Bab 13 : Perbatasan Laut Utara

Hanada dan Air berjalan menyusuri hutan, Hanada membawa pedang kemukus kecil di tangannya. Mereka sedang berteduh di pohon besar yang dedaunannya lebat.

"Hanada.. cuaca disini sangat dingin sekali. sudah 10 hari aku tidak berganti pakaian" Air memeluk badannya yang kedinginan.

"Disituasi seperti ini kau memikirkan pakaian, bisa berpakaian saja sudah syukur ! Kita bisa saja dimakan binatang buas atau makhluk aneh di hutan ini." Hanada mengeratkan panah yang dia bawa.

Pedang kemukus kecil masih bersinar karena energi yang Candrasa alirkan. Semakin gelap hutan, semakin terlihat sinar yang membentuk jalan untuk mereka.

"Apa Candrasa baik-baik saja?" Air menatap langit yang semakin gelap, entah karena awan yang mendung atau memang sudah hampir malam.

"Entahlah!" Hanada mendengus, sebenarnya pikirannya tidak bisa lepas dari pria itu sedari tadi.

*

*

...KERAJAAN AMARATA (PENCARIAN PEDANG HARI KE- 10)...

Guru Wija baru sampai di kerajaan Amarata, Raja Jira II ingin tahu perkembangan pencarian pedang itu melalui Guru Wija.

Dia berjalan melewati para penjaga yang langsung memberi salam, lalu diarahkan ke tempat Raja Jira II berada.

Guru Wija berjalan sambil menggenggam tangannya ke belakang. Dia melihat sekeliling istana yang sangat sepi itu, selain para Kasim dan dayang yang lewat.

Raja Jira II sedang berada di kamar mendiang Permaisuri Dara, dia menatap keluar jendela yang menghadap langsung ke wilayah Amarata.

"Yang Mulia, Guru Wija sudah datang!" Kata salah seorang pelayannya.

Raja Jira II menoleh ke belakang lalu melihat Guru Wija masuk dari ambang pintu. Terlihat kegelisahan dari Raja alim itu.

"Guru.." Raja Jira II memberi hormat pada Gurunya,

"Aku tahu perasaanmu," Guru Wija menepuk pundak muridnya.

Raja Jira II melihat kesekeliling kamar, matanya berkaca-kaca mengingat mendiang istri tercintanya.

"Aku merindukannya." Raja Jira II menatap tempat tidur milik istrinya.

"Semua orang bahkan seluruh Amarata juga merindukannya." kata Guru Wija mengangguk sambil menepuk-nepuk pundak Raja Jira II.

"Kau harus ikhlas, agar hatimu tenang. Diluar sana putramu sedang berjuang demi rakyat dan Amarata, ingatlah! " Guru Wija mengingatkan Raja pada Candrasa.

"Permaisuri, memberikan energi terakhirnya pada Candrasa!" Lanjut Guru Wija.

Raja Jira II membelalak, dia terkejut. Bagaimana bisa dia tidak tahu perihal itu.

"Apakah benar Guru?" Tanya nya penasaran.

"Ya, benar. Candrasa memperbaiki tabir pelindung Akademi Sihir dengan persatuan Energi nya dan Energi Permaisuri Dara." Guru Wija mengangguk.

"Itu luar biasa, Apakah itu sebabnya dia berani mencari pedang terkutuk itu?"

Guru Wija mengangguk.

"Candrasa akan mengalami hal sulit saat mencari pedang itu. Tapi dibalik ujian yang sulit itu, Candrasa akan mencapai penyempurnaan ilmu sihir dan pedangnya." Guru Wija tersenyum ke arah Raja Jira II, seakan dia sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya.

"Yang Mulia.. Panglima Perang sudah pulang!" Kata pelayannya.

Guru Wija dan Raja Jira II saling bertukar pandangan.

"Aku memintanya mengikuti Candrasa!" Kata Raja Jira II pada gurunya.

Tak lama Panglima Doha memasuki ruangan lalu memberi hormat pada mereka berdua.

"Salam yang mulia!" Panglima perang menundukan kepalanya.

"Bagaimana? Kau bertemu Candrasa?" tangannya melambai untuk menerima penghormatan Panglima.

"Ya Yang Mulia, aku bertemu Candrasa. Dia tidak ingin kembali sebelum mendapatkan pedang itu."

Raja Jira II menghela napas panjang, "Apa dia baik-baik saja?"

"Yang Mulia tidak perlu khawatir. Putra Mahkota Candrasa baik-baik saja."

Guru Wija menatap Panglima sedikit curiga, sepertinya dia berbohong mengenai keadaan Candrasa.

"Syukurlah jika dia baik-baik saja," Raja Jira II bernafas lega mendengar kabar baik dari anaknya.

"Putra Mahkota sudah menguasai elemen api," Lanjut Panglima Perang. Guru Wija tersenyum begitupun Raja Jira II yang sangat terlihat gembira. Keduanya bangga dengan pencapaian itu. Setelah berbincang dengan Raja, Panglima Perang dan Guru Wija keluar dari ruangan.

"Benarkah yang kau katakan? Bahwa Candrasa baik-baik saja?"

Mendengar pertanyaan Guru Wija, Panglima Perang menghentikan langkahnya lalu menatap Guru itu.

"Dia banyak mengalami kesulitan Guru, Candrasa meminta ku untuk tidak mengatakannya pada Raja." Panglima menunduk.

"Sudah ku duga, tidak mungkin dia melewati hutan terlarang tanpa gangguan Iblis Bayangan," Guru Wija melamun memikirkan Candrasa.

"Tapi dia benar-benar sudah menguasai elemen api, aku melihatnya sendiri!" Panglima Perang langsung tersenyum.

"Syukurlah setidaknya dia bisa bertahan dengan itu." Guru Wija mengangguk.

"Guru, Candrasa mengira aku sedang mencari Air. Apa yang terjadi pada anak itu?" Panglima Perang mengernyitkan dahinya, menunggu jawaban guru Wija.

"Air dan Salah seorang murid dari Asrama Putri kabur!"

Panglima Perang membelalak tidak percaya, bisa-bisanya Air kabur. Terlebih bersama wanita?

"Apa guru tahu kemana anak itu pergi?"

"Kemungkinan mereka menyusul Candrasa. Aku yakin mereka sudah bertemu dengannya. Maka dari itu Candrasa bertanya padamu!"

Panglima perang mengangguk.

Setelah itu Guru Wija kembali ke Akademi Sihir.

*

*

Setelah ditemani Panglima Perang berjalan menyusuri hutan sampai ke perbatasan Laut Utara, Candrasa meminta Panglima untuk kembali ke Amarata. Untuk Panglima perang, jalan pulang sangatlah mudah apalagi dia sudah menguasai ke empat elemen sihir.

Sedangkan Candrasa berdiri menatap perbatasan Hutan terlarang dan Laut Utara. Tidak ada apa-apa disana. Singgasana iblis bayangan yang di gembar-gembor kan orang tidak ada disana.

Di lain sisi, Air dan Hanada mengikuti jalan yang ditunjukan pedang kemukus kecil, anehnya pedang itu malah membawa mereka ke tempat yang sepertinya bukan jalan pulang ke Amarata. Karena mereka bisa mendengar suara desiran air laut. Sedangkan di Amarata tidak ada pantai.Tapi mereka tetap berjalan mengikuti jalan yang ditunjukan Kemukus.

Sedangkan, Candrasa berjalan menyusuri pesisir pantai. Perutnya terasa lapar, tapi tidak ada apa-apa disana. Untuk menunda rasa laparnya Candrasa hanya bisa berlatih mengendalikan elemen api yang baru saja dia kuasai.

Dia dengan serius mengalirkan energi ke telapak tangannya, tapi tetap saja hanya jari telunjuknya yang dapat mengeluarkan api. Itupun hanya api kecil.

Air laut yang tiba-tiba datang dengan gelombang besar membuat Candrasa reflek menggerakan tangannya menahan air itu mendekat. Candrasa terkejut karena air laut itu berhenti seketika, dia mundur pelan-pelan dari tempatnya, lalu menurunkan kembali tangannya secara perlahan. Seiring tangannya turun, air laut itu kembali normal.

"Elemen air" Gumamnya.

Dia tersenyum bahagia, akhirnya dia mulai menguasai elemen air.

"IBUUU AKU SUDAH MENCAPAI ELEMEN AIR!" Candrasa mendongak ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.

Malam itu dia merasa senang sehingga dia lupa akan rasa laparnya. Dia membuat api unggun di pesisir pantai lalu tertidur disana. Air dan Hanada sudah berjalan jauh tapi rasanya mereka malah semakin jauh dari Amarata.

"Sepertinya ini bukan jalan pulang kita Air!" Hanada menoleh ke kanan dan kiri.

"Aku juga merasa seperti itu," Kata Air sambil mengernyitkan dahi kebingungan.

Malam itu, mereka juga memutuskan untuk bermalam disana dan berniat melanjutkan perjalanannya besok.

Dipagi harinya. Hanada dan Air melanjutkan perjalanan tanpa menggunakan Kemukus. Hanada dan Air sampai di ujung Hutan terlarang, mereka menatap pemandangan laut yang sangat indah.

"Air.. Dimana kita?"

"Apa ini Laut Utara?"

"Sepertinya iya, kita berada diperbatasan Hutan terlarang!" Kata Air menoleh ke Hanada.

"Bagaimana bisa? Bagaimana Kemukus menuntun kita kesini?" Hanada terlihat bingung,

"Hanada.. Lihat! Bukankah itu Candrasa?" Air menunjuk Candrasa yang masih tertidur.

"Ya kau benar. Mari kita kesana!" Air dan Hanada berlarian di pesisir pantai sambil tertawa bahagia menghampiri Candrasa.

"Heyyy bangun, ini sudah siang. Candrasa!" Air mencoba membangunkan Candrasa tapi dia tidak kunjung bangun.

"Candrasa bangun !" Kata Hanada.

Mereka saling menatap dan panik, melihat Candrasa tidak bangun walau badannya di gerak-gerakan Air. Tidak biasanya dia seperti itu.

"Candrasa!!"

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Kangee

Kangee

🥀 tiga

2022-12-05

2

DMus

DMus

Semangat kak nulisnya, entah mengapa tiga sekawan itu mengingatkan pada Harry Potter dan teman2ny

2022-10-11

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!