Malam itu Candrasa tertidur dengan nyenyak, dia bahkan tidak pernah merasakan tidur setenang itu sebelumnya. Anehnya, desiran ombak sudah tidak lagi terdengar.
Kenapa sunyi sekali?
Candrasa membatin, Matanya pun masih terpejam. Kemudian, Candrasa mencoba membuka matanya perlahan. Matahari sudah menyinarinya.
"Dimana ini? Kenapa aku ada disini?" Candrasa duduk sambil melihat ke sekitarnya.
"Istana siapakah ini?" Candrasa merasa bingung. Dia berdiri perlahan melihat ke sekeliling Kerajaan itu.
Seingat Candrasa, dia hanya tertidur di pesisir pantai, bukan disebuah Istana megah itu. Dia berjalan menyusuri kerajaan, berharap bertemu dengan seseorang atau bahkan orang yang dia kenal. Dia melangkah ke halaman Istana, melihat beberapa kasim dan dayang-dayang berlalu lalang disana.
"Permisi.." Candrasa mencoba menghentikan mereka, tapi tidak ada yang menjawab sapaan Candrasa.
Dia beberapa kali mencoba bertanya pada orang-orang disana. Tapi, kenapa mereka hanya diam saja? Mereka hanya menatap datar Candrasa.
Candrasa mengernyitkan dahi, lalu berjalan lebih jauh. Dia sama sekali tidak melihat jalan untuk keluar dari Istana ini.
Apa ini mimpi? Candrasa membatin.
Dia mencoba mencubit punggung tangannya, dia masih bisa merasakan sakitnya. Berarti ini bukan mimpi, lalu apa? Candrasa berjalan sampai masuk ke lorong panjang yang ada diIstana. Dia mencari beberapa petunjuk dimana sebenarnya dia berada.
"Semua orang disini nampak aneh, mereka tidak berbicara sepatah katapun" Kata Candrasa sambil memegang pedang yang menggantung di pinggang nya. Dia yakin, ini bukan dunianya.
Saat berjalan, dia merasakan ada sesuatu di kantong koin uangnya, dia langsung merogoh benda itu.
"Kemukus!" Dia tertegun, melihat pedang kemukus kecil ada di kantong koinnya. Dia memperhatikan pedang itu dengan seksama, Dia yakin itu adalah Pedang Kemukus kecil yang dia berikan pada Hanada. Tapi, kenapa pedang itu kembali padanya?
"Kenapa benda ini ada padaku?" Candrasa mengernyitkan dahi, kemudian tiga orang pria berbadan besar menghampiri Candrasa.
Candrasa membelalak, dia terkejut. Candrasa memasukan Kemukus kecil ke Kantong koinnya lagi, Dia menunduk dan langsung dengan cepat mengayunkan pedangnya mengarah ke tiga pria itu.
"Berhenti disana! Jelaskan padaku dimana aku sekarang?" Candrasa memposisikan pedang itu lurus sejajar dengan wajah pria yang akan membawanya.
"Hahaha kau akan tahu sendiri nanti Candrasa. Bawa dia menemui Raja! " Salah seorang dari mereka memerintah dua orang lainnya. Dua orang pria itu langsung menyergap Candrasa.
Dia mencoba melawan dan mengeluarkan ilmu sihirnya, tapi itu tidak berfungsi sama sekali. Candrasa masih memberontak, tapi usahanya gagal. Dia masih bisa dibawa oleh ketiga pria itu.
Candrasa di bawa ke ruang makan di Istana itu. "Lepaskan aku! " Candrasa memberontak. Pria itu melepaskan Candrasa, mereka sudah membawanya ke ruangan yang diperintahkan Rajanya.
Candrasa melihat seorang pria paruh baya dengan mahkota di atasnya . Sepertinya itu Raja dari kerajaan ini.
"Selamat datang Candrasa." Raja itu menyeringai, matanya berwarna merah.
"Kau mengenalku?" Candrasa menatapnya bingung.
"Tidak. Aku hanya mendengar dari anak buahku bahwa ada seorang pria muda yang bernama Candrasa mencariku!" Raja itu tertawa.
"Dimana aku?" Candrasa mengernyitkan dahi.
"Kau sudah sampai pada tujuanmu!" Kata Raja itu.
*
*
Candrasa masih tidak sadarkan diri, dia terkulai lemas. Air dan Hanada mencoba membangunkannya beberapa kali. Tapi pria itu tetap tidak merespon. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Air berdiri sambil menarik rambutnya pelan, dia kebingungan melihat kondisi Candrasa yang tidak sadarkan diri.
"Mungkin dia kelelahan," Hanada masih bersimpuh di samping Candrasa. Dia melihat pria itu lekat, wajahnya tidak terlihat kesakitan. Nadinya masih normal, tapi kenapa dia tidak bangun? Bahkan tidak ada tanda luka kekerasan selain bajunya yang sudah kotor.
"Kau harus mencari bantuan Air, Pergilah ke Amarata ! Bagaimanapun kita harus menyelamatkan Candrasa." Hanada masih melihat Candrasa dengan tatapan sedih dan bingung. Sama hal nya dengan Air.
"Kau baik-baik saja jika aku tinggalkan sendiri?" Tanya Air mengernyitkan dahi, dia bimbang haruskah dia meninggalkan Hanada sendiri. Tapi dia juga harus segera menyelamatkan Candrasa.
Hanada hanya mengangguk, Air akhirnya berjalan masuk ke Hutan terlarang itu lagi. Untuk mencari bantuan.
Hanada menelungkupkan kepalanya, duduk disamping pria itu. Dia sudah memasukan Pedang Kemukus kecil kembali ke kantong koinnya. Hanada menghela nafas panjang, lalu menangis sejadinya. Dia tidak tega melihat Candrasa dalam kondisi seperti ini.
Hanada berlari mengambil air laut sedikit, untuk dia percikan ke wajah Candrasa. Tapi pria itu tetap saja tidak bangun.
Hanada menatap kosong ke bara kayu yang sudah padam, air mata nya masih mengalir ke pipinya. Dia tidak pernah sesedih ini lagi sebelumnya. Kecuali, saat kematian Mendiang Ibundanya.
Hanada menyentuh tangan Candrasa, dia terasa dingin. Hanada mencoba mencari sesuatu yang bisa menghangatkan Candrasa, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Wanita itu berjalan tidak jauh dari Candrasa.
Akankah Air berhasil keluar dari Hutan terlarang dengan selamat?
Hanada membatin, seharusnya dia juga tidak meminta Air mencari bantuan sendirian. Posisi mereka bagaikan di ujung jurang. Kalau-kalau sekali salah melangkah, mereka bisa terperosok.
*
*
AKADEMI SIHIR MAHARAJA
Guru Wija sedang dalam pertapaannya, dia terkejut saat ada sesuatu bayangan yang masuk kedalam alam bawah sadarnya.
"Muridmu disini." itulah yang seseorang bisikkan padanya.
Guru Wija membuka matanya sedikit membelalak.
"Dia sudah sampai di Kerjaan Iblis Bayangan?" Kata Guru Wija.
Guru Wija langsung keluar dari ruangannya. Dia melihat orang-orang berkumpul melihat ke arah tabir pelindung. Tabir itu terlihat rapuh. "Candrasa!" Guru Wija tahu, Candrasa dalam bahaya. Tabir itu memberikan tanda padanya.
Tabir itu sudah pasti tidak akan bertahan lama jika Candrasa semakin melemah.
Beberapa Anak buah iblis bayangan mulai mencoba masuk menerobos tabir. Guru Wija kebingungan kenapa mereka mulai mengganggu kehidupan manusia lagi.
Pasti ada yang tidak beres.
Guru Wija membatin, dia langsung memerintahkan 10 murid terbaiknya untuk ikut bersamanya ke Kerajaan Amarata. Mereka masing-masing menunggangi kuda. Lalu masuk ke Istana Utama Kerajaan Amarata.
Guru Wija dan muridnya memasuki singgasana Raja Jira II, tidak lupa mereka memberi salam padanya.
"Ada apa wahai Guru?" Tanya Raja Jira II
"Aku meminta pasukanmu ikut bersama ku ke Hutan terlarang, Yang Mulai." Guru Wija langsung bicara ke intinya.
Raja Jira II membelalak,
"Ada masalah apa Guru?"
"Candrasa dalam bahaya!"
Guru Wija menatap Yang Mulia Raja Jira II dengan sendu, dia tahu ini akan menyakiti hati pria itu. Tapi perasaannya mengatakan bahwa Candrasa harus segera di tolong sekarang. Tanpa pikir panjang, Raja Jira II memerintahkan prajurit dan Panglima Perang untuk mengikutinya, mencari Candrasa bersama Guru Wija dan murid Akademi Sihir.
"Panglima perang!! Siapkan prajurit untuk ke Hutan terlarang!" Kata Raja Jira II.
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Optimuscrime 🦊
yup bener bangetttt
2022-10-12
3
DMus
Nah ketemu sudah padahal
2022-10-12
2
DMus
Apakah jiwanya di bawa ketempat lain?😅
2022-10-12
2