Bab 12 : Hutan Kelaparan

Setelah fajar muncul, mereka memutuskan untuk berpisah. Candrasa akan melanjutkan perjalanan mencari Pedang Kemukus sendirian. Sedangkan, Air dan Hanada akan pulang ke Amarata.

Keputusan ini Candrasa buat agar kedua sahabatnya tidak lagi dalam bahaya. Nalurinya berkata, gangguan-gangguan itu muncul karena Iblis bayangan hanya menginginkan Candrasa mencari pedang itu seorang diri.

Candrasa mencoba mengalirkan energi ke pedang kemukus kecil itu. Pedang itu bersinar terang. Dia memberikannya pada Hanada.

"Pulanglah dengan selamat" Candrasa menatap kedua sahabatnya sendu, Hanada menangis lalu memeluk Candrasa.

"Jangan menangis, kau akan merasa lapar jika menangis!" Candrasa mengusap air mata Hanada.

Air memeluk sahabatnya dan menepuk punggung pria itu beberapa kali.

"Jaga diri baik-baik, kami pergi dulu.."

Candrasa melihat sahabatnya berlalu meninggalkannya, dia berjalan berlawanan arah dari mereka. dia berjalan menyusuri hutan, tidak ada tanda-tanda bahaya atau apapun.

Hanya ada suara burung-burung berkicau yang memenuhi Hutan lebat itu. Candrasa mencari sumber air yang bisa dia minum. dia bisa mendengar suara gemericik air dari jarak yang tidak jauh dari situ.

Dia berjalan dan menemukan sumber air yang dia cari tadi. Dia harus turun ke bawah untuk mengambil air itu, Dia segera membawa botol bambu kosongnya dan mengisinya dengan air sungai jernih yang mengalir disana.

Dia kembali ke atas dan mengaitkan air itu ke pinggang.

Krak krak

Seperti ada suara langkah kaki, Candrasa bersembunyi di balik pohon besar. Tapi telapak tangannya terasa panas, dia mencoba mengalirkan energi ke telapak tangannya agar tidak terlalu sakit.

Bekas luka menyerap racun Hanada, menghilang dari telapak tangannya seiring energi itu mengalir.

Dari telunjuk tangannya, tiba-tiba saja keluar api. Dia membelalak. Kekuatan apa yang ada pada tubuhnya. Dia menghentikan aliran energi dan api itupun padam.

Seketika Candrasa ingat ucapan Guru Wija mengenai tingkat ilmu sihir panca.

"Ilmu sihir ini terkenal sebagai ilmu yang paling tinggi derajatnya. Hanya beberapa orang yang mampu sampai ke tingkat ini. kemampuan yang akan dimiliki jika kau sudah mencapai tingkat ini adalah Mengendalikan semua elemen yang ada di bumi dan mengalirkan itu ke pedang mu. Kedua kekuatan Energi dari tubuh dan pedang akan menyatu di senjata itu."

"Mustahil orang bisa mengalahkanmu jika kau menguasai semua elemen di bumi ini." Begitulah perkataan Guru Wija yang dia ingat. Artinya, Candrasa sudah bisa menguasai dua elemen , angin dan api.

Suara langkah kaki itu mendekat, Candrasa langsung keluar dari persembunyiannya lalu melihat siapa itu. Candrasa membelalak dan mulut nya sedikit terbuka,

"Panglima Doha!"

"Salam yang Mulia Candrasa," pria itu memberi hormat pada Candrasa.

"Apa kau kesini mencari Air?" Candrasa mendekat dan menurunkan pedang yang hampir dia kibaskan tadi.

"Tidak. Aku mencarimu! Raja Jira II mengutusku untuk mengikutimu."

"Ayahku? Jadi sejak awal kau sudah mengikutiku?" Candrasa mengernyitkan dahi kebingungan.

"Sebenarnya ya, tapi aku terjebak di gurun pasir. Aku baru saja keluar dari sana beberapa menit yang lalu," panglima Doha menepuk pakaiannya yang dipenuhi pasir.

"Maafkan aku, seharusnya kau tidak perlu mengikutiku!" Candrasa dan Panglima berjalan menyusuri hutan.

"Aku tahu, kau bahkan meminta para sahabatmu untuk pulang ke Amarata." Pria itu menyeringai sambil memetik bunga yang dia lewati.

Candrasa tidak bicara apa-apa setelahnya, Candrasa memang tipikal orang yang tidak banyak bicara. Sehingga, saat dia sudah berada di ujung percakapan, dia tidak bisa berbasa-basi lagi.

Mereka berdua masuk lebih jauh kedalam hutan. Langit menjadi mendung dan gelap, kemungkinan akan segera hujan di hutan ini.

Benar saja, hujan yang cukup deras jatuh ke permukaan bumi, dengan sigap Panglima Doha melakukan gerakan memutar. Candrasa tercengang !

Hujan itu tidak membasahi mereka sekarang, air itu melewati tubuh mereka seakan ada payung yang menghalangi.

Elemen air .. Candrasa membatin..

Panglima Doha sudah menguasai elemen air. Mereka kemudian berjalan kembali menuju hutan. Semakin berjalan jauh semakin gelap hutan ini terlihat.

Panglima Doha mengeluarkan api dari tiap jari-jemarinya untuk menerangi jalan mereka.

Elemen api..

Candrasa mengikuti langkah kaki Panglima Doha, orang kepercayaan ayahnya ini memang di kenal hebat. Atas keberaniannya, ilmunya, tekadnya. Air persis sepertinya.

Panglima Doha menatap ke sekeliling, dia merasakan ada sesuatu berbahaya yang akan mengganggu mereka.

"Candrasa ! " katanya tegas.

"Ya!"

"Angkat pedangmu ! " Dia menoleh ke arah Candrasa.

Candrasa menerima aba-aba nya tanpa bertanya sedikit pun. Mereka saling menghadap belakang. Punggungnya menempel satu sama lain.

"Kau siap?"

Candrasa mengangguk.

1

2

3

Para mayat hidup dengan ganas berjalan ke arah mereka, makhluk aneh dan mengerikan itu mencoba menggigit keduanya. Tapi dengan sigap mereka menebas mayat hidup itu satu persatu.

"Dimana kita?" Kata Candrasa.

"Hutan kelaparan!"

"Apa ini ilusi?" Candrasa masih sibuk menebas mayat hidup itu.

"Ini nyata Candrasa! " Panglima Doha menginjak bumi sekali, batu di depannya terlempar ke arah para mayat hidup itu dan membunuh mereka.

Elemen Bumi .. Candrasa memperhatikan gerakan Panglima Doha.

"Harghhh" Mayat hidup itu hampir menggigit Candrasa,

Dengan sigap Panglima Doha menghembuskan angin dengan pedangnya ke arah mayat itu.

Elemen Angin .... Dia sudah menguasai semua elemen.

Terkakhir Panglima Doha membentuk lingkaran besar dari persatuan ke empat elemen sihir itu untuk melindungi mereka. Seketika lingkaran pelindung itu berubah fungsi seperti bom.

DUARR

Mayat-mayat itu terhempas dan hancur menjadi abu. Candrasa terlihat ngos-ngosan. Dia menjatuhkan tubuhnya ditanah yang basah sambil mencoba mengatur nafasnya. Panglima Doha segera melindungi Candrasa dari air hujan yang deras dengan sihir nya. Dia juga terlihat kelelahan.

"Bagaimana jadinya jika aku sendiri disini?" kata Candrasa sambil mengatur nafasnya. Panglima Perang itu tertawa kecil, dia membantu Candrasa berdiri.

"Kau tetap akan bertahan, aku melihat mu menguasai elemen api tadi!"

"Tidak mungkin... Dengan mayat hidup sebanyak tadi, aku mungkin sudah menjadi santapan mereka."

Candrasa menenggak air minumnya, lalu memberikan itu pada Panglima Doha. Dia pun meminum air Candrasa.

"Kau ikut aku pulang, ini sangat berbahaya. Ini hanya gangguan kecil dari iblis bayangan."

"Kau belum benar-benar bertemu dengannya." Lanjut Panglima Doha. Candrasa bersikeras akan melanjutkan perjalanannya walaupun ini sudah yang kesekian kali dia di ganggu oleh Iblis bayangan.

"Aku harus mendapatkan pedang itu, selain ingin menghilangkan wabah di Amarata, ada hal lain yang harus aku lakukan dengan itu."

Panglima Doha mengernyit dan meluruskan kakinya.

"Apa itu?"

"Mendamaikan Amarata dan Nahdara!"

Candrasa yakin, setelah dia mendapatkan pedang pusaka itu dia akan tahu darimana wabah dan kekacauan Amarata berasal. Dengan pedang itu juga dia bisa melindungi rakyatnya dari musibah yang mungkin saja terjadi kedepannya.

Walaupun dia tidak bisa menghindari takdir Tuhan, setidaknya dia akan berusaha dengan itu.

...****************...

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

oke thor, smoga novelnya sukses.. 👏💪🙏👌👍trus berkrya.

2022-10-23

4

Aquairee

Aquairee

eh ayam ayam

2022-10-23

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!