Bab 15 : Menjemput Candrasa

Air berjalan menyusuri Hutan terlarang, untunglah dia tidak mendapatkan gangguan apapun. Dia berjalan terus sambil mengingat jalan yang pernah dia lalui. Mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 10 jam untuk sampai ke Amarata atau ke Akademi Sihir.

Dilain sisi, Raja Jira II, Guru Wija, Panglima Perang dan beberapa pasukan dari Kerajaan juga Akademi Sihir mulai berjalan ke Hutan terlarang. Mereka menunggangi kuda-kudanya dengan cepat berharap mereka cepat sampai dan bisa menemukan Candrasa.

Di tengah perjalannanya masuk ke Hutan Terlarang, pasukan Raja Jira II dan Guru Wija dihadang oleh beberapa iblis bayangan. Mengganggu para prajurit sampai mereka terpingkal dari kuda yang mereka tunggangi.

Panglima perang dengan sigap menghadang mereka agar tidak menyakiti Raja. Perkelahian sengit dengan bayangan iblis itu pun dimulai. Mereka sulit dikalahkan karena bisa menghilang dan terbang kemanapun.

...(Gambaran Iblis bayangan)...

Guru Wija membantu dengan mengeluarkan ilmu sihirnya, panglima perang berusaha menghunuskan pedang pada ke lima iblis bayangan.

Para murid Akademi Sihir hanya memperhatikan, karena ini pertama kali mereka melihat pasukan iblis bayangan menyerang.

*

*

Hanada tertidur disamping Candrasa, dia merasa lapar dan haus. Tapi dia tidak mungkin meminum air laut. Dilihatnya botol minum Candrasa yang mengait ke tali dipinggangnya. Hanada meraih botol itu secara perlahan, memeriksa apa botol itu terisi air.

Ternyata masih tersisa sedikit air disana, Hanada langsung meminumnya sedikit dan menyisakan air itu. Hanada meraih panah yang dia letakkan di sampingnya. Dia berdiri sambil menatap ke arah langit.

"Aneh, tidak ada burung yang lewat disini." Hanada memicingkan matanya karena panas matahari menyorot.

Dia kemudian menatap hamparan lautan biru yang tak berujung,

Aku harus tetap bertahan hidup di kondisi seperti ini.

Hanada membatin. Dia menoleh ke arah Candrasa lalu berlutut didekatnya.

"Aku mencari ikan dulu."

Hanada kembali berdiri lalu mencari ranting untuk di kaitkan dengan anak panahnya, setelah merakit tombak Hanada mendekat ke arah laut. Wanita itu melepas baju luarannya, lalu mulai membawa senjatanya untuk menombak ikan. Dia berjalan perlahan ke tengah laut, sampai menutupi setengah badannya, dia mulai berenang dengan alat seadanya.

*

*

Candrasa sedang menatap Raja itu tajam, tiba-tiba candrasa mendengar suara bisikan halus diteilnganya.

"Aku mencari ikan dulu."

Candrasa terkesiap, dia kebingungan dari mana suara itu berasal. Dia melirik tajam Raja itu, dia yakin sekarang.

Ini pasti Kerajaan Iblis Bayangan.

Jiwaku dibawa oleh mereka, bagaimana dengan tubuhku?

Apa aku sudah mati? Aku jelas mendengar suara Hanada tadi.

Apa dia sedang bersamaku sekarang?

Candrasa dipenuhi dengan tanda tanya, dia harus bersikap baik pada iblis bayangan. Jika tidak dia tidak akan bisa kembali ke tubuhnya.

"Kau nampak seperti Raja yang Alim!"

"Hahaha tentu saja aku adalah seorang Raja yang Alim dan Bijak" Pria paruh baya itu membanggakan dirinya dengan membentangkan tangannya tinggi-tinggi.

"Namaku, Candrasa. Aku seorang Putra Mahkota!" Raja itu berhenti tersenyum, lalu menatap Candrasa.

"Putra Mahkota? Hahaha Aku sudah tahu itu. Maka dari itu aku menyambutmu datang kesini . Biasanya aku tidak membiarkan seorang pun menginjakkan kaki di wilayahku!" Raja itu tertawa terbahak.

"Kau tidak menyeramkan seperti yang aku bayangkan." Candrasa masih melirik Raja itu, dia tidak punya pilihan lain selain mencoba bersikap baik padanya. Kekuatannya tidak berfungsi disini. Akan sia-sia jika dia mencoba melawan. Dia bisa saja terbunuh ditempat itu.

"Tentu saja, Aku bukan pria menyeramkan. Aku adalah Raja tertampan sepanjang sejarah."

Ck... Kau hanya belum menunjukan sisi gelapmu saja.

Candrasa menunduk sambil tertawa kecil, Raja itu langsung menatap Candrasa tajam.

"Kau menertawakanku?"

"Tidak Yang Mulia, aku hanya sedang menertawakan kekeliruanku saja." Candrasa menyeringai, matanya masih melirik Pria paruh baya itu dengan tajam.

"Melihat kegigihanmu, aku teringat dengan aku yang dulu. Dahulu, aku sama tampannya seperti mu. Aku bertekad untuk menjadi orang yang sempurna dengan melakukan apapun!" Raja itu mendongakan kepala seperti sedang mengenang sesuatu.

"Aku tidak berambisi menjadi sempurna, aku hanya ingin kesejahteraan bagi rakyatku. Apakah kutukan itu benar adanya?" Candrasa mulai mengorek informasi mengenai kutukan dan Pedang Kemukus.

"Kutukan? Itu bukan kutukan, itu adalah anugerah untukku. Dengan itu aku bisa hidup abadi dan menjadi yang terkuat."

.*

*

Hanada masih mencari ikan di kedalaman dua meter, dia masih belum melihat satu pun ikan yang berenang. Dia terus mencarinya sambil sesekali kembali ke permukaan untuk mengatur nafasnya.

Akhirnya dia menemukan satu ikan yang berenang, dia langsung melempar tombaknya dan tepat mengani ikan itu. Hanada mengambilnya, lalu dia berenang kembali ke permukaan.

"Akhirnya, ini cukup untukku" Dia tersenyum, dan kembali berenang menuju daratan sambil membawa ikan yang sudah dia tangkap.

Hanada sudah keluar dari air, lalu meraih baju luarannya. Berjalan mendekati Candrasa yang masih belum sadarkan diri. Hanada menaruh bajunya dia samping Candrasa.

Sekarang, dia mulai membersihkan ikan itu dan menyusun beberapa ranting untuk dijadikan bahan pembakaran. Hanada menutup matanya mulai mengalirkan energi ke tangannya.

Kelima jari tangannya mengeluarkan api, dia sudah mencapai elemen api sejak 2 tahun lalu. Tapi dia menutupi itu semua dari semua orang. Bahkan dari sahabatnya.

Hanada mulai mengarahkan api itu ke ranting-ranting tadi, dan menaruh ikan diatas penopang ranting yang dia buat. "Kapan kau akan bangun? Ck kau tidur lama sekali Candrasa. Maaf aku tidak memberitahu mu soal elemen api yang sudah ku kuasai. Sebenarnya... aku sudah menguasai ketiga elemen."

Hanada menunduk seakan dia sedang mengobrol bersama Candrasa yang masih tertidur, Hanada tidak tahu, bahwa alam bawah sadar Candrasa sedang aktif. Dia bisa mendengar semua yang Hanada bicarakan padanya.

"Dan maaf juga, telah berkata bohong soal identitasku. Huft kenapa aku jadi merasa bersalah begini. Jika kau sampai mati sebelum tahu kebenarannya. Aku pasti akan sangat menyesal. Aku berjanji jika kau bangun nanti, aku akan mengatakan yang sejujurnya mengenai diriku."

Hanada menunduk sambil menunggu ikannya matang, Dia menelungkupkan kepalanya.

"Bagaimana kabar ayah?" Sudah lumayan lama dia tidak bertanya kabar tentang ayahnya itu, bahkan dia tidak memberi kabar pada Raja Nahda tentang kepergiannya ke Hutan Terlarang. Jika ayahnya tahu, sudah pasti dia tidak akan diijinkan pergi.

Air yang masih menyusuri hutan, berjalan samhil menebas dedaunan didepannya. Dia berhenti sejenak, menghela nafas panjang.

"Andai aku bisa terbang." sambil mengatur nafasnya.

Dia berjalan lagi menuju Amarata.

Dilain sisi, Guru Wija dan Panglima Perang berhasil membuat pasukan iblis kabur. Mereka memulai perjalanannya lagi.

Entahlah apa itu benar-benar sebuah serangan, atau hanya pengalihan untuk mereka? Kondisi Candrasa semakin melemah. Dia harus segera dibawa menjauh dari wilayah Iblis Bayangan itu.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Optimuscrime 🦊

Optimuscrime 🦊

maunya rebus.....

2022-10-13

2

〈⎳ Life of Muzu

〈⎳ Life of Muzu

up dong Thor, pliiss, nanti kita goreng telur ayam

2022-10-13

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!