Bab 10 : Rumah ditengah hutan

Pagi itu mereka terbangun dengan posisi yang sama, Candrasa langsung memeriksa keadaan Hanada. Dia lebih baik dari kemarin tapi tangannya masih terasa dingin. Air yang baru membuka matanya langsung menghampiri mereka, dia juga sama khawatirnya dengan Candrasa. Semalaman mereka gantian berjaga.

"Bawalah Hanada pulang!" Candrasa menatap Air yang ada didepannya.

"Pulang? Kita sudah jauh dari Amarata, tidak ada waktu untuk pulang. Bagaimana jika keadaannya memburuk di tengah perjalanan? Kita harus segera menemukan cara agar Hanada kembali seperti semula!" Air mengernyitkan dahinya.

"Aku akan mencobanya lagi," Candrasa memposisikan telapak tangannya beberapa inchi di atas dada Hanada.

Terlihat aliran energi halus yang keluar dari tangannya lalu masuk ke tubuh Hanada. Candrasa berusaha menyerap racun itu walau dirinya pun merasa semakin lemas.

"Hentikan Candrasa!" Air menghentikan sahabatnya itu, jika terus dilanjutkan bisa saja dia yang menjadi seperti Hanada.

Candrasa menyandarkan tubuhnya ke pohon tumbang di belakangnya, dia terlihat ngos-ngosan. Akhirnya Air ingat sesuatu, kakek tua ditengah hutan itu berkata untuk membawa mereka berdua ke sana.

"Candrasa, tunggu disini aku akan segera kembali!"

"Kau mau kemana?" Candrasa memegang perutnya dimana aliran energi itu berada.

"Aku akan mencari bantuan.."

Air langsung berjalan ke arah rumah kakek tua itu, dia menjatuhkan berry-berry yang dia bawa sebelumnya sebagai petunjuk jalan. Tapi tidak ada apa-apa, apakah berry itu dimakan oleh rakun? Dia tetap berjalan mengikuti perasaan nya.

Air menebas rumput-rumput liar yang menghalangi jalan, langit tiba-tiba saja menjadi mendung. Air mempercepat jalannya lalu mengalirkan pedang nya dengan sihir sebagai penerang jalan. Sambil berjaga kalau-kalau ada binatang buas didepannya dia sudah siap dengan pedang itu.

"Kenapa terasa jauh sekali? Apa aku tersesat?" Air menggaruk leher belakangnya, Lalu berjalan lagi kedepan.

Dia melihat ciri-ciri tempat itu, sepertinya benar disini lah letak rumah itu berada kemarin. Tapi kenapa dia tidak melihat apapun? Kemana rumah itu pergi? Air menggeleng, karena takut berjalan semakin jauh, dia memutuskan untuk kembali.

Krak krak

Suara langkah kaki yang menginjak ranting kayu mendekat dari arah belakang. Air dengan sigap mengayunkan pedang nya kebelakang, tepat dihadapannya kakek itu muncul.

Dia menyeringai melihat pedang itu hampir saja menebas lehernya, dibelakangnya pun terlihat rumah dan kebun sang kakek seperti kemarin.

Air mengernyitkan dahi, tadi tidak ada disana. Dia yakin...

Tapi itu tidak penting lagi baginya, sekarang yang terpenting adalah sahabat-sahabatnya selamat. Air kembali memasukan pedang itu ke tempatnya.

"Kumohon bantulah aku, teman-temanku terkena racun..." Air menatap kakek tua itu, Dia mengangguk lalu berjalan mendahului Air.

Air mengikutinya dari belakang, anehnya perjalanan pulang terasa begitu cepat. Seperti hanya berjarak ratusan meter saja, padahal sebelumnya dia berjalan cukup jauh. Kakek tua itu melihat Candrasa dan Hanada yang terkapar lemas, Candrasa duduk melihat kakek tua dan Air berjalan menghampiri.

"Ikut aku!" Candrasa berdiri lalu dibopong oleh Air.

Kakek itu mengarahkan telunjuknya ke arah Hanada, wanita itu pun melayang sejajar dengan kepala para pria. Kakek itu berjalan mendahului, Air dan Candrasa saling menatap melihat Hanada melayang dan mengikuti mereka dengan sendirinya.

"Ilmunya sangat tinggi!" Air berbisik ke telinga Candrasa sambil berjalan.

"Darimana kau bertemu dengannya?" Balas Candrasa dengan suara yang pelan.

"Ditengah Hutan!"

"Aku bisa mendengar apapun yang kalian bicarakan, bahkan dalam diam," Kakek itu tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke arah Candrasa dan Air.

Air dan Candrasa menjadi canggung, keduanya tidak lagi berbicara apa-apa. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Bambu itu, Hanada di baringkan di ranjang bambu yang keras sedangkan Candrasa duduk diluar.

Air mendampingi Kakek itu mengobati Hanada, terlihat kakek tua itu membuka mulut Hanada sedikit lalu memasukan satu buah berry berwarna abu ke mulutnya.

Begitu saja? Batin Air, sambil mengangkat sebelah alisnya.

Kakek itu berjalan keluar menemui Candrasa, dia duduk disamping pria itu. Lalu mengeluarkan buah berry yang sama dan menyodorkannya ke Candrasa.

"Makanlah!"

Candrasa memakan buah berry itu, rasanya manis dan sedikit asam. Air yang melihatnya masih kebingungan, apa kekuatan yang ada dibalik Berry itu?

"Bagaimana?" Tanya Kakek tua itu.

"Rasanya enak, tubuhku juga sudah tidak lemas lagi." Candrasa tersenyum tipis.

"Baguslah, hey nak jika kau mau ambil lah disana! " Kata kakek tua itu sambil menunjuk pohon berry yang berbuah lebat.

Air dengan sumringah langsung berjalan ke pohon itu, tidak lama Hanada keluar dari rumah itu.

"Hanada!" Candrasa menatap Hanada diambang pintu rumah itu.

Air menoleh ke arah Hanada, dia segera berjalan cepat lalu memeluk wanita itu. Candrasa hanya terpaku melihatnya, lagi-lagi dia lebih lamban dari Air.

"Lepaskan!" Hanada cemberut, Air masih memeluk wanita itu.

Seperti biasa, mereka akan berkelahi dan saling mengomel satu sama lain. Candrasa dan Kakek tua itu saling menatap.

"Kalian boleh menikmati semua yang ada disini!" Kakek tua itu berdiri. Candrasa memberi hormat begitu pun yang lain. Kakek itu pergi dari sana dan berjalan menuju ke dalam Hutan.

Candrasa mengajak kedua sahabatnya mengobrol, di atas meja terlihat piring-piring yang seperti sudah disediakan.

"Pulanglah ke Amarata!" Candrasa menoleh ke arah mereka berdua.

"Pulang?"

"Ya, sudah ku katakan jangan mengikutiku. Apalagi kau membawa Hanada kemari." Candrasa menatap Air.

Air membalas dengan tatapan tajam tidak terima,

"Maksudmu kau menyalahkan ku atas apa yang terjadi pada Hanada?" Air beranjak dari duduknya.

"Aku tidak berkata begitu, aku hanya tidak ingin kalian terluka!" Candrasa menekankan perkataannya,

"Kawan ayolah berhenti bertengkar!" Hanada mencoba melerai.

"Kau yang gegabah dengan pergi kesini tanpa persiapan! Bagaimana jika kau terhisap gurun itu? Atau di makan binatang buas saat terjebak di akar itu huh?" Air menarik baju Candrasa sehingga membuatnya tertarik ke depan, dadanya menekan meja.

"Air lepaskan Candrasa!" Hanada mencoba melepaskan pegangan Air dari baju Candrasa.

"Dia tidak menginginkan kita disini, dia tidak tahu terimakasih!" Air menatap Hanada tajam.

"Air sadarlah!" perempuan itu menepuk pundak Air.

"Candrasa hanya mengkhawatirkan kita, dia mengkhawatirkan ku. Dia tidak ingin kita terluka." Hanada menatap Air lekat, mencoba meyakinkan Air.

"Aku tahu kau mengkhawatirkan kami, tapi kami juga sama dengan mu, kami tidak ingin kau terluka dan pergi sendirian!" Hanada menatap Candrasa sendu.

Candrasa menunduk, dia tahu perasaan sahabatnya itu sama dengannya.

"Yang terpenting sekarang, kita baik-baik saja , aku sudah pulih dan kau pun begitu. Tidak ada yang perlu kita debatkan, Air aku harap kau mengerti. " Hanada menatap Candrasa dan Air bergantian.

...****************...

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Kangee

Kangee

🥀 dua

2022-12-05

2

hidup itu setia aja.. 🎁🎁💈💈

hidup itu setia aja.. 🎁🎁💈💈

semangat ya.....

2022-10-06

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2 Bab 2 : Tingkatan Dasa
3 Bab 3 : Tingakatan Sata
4 Bab 4 : Permaisuri ku
5 Bab 5 : Pedang Kemukus
6 Bab 6 : Jaroga
7 Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8 Bab 8 : Tiga Ksatria
9 Bab 9 : kelaparan
10 Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11 Bab 11 : Jebakan lagi
12 Bab 12 : Hutan Kelaparan
13 Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14 Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15 Bab 15 : Menjemput Candrasa
16 Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17 Bab 17 : Seorang Putri
18 Bab 18 : Iblis bayangan
19 Bab 19 : Kakek ku.
20 Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21 Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22 Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23 Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24 Bab 24 : menolak perjodohan.
25 Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26 Bba 26 : Black magic.
27 Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28 Bab 28 : Merebut Takhta.
29 Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30 Bab 30 : Kesatria Wanita.
31 Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32 Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33 Bab 33 : Misi penyelamatan
34 BAB 34 : Misi penyelamatan II
35 Bab 35 : Misi penyelamatan III
36 Bab 36 : Gudang senjata
37 Bab 37 : Kerasukan.
38 Bab 38 : Mundur
39 Bab 39 : Simbol Jiwa
40 Bab 40 : Rahasia besar
41 Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42 Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43 Bab 43 : Awal mula kutukan
44 Bab 44 : Hutan Azure
45 Bab 45 : Pedang Guru Wija
46 Bab 46 : kembali ke Akademi
47 Bab 47 : Musuh sebenarnya
48 Bab 48 : Pelatihan khusus
49 Bab 49 : Air vs Candrasa
50 Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51 Bab 51 : Rahasia
52 Bab 52 : Pertarungan resmi
53 Bab 53 : Berjalan di atas air
54 Bab 54 : penyempurnaan energi
55 Bab 55 : Lembaran yang kosong
56 Bab 56 : Misi baru akademi
57 Bab 57 : Ke perbatasan timur
58 Bab 58 : Darkmagus
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 : Dibangunnya Akademi sihir
2
Bab 2 : Tingkatan Dasa
3
Bab 3 : Tingakatan Sata
4
Bab 4 : Permaisuri ku
5
Bab 5 : Pedang Kemukus
6
Bab 6 : Jaroga
7
Bab 7 : Hari ke-1 pencarian
8
Bab 8 : Tiga Ksatria
9
Bab 9 : kelaparan
10
Bab 10 : Rumah ditengah hutan
11
Bab 11 : Jebakan lagi
12
Bab 12 : Hutan Kelaparan
13
Bab 13 : Perbatasan Laut Utara
14
Bab 14 : Kondisi Vegetatif
15
Bab 15 : Menjemput Candrasa
16
Bab 16 : Penerus Kerajaan Iblis
17
Bab 17 : Seorang Putri
18
Bab 18 : Iblis bayangan
19
Bab 19 : Kakek ku.
20
Bab 20 : Kembalinya Candrasa.
21
Bab 21 : Pria berjubah hitam.
22
Bab 22 : kesejahteraan rakyat.
23
Bab 23 : Mencari pedang itu kembali.
24
Bab 24 : menolak perjodohan.
25
Bab 25 : Nahdara vs Brahma
26
Bba 26 : Black magic.
27
Bab 27 : 6 Iblis Bayangan
28
Bab 28 : Merebut Takhta.
29
Bab 29 : Penyerangan Nahdara.
30
Bab 30 : Kesatria Wanita.
31
Bab 31 : Pernikahan Paksa.
32
Bab 32 : Menyelamatkan Hanada.
33
Bab 33 : Misi penyelamatan
34
BAB 34 : Misi penyelamatan II
35
Bab 35 : Misi penyelamatan III
36
Bab 36 : Gudang senjata
37
Bab 37 : Kerasukan.
38
Bab 38 : Mundur
39
Bab 39 : Simbol Jiwa
40
Bab 40 : Rahasia besar
41
Bab 41 : Kejadian 60 tahun lalu
42
Bab 42 : Reinkarnasi Imoogi.
43
Bab 43 : Awal mula kutukan
44
Bab 44 : Hutan Azure
45
Bab 45 : Pedang Guru Wija
46
Bab 46 : kembali ke Akademi
47
Bab 47 : Musuh sebenarnya
48
Bab 48 : Pelatihan khusus
49
Bab 49 : Air vs Candrasa
50
Bab 50 : Kediaman Panglima Doha
51
Bab 51 : Rahasia
52
Bab 52 : Pertarungan resmi
53
Bab 53 : Berjalan di atas air
54
Bab 54 : penyempurnaan energi
55
Bab 55 : Lembaran yang kosong
56
Bab 56 : Misi baru akademi
57
Bab 57 : Ke perbatasan timur
58
Bab 58 : Darkmagus

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!