Candrasa. masih mengamati pria tua bermahkota didepannya itu, dia nampak lusuh, keabadiannya adalah kutukan baginya. Setelah mendengar nama Dara dari mulut raja itu, Candrasa terkejut.
Dia tidak akan mudah percaya pada pria yang ada dihadapannya. Bagaimana pun dialah yang membawanya kesini dan Candrasa harus segera keluar dari alam gaib itu.
"Putriku bernama Dara," Sekali lagi Raja itu mempertegas perkataannya.
Candrasa menatap sorot matanya yang penuh kesedihan, itu tandanya dia tidak beebohong. Ibunya adalah putrinya yang dia maksud. Selama ini dia hanya tahu bahwa ibunya seorang yatim piatu saat bertemu ayahnya.
Itulah mengapa Pedang Kemukus kecil bisa bersinar saat ia genggam.
Pedang ini milik ibu.
Candrasa membatin.
Dia mengeluarkan pedang itu lagi dan menggenggamnya seolah ingin membuktikan bahwa dirinya memang keturunan langsung Raja terkutuk ini.
Kondisi tubuh Candrasa semakin melemah, tubuh itu kemungkinan hanya akan bertahan tidak lebih dari 3 hari. Begitupun jiwanya.
Candrasa dan Raja itu mengelilingi kerajaan miliknya. Suasana kerajaan itu begitu suram dengan dikelilingi kabut tebal.
"Aku sudah lama sekali berada didunia ini, aku lelah dan ingin pergi."
Candrasa menatap raja itu dengan iba, "Sudah bertahun-tahun aku terjebak disini." Kata Raja itu yang sekarang menghadao Candrasa dengan tajam.
"Katakan, darimana kau mendapatkan pedang kecil itu?" Raja itu mulai mengeluarkan kekuatan hitam dari telapak tangannya.
"Temanku.." Sebelum sampai menjerat Candrasa lagi, pria itu sudah menjawab pertanyaannya.
"Teman? Darimana di mendapatkannya?" Raja itu memiringkan kepala dan mencondongkan tubuhnya melihat Candrasa.
"Aku tidak tahu cerita lengkapnya," Candrasa agak gugup.
Raja itu berpikir, mungkin saja Pedang Kemukus nya telah dicuri oleh orang itu juga.
"Pedang itu belum ditangan orang yang tepat." Raja itu berjalan, entah kemana Raja itu akan membawa Candrasa.
"Maksud Yang Mulia?" Candrasa kebingungan, dia mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Kutukan padaku akan hilang saat pedang itu ditangan orang yang tepat, selama aku masih terjebak disini. Itu tandanya pedang itu sedang dimanfaatkan untuk kejahatan." Raja itu berjalan sambil memegang tangannya kebelakang.
"Maksud Yang Mulia. Pedang itu dicuri?" Candrasa membelalak.
"Pedang itu hilang bertahun-tahun lalu, sejak saat itu aku tidak punya kekuatan lain selain ilmu sihirku yang hanya bisa kugunakan ditempat ini. Aku terjebak disini bersama orang-orang istanaku." Raja itu menatap Candrasa.
"Bagaimana dengan wabah di Kerajaanku? Dan Iblis bayangan yang mulai muncul menyerang orang-orang di Amarata?" Candrasa dengan seksama menunggu jawaban pria tua itu.
Raja itu tertawa kecil, dia menggelengkan kepala.
"Ahh pasti ada yang lebih serakah dibanding aku, aku tidak punya kekuatan lagi untuk memerintah para iblis bayangan yang berkeliaran diluar istana ini. Bahkan aku heran, mengapa kau bisa menembus portal ke dunia ini."
Candrasa melamun, dia masih mencerna setiap perkataan pria itu.
Jika bukan dia? Lalu siapa? Siapa yang membuatku masuk ke dunia ini? Apa aku terjebak juga? Bagimana dengan tubuhku? Apa semua gangguan yang aku alami saat mencari pedang itu juga dikirim oleh orang yang sama????
Banyak pertanyaan besar menghantui Candrasa, dia menghela nafas panjang. Mereka akhirnya sampai di suatu gerbang bercahaya.
"Tunjukan padaku pedangmu!" Kata Raja itu,
Candrasa mengeluarkan lagi Pedang Kemukus kecilnya, dia menggenggam itu dan menunjukannya pada Raja. Pria tua itu pun terkejut sekaligus terharu, itu tandanya Candrasa memang keturunannya langsung.
"Apa ibumu mempunyai rambut putih dibeberapa helai rambutnya? Apakah matanya sebiru lautan?" Raja itu mulai meneteskan air mata.
Candrasa mengangguk, "Ya, itu persis sepertiibuku. Dara"
Raja itu menangis, badannya yang sudah ringkih kesulitan menyeimbangkan tubuhnya. Sehingga Candrasa membantu pria itu menopang dirinya.
"Bagimana kabar putriku?" Tanya Raja itu sambil menatao Candrasa sedih.
"Ibu sudah tiada, dia mengalirkan sisa energinya ketubuhku."
Raja itu semakin larut dalam penyesalan, putri kesayangannya telah lebih dulu pergi meninggalkannya. Bahkan dia tidak tahu bagaimana wajah putrinya itu saat dewasa.
"Candrasa, cucuku. Carilah, Pedang Kemukus itu! Kau harus tahu pasti, orang yang mampu mengendalikan Pedang itu sudah pasti berilmu sihir tinggi. Tetap berhati-hatilah ! Aku mempercayaimu untuk memegang Pedang Pusaka itu Candrasa."
"Terimalah, tugas ku . Hanya kau yang mampu menghilangkan kutukan yang terjadi padaku, Kau adalah keturunanku. Kau yang lebih pantas menggunakan pedang itu. Dan satu pesanku, hancurkan ilmu hitam yang tertanam pada pedang itu, carilah dimana letaknya. Semoga kau berhasil, sekarang pergilah dari sini dan kembali ke tubuhmu. Aku merestuimu cucuku."
Candrasa berkaca-kaca, untuk saat ini dia merasa sedih karena harus berpisah dengan kakek yang baru dia temui. Tapi, jika Candrasa terus berada disini. Dia akan terjebak selamanya disana.
Candrasa memeluk raja itu, begitupun sebaliknya. Dengan air mata yang masih mengalir, raja itu menepuk pundak Candrasa.
Candrasa melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke gerbang bercahaya itu. Candrasa terpelanting mundur, rupanya ada yang memblok jalan masuk ketubuhnya.
Raja itu, pun terkejut dan membantu cucunya berdiri. "Apa itu kakek?" Tanya Candrasa.
"Tubuhmu di halangi kekuatan jahat. Tapi aku akan membantumu."
Raja itu mengalirkan energinya pada Candrasa, setelah itu Candrasa mencoba masuk ke gerbang itu lagi.
*
*
Disisi lain, Para petinggi kerajaan sedang berkumpul dan mengolok-olok hal yang sedang terjadi di kerajaan Amarata.
"Anak itu sangat gegabah, lihat saja hasilnya. Bukan pedang yang dia jemput, melainkan kematiannya sendiri hahahaha." Tawa jahat salah seorang dari mereka.
"Raja juga sama saja, kita tahu perkembangan anak itu memang pesat dalam ilmu pedang dan sihirnya, Tapi untuk mencari Pedang Kemukus secara langsung.... Itu terlalu berlebihan bukan?"
"Ya, kau benar. Bahkan salah satu dari kita tidak ada yang berhasil menemukan pedang itu." Mereka tertawa kecil sambil menatap satu sama lain sesama petinggi.
Yang lain mengangguk setuju. Tak lama terdengar suara langkah seseorang.
"BERANINYA KALIAN MENGOLOK-OLOK RAJA DAN PUTRA MAHKOTA!!"
Ternyata, itu adalah panglima perang Doha. Pria itu meletakkan pedangnya lalu duduk dibalai rapat para petinggi tadi.
"Melihat kerajaan Amarata yang sedang tidak stabil memang memprihatinkan, tapi menghina Raja dan Putra Mahkota adalah hal tercela. Apa kalian semua ingin dihukum mati?" Panglima perang menatap mereka tajam.
Semua orang hanya saling menatap, terlihat raut wajah tidak suka para petinggi itu.
"Hey panglima !! Daripada kita fokus mencari pedang itu, lebih baik kan kita fokus pada hal-hal lain." Panglima Doha menghela napas panjang, dia menggebrak meja dengan keras.
Brakk ..
"Tutup mulut kalian!"
"Keparat ! Beraninya kau memperlakukan kami seperti ini!!" ucap pemimpin kementrian persenjataan.
Dilain sisi, Raja Jira II masih menemani Candrasa. Candrasa bernafas dengan tenang, ini sudah hari ke tiga pria itu tidak sadarkan diri. Semua pengobatan sudah dilakukan, bahkan akupuntur dan perdukunan mu sudah dilakukan. Tapi , belum ada tanda-tanda pria itu akan bangun.
Raja Jira II keluar dari kamar tidur Candrasa, dia menemui para petinggi di balai rapat. Mereka akan membicarakan tentang kelangsungan kerajaan, Raja berencana untuk memberikan kekuasaan sementara pada adiknya Pangeran Mara selama Candrasa belum sadar.
Dia ingin mendampingi anak sematawayangnya itu, Raja baru saja sampai dan hendak duduk.
"Salam Yang Mulia," Kata semua orang disana.
Terlihat dari kejauhan, Seorang kasim berlari terbirit-birit ke balai itu.
"Ampun Yang Mulia. Pangeran Candrasa sudah sadar!"
Semua orang terbelalak begitupun Raja Jira II, dia langsung berjalan kembali ke Istana.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
〈⎳ Life of Muzu
"kasih dia teh manis" pinta sang raja
2022-10-19
3