Air berjalan menyusuri Hutan terlarang, untunglah dia tidak mendapatkan gangguan apapun. Dia berjalan terus sambil mengingat jalan yang pernah dia lalui. Mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 10 jam untuk sampai ke Amarata atau ke Akademi Sihir.
Dilain sisi, Raja Jira II, Guru Wija, Panglima Perang dan beberapa pasukan dari Kerajaan juga Akademi Sihir mulai berjalan ke Hutan terlarang. Mereka menunggangi kuda-kudanya dengan cepat berharap mereka cepat sampai dan bisa menemukan Candrasa.
Di tengah perjalannanya masuk ke Hutan Terlarang, pasukan Raja Jira II dan Guru Wija dihadang oleh beberapa iblis bayangan. Mengganggu para prajurit sampai mereka terpingkal dari kuda yang mereka tunggangi.
Panglima perang dengan sigap menghadang mereka agar tidak menyakiti Raja. Perkelahian sengit dengan bayangan iblis itu pun dimulai. Mereka sulit dikalahkan karena bisa menghilang dan terbang kemanapun.
...(Gambaran Iblis bayangan)...
Guru Wija membantu dengan mengeluarkan ilmu sihirnya, panglima perang berusaha menghunuskan pedang pada ke lima iblis bayangan.
Para murid Akademi Sihir hanya memperhatikan, karena ini pertama kali mereka melihat pasukan iblis bayangan menyerang.
*
*
Hanada tertidur disamping Candrasa, dia merasa lapar dan haus. Tapi dia tidak mungkin meminum air laut. Dilihatnya botol minum Candrasa yang mengait ke tali dipinggangnya. Hanada meraih botol itu secara perlahan, memeriksa apa botol itu terisi air.
Ternyata masih tersisa sedikit air disana, Hanada langsung meminumnya sedikit dan menyisakan air itu. Hanada meraih panah yang dia letakkan di sampingnya. Dia berdiri sambil menatap ke arah langit.
"Aneh, tidak ada burung yang lewat disini." Hanada memicingkan matanya karena panas matahari menyorot.
Dia kemudian menatap hamparan lautan biru yang tak berujung,
Aku harus tetap bertahan hidup di kondisi seperti ini.
Hanada membatin. Dia menoleh ke arah Candrasa lalu berlutut didekatnya.
"Aku mencari ikan dulu."
Hanada kembali berdiri lalu mencari ranting untuk di kaitkan dengan anak panahnya, setelah merakit tombak Hanada mendekat ke arah laut. Wanita itu melepas baju luarannya, lalu mulai membawa senjatanya untuk menombak ikan. Dia berjalan perlahan ke tengah laut, sampai menutupi setengah badannya, dia mulai berenang dengan alat seadanya.
*
*
Candrasa sedang menatap Raja itu tajam, tiba-tiba candrasa mendengar suara bisikan halus diteilnganya.
"Aku mencari ikan dulu."
Candrasa terkesiap, dia kebingungan dari mana suara itu berasal. Dia melirik tajam Raja itu, dia yakin sekarang.
Ini pasti Kerajaan Iblis Bayangan.
Jiwaku dibawa oleh mereka, bagaimana dengan tubuhku?
Apa aku sudah mati? Aku jelas mendengar suara Hanada tadi.
Apa dia sedang bersamaku sekarang?
Candrasa dipenuhi dengan tanda tanya, dia harus bersikap baik pada iblis bayangan. Jika tidak dia tidak akan bisa kembali ke tubuhnya.
"Kau nampak seperti Raja yang Alim!"
"Hahaha tentu saja aku adalah seorang Raja yang Alim dan Bijak" Pria paruh baya itu membanggakan dirinya dengan membentangkan tangannya tinggi-tinggi.
"Namaku, Candrasa. Aku seorang Putra Mahkota!" Raja itu berhenti tersenyum, lalu menatap Candrasa.
"Putra Mahkota? Hahaha Aku sudah tahu itu. Maka dari itu aku menyambutmu datang kesini . Biasanya aku tidak membiarkan seorang pun menginjakkan kaki di wilayahku!" Raja itu tertawa terbahak.
"Kau tidak menyeramkan seperti yang aku bayangkan." Candrasa masih melirik Raja itu, dia tidak punya pilihan lain selain mencoba bersikap baik padanya. Kekuatannya tidak berfungsi disini. Akan sia-sia jika dia mencoba melawan. Dia bisa saja terbunuh ditempat itu.
"Tentu saja, Aku bukan pria menyeramkan. Aku adalah Raja tertampan sepanjang sejarah."
Ck... Kau hanya belum menunjukan sisi gelapmu saja.
Candrasa menunduk sambil tertawa kecil, Raja itu langsung menatap Candrasa tajam.
"Kau menertawakanku?"
"Tidak Yang Mulia, aku hanya sedang menertawakan kekeliruanku saja." Candrasa menyeringai, matanya masih melirik Pria paruh baya itu dengan tajam.
"Melihat kegigihanmu, aku teringat dengan aku yang dulu. Dahulu, aku sama tampannya seperti mu. Aku bertekad untuk menjadi orang yang sempurna dengan melakukan apapun!" Raja itu mendongakan kepala seperti sedang mengenang sesuatu.
"Aku tidak berambisi menjadi sempurna, aku hanya ingin kesejahteraan bagi rakyatku. Apakah kutukan itu benar adanya?" Candrasa mulai mengorek informasi mengenai kutukan dan Pedang Kemukus.
"Kutukan? Itu bukan kutukan, itu adalah anugerah untukku. Dengan itu aku bisa hidup abadi dan menjadi yang terkuat."
.*
*
Hanada masih mencari ikan di kedalaman dua meter, dia masih belum melihat satu pun ikan yang berenang. Dia terus mencarinya sambil sesekali kembali ke permukaan untuk mengatur nafasnya.
Akhirnya dia menemukan satu ikan yang berenang, dia langsung melempar tombaknya dan tepat mengani ikan itu. Hanada mengambilnya, lalu dia berenang kembali ke permukaan.
"Akhirnya, ini cukup untukku" Dia tersenyum, dan kembali berenang menuju daratan sambil membawa ikan yang sudah dia tangkap.
Hanada sudah keluar dari air, lalu meraih baju luarannya. Berjalan mendekati Candrasa yang masih belum sadarkan diri. Hanada menaruh bajunya dia samping Candrasa.
Sekarang, dia mulai membersihkan ikan itu dan menyusun beberapa ranting untuk dijadikan bahan pembakaran. Hanada menutup matanya mulai mengalirkan energi ke tangannya.
Kelima jari tangannya mengeluarkan api, dia sudah mencapai elemen api sejak 2 tahun lalu. Tapi dia menutupi itu semua dari semua orang. Bahkan dari sahabatnya.
Hanada mulai mengarahkan api itu ke ranting-ranting tadi, dan menaruh ikan diatas penopang ranting yang dia buat. "Kapan kau akan bangun? Ck kau tidur lama sekali Candrasa. Maaf aku tidak memberitahu mu soal elemen api yang sudah ku kuasai. Sebenarnya... aku sudah menguasai ketiga elemen."
Hanada menunduk seakan dia sedang mengobrol bersama Candrasa yang masih tertidur, Hanada tidak tahu, bahwa alam bawah sadar Candrasa sedang aktif. Dia bisa mendengar semua yang Hanada bicarakan padanya.
"Dan maaf juga, telah berkata bohong soal identitasku. Huft kenapa aku jadi merasa bersalah begini. Jika kau sampai mati sebelum tahu kebenarannya. Aku pasti akan sangat menyesal. Aku berjanji jika kau bangun nanti, aku akan mengatakan yang sejujurnya mengenai diriku."
Hanada menunduk sambil menunggu ikannya matang, Dia menelungkupkan kepalanya.
"Bagaimana kabar ayah?" Sudah lumayan lama dia tidak bertanya kabar tentang ayahnya itu, bahkan dia tidak memberi kabar pada Raja Nahda tentang kepergiannya ke Hutan Terlarang. Jika ayahnya tahu, sudah pasti dia tidak akan diijinkan pergi.
Air yang masih menyusuri hutan, berjalan samhil menebas dedaunan didepannya. Dia berhenti sejenak, menghela nafas panjang.
"Andai aku bisa terbang." sambil mengatur nafasnya.
Dia berjalan lagi menuju Amarata.
Dilain sisi, Guru Wija dan Panglima Perang berhasil membuat pasukan iblis kabur. Mereka memulai perjalanannya lagi.
Entahlah apa itu benar-benar sebuah serangan, atau hanya pengalihan untuk mereka? Kondisi Candrasa semakin melemah. Dia harus segera dibawa menjauh dari wilayah Iblis Bayangan itu.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Optimuscrime 🦊
maunya rebus.....
2022-10-13
2
〈⎳ Life of Muzu
up dong Thor, pliiss, nanti kita goreng telur ayam
2022-10-13
4