Setelah fajar muncul, mereka memutuskan untuk berpisah. Candrasa akan melanjutkan perjalanan mencari Pedang Kemukus sendirian. Sedangkan, Air dan Hanada akan pulang ke Amarata.
Keputusan ini Candrasa buat agar kedua sahabatnya tidak lagi dalam bahaya. Nalurinya berkata, gangguan-gangguan itu muncul karena Iblis bayangan hanya menginginkan Candrasa mencari pedang itu seorang diri.
Candrasa mencoba mengalirkan energi ke pedang kemukus kecil itu. Pedang itu bersinar terang. Dia memberikannya pada Hanada.
"Pulanglah dengan selamat" Candrasa menatap kedua sahabatnya sendu, Hanada menangis lalu memeluk Candrasa.
"Jangan menangis, kau akan merasa lapar jika menangis!" Candrasa mengusap air mata Hanada.
Air memeluk sahabatnya dan menepuk punggung pria itu beberapa kali.
"Jaga diri baik-baik, kami pergi dulu.."
Candrasa melihat sahabatnya berlalu meninggalkannya, dia berjalan berlawanan arah dari mereka. dia berjalan menyusuri hutan, tidak ada tanda-tanda bahaya atau apapun.
Hanya ada suara burung-burung berkicau yang memenuhi Hutan lebat itu. Candrasa mencari sumber air yang bisa dia minum. dia bisa mendengar suara gemericik air dari jarak yang tidak jauh dari situ.
Dia berjalan dan menemukan sumber air yang dia cari tadi. Dia harus turun ke bawah untuk mengambil air itu, Dia segera membawa botol bambu kosongnya dan mengisinya dengan air sungai jernih yang mengalir disana.
Dia kembali ke atas dan mengaitkan air itu ke pinggang.
Krak krak
Seperti ada suara langkah kaki, Candrasa bersembunyi di balik pohon besar. Tapi telapak tangannya terasa panas, dia mencoba mengalirkan energi ke telapak tangannya agar tidak terlalu sakit.
Bekas luka menyerap racun Hanada, menghilang dari telapak tangannya seiring energi itu mengalir.
Dari telunjuk tangannya, tiba-tiba saja keluar api. Dia membelalak. Kekuatan apa yang ada pada tubuhnya. Dia menghentikan aliran energi dan api itupun padam.
Seketika Candrasa ingat ucapan Guru Wija mengenai tingkat ilmu sihir panca.
"Ilmu sihir ini terkenal sebagai ilmu yang paling tinggi derajatnya. Hanya beberapa orang yang mampu sampai ke tingkat ini. kemampuan yang akan dimiliki jika kau sudah mencapai tingkat ini adalah Mengendalikan semua elemen yang ada di bumi dan mengalirkan itu ke pedang mu. Kedua kekuatan Energi dari tubuh dan pedang akan menyatu di senjata itu."
"Mustahil orang bisa mengalahkanmu jika kau menguasai semua elemen di bumi ini." Begitulah perkataan Guru Wija yang dia ingat. Artinya, Candrasa sudah bisa menguasai dua elemen , angin dan api.
Suara langkah kaki itu mendekat, Candrasa langsung keluar dari persembunyiannya lalu melihat siapa itu. Candrasa membelalak dan mulut nya sedikit terbuka,
"Panglima Doha!"
"Salam yang Mulia Candrasa," pria itu memberi hormat pada Candrasa.
"Apa kau kesini mencari Air?" Candrasa mendekat dan menurunkan pedang yang hampir dia kibaskan tadi.
"Tidak. Aku mencarimu! Raja Jira II mengutusku untuk mengikutimu."
"Ayahku? Jadi sejak awal kau sudah mengikutiku?" Candrasa mengernyitkan dahi kebingungan.
"Sebenarnya ya, tapi aku terjebak di gurun pasir. Aku baru saja keluar dari sana beberapa menit yang lalu," panglima Doha menepuk pakaiannya yang dipenuhi pasir.
"Maafkan aku, seharusnya kau tidak perlu mengikutiku!" Candrasa dan Panglima berjalan menyusuri hutan.
"Aku tahu, kau bahkan meminta para sahabatmu untuk pulang ke Amarata." Pria itu menyeringai sambil memetik bunga yang dia lewati.
Candrasa tidak bicara apa-apa setelahnya, Candrasa memang tipikal orang yang tidak banyak bicara. Sehingga, saat dia sudah berada di ujung percakapan, dia tidak bisa berbasa-basi lagi.
Mereka berdua masuk lebih jauh kedalam hutan. Langit menjadi mendung dan gelap, kemungkinan akan segera hujan di hutan ini.
Benar saja, hujan yang cukup deras jatuh ke permukaan bumi, dengan sigap Panglima Doha melakukan gerakan memutar. Candrasa tercengang !
Hujan itu tidak membasahi mereka sekarang, air itu melewati tubuh mereka seakan ada payung yang menghalangi.
Elemen air .. Candrasa membatin..
Panglima Doha sudah menguasai elemen air. Mereka kemudian berjalan kembali menuju hutan. Semakin berjalan jauh semakin gelap hutan ini terlihat.
Panglima Doha mengeluarkan api dari tiap jari-jemarinya untuk menerangi jalan mereka.
Elemen api..
Candrasa mengikuti langkah kaki Panglima Doha, orang kepercayaan ayahnya ini memang di kenal hebat. Atas keberaniannya, ilmunya, tekadnya. Air persis sepertinya.
Panglima Doha menatap ke sekeliling, dia merasakan ada sesuatu berbahaya yang akan mengganggu mereka.
"Candrasa ! " katanya tegas.
"Ya!"
"Angkat pedangmu ! " Dia menoleh ke arah Candrasa.
Candrasa menerima aba-aba nya tanpa bertanya sedikit pun. Mereka saling menghadap belakang. Punggungnya menempel satu sama lain.
"Kau siap?"
Candrasa mengangguk.
1
2
3
Para mayat hidup dengan ganas berjalan ke arah mereka, makhluk aneh dan mengerikan itu mencoba menggigit keduanya. Tapi dengan sigap mereka menebas mayat hidup itu satu persatu.
"Dimana kita?" Kata Candrasa.
"Hutan kelaparan!"
"Apa ini ilusi?" Candrasa masih sibuk menebas mayat hidup itu.
"Ini nyata Candrasa! " Panglima Doha menginjak bumi sekali, batu di depannya terlempar ke arah para mayat hidup itu dan membunuh mereka.
Elemen Bumi .. Candrasa memperhatikan gerakan Panglima Doha.
"Harghhh" Mayat hidup itu hampir menggigit Candrasa,
Dengan sigap Panglima Doha menghembuskan angin dengan pedangnya ke arah mayat itu.
Elemen Angin .... Dia sudah menguasai semua elemen.
Terkakhir Panglima Doha membentuk lingkaran besar dari persatuan ke empat elemen sihir itu untuk melindungi mereka. Seketika lingkaran pelindung itu berubah fungsi seperti bom.
DUARR
Mayat-mayat itu terhempas dan hancur menjadi abu. Candrasa terlihat ngos-ngosan. Dia menjatuhkan tubuhnya ditanah yang basah sambil mencoba mengatur nafasnya. Panglima Doha segera melindungi Candrasa dari air hujan yang deras dengan sihir nya. Dia juga terlihat kelelahan.
"Bagaimana jadinya jika aku sendiri disini?" kata Candrasa sambil mengatur nafasnya. Panglima Perang itu tertawa kecil, dia membantu Candrasa berdiri.
"Kau tetap akan bertahan, aku melihat mu menguasai elemen api tadi!"
"Tidak mungkin... Dengan mayat hidup sebanyak tadi, aku mungkin sudah menjadi santapan mereka."
Candrasa menenggak air minumnya, lalu memberikan itu pada Panglima Doha. Dia pun meminum air Candrasa.
"Kau ikut aku pulang, ini sangat berbahaya. Ini hanya gangguan kecil dari iblis bayangan."
"Kau belum benar-benar bertemu dengannya." Lanjut Panglima Doha. Candrasa bersikeras akan melanjutkan perjalanannya walaupun ini sudah yang kesekian kali dia di ganggu oleh Iblis bayangan.
"Aku harus mendapatkan pedang itu, selain ingin menghilangkan wabah di Amarata, ada hal lain yang harus aku lakukan dengan itu."
Panglima Doha mengernyit dan meluruskan kakinya.
"Apa itu?"
"Mendamaikan Amarata dan Nahdara!"
Candrasa yakin, setelah dia mendapatkan pedang pusaka itu dia akan tahu darimana wabah dan kekacauan Amarata berasal. Dengan pedang itu juga dia bisa melindungi rakyatnya dari musibah yang mungkin saja terjadi kedepannya.
Walaupun dia tidak bisa menghindari takdir Tuhan, setidaknya dia akan berusaha dengan itu.
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
anggita
oke thor, smoga novelnya sukses.. 👏💪🙏👌👍trus berkrya.
2022-10-23
4
Aquairee
eh ayam ayam
2022-10-23
2