Hanada dan Air berjalan menyusuri hutan, Hanada membawa pedang kemukus kecil di tangannya. Mereka sedang berteduh di pohon besar yang dedaunannya lebat.
"Hanada.. cuaca disini sangat dingin sekali. sudah 10 hari aku tidak berganti pakaian" Air memeluk badannya yang kedinginan.
"Disituasi seperti ini kau memikirkan pakaian, bisa berpakaian saja sudah syukur ! Kita bisa saja dimakan binatang buas atau makhluk aneh di hutan ini." Hanada mengeratkan panah yang dia bawa.
Pedang kemukus kecil masih bersinar karena energi yang Candrasa alirkan. Semakin gelap hutan, semakin terlihat sinar yang membentuk jalan untuk mereka.
"Apa Candrasa baik-baik saja?" Air menatap langit yang semakin gelap, entah karena awan yang mendung atau memang sudah hampir malam.
"Entahlah!" Hanada mendengus, sebenarnya pikirannya tidak bisa lepas dari pria itu sedari tadi.
*
*
...KERAJAAN AMARATA (PENCARIAN PEDANG HARI KE- 10)...
Guru Wija baru sampai di kerajaan Amarata, Raja Jira II ingin tahu perkembangan pencarian pedang itu melalui Guru Wija.
Dia berjalan melewati para penjaga yang langsung memberi salam, lalu diarahkan ke tempat Raja Jira II berada.
Guru Wija berjalan sambil menggenggam tangannya ke belakang. Dia melihat sekeliling istana yang sangat sepi itu, selain para Kasim dan dayang yang lewat.
Raja Jira II sedang berada di kamar mendiang Permaisuri Dara, dia menatap keluar jendela yang menghadap langsung ke wilayah Amarata.
"Yang Mulia, Guru Wija sudah datang!" Kata salah seorang pelayannya.
Raja Jira II menoleh ke belakang lalu melihat Guru Wija masuk dari ambang pintu. Terlihat kegelisahan dari Raja alim itu.
"Guru.." Raja Jira II memberi hormat pada Gurunya,
"Aku tahu perasaanmu," Guru Wija menepuk pundak muridnya.
Raja Jira II melihat kesekeliling kamar, matanya berkaca-kaca mengingat mendiang istri tercintanya.
"Aku merindukannya." Raja Jira II menatap tempat tidur milik istrinya.
"Semua orang bahkan seluruh Amarata juga merindukannya." kata Guru Wija mengangguk sambil menepuk-nepuk pundak Raja Jira II.
"Kau harus ikhlas, agar hatimu tenang. Diluar sana putramu sedang berjuang demi rakyat dan Amarata, ingatlah! " Guru Wija mengingatkan Raja pada Candrasa.
"Permaisuri, memberikan energi terakhirnya pada Candrasa!" Lanjut Guru Wija.
Raja Jira II membelalak, dia terkejut. Bagaimana bisa dia tidak tahu perihal itu.
"Apakah benar Guru?" Tanya nya penasaran.
"Ya, benar. Candrasa memperbaiki tabir pelindung Akademi Sihir dengan persatuan Energi nya dan Energi Permaisuri Dara." Guru Wija mengangguk.
"Itu luar biasa, Apakah itu sebabnya dia berani mencari pedang terkutuk itu?"
Guru Wija mengangguk.
"Candrasa akan mengalami hal sulit saat mencari pedang itu. Tapi dibalik ujian yang sulit itu, Candrasa akan mencapai penyempurnaan ilmu sihir dan pedangnya." Guru Wija tersenyum ke arah Raja Jira II, seakan dia sudah tahu apa yang akan terjadi nantinya.
"Yang Mulia.. Panglima Perang sudah pulang!" Kata pelayannya.
Guru Wija dan Raja Jira II saling bertukar pandangan.
"Aku memintanya mengikuti Candrasa!" Kata Raja Jira II pada gurunya.
Tak lama Panglima Doha memasuki ruangan lalu memberi hormat pada mereka berdua.
"Salam yang mulia!" Panglima perang menundukan kepalanya.
"Bagaimana? Kau bertemu Candrasa?" tangannya melambai untuk menerima penghormatan Panglima.
"Ya Yang Mulia, aku bertemu Candrasa. Dia tidak ingin kembali sebelum mendapatkan pedang itu."
Raja Jira II menghela napas panjang, "Apa dia baik-baik saja?"
"Yang Mulia tidak perlu khawatir. Putra Mahkota Candrasa baik-baik saja."
Guru Wija menatap Panglima sedikit curiga, sepertinya dia berbohong mengenai keadaan Candrasa.
"Syukurlah jika dia baik-baik saja," Raja Jira II bernafas lega mendengar kabar baik dari anaknya.
"Putra Mahkota sudah menguasai elemen api," Lanjut Panglima Perang. Guru Wija tersenyum begitupun Raja Jira II yang sangat terlihat gembira. Keduanya bangga dengan pencapaian itu. Setelah berbincang dengan Raja, Panglima Perang dan Guru Wija keluar dari ruangan.
"Benarkah yang kau katakan? Bahwa Candrasa baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan Guru Wija, Panglima Perang menghentikan langkahnya lalu menatap Guru itu.
"Dia banyak mengalami kesulitan Guru, Candrasa meminta ku untuk tidak mengatakannya pada Raja." Panglima menunduk.
"Sudah ku duga, tidak mungkin dia melewati hutan terlarang tanpa gangguan Iblis Bayangan," Guru Wija melamun memikirkan Candrasa.
"Tapi dia benar-benar sudah menguasai elemen api, aku melihatnya sendiri!" Panglima Perang langsung tersenyum.
"Syukurlah setidaknya dia bisa bertahan dengan itu." Guru Wija mengangguk.
"Guru, Candrasa mengira aku sedang mencari Air. Apa yang terjadi pada anak itu?" Panglima Perang mengernyitkan dahinya, menunggu jawaban guru Wija.
"Air dan Salah seorang murid dari Asrama Putri kabur!"
Panglima Perang membelalak tidak percaya, bisa-bisanya Air kabur. Terlebih bersama wanita?
"Apa guru tahu kemana anak itu pergi?"
"Kemungkinan mereka menyusul Candrasa. Aku yakin mereka sudah bertemu dengannya. Maka dari itu Candrasa bertanya padamu!"
Panglima perang mengangguk.
Setelah itu Guru Wija kembali ke Akademi Sihir.
*
*
Setelah ditemani Panglima Perang berjalan menyusuri hutan sampai ke perbatasan Laut Utara, Candrasa meminta Panglima untuk kembali ke Amarata. Untuk Panglima perang, jalan pulang sangatlah mudah apalagi dia sudah menguasai ke empat elemen sihir.
Sedangkan Candrasa berdiri menatap perbatasan Hutan terlarang dan Laut Utara. Tidak ada apa-apa disana. Singgasana iblis bayangan yang di gembar-gembor kan orang tidak ada disana.
Di lain sisi, Air dan Hanada mengikuti jalan yang ditunjukan pedang kemukus kecil, anehnya pedang itu malah membawa mereka ke tempat yang sepertinya bukan jalan pulang ke Amarata. Karena mereka bisa mendengar suara desiran air laut. Sedangkan di Amarata tidak ada pantai.Tapi mereka tetap berjalan mengikuti jalan yang ditunjukan Kemukus.
Sedangkan, Candrasa berjalan menyusuri pesisir pantai. Perutnya terasa lapar, tapi tidak ada apa-apa disana. Untuk menunda rasa laparnya Candrasa hanya bisa berlatih mengendalikan elemen api yang baru saja dia kuasai.
Dia dengan serius mengalirkan energi ke telapak tangannya, tapi tetap saja hanya jari telunjuknya yang dapat mengeluarkan api. Itupun hanya api kecil.
Air laut yang tiba-tiba datang dengan gelombang besar membuat Candrasa reflek menggerakan tangannya menahan air itu mendekat. Candrasa terkejut karena air laut itu berhenti seketika, dia mundur pelan-pelan dari tempatnya, lalu menurunkan kembali tangannya secara perlahan. Seiring tangannya turun, air laut itu kembali normal.
"Elemen air" Gumamnya.
Dia tersenyum bahagia, akhirnya dia mulai menguasai elemen air.
"IBUUU AKU SUDAH MENCAPAI ELEMEN AIR!" Candrasa mendongak ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.
Malam itu dia merasa senang sehingga dia lupa akan rasa laparnya. Dia membuat api unggun di pesisir pantai lalu tertidur disana. Air dan Hanada sudah berjalan jauh tapi rasanya mereka malah semakin jauh dari Amarata.
"Sepertinya ini bukan jalan pulang kita Air!" Hanada menoleh ke kanan dan kiri.
"Aku juga merasa seperti itu," Kata Air sambil mengernyitkan dahi kebingungan.
Malam itu, mereka juga memutuskan untuk bermalam disana dan berniat melanjutkan perjalanannya besok.
Dipagi harinya. Hanada dan Air melanjutkan perjalanan tanpa menggunakan Kemukus. Hanada dan Air sampai di ujung Hutan terlarang, mereka menatap pemandangan laut yang sangat indah.
"Air.. Dimana kita?"
"Apa ini Laut Utara?"
"Sepertinya iya, kita berada diperbatasan Hutan terlarang!" Kata Air menoleh ke Hanada.
"Bagaimana bisa? Bagaimana Kemukus menuntun kita kesini?" Hanada terlihat bingung,
"Hanada.. Lihat! Bukankah itu Candrasa?" Air menunjuk Candrasa yang masih tertidur.
"Ya kau benar. Mari kita kesana!" Air dan Hanada berlarian di pesisir pantai sambil tertawa bahagia menghampiri Candrasa.
"Heyyy bangun, ini sudah siang. Candrasa!" Air mencoba membangunkan Candrasa tapi dia tidak kunjung bangun.
"Candrasa bangun !" Kata Hanada.
Mereka saling menatap dan panik, melihat Candrasa tidak bangun walau badannya di gerak-gerakan Air. Tidak biasanya dia seperti itu.
"Candrasa!!"
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Kangee
🥀 tiga
2022-12-05
2
DMus
Semangat kak nulisnya, entah mengapa tiga sekawan itu mengingatkan pada Harry Potter dan teman2ny
2022-10-11
3