Candrasa merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali, entahlah apa ini efek dia tertidur selama beberapa hari. Tapi yang jelas, badannya merasa lemas dan tidak berdaya.
Hanya matanya saja yang mampu berkedip secara perlahan, dia melihat kesekeliling. Rupanya dia sudah dibawa ke Amarata. Kali ini dia harus mencari pedang itu dari awal, Candrasa harus pintar mengetahui musuh dibalik ini semua. Juga motif tentang wabah itu sejak awal.
Dia berniat untuk menyamar sebagai rakyat biasa, untuk mengetahui jelas tentang wabah itu. Tapi kondisinya belum memungkinkan untuk melakukannya sekarang.
Candrasa mulai menoleh ke kanan kiri secara perlahan, dia mengingat jelas kejadiam di dunia gaib itu. Dia merasa senang telah kembali ke dunianya, tapi juga merasa sedih karena dia meninggalkan kakeknya terjebak disana. Candrasa berjanji pada dirinya, bahwa dia akan menemukan pedang itu dan menghilangkan kutukan yang terjadi pada kakeknya.
Raja Jira II sampai di kamar Candrasa dengan ngos-ngosan, diikuti oleh Panglima Perang dan Air. Sedangkan Guru Wija, sudah dalam perjalanan pulangnya ke Maharaja jauh sebelum Candrasa sadar. Raja Jira II mendekat ke arah anaknya yang masih penuh dengan tatapan kosong, badannya masih terkulai lemas. Tabib istana agak menjauh dan memberikan ruang pada Rajanya itu.
"Anak ku, kau bisa mendengarku?" Suara Raja Jira II masih terdengar samar di telinganya.
Candrasa hanya bisa mengedipkan kata secara perlahan, "Sepertinya kondisinya belum stabil, saya akan meracikannya ramuan." Tabib istana keluar sebentar untuk menyiapkan ramuan bagi Candrasa.
Air yang melihat Candrasa langsung menatap pria itu dengan gembira, sedangkan Candrasa berusaha mencari keberadaan Hanada. Setelah apa yang disampaikan wanita itu saat dirinya dalam kondisi Vegetatif, Candrasa harus meminta penjelasannya.
Para pelayan membawakan segelas air minum untuk Candrasa, dengan perlahan pelayan itu mengangkat kepala Candrasa sedikit lalu memberinya minum yang hanya ditenggak beberapa tetes saja.
Candarasa merasa tenggorokannya tidak kering lagi, ada hal yang aneh pada tubunya. Dia merasa energi ditubuhnya berputar semakin cepat. "Baiklah, mari kita beri waktu untuknya beristirahat." Raja Jira II keluar bersama Panglima dan yang lain.
Hanya ada dayang dan tabib lain yang berjaga disana, Raja dan Panglima kembali ke balai rapat untuk menemui petinggi yang lain. Mereka yang menunggu kabar Candrasa terlihat berdiri menyambut Raja saat dia datang. "Salam, Yang Mulia bagaimana kondisi Putra Mahkota?" Kata Kementrian pajak.
"Anak ku sudah sadar," Raja Jira II tersenyum gembira begitupun dengan Panglima perang.
"Mari silahkan duduk." Raja Jira II dan para petinggi duduk dibalai rapat melanjutkan perbincangan yang tadi tertunda.
"Seperti yang kita lihat, Anakku Candrasa sudah sadar dari keadaan Vegetatifnya. Aku memutuskan untuk tidak memberikan kekuasaan sementara ku pada adikku, Pangeran Mara!"
Semua orang saling menatap, ada beberapa orang yang sepertinya tidak menyukai keputusannya itu. Tapi mereka tetap berpura-pura senang dengan keputusan raja.
*
*
Disisi lain, Hanada yang sudah sampai di kerajaannya langsung menemui ayahnya. Dia memberikan hormat sambil menekuk lututnya dilantai. Melihat kondisi anaknya yang seperti itu, Raja Nahdara langsung menghampirinya dan membangungkan anaknya yang sedang berlutut.
"Maafkan aku ayah," Hanada menangis.
"Kenapa kau pergi tanpa restu dari ayah?" Raja Nahdara menatap putrinya dengan sendu.
Rupanya setelah kabar kaburnya Hanada dia ketahui, Raja Nahdara tidak bisa tidur selama beberapa hari. Lingkar hitam dimatanya pun terlihat sangat jelas.
Raja Nahdara memanggil para pelayan untuk mengurus Hanada dan menyiapkan Pakaian Kerajaannya.
"Pelayan!!! Persiapkan semuanya untuk putriku. Dan umumkan acara penyambutan Putri Hanada kepada seluruh rakyat di Nahdara!!"
Hanada menoleh ke arah ayahnya dengan keheranan, "Acara untukku?" Dia kebingungan dengan permintaan ayahnya itu.
"Ya, putriku sudah saatnya kau mengurus kerajaan. Hentikan mencari bukti bahwa kita tidak bersalah. Itu hanya akan sia-sia, lagipula kebencian mereka sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya." Ayahnya mengelus punggung putrinya.
Hanada. menunduk, dia bersedih karena sudah bertahun-tahun dia masih belum menemukan bukti yang kuat, untuk mengatakan Nahdara tidak berkaitan dengan wabah itu.
"Maafkan aku ayah, mulai sekarang aku akan mengabdikan diriku untuk Nahdara." Hanada menunduk, Raja Nahdara sangat senang mendengarnya. Dia memeluk putrinya dengan bangga.
Setiap hari, putrinya semakin tangguh.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk acara nanti malam." Raja Nahdara meminta Hanada untuk membersihkan tubuh dan bersiap.
Hanada mengangguk lalu mengikuti pelayannya ke tempat berendam nya. Sesampainya disana, Hanada melihat kolam berisikan air yang tercampur susu segar. Disampingnya ada beberapa pelayan yang menyiapkan Kunyit untuk menggosok tubuhnya.
Handa melepaskan pakaiannya, hanya menyisakan pakaian dalam nya. Lalu mulai turun ke kolam besar itu. Dia bersandar ke sandaran kolam, lalu menelentangkan tangan pada bahu kolam.
Dia menyandarkan kepalanya, lalu menikmati setiap pijatan lulur yang dilakukan para pelayan wanitanya.
"Ahh sudah lama sekali aku tidak senyaman ini." Ujar Hanada, sesaat dia melupakan kondisi Candrasa.
Setelah cukup lama seperti itu, Hanada langsung menggosokkan lulur kunyit itu ke seluruh tubuhnya sendiri. Dia lalu membilasnya secara bertahap.
Kulitnya, menjadi cerah seiring dengan kuningnya air kolam. Hanada merasa sangat segar. Dia langsung keluar dari kolam itu lalu dibalut dengan kain besar yang menutup tubuhnya sampai ujung kaki oleh pelayannya.
Hanada, berjalan ke ruangan ganti, disana berjejer pakaian kebangsaan Nahdara, banyak macam pakaian disana. Hanada memilih pakaian pesta bernuansa ungu.
Dirinya tampak cantik mengenakan itu, aura putrinya benar-benar terpancar dengan sempurna. Hanada duduk, lalu para pelayan lain menepuk-nepukan bedak tradisional ke wajahnya. Belum lagi warna merah dari buah bit untuk bibirnya yang pink.
*
*
Setelah rapat di Amarata selesai...
Tuk tak tuk
Suara langkah kuda terdengar, seorang pria berjubah hitam menunggangi kuda itu ke sebuah bangunan mewah milik bangsawan.
Dia melangkahkan kakinya turun dari kuda, wajahnya terbalut tapi dengan kain, sehingga tidak ada celah untuk melihat siapa pria itu.
Pria sekitar 50 tahunan menunggunya diluar rumah, pria berjubah hitam tadi memberi salam padanya.
"Salam.." kata pria itu,
"Bagaimana?" Tanya pria yang duduk itu.
"Putra Mahkota sudah sadar."
"Hmm SIALAN! Bagaimana dia bisa selamat dari jebakanmu itu huh?" Pria itu bediri menahan amarahnya.
"Tenang saja, dia belum tahu dimana letak pedang itu berada." Pria berjubah tadi menunduk.
"TAPI SESEGERA MUNGKIN DIA PASTI AKAN MENGETAHUINYA KEPARAT!" Pria itu mengatur nafasnya yang menggebu, emosinya meledak-ledak.
"Tenang saja, aku akan mengatasinya dengan baik." Kata Pria itu.
"Sudah seharusnya begitu, kau berhutang padaku. balas lah walau harus dengan nyawamu sekalipun!" Pria itu menatap orang berjubah tadi dengan tajam.
"Tentu saja." Pria itu kembali menunggangi kudanya. Terlihat sebuah pedang yang sarungnya terukir dengan cantik.
Pria itu menyeringai jahat sambil menunggangi kudanya.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞Arlingga✿꙳❂͜͡✯࿐
Done...
2022-12-05
1
Kangee
done👍
2022-12-05
2
Desya Tipasnuari
ih capek2
2022-10-27
4