Pagi itu mereka terbangun dengan posisi yang sama, Candrasa langsung memeriksa keadaan Hanada. Dia lebih baik dari kemarin tapi tangannya masih terasa dingin. Air yang baru membuka matanya langsung menghampiri mereka, dia juga sama khawatirnya dengan Candrasa. Semalaman mereka gantian berjaga.
"Bawalah Hanada pulang!" Candrasa menatap Air yang ada didepannya.
"Pulang? Kita sudah jauh dari Amarata, tidak ada waktu untuk pulang. Bagaimana jika keadaannya memburuk di tengah perjalanan? Kita harus segera menemukan cara agar Hanada kembali seperti semula!" Air mengernyitkan dahinya.
"Aku akan mencobanya lagi," Candrasa memposisikan telapak tangannya beberapa inchi di atas dada Hanada.
Terlihat aliran energi halus yang keluar dari tangannya lalu masuk ke tubuh Hanada. Candrasa berusaha menyerap racun itu walau dirinya pun merasa semakin lemas.
"Hentikan Candrasa!" Air menghentikan sahabatnya itu, jika terus dilanjutkan bisa saja dia yang menjadi seperti Hanada.
Candrasa menyandarkan tubuhnya ke pohon tumbang di belakangnya, dia terlihat ngos-ngosan. Akhirnya Air ingat sesuatu, kakek tua ditengah hutan itu berkata untuk membawa mereka berdua ke sana.
"Candrasa, tunggu disini aku akan segera kembali!"
"Kau mau kemana?" Candrasa memegang perutnya dimana aliran energi itu berada.
"Aku akan mencari bantuan.."
Air langsung berjalan ke arah rumah kakek tua itu, dia menjatuhkan berry-berry yang dia bawa sebelumnya sebagai petunjuk jalan. Tapi tidak ada apa-apa, apakah berry itu dimakan oleh rakun? Dia tetap berjalan mengikuti perasaan nya.
Air menebas rumput-rumput liar yang menghalangi jalan, langit tiba-tiba saja menjadi mendung. Air mempercepat jalannya lalu mengalirkan pedang nya dengan sihir sebagai penerang jalan. Sambil berjaga kalau-kalau ada binatang buas didepannya dia sudah siap dengan pedang itu.
"Kenapa terasa jauh sekali? Apa aku tersesat?" Air menggaruk leher belakangnya, Lalu berjalan lagi kedepan.
Dia melihat ciri-ciri tempat itu, sepertinya benar disini lah letak rumah itu berada kemarin. Tapi kenapa dia tidak melihat apapun? Kemana rumah itu pergi? Air menggeleng, karena takut berjalan semakin jauh, dia memutuskan untuk kembali.
Krak krak
Suara langkah kaki yang menginjak ranting kayu mendekat dari arah belakang. Air dengan sigap mengayunkan pedang nya kebelakang, tepat dihadapannya kakek itu muncul.
Dia menyeringai melihat pedang itu hampir saja menebas lehernya, dibelakangnya pun terlihat rumah dan kebun sang kakek seperti kemarin.
Air mengernyitkan dahi, tadi tidak ada disana. Dia yakin...
Tapi itu tidak penting lagi baginya, sekarang yang terpenting adalah sahabat-sahabatnya selamat. Air kembali memasukan pedang itu ke tempatnya.
"Kumohon bantulah aku, teman-temanku terkena racun..." Air menatap kakek tua itu, Dia mengangguk lalu berjalan mendahului Air.
Air mengikutinya dari belakang, anehnya perjalanan pulang terasa begitu cepat. Seperti hanya berjarak ratusan meter saja, padahal sebelumnya dia berjalan cukup jauh. Kakek tua itu melihat Candrasa dan Hanada yang terkapar lemas, Candrasa duduk melihat kakek tua dan Air berjalan menghampiri.
"Ikut aku!" Candrasa berdiri lalu dibopong oleh Air.
Kakek itu mengarahkan telunjuknya ke arah Hanada, wanita itu pun melayang sejajar dengan kepala para pria. Kakek itu berjalan mendahului, Air dan Candrasa saling menatap melihat Hanada melayang dan mengikuti mereka dengan sendirinya.
"Ilmunya sangat tinggi!" Air berbisik ke telinga Candrasa sambil berjalan.
"Darimana kau bertemu dengannya?" Balas Candrasa dengan suara yang pelan.
"Ditengah Hutan!"
"Aku bisa mendengar apapun yang kalian bicarakan, bahkan dalam diam," Kakek itu tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke arah Candrasa dan Air.
Air dan Candrasa menjadi canggung, keduanya tidak lagi berbicara apa-apa. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Bambu itu, Hanada di baringkan di ranjang bambu yang keras sedangkan Candrasa duduk diluar.
Air mendampingi Kakek itu mengobati Hanada, terlihat kakek tua itu membuka mulut Hanada sedikit lalu memasukan satu buah berry berwarna abu ke mulutnya.
Begitu saja? Batin Air, sambil mengangkat sebelah alisnya.
Kakek itu berjalan keluar menemui Candrasa, dia duduk disamping pria itu. Lalu mengeluarkan buah berry yang sama dan menyodorkannya ke Candrasa.
"Makanlah!"
Candrasa memakan buah berry itu, rasanya manis dan sedikit asam. Air yang melihatnya masih kebingungan, apa kekuatan yang ada dibalik Berry itu?
"Bagaimana?" Tanya Kakek tua itu.
"Rasanya enak, tubuhku juga sudah tidak lemas lagi." Candrasa tersenyum tipis.
"Baguslah, hey nak jika kau mau ambil lah disana! " Kata kakek tua itu sambil menunjuk pohon berry yang berbuah lebat.
Air dengan sumringah langsung berjalan ke pohon itu, tidak lama Hanada keluar dari rumah itu.
"Hanada!" Candrasa menatap Hanada diambang pintu rumah itu.
Air menoleh ke arah Hanada, dia segera berjalan cepat lalu memeluk wanita itu. Candrasa hanya terpaku melihatnya, lagi-lagi dia lebih lamban dari Air.
"Lepaskan!" Hanada cemberut, Air masih memeluk wanita itu.
Seperti biasa, mereka akan berkelahi dan saling mengomel satu sama lain. Candrasa dan Kakek tua itu saling menatap.
"Kalian boleh menikmati semua yang ada disini!" Kakek tua itu berdiri. Candrasa memberi hormat begitu pun yang lain. Kakek itu pergi dari sana dan berjalan menuju ke dalam Hutan.
Candrasa mengajak kedua sahabatnya mengobrol, di atas meja terlihat piring-piring yang seperti sudah disediakan.
"Pulanglah ke Amarata!" Candrasa menoleh ke arah mereka berdua.
"Pulang?"
"Ya, sudah ku katakan jangan mengikutiku. Apalagi kau membawa Hanada kemari." Candrasa menatap Air.
Air membalas dengan tatapan tajam tidak terima,
"Maksudmu kau menyalahkan ku atas apa yang terjadi pada Hanada?" Air beranjak dari duduknya.
"Aku tidak berkata begitu, aku hanya tidak ingin kalian terluka!" Candrasa menekankan perkataannya,
"Kawan ayolah berhenti bertengkar!" Hanada mencoba melerai.
"Kau yang gegabah dengan pergi kesini tanpa persiapan! Bagaimana jika kau terhisap gurun itu? Atau di makan binatang buas saat terjebak di akar itu huh?" Air menarik baju Candrasa sehingga membuatnya tertarik ke depan, dadanya menekan meja.
"Air lepaskan Candrasa!" Hanada mencoba melepaskan pegangan Air dari baju Candrasa.
"Dia tidak menginginkan kita disini, dia tidak tahu terimakasih!" Air menatap Hanada tajam.
"Air sadarlah!" perempuan itu menepuk pundak Air.
"Candrasa hanya mengkhawatirkan kita, dia mengkhawatirkan ku. Dia tidak ingin kita terluka." Hanada menatap Air lekat, mencoba meyakinkan Air.
"Aku tahu kau mengkhawatirkan kami, tapi kami juga sama dengan mu, kami tidak ingin kau terluka dan pergi sendirian!" Hanada menatap Candrasa sendu.
Candrasa menunduk, dia tahu perasaan sahabatnya itu sama dengannya.
"Yang terpenting sekarang, kita baik-baik saja , aku sudah pulih dan kau pun begitu. Tidak ada yang perlu kita debatkan, Air aku harap kau mengerti. " Hanada menatap Candrasa dan Air bergantian.
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Kangee
🥀 dua
2022-12-05
2
hidup itu setia aja.. 🎁🎁💈💈
semangat ya.....
2022-10-06
3