Bab 18 : Iblis bayangan

Hanada berjalan kembali ke Kerajaan Nahdara, air matanya masih mengalir ke pipinya. Dia sambil menenteng kain yang diikat menjadi tas dan juga busur panahnya, melewati jalan Amarata.

Seseorang memanggilnya dengan keras, "Hanadaaa tunggu!" . Hanada jelas tahu suara siapa itu. Itu adalah suara Air. Air berlari menghampirinya dengan cepat sebelum wanita itu pergi jauh.

Air menarik lengan Hanada, seperti di film-film romantis. Hanada membalikan tubuhnya, dia masih menangis. "Kau berbohong?" itulah pertanyaan yang pertama kali dia tanyakan pada Hanada.

Wajar saja, jika Air merasa sangat dibohongin. Karena selama ini mereka selalu bersama. Walaupun niat Hanada bukan untuk membohongi kedua sahabatnya, melainkan agar dia bisa secara diam-diam tahu kebenaran tentang wabah di Amarata.

Hanada terisak, dia menatap Air dengan sendu. Sekuat apapun dia, dia tetaplah seorang wanita perasa. "Maafkan aku," hanya itu yang bisa dia ucapkan pada Air Mahendra.

Hanada bahkan tidak bisa membayangkan, jika Candrasa sadar dan tahu mengenai hal ini. Dia yakin, para sahabatnya itu akan meninggalkannya.

Secara refleks, Air menarik Hanada ke pelukannya. Pria itu menahan Hanada sebentar di dada bidang yang dia miliki. "Apapun alasan mu, aku percaya padamu."

Deg..

Hanada semakin menangis, bagaimana bisa sahabatnya itu masih sebaik ini. Setelah kebohongan yang dia miliki sejak awal, dia merasa semakin bersalah.

"Aku sudah menduganya sejak awal," Air menyeringai.

"Maksudmu?" Hanada terlihat kebingungan, saking kebingungannya wanita itu bahkan berhenti menangis.

Hanada melihat wajah Air, pria itu menyeka air mata Hanada. Lalu tertawa kecil, dia menjewer telinga Hanada sedikit.

"Sudah kuduga, mana ada rakyat biasa punya kuku yang terawat bagai seorang putri. Bahkan pakaian yang kau miliki, tidak seperti pakaian tradisional rakyat biasa Nahdara."

"Apa terlalu mencolok? Kalau begitu, besok aku akan menyamar lebih baik lagi." Hanada mengernyitkan dahi.

"Sudah terbongkar, kau tidak bisa menyemar lagi. Sekarang pergilah dengan hati-hati, kau bisa menemuiku kapanpun." Air membalikan tubuh Hanada lalu agak mendorong Hanada berjalan. Matanya tidak bisa dibohongi, walaupun pria itu menyuruh Hanada pergi tapi dia terlihat sedih.

Hanada berjalan sambil melambaikan tangan, lalu dia berhenti lagi sejenak.

"Air .... Jika Candrasa, sudah sadar tolong sampaikan semua padanya. Juga, permintaan maafku pada pria itu." Hanada menunduk.

"Tentu, kau tidak perlu khawatir." Air tahu, Hanada sangat mencemaskan Candrasa. Sorot matanya mengartikan itu semua, persahabatan mereka tulus adanya.

Walaupun, Hanada menutupi identitasnya bukan berarti dia tidak tulus.

Hanada melanjutkan perjalanannya ke Nahdara. Sebenarnya jarak kesana tidak terlalu jauh. Hanya saja ada sungai yang membatasi dan juga jembatan penghubung kedua kerajaan itu. Siapapun yang keluar masuk dari sana harus benar-benar ada tujuan.

Kini Hanada sudah resmi keluar dari akademi sihir, artinya dia bisa menggunakan kekuatannya diluar. Hanada berjalan sampai matahari tepat di atas kepalanya, rupanya preman yang sewaktu itu menghadangnya sudah mengikutinya dari belakang. Preman itu penasaran, kemana perginya Hanada.

Setelah tahu Hanada menuju Nahdara, preman itu benar-benar kesal karena merasa telah dibohongi. Diperbatasan mereka langsung menghadang Hanada.

Kali ini Hanada tidak bisa berharap pada siapapun, bahkan pada Candrasa maupun Air. Tapi, ini lah saat yang di nantikan.

Hanada tertawa kecil, akhirnya dia akan menunjukan aksi yang sesungguhnya pada mereka. Hanada menjatuhkan tasnya , tapi mengeratkan busur dan panahnya ke lengan kirinya.

"Kau sendirian? Nona, seingatku urusan kita belum selesai. Ah iya rupanya kau benar-benar seorang Nahdara. Hahaha" Pria itu bersama komplotannya tertawa terbahak.

Hanada melakukan ancang-ancang, dia memajukan satu langkah kaki kanan nya. Lalu, mengambil satu busur nya dan melakukan gerakan memutar satu kali. Hanada, menggunakan elemen udara, panah bercahaya yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk dari partikel udara.

Hanada menyeringai, "Aku menunggu kalian menyerang."

"Kau menantang kami? Keparat !" Para preman itu tidak senang dengan seringaian Hanada yang mengolok mereka.

Komplotan preman itu mencoba mengeroyok Hanada, dengan mengangkat pedang mereka berlari ke arah Hanada.

Hanada, mundur selangkah. Dia melepaskan panah bercahaya itu dari busurnya, sebelum mereka mendekati dirinya.

Boommm !!

Semuanya terpental sejauh 2 meter, tapi tidak cukup sampai disitu. Ketua preman itu dengan sekuat tenaga mencoba bangun dan meraih pedangnya lagi, dia mengangkat pedangnya ke arah Hanada.

Dengan sigap, Hanada menghindar ke kiri, dia langsung menendang punggung pria itu sampai tersungkur ke sebuah gerobak berisikan kentang.

Orang-orang disana hanya bisa menyaksikan aksi mereka, seorang lagi maju secara tiba-tiba menyerang Hanada, kali ini dia terkena sayatan pedang di lengan kirinya.

Hanada menoleh dengan tajam, dia mengambil satu panahnya dan melempar itu tanpa busur ke pria tadi.

"Awww!" Teriak pria itu, panah Hanada menancap tepat sasaran di bahu sebelah kanan pria yang menyayatnya.

Karena kondisi mereka ada di perbatasan, akhirnya para penjaga kerajaan Nahdara mendapat laporan dari warga sekitar. Sehingga para penjaga langsung pergi ketempat itu.

"PUTRI HANADA !" Ucap salah seorang yang mengenalinya.

Mereka memberi hormat, kali ini Hanada mundur. Dia segera memberi aba-aba pada penjaga, untuk menangkap komplotan preman itu dengan cara menoleh ke arah mereka.

Para penjaga mengangguk, mereka langsung mengambil setiap pedang dari sarung pedang yang mereka miliki.

"Serang !" Kata seorang penjaga.

Para penjaga itu langsung menyerang komplotan preman yang merasahkan warga dan juga yang telah menyakiti Hanada.

Salah seorang penjaga membawa wanita itu masuk ke wilayah Nahdara. Hanada dengan sigap merobek bagian pakaiannya lalu mengikat lengannya yang terluka, sehingga menghambat aliran darah keluar.

"Putri harus segera di obati."

Hanada dan penjaga itu pergi ke kerajaan dengan menunggangi kuda, Hanada menunggangi kuda milik penjaga yang lain. Dia segera pergi ke kerajaam utama, untuk menemui ayahnya.

*

*

Disisi lain, Candrasa mendengarkan setiap hal yang disampaikan Raja Iblis itu. Hari sudah gelap disana, Candrasa tidak merasakan lelah, ngantuk atau apapun di alam itu.

"Hanya keturunanku langsung lah yang bisa membuat pedang kecil itu bercahaya." Ucap iblis itu secara tiba-tiba.

Raja itu, menoleh ke arah Candrasa.

"Dahulu kala, aku punya seorang putri yang saaangat cantik. Aku sangat bahagia menjadi ayahnya, putriku yang lemah lembut itu sangat mirip sekali dengan ibunya. Aku menghadiahkan pedang itu untuk ulang tahunnya yang ke 7."

Raja itu terlihat berkaca-kaca, Candrasa hanya menatapnya dengan seksama.

Jika pedang itu hanya bisa bercahaya saat di pegang oleh keturunannya langsung, apa aku adalah..... Keturunannya?

Candrasa membatin, pria itu ingin tahu apakah dia terikat dengan pedang kemukus kecil dan apakah Raja didepannya inilah yang menyebabkan wabah di Amarata?

"Setelah ada pedang itu, aku menjadi kurang memperhatikannya. Yang ada dipikiranku hanyalah memperluas wilayah dan memperkuat kekuasaanku saja. Sehingga dia merasa sedih, sampai pada akhirnya aku melakukan hal-hal keji pada rakyat yang tak bersalah itu."

"Aku membakar wilayah yang ingin ku kuasai, sampai aku tidak mempedulikan apakah ada manusia disana. Aku membakar habis wilayah-wilayah itu. Aku melihat gadis kecilku, menatap dengan penuh rasa takut pada ayahnya."

"Dara ku ...." Raja itu menangis.

Saat mendengar nama ibunya, Candrasa membelalak.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Kangee

Kangee

🥀 empat

2022-12-05

2

Aquairee

Aquairee

typo thor

2022-10-24

6

〈⎳ Life of Muzu

〈⎳ Life of Muzu

pedangnya sulit dibaca

2022-10-17

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!