Hanada berjalan kembali ke Kerajaan Nahdara, air matanya masih mengalir ke pipinya. Dia sambil menenteng kain yang diikat menjadi tas dan juga busur panahnya, melewati jalan Amarata.
Seseorang memanggilnya dengan keras, "Hanadaaa tunggu!" . Hanada jelas tahu suara siapa itu. Itu adalah suara Air. Air berlari menghampirinya dengan cepat sebelum wanita itu pergi jauh.
Air menarik lengan Hanada, seperti di film-film romantis. Hanada membalikan tubuhnya, dia masih menangis. "Kau berbohong?" itulah pertanyaan yang pertama kali dia tanyakan pada Hanada.
Wajar saja, jika Air merasa sangat dibohongin. Karena selama ini mereka selalu bersama. Walaupun niat Hanada bukan untuk membohongi kedua sahabatnya, melainkan agar dia bisa secara diam-diam tahu kebenaran tentang wabah di Amarata.
Hanada terisak, dia menatap Air dengan sendu. Sekuat apapun dia, dia tetaplah seorang wanita perasa. "Maafkan aku," hanya itu yang bisa dia ucapkan pada Air Mahendra.
Hanada bahkan tidak bisa membayangkan, jika Candrasa sadar dan tahu mengenai hal ini. Dia yakin, para sahabatnya itu akan meninggalkannya.
Secara refleks, Air menarik Hanada ke pelukannya. Pria itu menahan Hanada sebentar di dada bidang yang dia miliki. "Apapun alasan mu, aku percaya padamu."
Deg..
Hanada semakin menangis, bagaimana bisa sahabatnya itu masih sebaik ini. Setelah kebohongan yang dia miliki sejak awal, dia merasa semakin bersalah.
"Aku sudah menduganya sejak awal," Air menyeringai.
"Maksudmu?" Hanada terlihat kebingungan, saking kebingungannya wanita itu bahkan berhenti menangis.
Hanada melihat wajah Air, pria itu menyeka air mata Hanada. Lalu tertawa kecil, dia menjewer telinga Hanada sedikit.
"Sudah kuduga, mana ada rakyat biasa punya kuku yang terawat bagai seorang putri. Bahkan pakaian yang kau miliki, tidak seperti pakaian tradisional rakyat biasa Nahdara."
"Apa terlalu mencolok? Kalau begitu, besok aku akan menyamar lebih baik lagi." Hanada mengernyitkan dahi.
"Sudah terbongkar, kau tidak bisa menyemar lagi. Sekarang pergilah dengan hati-hati, kau bisa menemuiku kapanpun." Air membalikan tubuh Hanada lalu agak mendorong Hanada berjalan. Matanya tidak bisa dibohongi, walaupun pria itu menyuruh Hanada pergi tapi dia terlihat sedih.
Hanada berjalan sambil melambaikan tangan, lalu dia berhenti lagi sejenak.
"Air .... Jika Candrasa, sudah sadar tolong sampaikan semua padanya. Juga, permintaan maafku pada pria itu." Hanada menunduk.
"Tentu, kau tidak perlu khawatir." Air tahu, Hanada sangat mencemaskan Candrasa. Sorot matanya mengartikan itu semua, persahabatan mereka tulus adanya.
Walaupun, Hanada menutupi identitasnya bukan berarti dia tidak tulus.
Hanada melanjutkan perjalanannya ke Nahdara. Sebenarnya jarak kesana tidak terlalu jauh. Hanya saja ada sungai yang membatasi dan juga jembatan penghubung kedua kerajaan itu. Siapapun yang keluar masuk dari sana harus benar-benar ada tujuan.
Kini Hanada sudah resmi keluar dari akademi sihir, artinya dia bisa menggunakan kekuatannya diluar. Hanada berjalan sampai matahari tepat di atas kepalanya, rupanya preman yang sewaktu itu menghadangnya sudah mengikutinya dari belakang. Preman itu penasaran, kemana perginya Hanada.
Setelah tahu Hanada menuju Nahdara, preman itu benar-benar kesal karena merasa telah dibohongi. Diperbatasan mereka langsung menghadang Hanada.
Kali ini Hanada tidak bisa berharap pada siapapun, bahkan pada Candrasa maupun Air. Tapi, ini lah saat yang di nantikan.
Hanada tertawa kecil, akhirnya dia akan menunjukan aksi yang sesungguhnya pada mereka. Hanada menjatuhkan tasnya , tapi mengeratkan busur dan panahnya ke lengan kirinya.
"Kau sendirian? Nona, seingatku urusan kita belum selesai. Ah iya rupanya kau benar-benar seorang Nahdara. Hahaha" Pria itu bersama komplotannya tertawa terbahak.
Hanada melakukan ancang-ancang, dia memajukan satu langkah kaki kanan nya. Lalu, mengambil satu busur nya dan melakukan gerakan memutar satu kali. Hanada, menggunakan elemen udara, panah bercahaya yang sedikit demi sedikit mulai terbentuk dari partikel udara.
Hanada menyeringai, "Aku menunggu kalian menyerang."
"Kau menantang kami? Keparat !" Para preman itu tidak senang dengan seringaian Hanada yang mengolok mereka.
Komplotan preman itu mencoba mengeroyok Hanada, dengan mengangkat pedang mereka berlari ke arah Hanada.
Hanada, mundur selangkah. Dia melepaskan panah bercahaya itu dari busurnya, sebelum mereka mendekati dirinya.
Boommm !!
Semuanya terpental sejauh 2 meter, tapi tidak cukup sampai disitu. Ketua preman itu dengan sekuat tenaga mencoba bangun dan meraih pedangnya lagi, dia mengangkat pedangnya ke arah Hanada.
Dengan sigap, Hanada menghindar ke kiri, dia langsung menendang punggung pria itu sampai tersungkur ke sebuah gerobak berisikan kentang.
Orang-orang disana hanya bisa menyaksikan aksi mereka, seorang lagi maju secara tiba-tiba menyerang Hanada, kali ini dia terkena sayatan pedang di lengan kirinya.
Hanada menoleh dengan tajam, dia mengambil satu panahnya dan melempar itu tanpa busur ke pria tadi.
"Awww!" Teriak pria itu, panah Hanada menancap tepat sasaran di bahu sebelah kanan pria yang menyayatnya.
Karena kondisi mereka ada di perbatasan, akhirnya para penjaga kerajaan Nahdara mendapat laporan dari warga sekitar. Sehingga para penjaga langsung pergi ketempat itu.
"PUTRI HANADA !" Ucap salah seorang yang mengenalinya.
Mereka memberi hormat, kali ini Hanada mundur. Dia segera memberi aba-aba pada penjaga, untuk menangkap komplotan preman itu dengan cara menoleh ke arah mereka.
Para penjaga mengangguk, mereka langsung mengambil setiap pedang dari sarung pedang yang mereka miliki.
"Serang !" Kata seorang penjaga.
Para penjaga itu langsung menyerang komplotan preman yang merasahkan warga dan juga yang telah menyakiti Hanada.
Salah seorang penjaga membawa wanita itu masuk ke wilayah Nahdara. Hanada dengan sigap merobek bagian pakaiannya lalu mengikat lengannya yang terluka, sehingga menghambat aliran darah keluar.
"Putri harus segera di obati."
Hanada dan penjaga itu pergi ke kerajaan dengan menunggangi kuda, Hanada menunggangi kuda milik penjaga yang lain. Dia segera pergi ke kerajaam utama, untuk menemui ayahnya.
*
*
Disisi lain, Candrasa mendengarkan setiap hal yang disampaikan Raja Iblis itu. Hari sudah gelap disana, Candrasa tidak merasakan lelah, ngantuk atau apapun di alam itu.
"Hanya keturunanku langsung lah yang bisa membuat pedang kecil itu bercahaya." Ucap iblis itu secara tiba-tiba.
Raja itu, menoleh ke arah Candrasa.
"Dahulu kala, aku punya seorang putri yang saaangat cantik. Aku sangat bahagia menjadi ayahnya, putriku yang lemah lembut itu sangat mirip sekali dengan ibunya. Aku menghadiahkan pedang itu untuk ulang tahunnya yang ke 7."
Raja itu terlihat berkaca-kaca, Candrasa hanya menatapnya dengan seksama.
Jika pedang itu hanya bisa bercahaya saat di pegang oleh keturunannya langsung, apa aku adalah..... Keturunannya?
Candrasa membatin, pria itu ingin tahu apakah dia terikat dengan pedang kemukus kecil dan apakah Raja didepannya inilah yang menyebabkan wabah di Amarata?
"Setelah ada pedang itu, aku menjadi kurang memperhatikannya. Yang ada dipikiranku hanyalah memperluas wilayah dan memperkuat kekuasaanku saja. Sehingga dia merasa sedih, sampai pada akhirnya aku melakukan hal-hal keji pada rakyat yang tak bersalah itu."
"Aku membakar wilayah yang ingin ku kuasai, sampai aku tidak mempedulikan apakah ada manusia disana. Aku membakar habis wilayah-wilayah itu. Aku melihat gadis kecilku, menatap dengan penuh rasa takut pada ayahnya."
"Dara ku ...." Raja itu menangis.
Saat mendengar nama ibunya, Candrasa membelalak.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Kangee
🥀 empat
2022-12-05
2
Aquairee
typo thor
2022-10-24
6
〈⎳ Life of Muzu
pedangnya sulit dibaca
2022-10-17
2