Hanada menemani Candrasa bermalam disana, dia menekuk lutut dan menelungkupkan kepalanya. Dia menghela nafas panjang, lalu memeriksa keadaan Candrasa. Tangan pria itu semakin dingin. Dia benar-benar seperti mayat sekarang.
Tapi nafas nya masih teratur, nadinya memang agak melemah. Hanada merebahkan tubuhnya dipasir putih pantai itu.
Jiwa Candrasa masih menikmati waktu makan siangnya bersama Raja Iblis itu, disana waktu terasa sangat lama.
"Apa tujuanmu menemuiku?" Raja Iblis itu menatap Candrasa.
"Aku ingin tahu tentang Pedang Kemukus." Kata Candrasa.
"Kau tertarik pada Kemukus?" Raja itu menyeringai, dia menatap Candrasa. Menurutnya pria ini cocok dia jadikan sebagai penggantinya.
Jamuan makan siang begitu terasa lama, para pelayan yang ada di Istana itu hanya berdiri kaku disekitar mereka. Candrasa sambil memikirkan cara untuk keluar dari tempat itu.
Dia tahu, jika jiwanya ada disini kemungkinan tubuhnya masih ada dipantai itu. Ternyata, inilah yang dimaksud kerajaan tak kasat mata. Menurut Candrasa, orang didepannya ini adalah orang yang paling berbahaya. Karena, dia bisa saja terkurung dari tempat itu selamanya.
Pasukan Raja Jira II telah sampai di hutan terlarang. Karena hari sudah semakin larut mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat disana. Tidak ada gangguan apapun malam itu, seolah hutan itu tidak lah semistis yang di rumorkan.
Hanada berbaring disamping Candrasa, dia mulai mengingat saat dia mulai akrab dengan pria ini pertama kali.
KILAS BALIK...
Saat itu, Hanada sedang ditugakan untuk menyapu halaman Jaroga. Kebetulan di sore hari waktu itu anginnya sangat kencang, sebenarnya Handa sudah beberapa kali bertemu dengan Candrasa. Terlebih, dia sudah lebih dulu berteman dengan Air.
Hanada kesal karena kotoran yang sudah dia sapu kembali berantakan karena angin, dari kejauhan ternyata Candrasa memperhatikan wanita itu. Candrasa tertawa kecil diatas pepohonan yang dia naiki, melihat kegemasan ekspresi Hanada yang kesal.
Hanada yang tahu akan keberadaan seseorang, langsung mengepakan sapu lidinya ke arah Candrasa. Seharusnya, Candrasa tidak terganggu dengan hal itu. Namun karena gerakan Hanada yang mengejutkannya, dia akhirnya terjatuh dari pohon.
Hanada menertawai Candrasa dengan puas, dia hanya melihat pria itu tanpa menolongnya. Seketika, Guru Manta lewat. Dia melihat Hanada yang menertawakan Putra Mahkota mereka, Guru Manta langsung menegur Hanada.
"Hanada! Jaga sikapmu !" Guru Manta menghampiri Candrasa,
"Kau tidak apa-apa Yang Mulia?" Guru Mantan membantu membangunkan Candrasa kecil.
"Aku baik-baik saja.." Candrasa tersenyum,
"Hanada!" Guru Manta membuyarkan tatapan Hanada yang terfokus pada Candrasa.
"Cepat bawa Putra Mahkota ke Jaroga dan tolong, obati lukanya!" Perintah Guru Manta.
"Baik Guru." Hanada menghampiri Candrasa, lalu membantunya berjalan, lutut kaki pria itu berdarah sedikit.
"Maafkan aku." Kata Hanada sambil menoleh ke arah Candrasa.
"Tidak apa-apa, harusnya .. Aku yang meminta maaf. Aku menertawaimu tadi." Candrasa menunduk.
Mereka berdua masuk ke Jaroga. Hanada segera membuat ramuan obat luka dari dedaunan yang ada disana.
Sebenarnya. Hanada sering membantu para tabib di Jaroga. Sehingga dia tahu obat apa yang harus dipakai untuk luka Candrasa. Setelah menumbuk dedaunan itu, Hanada meletakkannya di lutut Candrasa yang terluka.
"Aw.." Candrasa agak meringis,
"Huhhh ini hanya luka kecil, paling beberpaa jam sudah kering dan sembuh. Dulu, aku bahkan pernah terkena panah yang meleset dibagian tangan kiriku." Hanada menunjukan luka yang ada pada tangan kirinya.
Candrasa tersenyum melihat Hanada, sejak saat itu mereka mulai akrab. Sering berkumpul bersama di luar Jaroga, bertiga dengan Air. Hanada sangat menyayangi para sahabatnya itu. Mereka adalah teman pertama dan kedua Hanada.
KILAS BALIK SELESAI....
*
Keesokan paginya....
Pasukan Raja Jira II kembali melanjutkan perjalanannya mencari Candrasa. Ditengah perjalanan, merka bertemu Air. Panglima perang yang terkejut, langsung memeluk anaknya.
"Ayah.." Kata Air.
"Air, ada apa? Kenapa kau disini?" Tanya Panglima Perang agak panik.
"Dimana Candrasa?" Raja Jira IJ mendekat dengan kuda yang dia tumpangi.
"Candrasa...." Air berhenti bicara.
"Bagaimana dengan Candrasa, Air?" Guru Wija menatap Air dan menunggu jawabannya.
"Candrasa tidak sadarkan diri."
Pernyataan Air membuat semua orang terbelalak, mereka semua langsung mencari Candrasa sesuai arahan jalan dari Air. Jalan kali ini tidak ada gangguan apapun,
Air ikut bersama ayahnya dikudanya.
"Kenapa kau kabur dari Akademi?" Tanya Panglima Doha pada Air.
"Ayah tahu.. Aku tidak bisa membiarkan sahabatku pergi mencari pedang pusaka yang terkutuk itu sendiri."
Panglima Doha tertawa kecil, dia merasa bangga pada anaknya.
"Kau memang anakku." Kata Panglima Doha.
Jujir saja, Air juga kebingungan bagamana bisa jalan mereka tidak ada gangguan apapun. Bukan karena dia tidak bersyukur, tapi karena perbedaan yang sangat jauh saat dirinya dan Candrasa melewati Hutan itu.
Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di perbatasan laut Utara. Mereka melihat Candrasa yang sedang ditemani Hanada.
"Hanada." Air menghampiri Hanada, wanita itu langsung berdiri dan berjalan ke arah Air.
"Candrasa sudah sadar?" Air menatap Hanada lekat.
Hanada hanya mengangguk, dia merasakan kesedihan yang mendalam. Raja Jira II turun dari kudanya, berjalan ke arah Candrasa, dia menangis melihat Putra sematawayangnya dalam kondisi Vegetatif.
"Candrasa, Anakku...." Raja Jira II bersimpuh disamping Candrasa. Dia menangis melihat anaknya yang semakin pucat.
Guru Wija menatap mereka dengan sendu, dia juga meneteskan air mata. Melihat kondisi Candrasa yang memprihatinkan, semua orang ikut sedh.
Setelah itu, para prajurit menaikan Candrasa ke kereta kecil kuda milik mereka. Hanada ikut didalam sana, dia masih menemani Candrasa. Perjalanan mereka harus menyita waktu lebih lama, karena kondisi Candrasa dengan kereta kuda itu.
Tapi sama seperti hari sebelumnya, saat itu tidak ada gangguan apapun yang mereka alami.
Mereka beristirahat beberapa kali untuk makan dan mencari bahan makanan yang bisa dimasak. Sampai mereka menginap lagi di hutan terlarang itu.
*
*
Dilain sisi, Jiwa Candrasa masih berkutat di meja makan itu. Sekarang para pelayan membawakan Makanan yang sangat lezat dan menggugah selera.
"Makanlah Candrasa!" Kata Raja Iblis itu
"Ya." Candrasa mengangguk, dia mengambil satu buah roti. Tetap saha rasanya hambar, ini hanya bagian dari jiwa dan alam bawah sadarnya.
Candrasa mengingat ucapan Hanada tentang identitas aslinya. Pria itu belum mengerti, kenapa Hanada harus berbohong untuk menutupi itu semua.
"Jika kau tertarik dengan pedang itu, gabunglah bersama kami. Aku sedang membutuhkan penggantiku. Hahaha, kau bisa menikmati semua yang ada disini." Raja itu tertawa, dia dengan bangga memamerkan istana menyeramkan itu.
Candrasa sama sekali tidak tertarik, dia hanya harus tahu dimana Raja Iblis menyimpan Pedang Kemukusnya. Candrasa akan mencuri itu. Tapi dia masih belum menemukan jawaban untuk pergi dari sana.
"Aku tidak bisa!" Pernyataan Candrasa pun membuat iblis itu marah.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Aquairee
pinter Hanada
2022-10-24
5
DMus
Saya pikir Candrasa sdh sadar, eh sekalinya blm.
2022-10-15
4