Bab 14 : Kondisi Vegetatif

Malam itu Candrasa tertidur dengan nyenyak, dia bahkan tidak pernah merasakan tidur setenang itu sebelumnya. Anehnya, desiran ombak sudah tidak lagi terdengar.

Kenapa sunyi sekali?

Candrasa membatin, Matanya pun masih terpejam. Kemudian, Candrasa mencoba membuka matanya perlahan. Matahari sudah menyinarinya.

"Dimana ini? Kenapa aku ada disini?" Candrasa duduk sambil melihat ke sekitarnya.

"Istana siapakah ini?" Candrasa merasa bingung. Dia berdiri perlahan melihat ke sekeliling Kerajaan itu.

Seingat Candrasa, dia hanya tertidur di pesisir pantai, bukan disebuah Istana megah itu. Dia berjalan menyusuri kerajaan, berharap bertemu dengan seseorang atau bahkan orang yang dia kenal. Dia melangkah ke halaman Istana, melihat beberapa kasim dan dayang-dayang berlalu lalang disana.

"Permisi.." Candrasa mencoba menghentikan mereka, tapi tidak ada yang menjawab sapaan Candrasa.

Dia beberapa kali mencoba bertanya pada orang-orang disana. Tapi, kenapa mereka hanya diam saja? Mereka hanya menatap datar Candrasa.

Candrasa mengernyitkan dahi, lalu berjalan lebih jauh. Dia sama sekali tidak melihat jalan untuk keluar dari Istana ini.

Apa ini mimpi? Candrasa membatin.

Dia mencoba mencubit punggung tangannya, dia masih bisa merasakan sakitnya. Berarti ini bukan mimpi, lalu apa? Candrasa berjalan sampai masuk ke lorong panjang yang ada diIstana. Dia mencari beberapa petunjuk dimana sebenarnya dia berada.

"Semua orang disini nampak aneh, mereka tidak berbicara sepatah katapun" Kata Candrasa sambil memegang pedang yang menggantung di pinggang nya. Dia yakin, ini bukan dunianya.

Saat berjalan, dia merasakan ada sesuatu di kantong koin uangnya, dia langsung merogoh benda itu.

"Kemukus!" Dia tertegun, melihat pedang kemukus kecil ada di kantong koinnya. Dia memperhatikan pedang itu dengan seksama, Dia yakin itu adalah Pedang Kemukus kecil yang dia berikan pada Hanada. Tapi, kenapa pedang itu kembali padanya?

"Kenapa benda ini ada padaku?" Candrasa mengernyitkan dahi, kemudian tiga orang pria berbadan besar menghampiri Candrasa.

Candrasa membelalak, dia terkejut. Candrasa memasukan Kemukus kecil ke Kantong koinnya lagi, Dia menunduk dan langsung dengan cepat mengayunkan pedangnya mengarah ke tiga pria itu.

"Berhenti disana! Jelaskan padaku dimana aku sekarang?" Candrasa memposisikan pedang itu lurus sejajar dengan wajah pria yang akan membawanya.

"Hahaha kau akan tahu sendiri nanti Candrasa. Bawa dia menemui Raja! " Salah seorang dari mereka memerintah dua orang lainnya. Dua orang pria itu langsung menyergap Candrasa.

Dia mencoba melawan dan mengeluarkan ilmu sihirnya, tapi itu tidak berfungsi sama sekali. Candrasa masih memberontak, tapi usahanya gagal. Dia masih bisa dibawa oleh ketiga pria itu.

Candrasa di bawa ke ruang makan di Istana itu. "Lepaskan aku! " Candrasa memberontak. Pria itu melepaskan Candrasa, mereka sudah membawanya ke ruangan yang diperintahkan Rajanya.

Candrasa melihat seorang pria paruh baya dengan mahkota di atasnya . Sepertinya itu Raja dari kerajaan ini.

"Selamat datang Candrasa." Raja itu menyeringai, matanya berwarna merah.

"Kau mengenalku?" Candrasa menatapnya bingung.

"Tidak. Aku hanya mendengar dari anak buahku bahwa ada seorang pria muda yang bernama Candrasa mencariku!" Raja itu tertawa.

"Dimana aku?" Candrasa mengernyitkan dahi.

"Kau sudah sampai pada tujuanmu!" Kata Raja itu.

*

*

Candrasa masih tidak sadarkan diri, dia terkulai lemas. Air dan Hanada mencoba membangunkannya beberapa kali. Tapi pria itu tetap tidak merespon. "Bagaimana ini bisa terjadi?" Air berdiri sambil menarik rambutnya pelan, dia kebingungan melihat kondisi Candrasa yang tidak sadarkan diri.

"Mungkin dia kelelahan," Hanada masih bersimpuh di samping Candrasa. Dia melihat pria itu lekat, wajahnya tidak terlihat kesakitan. Nadinya masih normal, tapi kenapa dia tidak bangun? Bahkan tidak ada tanda luka kekerasan selain bajunya yang sudah kotor.

"Kau harus mencari bantuan Air, Pergilah ke Amarata ! Bagaimanapun kita harus menyelamatkan Candrasa." Hanada masih melihat Candrasa dengan tatapan sedih dan bingung. Sama hal nya dengan Air.

"Kau baik-baik saja jika aku tinggalkan sendiri?" Tanya Air mengernyitkan dahi, dia bimbang haruskah dia meninggalkan Hanada sendiri. Tapi dia juga harus segera menyelamatkan Candrasa.

Hanada hanya mengangguk, Air akhirnya berjalan masuk ke Hutan terlarang itu lagi. Untuk mencari bantuan.

Hanada menelungkupkan kepalanya, duduk disamping pria itu. Dia sudah memasukan Pedang Kemukus kecil kembali ke kantong koinnya. Hanada menghela nafas panjang, lalu menangis sejadinya. Dia tidak tega melihat Candrasa dalam kondisi seperti ini.

Hanada berlari mengambil air laut sedikit, untuk dia percikan ke wajah Candrasa. Tapi pria itu tetap saja tidak bangun.

Hanada menatap kosong ke bara kayu yang sudah padam, air mata nya masih mengalir ke pipinya. Dia tidak pernah sesedih ini lagi sebelumnya. Kecuali, saat kematian Mendiang Ibundanya.

Hanada menyentuh tangan Candrasa, dia terasa dingin. Hanada mencoba mencari sesuatu yang bisa menghangatkan Candrasa, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Wanita itu berjalan tidak jauh dari Candrasa.

Akankah Air berhasil keluar dari Hutan terlarang dengan selamat?

Hanada membatin, seharusnya dia juga tidak meminta Air mencari bantuan sendirian. Posisi mereka bagaikan di ujung jurang. Kalau-kalau sekali salah melangkah, mereka bisa terperosok.

*

*

AKADEMI SIHIR MAHARAJA

Guru Wija sedang dalam pertapaannya, dia terkejut saat ada sesuatu bayangan yang masuk kedalam alam bawah sadarnya.

"Muridmu disini." itulah yang seseorang bisikkan padanya.

Guru Wija membuka matanya sedikit membelalak.

"Dia sudah sampai di Kerjaan Iblis Bayangan?" Kata Guru Wija.

Guru Wija langsung keluar dari ruangannya. Dia melihat orang-orang berkumpul melihat ke arah tabir pelindung. Tabir itu terlihat rapuh. "Candrasa!" Guru Wija tahu, Candrasa dalam bahaya. Tabir itu memberikan tanda padanya.

Tabir itu sudah pasti tidak akan bertahan lama jika Candrasa semakin melemah.

Beberapa Anak buah iblis bayangan mulai mencoba masuk menerobos tabir. Guru Wija kebingungan kenapa mereka mulai mengganggu kehidupan manusia lagi.

Pasti ada yang tidak beres.

Guru Wija membatin, dia langsung memerintahkan 10 murid terbaiknya untuk ikut bersamanya ke Kerajaan Amarata. Mereka masing-masing menunggangi kuda. Lalu masuk ke Istana Utama Kerajaan Amarata.

Guru Wija dan muridnya memasuki singgasana Raja Jira II, tidak lupa mereka memberi salam padanya.

"Ada apa wahai Guru?" Tanya Raja Jira II

"Aku meminta pasukanmu ikut bersama ku ke Hutan terlarang, Yang Mulai." Guru Wija langsung bicara ke intinya.

Raja Jira II membelalak,

"Ada masalah apa Guru?"

"Candrasa dalam bahaya!"

Guru Wija menatap Yang Mulia Raja Jira II dengan sendu, dia tahu ini akan menyakiti hati pria itu. Tapi perasaannya mengatakan bahwa Candrasa harus segera di tolong sekarang. Tanpa pikir panjang, Raja Jira II memerintahkan prajurit dan Panglima Perang untuk mengikutinya, mencari Candrasa bersama Guru Wija dan murid Akademi Sihir.

"Panglima perang!! Siapkan prajurit untuk ke Hutan terlarang!" Kata Raja Jira II.

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Optimuscrime 🦊

Optimuscrime 🦊

yup bener bangetttt

2022-10-12

3

DMus

DMus

Nah ketemu sudah padahal

2022-10-12

2

DMus

DMus

Apakah jiwanya di bawa ketempat lain?😅

2022-10-12

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!