Hanada berhasil melerai keduanya, Candrasa maupun Air kini sudah paham. Tugas mereka sekarang adalah menjaga satu sama lain, bukan malah bertengkar. Karena tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain saling menguatkan dan menjaga.
Air, Candrasa dan juga Hanada melihat piring-piring yang sudah tersedia di atas meja,
"Rupanya kakek itu telah menyediakan ini untuk kita," Air menyeringai.
Ketiga orang itu mencium bau harum yang entah berasal dari mana, Air langsung mendengus mencari sumber bau itu.
"Ayam panggang!" Dia terkejut, melihat Ayam utuh yang sudah matang sedang di bakar diatas bara api yang sudah agak padam. Air segera membawa ayam besar itu ke meja yang telah disediakan.
"Wahh aku mauuuu!" Hanada mendekat ke arah Air yang sedang menaruh ayam itu.
"Baunya harum sekali, aku jadi lapar..." Hanada menutup matanya menghirup bau harus dari ayam itu.
"Bukankah kau memang selalu merasa lapar?" Air melirik Hanada sinis.
Wanita itu memukul lengan sahabat nya agak keras.
"Aw!" sambil mengelus lengannya yang dipukul Hanada,
Candrasa hanya tertawa kecil melihat tingkah dua sahabat nya itu, Air mengambil keranjang buah lalu berjalan memetik Berry lebat di depan rumah. Dia memenuhi keranjang itu dengan berry-berry tadi dan buah lain yang tertanam disana.
"Ah apa ini surga?" Air dengan sumringah membawa berry itu lalu menaruhnya dimeja.
"Mari kita makan, Aku mau bagian paha!" Hanada langsung menarik bagian paha ayam itu.
"Hey itu punya ku!" Air mencoba merebutnya.
Candrasa menggeleng lalu tersenyum tipis, pria itu belum memakan apapun lagi selain berry tadi. Air mengambil paha satu nya lagi dan memakannya. Candrasa memang sangat hati-hati dengan apa yang dia makan, dia selalu di ajarkan untuk tidak langsung melahap makanan yang di sediakan orang asing. Mengingat dia adalah Putra Mahkota, dia bisa saja diracuni oleh orang yang membenci Amarata.
"Kalau begini, aku tidak mau pergi kemana-mana!" Air menikmati itu dengan gembira. Dia dan Hanada langsung melahap berry yang rasanya sangat manis itu, mereka benar-benar tidak bisa berhenti memakan berry saking enak rasanya.
"Makanlah perlahan, kalian bisa tersedak jika makan seperti itu!" Candrasa mulai mengkhawatirkan Air dan Hanada.
Ada apa dengan mereka?
Batin Candrasa mengatakan bahwa ada yang salah dengan tempat ini, dia segera berdiri lalu mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Air dan Hanada bahkan tidak menghiraukan Candrasa yang pergi, mereka tetap melahap makanannya seperti orang kesetanan.
Candrasa berjalan ke samping rumah, dia melihat pohon tumbang yang di yakini adalah pohon yang sebelumnya dia dan Hanada beristirahat. Aneh, kenapa pohon itu disana? Bukankah mereka pergi ke dalam hutan tadi?
Candrasa berjalan mendekat ke arah pohon itu. Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap.
"Kenapa hari tiba-tiba menjadi gelap?" Dia menoleh kebelakang, rumah itu tidak ada disana. Bahkan Air dan Hanada juga tidak terlihat. Dia mengalirkan energi ke pedang sehingga membuat pedang itu mengeluarkan cahaya untuk menerangi jalannya.
Candrasa menutup mata sambil berjalan kembali beberapa langkah ke tempat awal. Ajaibnya dia tepat berada disamping rumah itu lagi sekarang, tapi kenapa langit berubah menjadi terang lagi?
"Ada apa ini?" Candrasa masih tidak percaya dengan apa yang sedang dia alami. Sepertinya rumah itu terlindungi oleh sesuatu.
Apa semua ini nyata?.....
Dia segera menghampiri sahabatnya yang masih sibuk memakan semua yang ada disana.
"Air, Hanada, sepertinya kita terjebak!" Candrasa gelisah, sahabatnya tidak terlihat mendengar apa yang ia katakan.
"Candrasa, duduk lah nikmati semua hidangan ini!" Hanada menarik lengan Candrasa lalu menyuruhnya duduk.
"Hanada, sadarlah..... Air, Sadarlah....."
"Ini seperti di surga kan?" Air tertawa seperti orang mabuk.
Candrasa berdiri, dia mengalirkan energi lebih banyak ke pedangnya. Kemudian dia mengayunkan pedang itu lalu membelah meja yang penuh hidangan itu menjadi dua.
Brakkk
Seketika semuanya menghilang, mereka berada ditengah hutan yang gelap. Air , Hanada dan Candrasa mendekat satu sama lain.
"Kenapa kita di sini?" Nafas Hanada tidak beraturan, dia sudah sadar sekarang.
"Sepertinya kita telah disihir!" Candrasa menatap Air dan Candrasa.
"Astaga.. Banyak sekali hal mengerikan di hutan ini...." Air menatap Candrasa agak gelisah.
Mereka terheran-heran, bagaimana bisa mereka terjebak lagi dan lagi ditempat yang sama. Besok mereka harus segera melanjutkan perjalanan mencari pedang itu lagi demi menyelamatkan Amarata.
"Apapun yang terjadi, aku akan menjaga kalian!" Candrasa melihat kedua sahabatnya dalam gelap.
"Aku juga!" Kata Air.
"Aku juga!" Hanada menoleh ke arah mereka berdua.
Untuk beberapa saat mereka tetap berdiri begitu, merasakan kegelisahan masing-masing. Rasa takut, sedih, khawatir semua menjadi satu sekarang.
Krakk krakk suara ranting terinjak.
"Apa itu?" Hanada ketakutan, sehebat apapun, dia masih punya rasa takut.
Syukurlah, ternyata itu hanya rakun yang lewat. Mereka menghela nafas panjang, Air memilih melempar pandangannya ke Candrasa.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
Candrasa menatap Bulan purnama di langit. Dia duduk dengan lemas tidak percaya.
"Kita sudah 10 hari terjebak di hutan ini," Candrasa menunduk merasa sedih.
"Apa? Tidak mungkin... Kita baru datang dua hari yang lalu!" Hanada menekankan suaranya.
"Hanada, perhatikanlah bulan di atas sana. Itu menunjukan kita sudah terjebak disini selama 10 hari! Ini hutan ilusi..." Candrasa menunjuk bulan diatas kepalanya.
"PERCAYALAH PADAKU! " kata Candrasa.
Hanada langsung mengangguk dan duduk di sebuah pohon tumbang. Air memandang Hanada yang terlihat sedih. Pria itu ikut duduk disampingnya.
Ada hal penting yang menunggu di ungkap, yaitu kebenaran Pedang Kemukus. Candrasa mengeluarkan pedang kecil itu lalu menggenggam nya.
Di tengah hutan yang gelap, Pedang itu bercahaya terang. Anehnya pedang itu seperti menunjukan jalan. Kunang-kunang dihutan itu bercahaya serentak membentuk jalanan.
Mereka saling bertukar pandangan, Candrasa tersenyum bahagia. Dia yakin itu adalah petunjuk.
"Ayo kita ikuti jalan itu!" Candrasa berjalan mendahului. Air dan Hanada mengikuti dari belakang. selama Candrasa menggenggam pedang kecil itu, Jalan itu akan terus menerangi mereka.
Perjalanan terasa amat jauh dan mereka mulai kehabisan tenaga karena suhu udara yang turun drastis. Mereka berhenti sejenak, Hanada menghela nafas sekali. Dia terlihat sangat mengantuk.
"Baiklah kita istirahat disini," Candrasa yakin, di tempat itu mereka akan aman.
Air juga tidak kuasa untuk tidak berhenti melangkah, dia sama kelelahannya dengan Hanada.
"Teman-teman, dengarkan aku. Setelah fajar besok, aku ingin kalian kembali ke Amarata dengan membawa pedang kemukus kecil ini. Pedang ini akan menunjukan kalian jalan pulang kesana!"
Hanada dan Air menunduk, mereka lelah mendengar Candrasa meminta mereka untuk kembali.
"Aku mohon..." Candrasa mengiba.
"Pedang itu tidak akan berfungsi tanpamu!" Hanada memalingkan wajahnya.
"Aku akan mengalirkan sedikit energi ku ke pedang ini." jawab putra mahkota. Tidak ada komentar lagi dari siapapun, kali ini Air maupun Hanada tidak ingin bersikeras ikut dengan Candrasa. Mungkin saja jalan Candrasa akan lebih mudah tanpa mereka.
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
terus maju dan pantang mundur
2022-10-18
6
Desya Tipasnuari
bagus, candrasa sangat hati-hati
2022-10-10
1