereka yang bisa membuat leksa merasa canggung, Tapi meskipun begitu omongan itu dibarengi Tata krama.
Leksa terbangun saat jam tangannya berbunyi menandakan pukul 4 kurang seperempat, Dia membereskan barang-barangnya yang sangat sedikit. Saat dia keluar kamar, dia mencium bau wangi dari arah dapur.
Saat tiba di dapur, dia melihat bu riska sedang memasak.
"Eh nak leksa sudah bangun, sini duduk dulu, tante siapkan bekal untuk kamu diperjalanan".
Leksa terharu melihat ini, ini adalah pertama kalinya dia mendapat bekal dalam seumur hidupnya.Bahkan ketika kecil saat dirinya masih menjalani kehidupan mewah dulu, dia hanya bisa membeli makanan di kantin atau restoran, dia tidak pernah diberikan bekal, mungkin hanya sarapan roti dipagi hari.
Di saat kuliah dia baru merasakan sarapan bersama seorang wanita paruh baya yang menganggap dia anaknya sendiri.
Setelah menerima bekal itu, leksa terus membungkuk sebagai ucapan terima kasih.Bu riska yang melihat itu juga terharu, dia berharap andaikan putranya juga seperti ini.
Setengah jam kemudian leksa telah meninggalkan kediaman amelia,dia melakukan perjalanan sesuai rute aman yang di rekomendasikan pak junaedi.
Di perjalanan leksa benar terkagum-kagum dengan hutan ini,dia melihat berbagai jenis hewan, seperti ayam hutan,babi ,landak, dan berbagi jenis burung.
Bahkan saat melewati sungai yang jernih, dia dapat melihat ikan berkeliaran dengan melimpah.
Leksa merasakan seperti dia terlahir kembali di jaman kerajaan, jaman yang sangat asri dengan berbagai jenis hewan masih tinggi populasinya. Jaman dimana hutan dan air tidak ada yang tercemar limpah kimia.
Saat mencapai puncak perbukitan yang luas, dia melihat keramaian di depan. Saat itu dia memandang mereka sambil menyantap perbekalan yang disiapkan bu Riska untuknya.
Dia menyantap makanan itu dengan lahap,bahkan menurut leksa makanan itu hampir sama enaknya dengan masakan restoran bintang lima.
Saat hari menjelang siang, dia baru turun menghampir teman-temanga yang sedang membuat tenda.
"Hey, dari mana saja kamu, aku cek ke kontrakan katanya kamu sudah tidak tinggal disana".Tanya amir tanpa menoleh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
anggita
trus💪 brkrya thor.. smoga novelnya sukses. klo mau promosi silahkan ke tempat kami.. bebas.
2022-10-07
0